4. Bertengkar

2326 Words
Emma menangis sesenggukan di mejanya. Ia menelungkupkan kepalanya dalam lipatan tangannya di atas meja. Ia mengalami tekanan yang berat dan nyatanya mentalnya tersiksa sepanjang hari. Masalah itu datang bertubi-tubi di kantor. Mengurus yang satu belum selesai, kini harus berhadapan dengan masalah yang lain. Bos besar mereka baru saja mengata-ngatainya dengan sangat kejam, seperti B*DOH, ANJ*NG, dan sebagainya. Masalah itu sudah terendus dan kini ia menuntut pertanggungjawaban. Tidak hanya itu, divisi Emma kembali mendapatkan tekanan karena ada kasus sales yang membawa kabur uang perusahaan. Semuanya itu ditimpakan padanya dan Emma tertekan. Ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan sepucuk surat. Surat yang sudah dari sejak dua tahun lalu ingin ia layangkan. Surat pengunduran diri. Jika kalian berpikir Emma kuat, nyatanya Emma tidak sehebat yang terlihat di luar. Wanita itu bagaikan telur. Kelihatan kokoh di luar, tapi rapuh di dalam. Emma sebenarnya tidak bisa bertahan lagi dalam perusahaan itu. Ia pernah meminta dipindahkan ke bagian lain, namun selalu ditolak dengan alasan Emma dibutuhkan dalam divisi penjualan. Belum lagi Michael yang terus menahannya untuk pergi. Padahal nyatanya, Emma tidak pernah tahan dengan semua tekanan dalam divisi penjualan. Ia tersiksa. Kali ini rasa itu muncul. Emma tidak bisa bertahan. Ia ingin pergi dari semua tekanan. Ia mengambil surat pengunduran diri itu dan ia letakkan di atas meja Michael selagi pria itu pergi. Begitu Michael kembali, ia sangat terkejut dengan surat itu lagi. Sudah kedua kalinya dalam tahun ini Emma meletakkan surat itu. Ia memanggil Emma, mengajaknya bicara. “Emm, aku tahu kamu tertekan di sini. Tapi kamu tega membiarkan aku sendirian di sini? Kamu tahu sendiri divisi ini nggak bisa diurus seorang diri. Gimana nasibku kalau kamu pergi?” Michael kembali memelas. Divisi itu memang cukup besar cakupannya dan tidak mungkin Michael sanggup tanpa asisten handal seperti Emma. “HRD bisa carikan penggantiku, Mike. Aku sudah nggak tahan. Sorry!” Emma hendak pergi. Ia menutup telinga dan hatinya. Sudah cukup ia bekerja keras dan tidak dihargai oleh atasannya. Ditambah lagi tekanan-tekanan lain yang setiap hari ia harus rasakan. Hidupnya tidak pernah tenang. Saat Emma sudah mantap melangkah, Michael menahan tangan Emma. Hingga wanita itu berbalik. “Emm… please. Aku tahu kamu nggak kuat di sini, tapi setidaknya kita selesaikan masalah ini hingga tuntas. Oke? Setelah itu kita resign bareng. Kita sudah janji sekuat tenaga hadapi ini berdua, mengurus divisi ini berdua, dan kalaupun harus mengakhiri karir di sini, kita harus selesaikan berdua.” Michael kembali berusaha menahan Emma dengan tatapan memelasnya. Emma menggigit bibir bawahnya sambil berpikir dan menimbang. Ia bukan wanita yang tidak bertanggung jawab dan tidak mungkin ia meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Apalagi, ia memang pernah berjanji pada Michael seperti itu dulu. Menganggap anak buahnya sebagai ‘anak-anak’ mereka dan mereka seperti ‘pasangan orangtua’ bagi para sales. Tapi di sisi lain, ia yakin seyakin-yakinnya