Keesokan paginya Alvin bangun dengan kondisi kacau balau. Hatinya masih terasa pedih melihat Emma pergi dari rumah semalam. Untunglah Alvin mendapat kabar dari Shinta, ibunda Emma bahwa Emma kembali ke rumah mereka. Sejujurnya Alvin malu jika Emma sampai kembali ke keluarganya dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Flashback on
Ponsel Alvin berdering di tengah matanya yang terpejam. Baru saja ia tertidur satu jam lalu karena merutuki pertengkarannya dengan Emma. Ia tidak mencari keberadaan istrinya itu karena ia sendiri masih emosi. Alvin terbangun ketika ponselnya terus berdering.
“Ya?”
“Alvin… sudah tidur?” suara lembut wanita paruh baya itu mengejutkan Alvin. Ia tahu yang meneleponnya adalah ibu mertuanya. Alvin langsung mengubah posisinya menjadi duduk, seakan mertuanya ada di sebelahnya.
“Oh, Mama… Ada apa, Ma?”
"Emma ada di sini. Mama tahu kalian mungkin habis bertengkar. Benar kan?” Alvin merasa malu ketika mertuanya menanyakan. Sebelum menikah ia sudah berjanji pada mertuanya untuk selalu membahagiakan Emma, tapi hari ini ia seolah menjadi menantu paling kejam yang pernah ada. Membuat Emma menangis bahkan pergi dari rumah.
“I-iya, Ma… Maaf,”jawab Alvin singkat penuh dengan penyesalan.
“Mama tahu kalian sedang marahan dan memang dalam pernikahan itu wajar. Tapi, jangan biarkan kemarahan itu merusak rumah tangga kalian. Mama tidak ingin melihat kalian berkonflik seperti ini lagi. Hari ini biarkan Emma di sini untuk menenangkan diri. Besok pagi, tolong kamu jemput Emma pulang. Ya?”
Alvin sedikit lega. Setidaknya mertuanya bukanlah orang yang cerewet seperti Mamanya. Alvin bersyukur memiliki mertua yang sangat mengerti kondisi mereka.
“Iya, Ma. Besok aku jemput. Ma kasih dan titip Emma ya, Ma.”
“Iya.”
Klik! Panggilan pun berakhir.
Flashback end
Alvin terbangun karena alarm ponselnya yang berbunyi. Tanda ia harus membangunkan anak-anaknya dan mempersiapkan mereka bersekolah. Seharusnya ini tugas Emma, tapi apa boleh buat, Emma pergi dan kini Alvin yang mempersiapkan semuanya.
Saat ia masuk ke dalam kamar putrinya, Alvin sedikit terkejut karena kali ini kedua putrinya entah bagaiman tertidur di lantai dengan pulas sambil berpelukan. Ia tidak tahu jika semalam kedua putrinya itu menangis sambil berdoa hingga tertidur. Alvin menghela nafasnya lalu mengangkat kedua anak itu kembali ke atas ranjang masing-masing.
Begitu mengelus rambut Bianca, gadis itu terbangun.
“Papa! Mana Mama?” Satu pertanyaan pelak yang membuat Alvin bingung harus menjawab apa. Haruskah ia mengatakan bahwa Mamanya pergi dari rumah karena bertengkar dengan dirinya?
“Mama semalam harus kembali ke kantor. Dan karena pulangnya sangat larut, Mama memilih menginap di rumah Oma Shinta. Tidak mau membangunkan kalian berdua.”
“Oh…”
Setelah itu Tiara juga ikut terbangun lalu memeluk Alvin erat-erat.
“Papa, semalam Tiara mimpi buruk. Papa bertengkar sama Mama sambil teriak-teriak. Tiara sangat takutttt sekali….” Alvin tersenyum mendengar cerita polos putri bungsunya walau dalam hatinya ia merasa sangat menyesal karena kejadian itu memang nyata adanya.
“Hanya mimpi. Sudah yuk… kita siap-siap jemput Mama lalu ke sekolah.”
***
Selepas bersiap-siap dan sarapan, ayah dan kedua anaknya itu berangkat menuju ke rumah Oma-nya. Sepanjang perjalanan Tiara bernyanyi-nyanyi dengan riangnya, seakan hatinya sangat senang hari ini. Alvin dan Bianca ikut menimpali dan menyanyi bersama. Tapi tiba-tiba saja Tiara menghentikan nyanyiannya.
“Lho, kok nyanyinya berhenti, Tia?” tanya Alvin karena terheran.
“Tia pengen Mama juga ikutan nyanyi,” jawab gadis kecil itu dengan mencebikkan bibirnya.
Alvin mendesah.
“Sebentar lagi kita sampai di rumah Oma, nanti Tiara yang ajak Mama nyanyi bareng ya?” bujuk Alvin tapi Tiara hanya mengangguk tanpa tersenyum.
Lima belas menit kemudian mobil mereka sampai di depan rumah keluarga Emma. Tapi lagi-lagi Alvin terkejut. Mobil sedan hitam mewah itu sudah ada di sana sebelum mereka tiba. Apakah Emma yang menghubungi Michael dan meminta menjemputnya di sini? Belum-belum hati Alvin sudah terbakar kembali.
“Papa, itu kan mobil Uncle Mike ya?” Bianca yang cermat sudah mengetahui mobil Michael.
Belum juga Alvin menjawab, Michael sudah keluar bersama dengan Emma, diantar oleh Shinta. Alvin langsung turun tanpa aba-aba, begitu juga kedua putrinya.
“Mamaaaa…” Tiara berlari dan memeluk Emma. Emma terkejut dengan kedatangan suami dan anak-anaknya. Ia menatap Alvin, bertanya-tanya mengapa mereka bisa ada di sini.
Seolah mengerti tatapan mata Emma pada Alvin, Shinta langsung menjawab.
“Mama yang minta Alvin menjemput kamu. Eh ternyata kamu malah menghubungi Michael duluan.”
Emma masih tidak percaya dengan ucapan Ibunya, seakan tidak bisa memahami jika putrinya ini membutuhkan waktu sendiri. Ia masih tidak suka berhadapan dengan Alvin. Hatinya masih belum siap melihat wajah suaminya yang menjengkelkan itu.
“Jadi, kamu mau ikut aku atau Alvin?” tanya Michael memastikan. Ia ditelepon pagi tadi oleh Emma dan secepat kilat ia menjemput Emma. Apapun yang diminta Emma akan langsung menjadi yang terutama bagi Michael. Dan sama halnya dengan Emma, ia pun terkejut dengan kedatangan Alvin yang merusak rencana sarapan paginya bersama Emma.
Emma tampak bimbang. Hatinya ingin ikut dengan Michael karena masih emosi dengan Alvin tapi melihat Tiara yang terus merengek meminta ia ikut mobil Alvin membuat Emma goyah. Tidak mungkin ia tega melihat putrinya terus merengek. Bagaimanapun ia masih ibu bagi anak-anaknya bukan?
“Sorry, Mike. Kayaknya aku ikut mobil Alvin aja. Ada anak-anak,” kata Emma tidak enak hati pada Michael yang sudah rela ia repoti pagi ini. Namun ia membatalkan begitu saja karena kedatangan Alvin.
“Yah… oke…” Michael menjawab ringan, seolah tidak masalah jika Emma membatalkan semuanya.
Setelah itu Tiara menarik tangan Emma masuk ke dalam mobil. Duduk bersebelahan dengan Alvin lagi di kursi kemudi. Dan kali ini Tiara sengaja meminta duduk di pangkuan Emma di bangku depan. Entah mengapa putri bungsunya hari ini sangat menempel padanya. Setidaknya Emma tidak perlu memperhatikan Alvin sejenak.
“Semalam tidurmu nyenyak?” tanya Alvin penuh basa-basi di sela-sela cerita Tiara, dan Emma tahu Alvin memang suka seperti itu. Tanpa ditanya sebenarnya Alvin tahu jika Emma menderita insomnia. Tapi pertanyaan Alvin terkesan seperti pertanyaan seseorang yang merasa bersalah, hendak mengucapkan maaf tapi malu. Jadilah berputar ke topik yang lain.
Emma sudah sering berhadapan dengan orang-orang seperti ini, jadi ia tahu betul polanya.
“Sejak kapan aku tidur nyenyak? Kamu tahu sendiri aku insomnia.”
Alvin meneguk ludahnya, mencoba menekan semua emosinya.
“Sudah makan?” Ia mencoba pertanyaan lain. Emma malah tersenyum sinis.
“Sudahlah, Alvin. Aku tahu kamu mau mengatakan sesuatu. Nggak usah berputar-putar gitu ngomongnya. Bilang aja terus terang.”
Alvin masih menahan egonya. Haruskah ia meminta maaf duluan? Toh Emma yang sebenarnya membuat Alvin kesal kan semalam? Apalagi Emma membela Michael tanpa rasa bersalah pada Alvin. Alvin merasa tidak perlu meminta maaf terlebih dulu. Ia malas menjawab pertanyaan Emma. Lagi-lagi akan menyudutkan dan membuatnya makin merasa bersalah.
Alvin memilih diam. Menyetir saja hingga sampai ke sekolah anak-anaknya. Setelah mengantar kedua putrinya masuk, ini saatnya ia mengatakan pada Emma isi hatinya. Lupakan masalah gengsi. Masalah ini tidak akan berakhir jika tidak ada di antara mereka yang mengalah. Baiklah, kali ini lagi-lagi Alvin sepertinya yang harus mengalah. Sebagai kepala keluarga yang baik, ia hanya menginginkan rumah tangganya kembali damai.
“Maafin aku semalam,” ucap Alvin cepat saat tinggal dirinya dan Emma di dalam mobil.
Emma terkekeh mengejek.
“Jadi sekarang sudah mengaku salah?” Bukannya memaafkan, Emma malah membuat hati Alvin panas. Ia sudah menjatuhkan harga dirinya dari langit hanya untuk Emma, tapi respon Emma malah membuatnya merasa dilecehkan.
“Kamu kok gitu sih ngomongnya? Aku ini sudah berusaha meminta maaf, berbaikan dengan kamu. Kok kamu malah seakan mengejek aku seolah aku seorang diri yang bersalah di sini. Kamu juga harusnya sadar kesalahanmu dan meminta maaf, Em! Nggak ada asap kalau nggak ada api. Kamu yang menyulut api duluan!” kata Alvin dengan nada meninggi.
“Kamu selalu kaya gitu, Alvin. Nggak pernah tulus mau mengakui kesalahanmu. Kamu cuma bilang maaf supaya aku bilang maaf juga kan? Percuma minta maaf kalau nggak ikhlas ngomongnya. Sekalian aja nggak usah minta maaf. Dan, aku nggak butuh maafmu!” Emma kembali menjawab dengan ketus. Dan pada akhirnya kedua orang itu kembali perang dingin hingga mobil sampai di kantor Emma.
Emma hendak membuka pintu mobilnya, tapi ia berhenti sejenak.
“Kemarin aku sudah menghubungi Bang Abby untuk mengurus proses perceraian kita. Kamu siap aja jalani prosesnya.” Begitu selesai mengucapkan itu, Emma langsung keluar dengan langkah cepat. Enggan bertemu atau bahkan menatap wajah Alvin lagi. Padahal di dalam hatinya, ia menguatkan dirinya sekuat tenaga untuk tidak menangis. Saat Alvin sudah menjauh, air matanya menetes. Sebenarnya Emma tidak pernah menginginkan rumah tangganya di ambang kehancuran seperti ini, tapi apa daya. Kata hatinya mengatakan ini yang seharusnya ia lakukan sejak dulu.
***
“Apa yang harus kulakukan, Sar? Semuanya di luar kendaliku. Apa bisa meminta Abby untuk membatalkan berkas perceraian Emma? Aku hanya ingin mencoba satu kali lagi untuk memperbaiki pernikahanku. Apakah nggak ada cara? Aku hanya tidak menyangka bakal secepat ini. Mengapa dia sudah main memutuskan aja tanpa menunggu aku bertindak?” Begitu pertanyaan Alvin pagi itu padaku. Aku diberondong dengan banyak pertanyaan setelah ia menceritakan apa yang terjadi semalam.
“Kurasa karena dia lelah menunggu, Vin.”
“Aku bahkan belum berusaha untuk memperbaiki ini semua. Aku masih mau berusaha lebih keras lagi bahkan jika perlu aku sujud di hadapannya agar dia mau bertahan. Kenapa Emma tidak mau mengerti aku?”
Aku hanya bisa menghela nafasku. Sungguh malang nasib Alvin. Aku bisa melihat dalam sorot matanya, ia menginginkan pernikahannya berlanjut. Tapi bagaimana cara melunakkan hati Emma yang beku? Jika biasanya sang istri yang berusaha mempertahankan pernikahan, ini malah sebaliknya. Sang kepala keluarga sendiri yang ingin bertahan, tapi rupanya pria di hadapanku ini kehilangan taring di hadapan istrinya.
“Lalu apa yang bisa aku lakukan sekarang?”
“Hmm… aku rasa begini, ada kalanya keputusan bercerai itu datang karena emosi. Bukan berarti dia tidak cinta sama kamu lagi. Aku rasa tidak begitu, tapi karena emosi sesaat itulah yang membungkam cinta itu dengan kejengkelan. Makin sering seseorang mengikuti emosinya, maka makin besar buntalan emosi itu membungkus dan bahkan menutup rasa cinta mereka,” jelasku panjang lebar.
“Mungkin kalian membutuhkan waktu untuk berbicara berdua,” lanjutku dan sekarang Alvin menatapku serius.
“Bagaimana caranya? Setiap kali kami bertemu yang ada hanyalah bertengkar.”
“Dalam komunikasi, timing dan situasi adalah yang terutama. Mungkin saat kalian ingin mengobrol selalu saja ada gangguan, mungkin saat Emma lelah atau saat anak-anak berulah. Coba kalau kamu mencoba mengurangi gangguan yang ada, berikan suasana yang nyaman untuk berbicara. Di saat itulah kamu bisa mulai berbicara dengan Emma.”
Dan kini aku bisa melihat mata Alvin berbinar, seolah mendapatkan ide apa yang harus dilakukannya.
***
Sebuah pesan notifikasi muncul dari ponsel Emma.
[Notifikasi Penggunaan Kartu Kredit Bank XYZ: Rp 5xx.xxx dari supermarket A]
Emma terbelalak kaget. Di tengah kesulitan finansial seperti ini, bisa-bisanya ada yang menggunakan kartu kreditnya dengan dana sebesar itu. Ia tahu pasti siapa penggunanya. ALVIN.
Emma bisa membayangkan apa jadinya jika Alvin berbelanja. Pria itu akan selalu membeli hal-hal yang tidak penting. Seperti beberapa tahun lalu, Alvin tiba-tiba saja membeli sebuah tikar. Katanya bisa untuk berpiknik bersama, masalahnya mereka jarang bisa berpikinik karena kesibukan. Akhirnya benda itu hanya terpakai satu kali dan sekarang mangkrak di Gudang.
Ia ingat juga Alvin pernah ngotot membeli beberapa lonjor kayu Batangan. Alvin berusaha memperbaiki kaki meja kerja Emma yang mulai miring, tapi bukannya lebih baik, meja itu terlihat lebih aneh. Sekarang? Emma sudah malas menggunakan meja itu lagi.
Sudah terlintas di benak Emma bahwa Alvin lagi-lagi menggunakan uangnya untuk hal-hal tidak penting lagi. Hal ini menambah lagi daftar gemas Emma pada Alvin.
“Sudah tidak becus bekerja, malas-malasan, keras kepala, sekarang boros. Astaga!”
Emma memijit keningnya yang berdenyut. Masalah kantor belum selesai, sekarang ditambah Alvin yang berbuat onar. Memancing emosinya lagi.