“KALIAN SEMUA BODOH! NGGAK BECUS NGURUS MASALAH BEGINI AJA SAMPAI BERHARI-HARI! BAGAIMANA INI BISA TERJADI? BERAPA KERUGIAN YANG KITA TANGGUNG ITU JIKA SEPERTI INI!”
Makian dan sumpah serapah dari petinggi perusahaan dilontarkan begitu saja. Membuat semua karyawan di divisi penjualan tidak berani menatap muka dengan muka pada wajah direktur yang sedang mengamuk. Bahkan beberapa di antara mereka sudah terisak, saking jahat dan kejamnya ucapan serta tudingan dari pihak direksi.
Michael tidak bisa membantah. Ia ingin sekali memberontak dan menyerang kembali kata-kata kasar dari direksinya itu. Mereka tidak melihat proses dan susah payah divisinya. Hanya bisa mencaci.
Tapi Michael tidak mau membuat onar. Memang begini situasinya jika direksi sedang marah. Seperti ada badai yang menyerang dari segala penjuru. Membuat mental siapapun pasti karam di tengah amukan.
Anehnya kali ini Emma tidak bergeming. Padahal biasanya wanita itu selalu frontal jika diperlakukan kasar atau tidak adil seperti ini.
Ya benar, seharian ini Emma tidak berkonsentrasi bekerja. Pikirannya bercabang entah ke mana.
Tiba-tiba ponsel Emma berbunyi. Nama adiknya muncul di atas layar. Emma hanya mengintip tapi tidak mau mengangkat. Ia masih rapat dan bisa-bisa bos besarnya yang tengah mengamuk itu akan makin mengamuk.
Panggilan itu terhenti. Emma berusaha memfokuskan diri pada rapat namun kali ini panggilan itu datang lagi. Emma melihat nama yang sama muncul di layar. Ia menghela nafasnya, mengambil ponsel dari atas meja dan sembunyi-sembunyi mematikan panggilan itu. Namun ia mengirimkan pesan untuk adiknya.
[Ada apa? Aku sedang rapat]
[Papa baru di-PHK tanpa pesangon dan kampus sudah menagih uang kuliah bulan ini. Kakak bisa bantu?]
Membaca pesan terakhir dari adiknya membuat kepala Emma ingin pecah rasanya. Berapa banyak beban lagi yang harus Emma tanggung? Di keluarganya saja sudah ada 3 orang, termasuk Alvin. Kini saat ayahnya tidak bisa lagi bekerja, mau tidak mau beban orangtua dan adiknya menjadi tanggung jawabnya. Penghasilan toko Ibunya tidak seberapa dan adiknya yang tengah mengerjakan tugas akhir juga tidak sempat melanjutkan pekerjaan paruh waktunya karena ingin fokus menyelesaikan kuliah.
Tidak ada pilihan bagi Emma. Ia harus mengambil alih menjadi tulang punggung orangtua dan adiknya. Keningnya berdenyut dan masalahnya makin bertumpuk. Sudah masalah pernikahannya dengan Alvin, pekerjaan yang tidak beres, kebutuhan keluarga yang makin besar karena ada kenaikan uang sekolah anak-anaknya, sekarang ditambah masalah orangtuanya. Gaji Emma memang terbilang besar, tapi jika ia menanggung begitu banyak orang, mana sanggup?
Lebih dari separuh hidup Emma sekarang dihabiskan di kantor, haruskah ia menambah pekerjaan lagi? Tidak sanggup rasanya. Emma kelelahan.
Emma benar-benar tidak bisa berpikir. Otaknya terlalu penuh untuk mencari jalan keluar bagi semua masalah yang berjejalan itu. Emma hanya bisa menghela nafasnya berulang kali dan pandangannya kosong di kala rapat.
Beberapa kali anak buahnya menanyakan beberapa hal namun jawaban Emma sepertinya tidak masuk akal. Apakah ada yang bisa ia lakukan sekarang untuk mengatasi masalah-masalahnya? Yang terpikir pertama sekarang adalah perceraiannya.
Jauh di lubuk hati Emma yang paling dalam, ia tidak pernah mengizinkan adanya perceraian dalam pernikahannya. Tapi kali ini entah mengapa ia tidak bisa melihat jalan keluar lagi dari konflik berkepanjangan dalam rumah tangganya selain bercerai. Haruskah ia memilih jalan itu?
Seperti ada dua ekor anjing yang bertarung di dalam pikirannya sekarang. Saling beradu kuat untuk menentukan siapa pemenangnya. Yang satu ingin mempertahankan pernikahan, yang satu lagi ingin mengakhiri semua penderitaan dengan perceraian. Siapa yang menang yang akan menguasai keputusan Emma sepenuhnya.
Ia mengetuk-ngetuk bolpennya ke atas meja. Matanya menerawang kosong di tengah rapat online kali ini dengan pihak direksi. Melupakan bahwa ia sekarang harus menghadapi amukan direksi terhadap kasus yang mereka alami. Jiwanya ada di dalam ruangan itu tapi raganya hilang entah ke mana.
“Baik, Pak. Kami akan menanganinya. Emma… Emmm…” Michael yang sedari tadi menjawab semua pertanyaan direksi kini menyenggol Emma. Menyadarkan lamunannya.
“Hah… oh… iya, Pak. Kami akan mencoba yang terbaik.”
“Aku serahkan masalah ini pada kalian. Dalam 3 hari jika masalah ini belum selesai, seluruh divisi penjualan harus mengganti rugi kerugian perusahaan, paham?!”
Setelah ucapan yang satu ini, rapat pun berakhir. Ekspresi dan komentar berisi kepanikan dan takut mulai mencuat. Siapa yang tidak takut dengan ancaman ganti rugi perusahaan? Nilainya ratusan juta. Jika dibagi satu divisi yang berisi lima belas orang, satu orang menangggung puluhan juta! Bayangkan berapa lama mereka bisa melunasi kerugian itu.
Michael memijit keningnya yang berdenyut. Kehidupan dan keberlangsungan semua anak buahnya ada di tangannya dan Emma sekarang. Mereka harus berjuang lebih agar bisa menyelesaikan masalah ini.
Tapi di saat seperti ini, Michael bisa melihat tatapan kosong Emma. Ia bisa memastikan apa yang terjadi pada Emma. Lagi-lagi masalah pribadi yang terbawa hingga pada pekerjaan. Michael berdiri dan duduk di sisi meja membelakangi Emma.
“Apa yang terjadi sama kamu sih? Hari ini kamu sangat tidak fokus. Biasanya kamu ikut membela tim kita tapi hari ini aku yang berjuang mati-matian.”
Emma melirik Michael sekilas lalu menghela nafas panjang.
“Entahlah, Mike. Perasaanku sedang sumpek sekarang. Pernikahanku ada di ujung tanduk, anak-anakku bermasalah dan sekarang pekerjaanku juga hanya mendapat cacian dari atasan. Rasanya ada yang salah dengan hidupku. Aku hanya tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang? Semuanya serba salah dan semuanya…hancur hiks…” Tiba-tiba saja Emma terisak di hadapan Michael.
Seluruh karyawan divisi penjualan terkejut melihat Emma menangis. Baru kali ini wanita yang dijuluki Super Woman itu menangis di kantor. Walau beban seberat apapun, Emma tidak pernah menangis. Tapi kali ini berbeda. Bagaimana bisa?
Michael memberi isyarat agar semua orang di ruangan itu keluar. Meninggalkan mereka berdua.
Michael duduk di kursi sebelah Emma, menarik tubuh Emma dan memeluknya. Membiarkan Emma meluapkan semua emosinya, beban di dalam hatinya begitu saja. Emma menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Michael. Membuat jas pria itu sudah basah karena air mata. Namun Michael membiarkannya. Malah, kini tangan kokoh Michael menepuk-nepuk lembut punggung Emma.
Kamu sudah melakukan yang terbaik, Emm. Kamu sudah bekerja keras,” ucap Michael berulang-ulang. Saat seseorang merasa overload seperti Emma, terkadang sebuah ungkapan sederhana seperti “kamu sudah bekerja keras” mampu memberikan kelegaan. Ada orang yang menghargai kerja kerasnya selama ini.
Tangis Emma makin menjadi. Bercampur antara lelah mental yang ia hadapi sekaligus terharu. Setidaknya Michael mengerti bagaimana kerasnya semua yang ia kerjakan sampai hari ini. Setelah dirasa tenang, Michael menarik tubuh Emma dari pelukannya. Menghapus air mata yang meleleh dengan jari telunjuknya yang lembut.
“Apapun yang terjadi sama kamu, ingat aku akan selalu ada di sisimu. Jangan menanggung beban ini sendiri, Emm. Kamu masih punya aku,” kata Michael penuh dengan perhatian. Siapa yang tidak meleleh jika begini jadinya. Kata-kata Michael entah mengapa terasa mirip seperti yang diucapkan Alvin beberapa tahun sebelum mereka menikah. Dan kata-kata itu sekarang lenyap ditelan bumi.
Seolah membawa angin segar dalam ingatan Emma, Michael berhasil membuat Emma berdesir. Untuk sejenak hati Emma merasa menghangat. Mata Michael yang lembut dan pelukan hangat yang pria itu berikan mampu menenangkan hati Emma. Seulas senyuman menghias wajahnya, menggantikan tangisan yang sebelumnya.
Setelah tenang, Michael mengajak Emma makan siang. Melupakan sejenak apa yang terjadi saat rapat yang menguras emosi.
Michael membawa Emma menuju sebuah restoran bintang lima di dekat kantor. Michael berpikir hati yang sedang sedih membutuhkan hiburan yang lebih dari biasanya. Dan mungkin cara terbaik untuk menghibur hati yang gundah adalah dengan memanjakan lidah. Michael tahu masakan di restoran ini adalah yang terbaik. Jadi, ia mengajak Emma makan di sana. Ia sudah memesan ruangan khusus agar hanya ada dirinya dan Emma di sana. Memberikan privasi dan kenyamanan bagi Emma.
Emma sedikit terkejut dengan tempat makna pilihan Michael, biasanya mereka makan di warung atau depot dekat kantor, tapi kali ini sepertinya tidak biasa. Hati Emma tiba-tiba saja membandingkan Michael dengan Alvin. Alvin tidak akan pernah mau mengajaknya makan di restoran bintang lima seperti ini. Suaminya pasti beralasan bahwa untuk apa membuang-buang uang hanya demi makanan yang sesaat saja di perut lalu berakhir di jamban.
Sementara Michael? Pria itu selalu melakukan yang terbaik dan memperlakukannya sangat istimewa. Seandainya Emma bisa memilih, mungkin seharusnya waktu itu Emma memilih Michael yang hangat, bukannya Alvin yang datar dan dingin.
“Kita makan di sini?” Michael tidak menjawab dan langsung turun untuk membukakan pintu mobilnya untuk Emma.
“Yes, Princess. Kita akan makan di sini,” katanya lembut. Emma keluar dari mobil lalu berbisik di telinga Michael.
“Mike, tapi ini restoran mahal. Aku…”
“Aku traktir. Masuk yuk,” kata Michael lalu berjalan terlebih dahulu ke dalam restoran sebelum Emma mengeluarkan omelannya atau memberikan penolakan.
Melihat sikap Michael yang manis, Emma tersenyum lalu mengikuti Michael dari belakang. Partnernya itu tahu cara membuatnya lebih baik.
***
Emma memainkan gelas es cappuccino yang ia pesan di tangannya.
“Thank you, Mike. Aku rasa kalau tidak ada dirimu, mungkin aku sudah terjun tadi dari lantai 10. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan lagi. Hidupku rasanya seperti sampah. Semua hal yang aku lakukan selalu salah. Tidak ada keputusanku yang benar and… I fell I’m totally failed.”
Michael memandang Emma dan mendengarkan dengan seksama. Ia bisa melihat bagaimana rapuhnya wanita di hadapannya. Wanita yang selalu ia sanjung karena keberanian dan kegigihannya, nyatanya hanyalah seorang wanita yang rapuh. Dan Michael senang bisa melihat sisi itu dari diri Emma. Setidaknya Emma bisa menjadi dirinya sendiri saat bersama dengan Michael. Tidak perlu menutupi dirinya dan menggunakan topeng Tangguh di hadapannya. Biarlah Emma seperti ini, menjadi wanita yang rapuh, yang membutuhkan perlindungan darinya. Biarkan dirinya yang menjadi tempat berlindung Emma.
“Sstt… jangan berkata seperti itu. Nggak ada orang yang bilang kalau kamu gagal, Emm. Kamu sudah berusaha keras dan kamu sudah tunjukkan itu. Dalam pekerjaan, aku bisa lihat sendiri bagaimana kamu kerja. Dalam rumah tangga pun aku bisa melihat kamu juga bekerja keras untuk menghidupi suami dan anak-anakmu. Hanya, aku nggak tahu bagaimana Alvin melihatnya.
Jika sampai dia menyakiti kamu seperti ini, aku rasa Alvin benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa ia membuat kamu stress sampai seperti ini? Untuk apa melanjutkan pernikahan dengan orang yang tidak bisa memberikan kamu kebahagiaan? Yang pekerjaannya hanya membuat kamu marah dan sedih. Apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu?”
Bahagia? Sepertinya perasaan itu menguap setelah tahun ketiga pernikahannya dengan Alvin. Lupakan momen bulan madu yang singkat itu, karena setelahnya hari-hari mereka diisi dengan konflik, berdebat, berselisih paham dan saling menyalahkan. Pernikahan di lima tahun pertama yang katanya seperti madu, nyatanya adalah neraka bagi Emma. Mungkin bagi Alvin juga.
“Jika kamu tidak merasakan bahagia lagi di pernikahanmu, pikirkan opsi untuk bercerai. Karena itu satu-satunya cara melepaskan beban yang selalu mengganjal di hidupmu. Kamu berhak bahagia, Emm. Jangan sampai kebahagiaanmu terkunci hanya karena hidup bersama orang yang tidak memikirkan kebahagiaanmu.”
Michael tiba-tiba menggenggam telapak tangan Emma. Menatap serius ke kedalaman mata Emma dan Emma seakan terbius dengan itu.
“Aku mengkuatirkan kamu, Emm. Kamu sedih, aku juga ikut sedih. Kamu tidak bahagia, aku pun merasakan yang sama. Pikirkan dirimu. Pikirkan kebahagiaanmu. Haruskah kamu mengorbankan semuanya demi seorang pria yang tidak mampu memberikanmu bahagia?” Lagi-lagi Emma merasa dikuatkan. Benar, perceraian akan mengakhiri semua derita yang ia alami. Kata-kata Michael menancap di hati Emma.
Emma menghela nafas panjangnya. Memasang senyuman tipisnya dan perlahan keyakinannya mulai bangkit. Bercerai adalah yang terbaik bagi dirinya, bagi Alvin dan bagi semuanya. Tekanan ini tidak akan berakhir jika mereka terus menjalankan pernikahan yang hanya berisi konflik.
“Aku rasa memang lebih baik aku bercerai.”