bahwa masalah divisi penjualan tidak akan berakhir setelah yang satu ini selesai. “Kalau kamu tiba-tiba resign, anak dan suamimu mau makan apa? Kamu yang bilang sendiri kalau kamu sekarang membiayai keluarga dan adikmu. Apa kamu tega membuat semua orang kelaparan? Hanya kamu satu-satunya tulang punggung mereka semua. Dan apa yang akan kamu dapatkan saat kamu resign? Please, pertimbangkan lagi. Please…” ucap Michael kembali meyakinkan Emma. Emma tidak pernah ragu sebelum ini. Ia selalu berani dalam membuat keputusan namun kata-kata Michael barusan membuatnya goyah. Ia menutup matanya sejenak dan tangannya mengepal. Bayangan orang-orang yang bergantung padanya terlintas begitu saja. Haruskah Emma menyerah di tengah jalan seperti ini? Bagaimana dengan mereka semua? Dengan berat hati, Emma memutuskan membatalkan surat pengunduran dirinya. Bertahan sebentar lagi. *** Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan Emma belum juga pulang. Bahkan saat kedua putri mereka hendak tidur sekalipun, mereka tidak sempat bertemu dengan Emma. Bisa kalian bayangkan jika Emma selalu pulang selarut ini hampir setiap hari. Urusannya di kantor yang selalu membuatnya lembur. Ada saja masalah di kantor dan membuatnya lembur. Berulang kali pula aku yakin Bianca dan Tiara selalu menanyakan dan merindukan ibunya. Hampir setiap hari mereka hanya bisa melihat wajah ibunya sekitar setengah jam. Itupun hanya saat pagi sebelum berangkat ke sekolah. Saat malam? Jangankan bermain bersama atau menonton bersama, melihat wajah Emma pun mereka jarang mendapatkan kesempatan. Emma bekerja sangat keras bagai kuda. Tidak ada kata berhenti baginya. Bagi Emma, kebutuhan operasional mereka sangatlah besar dan Emma tidak bisa berhenti kerja begitu saja. Masalah ini sebenarnya sudah pernah diobrolkan dengan Alvin, namun berakhir konflik. Alvin pernah meminta Emma berhenti dari pekerjaan yang sekarang dan mencoba pekerjaan yang baru. Yang tidak terlalu menyita banyak waktunya di luar rumah. Tapi aku juga tidak tahu jalan pikiran Emma, sepertinya ada sesuatu yang tidak ingin ia tinggalkan. Sekali diajak bicara tentang pekerjaan, Emma seringkali merasa tersinggung dengan ucapan Alvin. Yang terjadi malah Emma lagi-lagi membela diri dengan menyudutkan Alvin yang tidak becus bekerja. Jelas saja jika Alvin juga ikut jadi sensitif. Siapa yang tidak tersinggung dan marah jika ia terus disudutkan? Alvin pun akhirnya selalu menyalahkan Emma karena terlalu sering mengabaikan suami dan anak-anaknya. Seolah sudah menjadi kebiasaan. Seperti sekarang, entah disengaja atau tidak yang pasti Emma pulang sangat larut malam ini. Dan hati Alvin tidak tenang. Panggilannya selalu ditolak oleh Emma, entah karena apa. Apa mungkin Emma sedang marah padanya atau Emma mungkin dalam meeting penting dan mendesak? Apapun itu, setidaknya Emma memberikan kabarnya pada Alvin agar pria itu tidak terlalu mencemaskannya seperti sekarang. Deru mesin mobil BMW putih itu sampai di depan rumah sederhana mereka. Dari balik kaca jendela kamar kedua putrinya, Alvin mengintip siapa yang datang. Emma turun dari mobil disusul Michael yang mengantar. Pemandangan