Aku menutup telepon dari Alvin lalu memandang Abby yang sedang membaca buku di atas ranjang empuk kami.
“Kamu tahu siapa yang baru saja meneleponku?”
Abby menatapku di balik kacamatanya. Menunggu jawabanku walau sebenarnya ia sudah bisa menebak.
“Alvin dan Emma. Mereka benar-benar sehati. Setelah Emma menghubungiku kini Alvin juga yang membuat janji konseling besok. Jadi sekalian saja aku samakan jam konseling mereka.”
Aku masuk ke dalam dekapan Abby yang hangat.
“Ternyata dia menuruti syarat yang kuajukan. Semoga sukses besok, Sayang!” Abby mencium bibirku cepat setelahnya.
“Ini semua gara-gara kamu sih, kasih aku kerjaan terus. Pakai acara syarat-syarat lagi. Untung aja Emma mau. Dia bisa cari pengacara lain kalau dia mau,” protesku pada Abby.
Abby mengangkat bahunya dan tersenyum bangga.
“Nyatanya, dia tetap mau mengikuti syaratku kan?” Aku mencubit perut gembul Abby dengan gemas. Bisa-bisanya dia narsis seperti ini. Huhhh…
“Bagaimana kalau seandainya sampai di hari ke-100 konseling dia tetap ingin bercerai?” tanyaku pada Abby.
“Aku yakin itu nggak mungkin terjadi.”
“Kenapa kamu yakin gitu?”
“Karena aku percaya kamu pasti menggagalkannya lagi.”
“ABBY!!!” Abby terkekeh. Menggemaskan jika dia bertingkah seperti ini.
“Sudah ah… aku mau baca buku lagi. Untuk tambah ilmu,” kata Abby hendak mengakhiri pembicaraan kami. Aku hanya menghela nafas. Sepertinya beberapa hari ini aku harus doa puasa untuk melayani pasangan ini.
“Kok kayaknya kamu nggak rela gitu sih, Sayang? Nggak suka dapat kerjaan dari aku?” Abby rupanya memperhatikan wajahku yang terasa berbeban berat.
“Kalau kamu tolak mengambil kasus perceraian, kan aku nggak perlu capek-capek mengurus mereka yang konflik nggak habis-habis ini. Aku pernah mendengar cerita mereka dari sisi Alvin dan menurutku masalah yang mereka alami cukup complicated,” gerutuku dengan nada bercanda.
“Oh, kasihannya… sini aku pijit!” Hanya itu yang Abby ucapkan? Makin sebal jadinya. Mengurus rumah tangga orang kan nggak mudah. Dia malah cuma menghadiahiku pijatan. Tapi better daripada nggak ada hadiah sama sekali.
“Sebenarnya aku juga nggak suka jadi pengacara perceraian.”
“Kalau begitu, kenapa kamu harus ambil kasus itu?” tanyaku di sela-sela pijitan Abby.
“Karena pengacara itu adalah gerbang pertama yang mencegah mereka dari penyesalan. Seperti yang kita sama-sama tahu, pada akhirnya perceraian nggak akan membawa dampak positif apapun dalam hidup. Damai sesaat iya, tapi akhirnya? Berujung sengsara. Membuat dirimu jadi nggak berharga, merasa gagal, bahkan menyesal karena sebenarnya kita masih sayang pada orang itu.
Setidaknya harus ada satu orang yang menjadi penjaga sebelum mereka melangkah masuk dalam penyesalan panjang setelah perceraian.”
Harus kuakui Abby memang bijaksana, yah walaupun sebenarnya jika dilihat di sisi yang lain, mungkin Abby bisa dibilang bodoh. Sudah tahu kasus perceraian itu menghasilkan untung besar tapi ia selalu melemparkannya padaku dan berakhir kasus itu tidak jadi diteruskan karena pasangannya rujuk. Untuk apa ia ambil kasus itu jika pada akhirnya tidak bisa selesai? Ya kan?
Tapi itulah Abby. Dalam poin tertentu, aku sendiri juga tidak paham jalan pikirannya.
“Jangan pikirkan aku, karena yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan rumah tangga Alvin dan Emma. Masalah penghasilan, kamu tenang saja. Ada beberapa kasus yang masih aku tangani kok.” Sebenarnya bukan itu arah pembicaraanku, tapi lagi-lagi Abby hanya ingin membuatku tenang.
“Bukan itu maksudku. Aku percaya kok kalau profesi kamu masih dalam lindungan Tuhan. Aku ini hanya diskusi. Kita ngobrol santai seperti biasanya. Ini malah jadi serius. Ih, sebal!” aku merajuk.
Abby memutar tubuhku hingga menghadapnya.
“Aku gemas jika kamu seperti ini.” Tanpa aba-aba Abby langsung melumat bibirku lalu yah… ehmm… kalian tahulah apa yang terjadi. *Jadi malu…
Ehm… daripada kalian membahas tentang apa yang terjadi padaku. Lebih baik kita kembali pada kasus Alvin dan Emma.
***
Kakiku terhenti di depan pintu untuk beberapa saat. Aku tidak menyangka jika wanita cantik itu menungguku di sofa ruang tunggu.
“Selamat pagi…” sapaku dan membuat Emma berjingkat kaget. Setelah berpelukan, aku mengajaknya masuk ke dalam ruang praktikku yang sederhana.
“So… How can I help you today?” pertanyaan pertama yang selalu kutanyakan pada semua klienku. Tentu saja mereka datang karena membutuhkan bantukanku bukan?
Emma meletakkan tas mahalnya di atas mejaku. Dari wajahnya aku bisa melihat aura terpaksa di sana. Ya, tentu saja terpaksa. Abby yang membuatnya datang. Jika tidak, aku sangat yakin Emma tidak akan pernah mau membuka lukanya di depan orang lain. Wanita itu terlalu mandiri dan bahkan saking mandirinya, ia ingin menahan semua masalah itu sendiri.
Entah ini yang disebut takdir Tuhan atau sebuah keterpaksaan, kami berdua akhirnya bertemu. Semoga aku bisa membuatnya beprikir ulang tentang pernikahannya.
“Yah… kamu tahu sendiri kan, Sar. Kalau aku sebenarnya datang ke sini karena memenuhi syarat Abby agar dia mau melanjutkan mengurus perceraianku dengan Alvin. Aku sebenarnya enggan datang ke sini. Tapi habis bagaimana lagi, jika itu memang syaratnya.” Ini memang siasat Abby, memasang harga layanan termurah agar kliennya tidak mau berpindah pengacara lain, lalu dengan syarat itu ia mendesak kliennye berkonsultasi padaku. Cara yang licik namun… aku menyukainya.
Aku menangkupkan kedua telapak tanganku di atas meja. Memandang Emma dengan serius namun penuh dengan empati.
“Aku tahu kok. Abby sudah bercerita semalam. Tapi aku berterima kasih lebih dulu karena kamu mau datang ke sini.”
Emma mengangguk pelan. Namun dari gesture yang ia tunjukkan, sepertinya ia masih terlihat enggan terbuka padaku. Semoga aku bisa meyakinkannya.
Setelahnya aku sedikit berbasa-basi terkait hal lain agar suasana ini mencair dan ternyata Emma mulai bisa mengikuti arah pembicaraanku. Perlahan Emma mulai membuka satu per satu lapisan bentengnya di hadapanku. Ini saatnya aku masuk perlahan.
“Hmmm… aku yakin kalau kamu datang ke Abby untuk mengurus perceraian, berarti sebenarnya ada masalah dalam pernikahanmu. Apa kamu bisa menceritakan sebenarnya apa yang terjadi?”
Emma menghela nafas panjang sebelum membicarakan hal ini.
“Sebenarnya aku merasa konseling seperti ini hanya wasting time. Maaf sebelumnya, Sar. Tapi aku memang nggak bisa mengungkap semua masalahku ke orang lain yang aku belum percaya betul.”
“I know. Ceritakan saja sejauh yang kamu mau ceritakan.” Aku menutup kalimat dengan sebuah senyuman.
“Oke…” Emma kemudian menceritakan semuanya di depanku, yang sebenarnya aku sudah mendengarnya dari Alvin. Namun kali ini aku melihat dari sudut pandang Emma. Jika dari sudut pandang Alvin, aku melihat Alvin memandang Emma sebagai istri yang cuek pada keluarga, sangat workaholic hingga lupa semuanya dan juga dicurigai berselingkuh dengan Michael, kali ini aku melihat dari sisi Emma.
“Boleh nggak kalau aku menyimpulkan kalau dalam kacamatamu, Alvin itu orangnya tidak bisa diandalkan sebagai kepala keluarga atau pencari nafkah? Merasa dia nggak becus bekerja sampai kamu yang harus menanggung semua beban keluarga. Bahkan kamu bilang Alvin boros karena lebih bisa menghabiskan uang daripada menghasilkan uang. Begitu?”
“Benar. Kamu bisa lihat sendiri kan kalau dia itu bener-bener suami yang buruk! Aku rasa nggak ada suami yang seburuk dia di dunia ini!”
“Oh ya? Apakah memang dia sangat buruk bagi kamu?”
“Sangat!”
“Coba beri nilai 1-10, seberapa buruk dia buatmu?”
Emma terlihat berpikir. Mencoba menilai.
“4 mungkin?”
“Oh… wow… kalau memang dia sangat buruk, kenapa nilai yang kamu berikan bukan 1 atau 2? Tapi kenapa 4?” Sepertinya Emma mulai berpikir lagi. Pertanyaanku ini bertujuan untuk menggali pemikirannya. Menggali lebih jauh motif dan hatinya. Emma terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab.
“Karena nggak mungkin orang sangat buruk sampai dapat nilai 1 aku rasa. Tuhan nggak pernah menciptakan manusia yang sangat gagal dan fatal kan?” jawabnya sedikit bercanda sambil memandangku serius.
Emma memakan umpanku. Jika ia masih memberikan nilai 4 dan bukan 1, itu tandanya masih ada hal-hal baik yang sebenarnya ia bisa lihat dalam diri Alvin. Namun, entah mengapa ia menutup hatinya untuk melihat itu. Pertanyaanku tadi berhasil menggali sisi terdalamnya.
“Aku setuju, Emm. Tuhan nggak pernah bilang kalau ciptaan-Nya itu buruk. Saat Ia menciptakan semuanya, yang Tuhan katakan adalah semuanya baik. Jadi, kalau kamu bisa melihat bahwa Alvin bukan orang yang buruk atau bahkan sangat buruk sampai mungkin nggak layak disebut manusia. Mengapa kamu nggak mulai mencoba melihat sisi baik yang Alvin miliki?”
Emma terhenyak. Sepertinya ia masih bertahan pada prinsipnya untuk bercerai dari Alvin. Ia menyilangkan tangannya di depan d**a, kembali membuat gesture seolah tidak ingin aku masuk lebih jauh dalam hidupnya.
“Poinmu apa sih, Sar? Mau melarangku bercerai dari Alvin?”
Aku tersenyum.
“Aku hanya menggali jawabanmu saja kok. Nggak bermaksud melarang kamu untuk bercerai dari Alvin atau apapun itu. Bercerai atau nggak itu sepenuhnya keputusanmu. Yang aku lakukan di sini hanya menjalankan peranku sebagai konselor. Memastikan bahwa keinginanmu nggak akan goyah dan pemikiranmu sangat matang untuk keputusanmu.” Aku imbuhi ucapanku yang barusan dengan senyuman. Berharap Emma tidak tersinggung.
Nafas Emma mulai kembali teratur.
“Oke, aku ikuti permainanmu.”
“Baiklah kalau begitu, untuk seminggu ke depan aku ingin kamu mencoba menuliskan 3 saja hal baik dari Alvin. Bisa?”
Emma terkekeh. Sepertinya pertanyaan yang kuberikan itu soal yang mudah untuk dijawab. Tapi aku yakin setelah itu dia akan merasa tugas yang kuberikan ternyata soal yang paling sulit. Karena orang yang sedang dalam amarahnya tidak akan mampu melihat kebaikan orang lain. Dan kini aku memaksa Emma untuk melihat sisi itu.
“Ini pertanyaan konyol, Sar.”
“Mungkin itu konyol bagimu, Sar dan aku juga tahu hal itu. Tapi cobalah lakukan, aku hanya ingin tahu pemikiranmu.” Emma tertawa kecil. Lagi-lagi ia menertawakanku. Aku yakin sekarang dia bisa tertawa, namun pada akhirnya dia akan menangis karena mempelajari sesuatu dari tugas remeh yang kuberikan.
“Oke, aku coba.”
“Seminggu lagi kita akan bertemu di sini.”
Setelah pembicaraan itu, aku sepertinya butuh doa dan puasa. Semoga Emma menemukan hal baik dari Alvin. Aku sudah mengatur jadwal konseling Alvin juga ke minggu depan. Bersamaan dengan jadwal Emma. Dengan begitu aku bisa melakukan konseling pasangan sekaligus. Apa yang akan terjadi ya kira-kira? Aku tidak sabar menantikan hari itu datang.