Banyak orang berpikir, perpisahan adalah jalan keluar dari semua masalah. Sebenarnya yang terjadi, perpisahan hanya akan membuat masalah baru dalam hidup mereka, orangtua mereka dan terlebih lagi, anak-anak mereka. Perpisahan kedua orangtua hanya akan membuat luka di hati mereka. Meninggalkan trauma dan ingatan yang menakutkan.
Bianca dan Tiara berdiri di hadapan kedua orangtuanya. Air mata mereka mengalir dan mereka saling berpelukan. Memperhatikan bagaimana dua orang dewasa itu saling bersitegang dan saling membentak. Anak kecil mana yang tahan dengan suara bentakan dan nada meninggi? Hanya rasa takut yang menghantui mereka. Kedua gadis kecil itu hanya bisa berpelukan. Berusaha menjaga satu sama lain, mengurangi rasa takut mereka melihat kedua orangtuanya yang saling melemparkan amukan.
Dua orang dewasa itu memandang kedua putri mereka dengan penuh penyesalan. Mereka jelas-jelas tahu bahwa teriakan dan bentakan saat berkonflik tadi pasti akan membuat kedua putri mereka ketakutan. Perlahan wajah mungil Tiara sesenggukan dan seketika ia menangis dengan kencang. Alvin tidak kuasa untuk tidak memeluk tubuh mungil Tiara yang bergetar. Dan baru saja ia memeluk Tiara, Bianca ikut terisak. Alvin memeluk kedua putrinya.
Di mana Emma? Emma hanya berdiri mematung, memijit keningnya dan melihat masalah baru datang lagi. Emma lelah. Haruskah ia menangani masalah ini lagi? Emma memandang iba pada kedua putrinya. Walau pikirannya lelah seperti apapun, hatinya sebagai seorang Ibu tidak tega melihat kedua putrinya menangis. Tapi ia mengeraskan hatinya. Jika ia terpengaruh dengan kedua putrinya juga, maka semua keputusan yang ia buat tadi akan percuma. Keputusannya untuk berpisah dari Alvin sudah bulat.
Emma menguatkan dirinya lalu berjalan pergi tanpa menengok kedua putrinya lagi. Di dalam kamar, ia hanya bisa menangis. Sejujurnya hati nuraninya sebagai seorang Ibu tidak pernah tega melakukan ini pada darah dagingnya. Tapi, sebagai seorang wanita yang terluka dan tidak mampu lagi menahan semua tekanan bertubi-tubi yang datang, ia hanya ingin keluar dari masalah ini. Tidak ingin lagi berlama-lama berkubang dalam masalah yang terus menghisapnya.
Emma memeluk lututnya dan terisak. Menumpahkan semua beban di hatinya yang sedari tadi membuatnya sesak. Dan lagi, di saat yang tidak tepat, Michael kembali menghubunginya.
Emma menghapus air matanya dan bergegas mengangkat panggilan Michael. Selama ini Emma tidak pernah kehilangan satu detikpun untuk mengangkat panggilan Michael. Emma menghormati Michael sebagai atasannya dan ia hanya ingin menjadi professional dalam karirnya.
Emma mengangkat panggilan telepon Michael.
“Halo…”
“Emma, are you okay? Suaramu terdengar sengau. Apa kamu nggak apa-apa?” Michael menyadari ada yang berbeda dengan suara Emma. Ia sangat yakin ada sesuatu yang terjadi dalam hidup Emma dan ini pasti karena pertengkaran Emma dengan Alvin lagi.
Emma berdeham, berusaha membuat suaranya lebih baik. Tidak ingin membuat Michael kuatir.
“Aku nggak ada masalah kok. Kenapa?”
“Emm, kalau kamu nggak siap untuk dengar masalah kantor lebih baik aku ceritanya nanti saja di kantor. Atau kalau perlu, kamu cuti saja hari ini. Aku bisa handle masalahnya sendiri,” kata Michael dengan penuh perhatian. Ia tahu Emma membutuhkan jeda untuk mengurus hidupnya. Ia tidak ingin wanita yang dicintainya itu makin merasa tertekan. Terlebih situasi rumah tangganya sedang berantakan sekarang.
Tapi beda dengan Emma, wanita itu tetap berusaha tampil professional. Tidak ingin masalah rumah tangganya mengganggu urusan pekerjaannya.
“Nggak… nggak… aku nggak apa-apa. Ada masalah apa kali ini?”
Michael menghela nafas.
“Bos besar mengajak kita rapat pagi ini. Setengah jam lagi. Kamu yakin bisa ikut rapat?” Michael masih memastikan. Masalah yang mereka alami kemarin telah sampai di telinga direktur dan pasti memancing emosi sang direktur. Kerugian yang mereka alami sangat besar dan siapa direktur yang bisa tahan dengan angka sebesar itu?
Jika ‘Bos Besar’ sudah mengajak rapat itu artinya semua orang harus bersiap mendengarkan amukan, cacian bahkan hinaan dari pria paruh baya menyebalkan itu. Terakhir, si Bos Besar berhasil membuat semua orang di divisi penjualan harus potong gaji karena kasus barang hilang. Kini, membayangkan hukuman apa yang harus ditanggung divisi penjualan saja sudah membuat semua orang ngeri. Apalagi kini nilai kerugiannya mencapai ratusan juta. Siapa yang akan menanggung semuanya itu?
Emma menghela nafasnya kasar. Keningnya berdenyut dan kini jantungnya berdebar tak karuan. Hanya pada bos besarnya itulah Emma merasa sangat takut. Dan kini ia harus berdiri di samping Michael sebagai tameng bagi anak buah mereka yang tidak bersalah. Sebagai pimpinan, ia tidak mau anak buahnya menanggung semua resiko itu sendiri. Bagaimanapun juga ia dan Michael adalah pimpinan, dan mereka berdua harus menanggung beban yang lebih besar dari anak buahnya.
Emma hanya perlu mempersiapkan diri. Lupakan masalah perpisahan dan anak-anak, kini nyawa puluhan orang di bawahnya ada di pundaknya.
“Sepertinya marah besar lagi ya?”
“Uh-huh… Tapi lebih baik hari ini kamu di rumah saja. Aku yang akan menghadapi dia, oke?” Michael berusaha berdiri di depan Emma, menahan semuanya dan menjadi tameng. Ia tidak ingin menambah beban Emma.
“Tidak, Mike, kita harus hadapi ini berdua. ‘Anak-anak’ kita membutuhkan kita, bukan Cuma kamu.” Emma dan Michael memang menyebut para sales sebagai anak-anaknya karena mereka memang memperlakukan anak buahnya seperti anaknya. Melindungi, menjaga dan bertanggung jawab penuh atas semua yang anak buahnya lakukan. Bahkan, Emma sepertinya lebih terlihat seperti ‘orangtua’ yang baik bagi para sales dibandingkan bagi darah dagingnya sendiri.
Michael tidak bisa memaksa Emma. Jika memang Emma bersikeras untuk menghadapi semuanya, maka Michael hanya bisa menerima.
“Apa mau kujemput hari ini?” Michael menawarkan bantuan. Mungkin pertengkaran dengan Alvin membuat Emma enggan berangkat diantar suaminya hari ini.
Emma tampak berpikir sejenak.
“Nggak usah, aku harus selesaikan sesuatu sama Alvin. Kita ketemu di kantor langsung aja.”
“Oke.”
KLIK! Panggilan itu terhenti.
Emma menatap dirinya di cermin. Melihat bagaimana kusam dan menakutkannya dirinya sekarang. Rambut kecoklatannya terlihat kusut, mata cekung dan sedikit berkantung, sudut mata yang masih sembab karena air mata, tubuhnya mengurus beberapa kilo akibat telat makan dan bahkan tidak berselera makan. Emma menyugar rambutnya ke belakang. Menghela nafas dan menutup semua kekurangan itu dengan make up.
***
Emma keluar dari kamarnya, dengan pakaian kerjanya yang rapi. Tubuhnya wangi, rambutnya digelung rapi ke atas dan wajahnya dipoles dengan make up yang sedikit tebal. Menutupi jejak-jejak kekurangannya dengan sempurna. Seolah tidak terjadi apapun.
Di lantai bawah, ia melihat kedua putrinya masih sesenggukan dalam pelukan Alvin walau sudah lebih tenang sekarang.
“Kita berangkat sekarang yuk. Nanti terlambat,” kata Emma tanpa merasa ada sesuatu yang salah. Beberapa belas menit yang lalu ia sudah menorehkan luka di hati kedua putrinya, kini ia bertingkah seolah masalahnya lenyap begitu saja. Bertingkah normal seperti biasa.
Alvin memandang Emma dengan tidak senang. Bukannya meminta maaf pada anak-anaknya yang shock, ia malah bertingkah seolah tidak terjadi apapun. Apakah hati Emma memang terbuat dari batu? Bukankah harusnya seorang wanita lebih peka dengan perasaan orang lain? Mengapa Emma tidak merasakannya?
“Yuk, kita berangkat. Mama mau terlambat!” seru Emma lalu menarik tangan Bianca lebih dulu. Bianca menurut. Walau tangannya ditarik oleh Emma, tapi Bianca masih menoleh pada Alvin.
Alvin menghela nafasnya lalu mengajak Tiara untuk beranjak ke dalam mobil.
Suasana hening itu kembali lagi. Tidak ada satu suarapun yang mengisi kekosongan itu. Bibir mereka terkatup dan berkutat dengan kehidupan mereka sendiri. Alvin fokus pada jalanan dan Emma fokus pada ponselnya. Hanya tersisa dua gadis kecil yang masih shock itu di belakang. Terdiam dan tidak berani berbuat ulah. Bianca tahu Tiara masih terlihat sedih, ia menggandeng tangan Tiara, memberikan kehangatan.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, kedua orang itu turun untuk mengantar Bianca dan Tiara. Emma menunduk dan membetulkan seragam kedua putrinya lalu mencium kening mereka. Seorang guru datang menyambut kedua gadis kecil itu di depan gerbang, melihat Alvin dan Emma yang selalu datang mengantar anak-anak mereka membuat iri semua orang.
“Wah, Bapak Alvin dan Ibu Emma memang pasangan yang romantis. Mengantar anak-anak selalu berdua. Jarang lho lihat orangtua lain yang seperti Anda berdua. Para guru dan orangtua di sini sampai iri melihat kalian selalu bersama,” puji guru muda itu.
Alvin hanya tersenyum sekilas lalu mengangguk undur diri. Tidak tertarik membahas itu lebih lanjut. Anggap saja itu pujian walau nyatanya tidak demikian. Begitu juga Emma yang mengulum senyum lalu masuk ke dalam mobil. Mereka hanya bisa melihat semuanya dari luar, tapi mereka tidak tahu bagaimana pernikahan mereka yang seperti neraka.
Alvin melajukan mobilnya dari depan sekolah tanpa berminat mengucapkan satu patah kata pun. Dan Emma kembali berkutat dengan ponselnya. Ratusan pesan masuk di dalam grup chatting-nya. Membuatnya makin sebal dan lelah.
“Duh… bos besarku ini lho menyebalkan! Bisa-bisanya dia berencana memotong gaji anak buahku. Padahal mereka lho tidak bersalah. Ini kan kecelakaan,” Emma membuka obrolan, Meluapkan semua emosi yang tertahan dan makian yang tidak akan mungkin tersampaikan nanti di kantor.
Namun Alvin tetaplah Alvin. Jika sesuatu sudah mengganggunya sejak pagi, ia tidak akan menggubris orang tersebut, bahkan termasuk Emma sekalipun. Ia tetap diam. Baginya, daripada nanti ditanggapi malah jadi konflik, lebih baik diam. Toh, Emma tidak membutuhkan solusinya karena ia selalu dianggap bodoh dalam hal seperti ini. Alvin memang tidak pernah menjabat di posisi manajerial, jadi tahu apa dia masalah pengambilan keputusan?
Emma memandang Alvin lagi. Suaminya benar-benar dingin. Emma hanya membutuhkan konfirmasi atau tanda bahwa Alvin mendengarkan.
“Kamu kok nggak ngomong sesuatu? Beri aku pendapat kek atau solusi kek. Kamu dingin banget!” gerutu Emma.
“Percuma juga aku kasih pendapat, ujung akhirnya kamu akan anggap pendapatku cuma angin. Toh, aku nggak ngerti masalahnya seberapa parah dan buat kamu aku nggak pernah paham masalah bisnis,” jawab Alvin enteng. Emma hanya berdecak sebal lalu kembali berkutat dengan ponselnya.
“Haruskah kita berpisah?” pertanyaan itu yang malah terlontar dari bibir Alvin tiba-tiba. Rasanya lelah harus berhadapan dengan situasi yang sama setiap hari. Sesabar-sabarnya Alvin, ia memiliki batas. Dan Emma selalu berhasil membuatnya melangkah melewati kesabarannya sendiri.
Tanpa memandang Alvin, Emma hanya menjawab.
“Sebaiknya lebih cepat lebih baik. Kita nggak akan bisa hidup seperti ini terus. Bertengkar setiap hari, merasa tersiksa setiap hari. Aku sudah capek. Lebih baik kita berpisah segera karena aku tidak mau hidupku jadi makin terpuruk gara-gara pernikahan bodoh dan penuh kepalsuan ini.”
Alvin meneguk ludahnya bulat-bulat. Ada kata-kata yang tersangkut. Ingin rasanya membantah ucapan Emma, tapi tidak mau ia katakan.
“Anak-anak biar aku yang jemput hari ini dan…aku akan hubungi Bang Abby untuk mengurus perceraian kita.” Setelahnya Emma turun dari mobil karena mobil sudah sampai di depan kantornya. Tanpa menunggu jawaban Alvin, Emma selalu membuat keputusannya sendiri.
Dan lagi, Emma sudah disambut Michael dengan senyuman di depan lobby. Hati Alvin makin merasa panas. Ia memukul setir dan memutar balik mobilnya. Menghadapi muak dan marah karena apa yang ia lihat barusan. Mungkin pria itulah penyebab semua kekacauan dalam rumah tangganya.