seperti ini juga terjadi hampir setiap hari. Michael yang akan mengantar Emma pulang. Pernah Alvin menawarkan untuk menjemput, tapi Emma malah menolaknya dengan alasan anak-anak tidak ada yang menjaga. Dan selalu Michael yang akan mengantarnya pulang. Sebenarnya Alvin sering merasa curiga, jangan-jangan Michael memiliki rasa dengan Emma. Ia memang pernah mendengar selentingan dari teman-temannya waktu itu bahwa Michael menyukai Emma, tapi ia tidak begitu mempermasalahkan karena Emma yang memilihnya. Tapi kini saat melihat istrinya pulang diantar pria lain, apalagi baru saja mereka keluar dari dalam mobil, mereka terlihat bercanda dan tertawa lepas, membuat hati Alvin makin panas. Tiga tahun ini mengobrol enak saja mereka tidak pernah lakukan. Apalagi tertawa bersama. Tapi melihat istrinya terlihat bahagia dengan pria lain? Hati siapa yang tidak panas? Kecurigaan Alvin tidak berhenti sampai di sana. Pernah suatu kali ia mencoba mengintip ponsel Emma waktu berdering. Betapa terkejutnya dia saat nama “Sayang” muncul di layar. Setelah diangkat oleh Emma barulah dia tahu bahwa itu Michael yang dinamakan Sayang oleh Emma. Jelas Alvin marah! Saat ditanya waktu itu Emma menjawab bahwa itu hanyalah julukan untuk Michael. Orang-orang di kantornya juga menjulukinya demikian, entah karena apa. Bukan sesuatu yang penting. Begitu dijelaskan Alvin berusaha untuk mengerti. Toh itu hanya sebutan dan bukan berarti apa-apa. Namun hal kecil seperti itu ternyata cukup mengganggu Alvin. Apalagi melihat kedekatan keduanya, seakan panggilan “sayang” itu benar adanya. Mereka seperti sepasang kekasih. Apalagi kini keduanya terlihat begitu akrab di depan mata Alvin sendiri. Bukankah wajar jika memang Alvin mencurigai Emma yang bukan-bukan? Alvin tidak mau tinggal diam jika ini menyangkut pihak ketiga. Setelah memadamkan lampu kamar anak-anaknya yang sudah terlelap, Alvin beranjak turun ke lantai bawah. Sengaja menunggu Emma masuk untuk meminta penjelasan. Pintu pun terbuka dan Emma masuk. Ia sedikit tersentak karena Alvin sudah berdiri di hadapannya. “Anak-anak sudah tidur?” pertanyaan pertama Emma yang sangat jelas jawabannya. Pukul sepuluh malam sudah pasti anak-anak mereka tidur pulas. “Diantar siapa?” Alvin tidak menjawab malah bertanya balik. “Siapa lagi. Ya Michael lah.” Emma melalui Alvin begitu saja, menjawab tanpa menatap mata. Ia lantas membanting tubuhnya di atas sofa dan memainkan ponselnya cuek. Tidak mempedulikan bahwa ada sosok manusia ada di sisinya. Alvin mencoba menjalin komunikasi dengan Emma. Mencoba mengesampingkan ego dan berbaik hati dengan harapan Emma mau terbuka padanya. Ia duduk di samping Emma lalu menarik kaki Emma ke atas pangkuannya. Memijit perlahan. Bukannya menikmati, Emma malah mengangkat kepalanya. “Kamu ngapain?” “Kayaknya kamu capek hari ini. Jadi aku mau pijit.” Emma menarik kakinya turun. “Nggak usah. Geli.” Entah angin apa lagi yang bertiup. Bahkan di saat Alvin ingin menjalin komunikasi yang enak pun, Emma menolak. Alvin mendengus sebal. Masih berusaha bersabar. Ia bangkit berdiri dan beranjak ke dapur yang berjarak beberapa langkah di balik sofa, sementara Emma berkutat dengan ponselnya lagi, entah apa yang dilihatnya. “Sudah makan?” “Sudah, tadi ditraktir Michael makan sushi,” jawab Emma tanpa melepaskan pandangannya dari ponsel. Alvin mengernyit dengan jawaban Emma. Sushi? Bukankah Emma benci bau amis ikan? Sejak kapan istrinya mau makan sushi? “Bukannya kamu nggak suka makan ikan?” Emma tidak menjawab ucapan Alvin dan malah cekikikan dengan ponselnya. Hal yang setiap hari ia lakukan saat ia sudah sangat lelah. Fokus hanya pada ponselnya, mengecek social media dan melewatkan ucapan orang yang datang. Alvin jengah. Kebiasaan Emma yang satu ini membuatnya benar-benar kesal. Ia mengambil langkah tegas lalu mengambil ponsel dari tangan Emma. “ALVIN!” teriak Emma tidak terima. “Kamu dengar ucapanku nggak sih tadi?” “Apa sih yang kamu mau sebenernya? Aku itu capek. Mau istirahat. Di kantor itu sudah bikin sumpek!” Emma masih berusaha membela dirinya. “Istirahat ya istirahat. Mandi dan tidur langsung sana. Jangan malah berkutat dengan ponselmu gitu. Yang ada kamu bikin capek dirimu sendiri dan bikin capek orang lain yang ngobrol sama kamu.” Alvin menggerutu. Jika Alvin tidak menyukai kebiasaan berponsel Emma, Emma juga tidak menyukai sikap menggerutu Alvin yang seperti seorang perempuan. “Apa-apaan sih kamu, Vin! Nggak usah ngatur-ngatur aku. Aku tahu apa yang harus aku lakukan!” Emma merebut kembali ponselnya dari tangan Alvin, tapi tangan Alvin lebih cepat dan memindahkan ponsel Emma ke tangan yang lain. “AH! Terserahlah!” Emma malas mengikuti permainan Alvin lalu menyilangkan tangan di depan dadanya. Masalah yang ia alami di kantor sudah membuat lelah, sekarang menghadapi Alvin lagi. Ia harus berhenti sebelum tenaga mental dan fisiknya terkuras karena Alvin. Alvin menatap jengah pada istrinya yang sudah kembali selonjor di atas sofa sambil menyalakan televisi. “Kamu belum jawab pertanyaanku, Emm.” “Hmmm…” jawab Emma dengan enggan. “Sejak kapan kamu suka dengan sushi?” Alvin mengulang kembali pertanyaannya. “Sejak Michael mengajariku cara makannya agar tidak amis. Puas?” jawab Emma dengan jengah. Alvin pasti lagi-lagi menuduh dia yang tidak—tidak dengan Michael. Alvin makin geram. Ia berkacak pinggang dan mendengus sebal. Michael… Michael… Michael. Nama yang paling ia benci saat ini. Mengapa semua hidup Emma adalah tentang Michael? Rasa cemburu Alvin sudah memuncak hingga ke ubun-ubun. Alvin mau meledak rasanya. “MICHAEL… MICHAEL… MICHAEL… Sebenarnya suami kamu itu Michael atau aku sih? Sepertinya semua tentang hidupmu adalah tentang Michael, pagi sama Michael, malam juga tentang Michael. Kapan kamu punya waktu buat aku dan anak-anak, hah? Aku masih suami kamu bukan sih?!” protes Alvin dengan nada tidak enak didengar. Kembali menyulut pertengkaran. Emma berdiri, menantang Alvin. “IYA, MEMANG MICHAEL LEBIH BAIK DARI KAMU! DIA BISA MEMIMPIN, HANGAT, PEKERJA KERAS, KELUARGANYA KAYA, TAMPAN DAN SEMUANYA YANG KAMU NGGAK PUNYA, DIA PUNYA! DIBANDINGIN KAMU YANG CEMBURUAN, PEMALAS, NGGAK BISA BEKERJA, NGGAK BECUS JADI KEPALA RUMAH TANGGA!” “KAMUUUUU…” Alvin mengangkat tangannya hendak menampar Emma yang menatapnya nyalang. Wanita itu refleks menutup matanya dan memalingkan wajahnya. Bersiap menghindari pukulan Alvin. Seketika Alvin sadar. Ia menghempaskan lengannya ke bawah. “Terserah kamulah. Kamu anggap apa aku ini.” Alvin masuk ke dalam kamar tamu, membanting dan mengunci pintu. Kamar yang biasa digunakannya beberapa bulan belakangan ini karena jengah menatap Emma setiap kali berkonflik. Emma shock. Ia terduduk dan menutup wajahnya yang sudah basah karena air mata. Selalu saja seperti ini setiap hari. Alvin selalu salah paham pada Michael, padahal dirinya dengan Michael tidak ada hubungan apapun selain rekan kerja. Tapi Alvin tidak pernah bisa mengerti. Menuduh dirinya berselingkuh, ia tidak sekonyol itu. Meninggalkan pernikahannya hanya untuk pria lain. Ia masih ingat statusnya sebagai istri sah Alvin. Emma terisak. Memang ia bersikap keras pada Alvin tapi bukan berarti ia tidak setia pada pernikahannya. Ia masih tahu batas mana yang disebut teman dan mana yang suami. Tapi mengapa Alvin seolah menuduhnya seperti itu? Tidak bisakah suaminya itu memberikan kepercayaan padanya? Hati Emma tersakiti dan perih. Masalah itu bertumpuk-tumpuk dalam pikiran Emma. Masalah barang hilang, masalah sales yang membawa kabur uang perusahaan, masalah Michael, kini tentang Alvin. Ingin rasanya Emma bunuh diri. Mengapa hidupnya seberat ini? Tanpa Emma tahu, Alvin juga duduk merosot di balik pintu. Mengangkat tangannya dan menatap jijik tangannya sendiri. Bagaimana bisa ia melakukan itu pada Emma? Walau ia tidak memukul, tapi ia sudah kehilangan dirinya untuk beberapa saat. Ia menyesal, sungguh menyesal. Adakah cara membuat situasinya membaik? Masih adakah cara untuk menyelamatkan pernikahan mereka? *** Dari kamar atas, kedua kakak beradik yang masih mungil itu saling berpelukan. Mendengar kedua orangtuanya saling berteriak, memaki dan berbicara dengan suara nyaring membuat keduanya terbangun. Dan mereka harus melihat pertengkaran kedua orangtuanya itu di tengah malam seperti ini. Sang adik menangis terlebih dulu saat terbangun melihat pertengkaran kedua orangtuanya. Namun Bianca, sang kakak membekap mulut adiknya, memberi tanda agar suara adiknya tidak terdengar. Ia sendiri juga ikut menangis tersedu-sedu namun tidak mau bersuara. Keduanya berpelukan saling menguatkan. “Mengapa Mama dan Papa selalu bertengkar, Kak? Tia tidak suka. Hiks…” Bianca mengelus pucuk kepala Tiara, ia sendiri juga ikut menangis. “Kakak juga nggak suka, Tia. Kakak nggak suka Papa Mama marah-marah kaya tadi. Kakak juga takut.” Bianca menutup telinga adiknya lalu membawa adiknya masuk. Berusaha mengurangi ketakutan adik tercintanya atas pertengkaran yang baru saja mereka lihat. Keduanya kemudian menangis di atas tempat tidur sambil berpelukan. Melihat orangtuanya bertengkar hebat seperti itu membuat trauma tersendiri bagi kedua bocah mungil itu. Mereka sama-sama menangis dan tertidur di atas ranjang sambil berpelukan. Namun malam itu akan menjadi malam yang tidak akan pernah dilupakan kedua gadis mungil itu. Malam di mana mereka menyaksikan kedua orangtuanya menjadi orang yang berbeda dari yang mereka lihat di saat pagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD