8. Menjemput Anak

1836 Words
Di dalam studio fotonya, Alvin juga terlihat tidak fokus. Ucapan Emma saat di mobil masih terngiang-ngiang di telinganya. Bercerai? Mendengarnya saja sudah membuat bulu kuduk Alvin berdiri. Belum lagi janjinya pada Bianca waktu itu. Ia tidak ingin mengecewakan anak-anaknya. Mereka masih membutuhkan kedua orangtuanya secara utuh. Alvin memijit keningnya yang berdenyut dan hatinya yang panas. Di ruangan kosong itu Alvin benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ia masih ingin berjuang untuk pernikahannya tapi apa jadinya jika ia hanya berjuang sendiri sementara Emma sudah enggan berusaha? Kapal yang hanya didayung sebelah tidak akan mungkin bisa berjalan dengan baik. Percuma ia susah payah mendayung sementara Emma menghentikan dayungnya dan memilih terjun ke dalam lautan. Alvin sangat yakin bahwa perceraian tidak akan membuat mereka makin bahagia. Menambah masalah baru iya. Masalah pekerjaan saja sudah membuatnya pusing tujuh keliling sekarang ditambah masalah baru. Bagaimana anak-anak mereka? Bagaimana orangtua mereka? Haruskah mereka juga melihat dan merasakan kegagalan pernikahan anak-anak mereka? Jelas, perceraian bukan solusi. Alvin menghela nafas panjang. Ia tiba-tiba saja teringat denganku sebagai konselor pernikahan. Aku bersyukur Tuhan masih membuatnya mengingatku. Setidaknya aku bisa membantu… ya walaupun mungkin bantuanku terasa kecil artinya tapi setidaknya Alvin masih mau berusaha. Ia pun menghubungiku hari itu dan membuat janji denganku. Beruntunglah sore itu aku tidak memiliki janji dengan klien, jadi aku bisa menemui Alvin di dalam kantorku. Ini jadi pertemuan pertama kami. “Hai, Vin. Apa kabar?” sapaku pada Alvin yang baru datang. Pria itu masih tampak gagah walau sudah tiga tahun ini kami tidak bertemu. “Yah… as you can see. Aku nggak sedang baik-baik saja.” Aku mempersilakan Alvin duduk. “Well let see… what can I do for you?” kataku menawarkan bantuan dan Alvin menceritakan semuanya padaku sore itu. Hampir satu setengah jam lamanya ia bercerita. Menceritakan semua hal yang selama ini ia simpan sendiri. Terlebih tentang apa yang baru saja ia alami dengan Emma. Bagaimana pertengkaran dan konflik mereka bermula serta kondisi mereka saat ini. Bahkan kecurigaannya pada sosok Michael yang selama ini menjadi bayang-bayangnya. Di manapun ada Emma, selalu ada Michael di sana. Rasa cemburu, marah, sedih dan putus asa bercampur jadi satu. Aku bisa melihatnya. Alvin juga menceritakan keberatan-keberatannya tentang sikap Emma selama ini yang workaholic, sarkas dan juga lebih dominan dari dirinya. Membuatnya kehilangan taring sebagai kepala keluarga. Terus menyudutkan dan menyalahkannya. Mudah kuatir yang berlebihan dan gampang tersinggung. Alvin mengutatakan semua uneg-unegnya. Hingga akhirnya ia pun menceritakan tentang permintaan cerai dari Emma. Di saat itu sorot mata Alvin berubah. Alvin mulai merasa putus asa. Mulai melihat apa yang salah dari dirinya, apa yang sebenarnya terjadi dalam pernikahannya, apa yang membuat Emma tidak bahagia dan semuanya. Seakan hidupnya memang sangat bermasalah. Untung saja Alvin masih waras, karena ia masih bisa mencari pertolongan. Sementara di luar sana, aku menjumpai banyak orang yang depresi lalu memutuskan bunuh diri. Kembali pada Alvin dan ini kesan yang aku tangkap dari ceritanya. Alvin bukan orang yang cuek. Di saat seperti ini, aku bisa melihat Alvin sangat perhatian pada hal-hal kecil lalu memikirkannya dengan dalam. Mengevaluasi dirinya dan mencoba membuka pikirannya melihat semua sisi. Namun ada satu yang masih mengganjal di hatinya. Emma tidak akan mungkin mengubah pemikirannya. Bahkan walau pada akhirnya ia akan menyesal sekalipun. Sekali Emma memutuskan ia siap menjalaninya. Alvin merasa kehilangan harapan karena karakter Emma yang ini. Ia tidak yakin bisa membuat Emma kembali. “Tapi sepertinya keputusan Emma sudah bulat. Dan yah… kamu tahu kan, Sar gimana dengan keras kepalanya Emma jika ia sudah membuat keputusan.” “Kami sudah nggak bisa ngobrol seperti pasangan lain. Gimana caranya masalah kami kelar kalau kami sendiri aja nggak bisa ngobrol? Aku tahu masalah ini hanya bisa selesai saat kami bisa diskusi. Tapi bertemu muka dengan muka saja sudah nggak ada waktu. Setiap kali mengobrol berakhir marahan, gimana caranya diskusi?” Aku membetulkan kacamataku. Mencoba memahami betapa putus asanya Alvin. Aku mengenal Sarah karena kami pernah mengambil beberapa mata kuliah yang sama saat kuliah dulu. Beberapa kali juga aku jadi anggota kelompok belajarnya di kampus, jadi aku cukup mengenal seperti apa Sarah itu. “Hmm… Aku rasa jika kalian nggak bisa saling berdiskusi dan mengobrol menyelesaikan masalah ini, kalian harus meminta bantuan pihak ketiga. Coba cari pihak ketiga yang kalian berdua percaya,” saranku. Dan memang seharusnya lebih baik mereka menyelesaikan dengan bantuan orang yang sangat dekat dan tahu kisah mereka. Tapi Alvin menggeleng. Ia mengatakan padaku bahwa ia tidak bisa menceritakan masalah ini pada siapapun. Pada keluarga malu, pada sahabat hanya ada penghakiman dan tudingan. “Aku bisa membantu, tapi aku tidak bisa yakin konseling yang kuberikan efektif karena konseling untuk pernikahan seperti ini sebaiknya dilakukan dengan pasangan juga,” saranku pada Alvin. Memang untuk urusan pernikahan, sebaiknya yang berkonseling adalah keduanya. Jika hanya ‘mengobati’ salah satu, proses ‘penyembuhannya’ pasti akan relatif lebih lama. Dan tidak menutup kemungkinan pasangan yang tidak ikut konseling sudah membuat keputusan seperti Emma. “Secara pribadi, aku nggak pernah menolak untuk konseling. Nggak mungkin kalau aku datang ke kamu kalau aku nggak merasa butuh bantuanmu. Tapi kalau konseling berdua dengan Emma, aku nggak yakin dia mau. Emma itu paling tidak suka mengumbar masalahnya pada orang lain.” Aku menghela nafas panjang. Masalah ini akan menjadi masalah yang panjang dan lama. Tapi apa boleh buat? Setidaknya aku masih bisa menyelamatkan salah satu. “Oke, tapi aku ingin kamu berjanji kalau kamu akan berusaha kooperatif dalam konseling ini. Datang secara rutin dan kita akan berdiskusi berdua bagi pernikahanmu.” Alvin mengangguk. “Dan satu hal lagi, sehebat apapun diskusi kita kelak, aku berharap kamu mendoakan pernikahanmu.” Raut wajah Alvin berubah seketika menjadi penuh dengan keraguan. Permintaanku yang terakhir sepertinya terasa begitu berat baginya tapi aku hanya berharap ia bisa melakukannya. Karena aku hanyalah manusia biasa dan pernikahannya membutuhkan campur tangan Tuhan. Alvin menyetujuinya. *** Emma terlihat sangat sibuk dengan urusannya. Begitu juga dengan Michael. Keduanya masih saling berdiskusi dan menyelesaikan krisis yang mereka alami itu hingga tak terasa jam pulang kantor sudah tiba. Tidak ada satupun yang mau beranjak dari sana hingga ponsel Emma berbunyi. Tanpa melihat siapa nama yang tertera di layar, Emma mengangkat ponselnya lalu menjepitnya di antara bahu dan telinganya sementara matanya fokus pada layar laptop. “Selamat sore, Bu Emma. Ini Miss Lidya.” Miss Lidya dari daycare anak-anaknya? Ada apa gerangan? Tumben sekali wanita muda itu menghubunginya. Emma menghentikan kegiatannya. “Oh ya, Miss. Ada apa?” “Ini sudah sore tapi Bianca dan Tiara belum juga dijemput. Saya sudah hubungi Pak Alvin tapi sepertinya ponselnya tidak aktif. Anak-anak yang lain sudah pulang, tinggal Bianca dan Tiara yang belum.” Emma menghela nafas panjangnya. Sepertinya kebiasaan Alvin tidak berubah. Pria itu selalu melupakan ponselnya, entah tidak membawa powerbank atau charger atau bahkan tidak sengaja meninggalkannya di suatu tempat. Biasanya Alvin yang menjemput anak-anaknya lalu mengurus mereka di rumah. Tapi kali ini Alvin benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya anak mereka ditinggal begitu saja. Nanti jika bertemu Alvin lagi, Emma pasti akan menghabisi pria itu. “Oh begitu ya? Eng… tapi apa bisa jika titip anak-anak di rumah Miss? Nanti saya jemput mereka di sana. Karena ini saya kebetulan ada lembur.” Emma sebenarnya bingung bagaimana caranya menjemput kedua putrinya, sementara urusannya di kantor belum selesai. Masalah mendesak di kantor ini harus diselesaikan segera tapi menjemput anak-anak mereka juga penting. Emma kebingungan. Ke mana perginya Alvin? Tapi tampaknya, ucapan Emma yang terakhir didengar oleh Michael. Michael tahu kesulitan Emma. Ia berjalan cepat menuju meja Emma dan menyentuh pundaknya. Membuat Emma menoleh pada Michael. “Aku yang akan menjemput dan mengantar mereka ke sini supaya kamu nggak cemas,” bisik Michael pada Emma. Emma sedikit terkejut tapi kemudian terkesiap. Bantuan Michael tepat waktu. Emma pun langsung meralat ucapannya pada Miss Lidya dan menyetujui Michael yang akan menjemput anak-anaknya lalu membawanya ke kantor. Walau kedua anak itu tidak bisa bermain dengan Emma tapi setidaknya Emma bisa mengawasi keduanya sambil bekerja. Apalagi ini sudah lewat jam kantor jadi rekan-rekan kerjanya juga sudah pulang dan tidak akan terganggu. Hanya ada Emma dan Michael di sana dan Michael bisa menerima kehadiran kedua putrinya. Setelah menutup panggilan itu, Emma bernafas lega. Menatap Michael yang masih ada di sebelahnya. “Thank you again, Mike. Kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu anak-anakku siapa yang ngurus. Ini dasar Alvin. Bisa-bisanya si Alvin ninggalin anak gitu aja. Ke mana juga dia sampai nggak angkat ponselnya? Kebiasaan. Kalau ada hal penting kaya gini gimana coba?” Emma langsung mengeluarkan uneg-unegnya di hadapan Michael. Dalam hatinya, mungkin Michael tersenyum. Keberadaannya sangat berarti bagi Emma. Ia merasa dapat diandalkan. Michael sepertinya berhasil mendapatkan nilai plus lagi di mata Emma. Tanpa Michael sadari, Emma juga menyunggingkan senyumannya. Merasa hangat karena ada Michael yang selalu menenangkannya. Pria itu selalu ada di saat ia membutuhkan. Tidak seperti Alvin yang menghilang tiba-tiba. *** BEEM… BEEMM… Michael mengklakson beberapa kali, memberikan tanda bahwa ia sudah datang di depan daycare Bianca dan Tiara. Seorang wanita muda melongok dari balik tirai jendela. Merasa ada yang datang, ia pun keluar sejenak. Pria tampan dan gagah itu keluar dari dalam mobil. Wajahnya asing dan Lidya tidak mengenali pria itu. “Ya? Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Michael menjulurkan telapak tangannya. “Saya Michael, sahabat Emma. Tadi Emma sudah memberitahu kan kalau saya yang akan menjemput Bianca dan Tiara.” “Oh… itu… Oke. Sebentar saya panggilkan mereka.” Lidya masuk ke dalam dan belum juga memanggil kedua anak itu, Tiara lebih dulu berlari keluar, disusul oleh Bianca. Tiara berlari kencang kea rah Michael dan memeluk pria yang sudah siap menyambut kedua anak manis itu. “Uncle Mike, Tiara kangen!” “Uncle juga,” kata Michael sambil memeluk Tiara. Kedua anak-anak itu memang sangat dekat dengan Michael. Apalagi karena Michael memang memperlakukan mereka dengan sangat perhatian. Michael memang menyukai anak kecil dan ia juga sering mengajak kedua anak itu bermain jika bertemu, membelikan mainan seri terbaru dan semua keinginan mereka selalu Michael turuti. Jelas anak-anak itu sangat senang dan nyaman dengan Michael. Berbeda dengan Alvin. Ia tidak ingin anaknya menjadi penuntut. Tidak semua keinginannya dituruti dan hanya yang menurutnya baik, yang akan dituruti. Bianca berdiri di hadapan Michael. Tersenyum manis tapi tidak segirang Tiara. “Hai, Bian.” Michael menyapa pada Bianca yang lebih tenang. Bianca hanya tersenyum dan melambai. Setelahnya ketiga orang itu pergi. Michael mengajak kedua gadis manis itu menuju ke kantor seperti yang dipesankan oleh Emma. Namun sebelumnya mereka mampir ke restoran cepat saji untuk membeli makan malam favorit anak-anak itu beserta dengan es krimnya. Tiara sudah melonjak-lonjak kegirangan karena seminggu ini ia dilarang makan es krim oleh Alvin karena sedang pilek. Tapi bagaikan mendapatkan angin segar, es krim itu jadi hadiah terbaik untuk Tiara. “ Uncle Mike memang the best! Tiara sayaanggg Uncle Mike,” kata Tiara dengan semangat di dalam mobil Michael dan mulut belepotan karena es krim coklat yang dinikmatinya. Michael tersenyum. “Uncle juga sayang sama Tiara dan Bianca,” sahut Michael sambil membersihkan noda di sekitar bibir Tiara. Sementara di kursi belakang, Bianca hanya tersenyum. Ia menikmati es krimnya dalam diam. Seolah ada sesuatu di hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD