5. Pasta Gigi

1957 Words
Semalam telah berlalu dan pasangan itu memutuskan tidur terpisah. Emma di kamar utama dan Alvin di kamar tamu. Menjelang pagi, Alvin biasanya berpindah ke kamar utama karena tidak ingin dilihat kedua putrinya bahwa orangtuanya tidur terpisah. Saat Alvin hendak masuk ke kamar utama di lantai atas, Bianca sudah bangun terlebih dulu dan keluar dari kamarnya. Alvin terkejut melihat putri sulungnya keluar sambil mengucek matanya. “Papa dari mana? Kok ada di luar kamar?” tanya Bianca polos. Alvin tersenyum dan setengah berjongkok sambil memutar otak menjawab pertanyaan putrinya. Jika bilang ingin ke kamar mandi, di kamar utama ada kamar mandi di dalam kamar. Tapi jika ingin bilang mau mengambil air, di lantai atas sudah disediakan dispenser air. Jawaban apapun sepertinya sulit. “Uhmm… Papa tadi jalan-jalan sebentar di luar. Mau memastikan sesuatu.” Bianca masih tidak percaya ucapan ayahnya. Alvin tahu putri sulungnya adalah anak yang kritis, ia pasti bisa melihat kebohongan di wajah Alvin. Alvin mengelus pucuk kepala Bianca dengan lembut. “Bianca tidur lagi gih… Masih subuh, nanti di sekolahnya ngantuk lho. Oke?” Alvin mengantar Bianca masuk ke dalam kamar lagi. Menyelimuti tubuh mungil putrinya dan mengelus pucuk kepala putrinya lembut, seperti yang biasa ia lakukan setiap malam sebelum tidur. “Papa… apa Papa dan Mama akan bercerai?” pertanyaan polos dari bibir mungil Bianca cukup mengejutkan Alvin. “Mengapa Bian bertanya seperti itu?” “Bian dengar Papa Mama marah-marah semalam. Dan Vivi, teman Bian di sekolah bilang kalau Papa Mamanya suka bertengkar di rumah jadi mereka bercerai. Apa Papa Mama juga mau bercerai juga?” pertanyaan polos itu ditanyakan Bianca dengan wajah penuh kesedihan. Hati Alvin teriris melihat putrinya sesedih itu. Sedikit terkejut karena Bianca tahu arti bercerai. “Tidak. Papa dan Mama tidak akan bercerai. Papa dan Mama akan selalu bersama dengan Bianca dan Tiara, ya?” Bianca mengangguk cepat. “Papa harus janji, Papa Mama nggak boleh bercerai sampai kapanpun. Bian dan Tia mau tinggal bareng sama Papa Mama terus. Ya?” ucap Bianca sambil menyodorkan kelingkingnya pada Alvin. Alvin langsung mengaitkan kelingkingnya. “Papa janji.” Ayah dan anak itu tersenyum sejenak lalu setelahnya Alvin memeluk Bianca hingga keduanya kembali tertidur di Kasur Bianca yang sempit. *** Rutinitas membosankan ini kembali berulang. Emma bangun pagi dengan kondisi tidak baik-baik saja. Wajahnya kusut dan bekas air mata itu masih terlihat. Kantung matanya masih tercetak jelas, menunjukkan ia sedang tidak baik-baik saja. Hingga subuh ia masih disibukkan mengurus kiriman yang bermasalah itu. Apalagi ditambah kejadian semalam dengan Alvin. Matanya benar-benar sulit terpejam. Tenaganya habis, tubuhnya lelah, emosinya terkuras dan ia hampir tidak tidur semalaman. Sungguh malam yang sangat berat untuk Emma. Tapi Emma menyadari ini adalah resiko profesi dan jabatan yang ia emban. Penuh tekanan dan tantangan. Berulang kali Emma ingin mengundurkan diri, tapi rasa kuatir dan takutnya akan kebutuhan hidup keluarganya menjadi pertimbangan lain selain karena Michael. Tidak mungkin ia mempedulikan egoisme-nya, sementara keluarganya kelaparan karena bisnis Alvin sama sekali tidak bisa memenuhi kebutuhan operasional mereka yang besar. Hanya gaji Emma yang membuat mereka bertahan. Dan pada akhirnya, walau stress dan penuh tekanan sekalipun, Emma tetap menjalankan profesinya. Tidak sadar bahwa pada akhirnya hidupnya seakan dibeli sepenuhnya oleh pekerjaannya, dan merenggut semua kebebasan serta kebahagiaannya. Tanpa sadar pekerjaan ini membuat Emma jarang tersenyum. Yang ia hadapi setiap hari hanya masalah… masalah… dan masalah. Emma sudah muak dengan masalah. Dan bagi Emma, semua ini gara-gara Alvin! Kini ia harus bangun pagi kembali, seburuk apapun situasi yang ia hadapi semalam. Ia melangkah menuju ke wastafel bersama, wastafel yang sengaja dibangun agar mereka sekeluarga bisa sikat gigi bersama. Impian kecil yang kedua orang itu miliki sejak sebelum menikah. Kedua putrinya dan Alvin sudah di sana, menemani kedua putri kecilnya sikat gigi. Emma tersenyum sejenak lalu mengelus rambut putri-putrinya dengan lembut. “Sikat giginya pintar sekali, anak-anak Mama pintar!” puji Emma. Tiara menunjukkan giginya yang masih berbusa pada Emma. Bianca juga tersenyum mendengar pujian Mamanya. “Gimana sekolahnya kemarin? Senang?” Emma menyiapkan mug kumur, sikat gigi lalu memencet odolnya dari bawah, mengambilnya dengan sikat sambil menunggu jawaban dari putri-putrinya. “Senang! Tiara dapat nilai 100 buat matematikanya, Ma!” ucap Tiara semangat, sementara Bianca diam saja. Ia mewarisi karakter Alvin yang sedikti pendiam dan pemikir. Sementara Tiara lebih mirip sepertinya yang ceria dan aktif. “Wah… good! Kalau Bian gimana?” Bianca tidak langsung menjawab. Ia menatap Emma dengan takut-takut, masih dengan sikat gigi di dalam rongga mulut kirinya. “Bian dimarahi gurunya kemarin di kelas karena suka melamun di kelas.” Kali ini Alvin yang mewakili Bianca menjawab sambil mengelus pucuk kepala putrinya. Alvin kemarin yang menjemput kedua putrinya mendapatkan laporan dari guru Bianca mengenai kejadian di kelas. Bianca menunduk takut, ia sudah yakin kali ini Emma pasti akan marah. Emma memandang Bianca dengan terkejut lalu berkacak pinggang. Lagi, satu masalahnya bertambah. Bisa-bisanya putrinya tidak bisa fokus belajar. Tanda bahwa putri sulungnya bermasalah. “Kok bisa sih Bian? Bian kan tahu kalau sekolah Bian itu mahal. Bian harus belajar rajin, kenapa sih harus melamun? Mama tidak sekolahkan Bian untuk main-main di sekolah. Belajar itu harus rajin. Dengarkan omongan bu guru dengan baik. Mengerti?” Emma memarahi Bianca. Bianca langsung terisak. Apakah salah Bianca melamun? Di otaknya berkecamuk banyak hal, termasuk ketakutannya jika kedua orangtuanya berpisah. Ditambah lagi, Bianca termasuk anak yang tertutup. Ia tidak berani mengutarakan isi pemikirannya dan semua ketakutannya. Setiap malam tanpa sepengetahuan Alvin dan Emma, Bianca selalu menjadi saksi bagaimana kedua orangtuanya bertengkar. Belum lagi ucapan teman sekelas Bianca yang baru saja menjadi broken home karena kedua orangtuanya bercerai. Dalam otak kecil itu selalu berputar-putar ketakutan akan perpisahan kedua orangtuanya. Itu sebabnya Bianca tidak fokus di sekolahnya. Ia hanya takut sesuatu yang buruk terjadi dalam keluarganya. “Maafin Bian, Ma. Nggak akan terulang lagi,” jawab Bian dengan penuh penyesalan. Ia menyelesaikan sikat giginya lalu segera masuk ke dalam kamarnya untuk menyiapkan buku pelajaran. Setelah itu diikuti Tiara yang juga ikut kembali ke kamar. Alvin mengambil sikat giginya lalu menekan pasta gigi itu dari tengah. Sebuah kebiasaan yang Emma tidak pernah suka dari Alvin dan ia sudah memprotes banyak kali namun tidak kunjung diubah. Emma melirik Alvin tidak suka lalu berdecak gemas. “Kenapa sih kamu nggak bisa bener menekan pasta giginya? Selalu saja dari tengah!” Hal sekecil ini diprotes Emma dan membuat Alvin jengah. Adakah kebebasan untuknya di sini? Ini hal kecil dan sangat sepele, haruskah menjadi masalah? “Biasanya juga begitu,” jawab Alvin malas. Emma berkumur lalu menatap Alvin dengan marah. “Kalau pencet pasta giginya dari tengah itu bikin boros, Alvin! Dan itu akan banyak terbuang nantinya. Lagipula aku bener-bener nggak suka bentuk pasta giginya jadi nggak karuan kaya gitu!” “Ya kalau nggak suka, nggak usah dilihat. Beli saja lagi pasta giginya,” seloroh Alvin malas. Istrinya terlalu suka mengontrol. Alvin bukan anak kecil, dan mengapa tidak ada kebebasan baginya barang sejenak saja? Ini masalah kecil tapi Emma merasa besarnya se-gajah. Emma membanting sikat giginya. Entah mengapa hari ini semuanya seakan bertumpuk jadi satu. Masalah dengan Alvin, putrinya, urusan kantor dan semuanya! Rasanya kepalanya mau meledak. “Enak saja kamu bilang! Pasta gigi itu juga butuh uang! Kamu saja nggak bisa mendapatkan uang buat beli pasta gigi, sekarang gampangnya kamu bilang kaya gitu.” Emosi Alvin tersulut. Ia ikut-ikutan membanting sikat giginya. Ia tahu ke arah mana obrolan itu akan bermuara. Lagi-lagi masalah pekerjaan Alvin. “Terus kamu lagi-lagi meremehkan pekerjaanku gitu? Anggap aku nggak becus jadi suami, kepala rumah tangga atau apa gitu?! Terus saja remehkan aku! Kamu memang nggak pernah menganggap aku ada kan?!” Nada Alvin sudah meninggi. Sungguh ia tidak terima. Istrinya memang keterlaluan. “Iya, kalau memang aku anggap kamu begitu memang aku salah? Aku menilai seseorang dengan fakta. Mana buktinya kalau kamu becus? Semua yang kamu kerjakan itu failed! Keputusan yang kamu bikin itu ngawur! Berapa banyak uang kita yang tersangkut di bisnis bodohmu itu, hah? Itu untuk uang sekolah Bianca dan Tiara, semuanya habis dan mana kembalinya? Aku nggak melihat kamu berusaha untuk itu!” “Oh jadi sekarang kamu perhitungan ya? Oke, Fine! Kamu mengingkari semua omonganmu sendiri waktu itu! Uang itu uang kita bersama. Keputusan aku bangun bisnis itu kita sepakati bersama, sekarang kamu nagih gitu aja seperti rentenir.” “AKU NGGAK AKAN BEGINI KALAU KAMU NGGAK MEMULAI! Sudah lima tahun aku menunggu hasilnya, tapi MANA?! Kamu nggak berusaha!” Nafas Alvin menderu. Ia memandang Emma dengan amarahnya. “Kamu bilang apa? Nggak berusaha? Kamu nggak pernah ada di posisiku. Setiap hari mikir apa lagi yang bisa dilakukan untuk mendatangkan klien. Foto seperti apa lagi yang bisa memuaskan mereka? Bisnis fotografi itu nggak gampang! Kami butuh portfolio!” Emma balas menatap Alvin nyalang. Berkacak pinggang karena tidak bisa lagi bersabar. “Portfolio…. Portfolio! Kamu kan bisa jadi freelance, ikut temen atau apapun? Kenapa nggak berusaha lebih sih?” Alvin mendengus sinis. Percuma ia menjelaskan pada Emma, ia tidak akan mengerti. Daripada menjelaskan lebih jauh, Alvin malah kembali menyerang. Tidak ingin disalah-salahkan seperti tadi. “Gimana caranya aku bisa kerja kalau sedikit-sedikit urusan rumah dan anak-anak itu aku yang urus?! Memangnya kamu juga becus jadi Ibu dan istri?! Sudah nggak pernah bisa melayani suami. Kamu hanya tahu kerja kerja dan kerja. Kapan kamu punya waktu untuk anak dan keluargamu?! Perusahanmu itu bukan keluargamu, kenapa kamu bela-belai sampai gila seperti itu?! Anak-anakmu itu butuh kamu! Mana ada Ibu dan istri yang kaya kamu!” “HEH, ALVIN! SADAR! Kalau kamu becus kerja, nggak mungkin aku kerja kaya orang gila kaya gini!” “DAN KALAU KAMU BECUS MENGURUS ANAK-ANAK DI RUMAH, AKU BISA NGERJAIN PEKERJAANKU! Buktinya kamu sendiri aja nggak pernah ada di rumah. Anak-anak semuanya terpaksa aku yang ngurus, gimana caranya kerja?” “UNTUK APA BAYAR DAYCARE, Alvin? Siapa yang suruh kamu kerjain semuanya?” “BIANCA DAN TIARA ITU ANAK KITA! BUKAN ANAK DAYCARE! Kita yang harusnya tanggung jawab sama mereka. Dan harusnya kamu juga ikut bertanggung jawab mengurus mereka!” Emma memijit keningnya yang makin berdenyut. Kepalanya terasa pening sekarang. “Jadi ini semua salah aku? INI SEMUA GARA-GARA KAMU!” “KAMU CUMA BISA MENYALAHKAN ORANG LAIN TAPI KAMU NGGAK PERNAH LIHAT DARI SISI ORANG LAIN! KAMU PIKIR AKU NGGAK TERTEKAN HIDUP SAMA KAMU? Setiap hari aku cuma bisa mengelus d**a dengerin semua ucapan pedasmu, kritikmu dan semua tuduhan-tuduhanmu yang nggak berdasar itu. KAMU PIKIR AKU SENANG APA HIDUP SAMA KAMU?! NGGAK, EMM!” “OH YA? Bagus kalau gitu. Aku juga sama!” “Belum lagi sama Michael! Istri orang kok keluyuran berdua sama cowok lain? HP isinya tentang Michael semua. Apa nggak selingkuh itu namanya? Jangan-jangan selama ini kalian pulang larut gara-gara tidur bareng! Ya kan?" tuduh Alvin dengan emosinya. “ALVIN!” “Apa? Aku nggak salah ngomong kan?” Alvin membalas sinis. “Terserah kamu mau ngomong apa. Percuma aku membela diri, toh buatmu aku selalu salah.” Tangan Emma mengepal. Ia sudah mengeraskan hatinya dari Alvin. Percuma memperjuangkan pernikahan yang isinya hanya konflik. Daripada kedua hati ini sama-sama terluka, lebih baik akhiri saja semuanya tanpa bersisa. “Oke, fine! Kabulkan permintaanku waktu di mobil. Lebih baik kita berpisah!” seru Emma emosi. “OKE! Itu lebih baik. Aku setuju kita berpisah. Daripada di sini terus, melihat kamu setiap hari, bikin muak!” “OKE!” Keduanya berpisah setelah bertengkar. Saat keluar dari area wastafel, kedua putrinya memandang mereka dengan shock. Bahkan Tiara sudah menangis. “Papa Mama mau berpisah?” Tiara dengan polosnya bertanya dengan air mata sudah mengantung di atas matanya. Begitu juga dengan Bianca, ketakutannya selama ini benar. Semua ketakutannya menjadi nyata sekarang. Untuk sesaat kedua orang itu merasa bersalah pada putri-putrinya. Cepat atau lambat mereka terpaksa meninggalkan luka pada dua insan tak bersalah di hadapan mereka. Semua akibat keegoisan mereka masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD