16. Dia Menggantikanku

2202 Words
    Hari itu kembali seperti biasa. Emma pulang pukul 10 malam saat kedua anaknya sudah ditidurkan oleh Alvin. Tanpa memiliki waktu bermain dan tanpa berbicara atau memnbacakan cerita. Jika biasanya seorang Ibu paling ingin melihat wajah anak-anaknya, Emma tidak bisa melakukannya. Waktunya tersita oleh pekerjaan dan ia tidak bisa meninggalkan itu.     Apalagi dalam bidang penyediaan bahan masak dengan pasar yang sangat luas, tentu tidak mudah bagi Emma untuk beristirahat. Setiap saat akan selalu ada kejutan masalah dan ada saja yang harus ia tangani. Seperti hari ini pun selepas Emma konseling, ia masih harus menumpuk pekerjaan di kantor. Alhasil, Emma pulang terlambat.     Di dalam rumahnya, Alvin melihat sebuah mobil, sepertinya taksi online berhenti di depan rumahnya. Lalu turunlah Emma dengan wajah kusutnya. Begitu Emma masuk, Alvin bergegas turun ke lantai bawah.     Ia sudah berencana untuk meminta maaf pada Emma hari ini. Tidak ingin menambah masalah baru atau membiarkan masalah sebelumnya berlarut-larut.     Bertepatan dengan saat Emma masuk, Alvin menunggu Emma di depan sofa.     “Sudah makan?” tanya Alvin yang walau terdengar klise namun sebenarnya pria itu memang sungguh-sungguh bertanya. Ingin mengetahui hari-hari berat yang dialami istrinya.     “Sudah tadi di kantor,” jawab Emma enggan lalu membaringkan dirinya di atas sofa dan memainkan ponselnya. Entah apa yang dibukanya.     Alvin duduk di sofa seberang. Memandang ragu-ragu namun ia harus meluruskan semuanya.     “Emm… maafin aku ya…” Emma menurunkan ponselnya lalu menatap Alvin. Kata maaf itu adalah kata-kata paling langka yang pernah Alvin lakukan selama ini. Pria itu selalu membela diri bahkan menyerang ketika disudutkan. Kali ini Alvin berbeda.     “Apa kamu bilang tadi?”     “Maafin aku karena nggak seharusnya aku marah seperti kemarin ke kamu. Aku hanya merasa kita berdua sudah jauh dan ingin berusaha mendekatkan diri. Tapi ternyata mungkin kamu terlalu capek untuk itu… aku…” tiba-tiba ponsel Emma berdering. Emma tidak bisa fokus pada dua hal sekaligus dan ia lebih fokus pada ponselnya dibanding ucapan Alvin.     Melihat nama Michael yang muncul di layar, Emma langsung refleks mengangkatnya. Koordinasi harian di kantor sepertinya membuatnya terbiasa mendahulukan Michael dibanding apapun juga. Alhasil Emma langsung meninggalkan Alvin.     Ingin rasanya Alvin marah, bahkan di saat seperti ini ucapannya dianggap tidak penting bagi Emma. Alvin harus melakukan apa lagi? Ia sudah berusaha menjatuhkan harga dirinya, melakukan semua agar Emma kembali dekat dengannya atau bahkan hanya sekedar meliriknya lagi sebagai seorang suami. Dan kini Alvin sudah berusaha mati-matian untuk mengungkapkan kata maaf, tapi lagi-lagi Emma tidak mengindahkannya. Alvin sangat marah. Ia tidak tahu harus melampiaskan pada siapa semua kemarahannya. Ia mengambil bantal sofa lalu membenamkan wajahnya dalam-dalam ke atas bantal lalu berteriak hingga hatinya lega.     Emma sudah membuatnya marah. Sesaat kemudian Emma kembali dengan wajah penuh kekuatirannya, bergegas mengambil tasnya lalu pergi lagi dari rumah. Melihat Emma yang tergesa-gesa, Alvin segera menyusul Emma. Namun terlambat, Michael lagi-lagi sudah lebih dulu menjemput Emma.     Alvin tidak akan tinggal diam. Dia tidak akan membiarkan siapapun merusak rumah tangganya. Kali ini Alvin bertekad akan membawa Emma kembali entah apapun caranya. Jika memang hari ini ia harus bertikai dengan Michael maka biarlah itu terjadi. Pikirannya hanya satu, menjaga pernikahannya.     Alvin naik ke dalam mobilnya lalu segera membuntuti Emma setelah sebelumnya meminta tolong tetangga untuk menjaga kedua anaknya di rumah.     Mobil Michael sampai di kantor. Mereka bergegas turun dan bahkan sedikit berlari lalu masuk ke dalam ruangan mereka. Begitu keluar dari lift Emma sangat terkejut dengan genangan air yang sudah sampai semata kakinya dan kertas-kertas berhamburan ke mana-mana. Kedatangan mereka ternyata dinantikan oleh si office boy yang katanya Bernama Udin dan juga security bernama Mamat, yang menghubungi Michael atas insiden ini.     Rupanya talang air dari lantai atas rusak berat dan membuat kebocoran yang cukup besar di lantai tempat divisi penjualan berada. Ruangan Michael dan Emma yang paling parah karena kebocoran talang air itu persis di sana. Alhasil semua dokumen yang mereka kerjakan hampir semalaman hanyut tergenang air.     Emma hanya bisa terduduk lemas di atas salah satu kursi. Ia sudah bersusah payah hingga lembur namun pekerjaannya habis dilahap air.     “Astaga… dokumenku, hiks…” Air mata frustasi meleleh dari mata Emma. Seolah hasil pekerjaannya terbuang begitu saja.     “Pak, Bu… Cuma ini yang bisa kami selamatkan. Sisanya sudah rusak karena air,” kata Udin memberikan beberapa lembaran dokumen yang berhasil ia selamatkan. Semuanya dalam kondisi basah dan dalam urutan yang acak.     Kaki Emma makin lemas. Rasa frustasinya membuncah dan Emma hanya bisa menangis. Besok adalah deadline yang ditentukan oleh direksi. Semua kerja kerasnya hancur begitu saja karena sebuah kecelakaan tak terduga. Mau meminta dispensasi? Rasanya tidak mungkin karena Michael dan Emma sama-sama tahu pihak direksi mereka terdiri dari orang-orang yang tidak mau tahu. Sekali bertitah, mereka ingin dituruti. Jika tidak, sumpah serapah, caci maki bahkan sanksi dikeluarkan untuk divisi mereka.     Tapi apalah daya keduanya? Semuanya telah hanyut karena air. Tubuhnya yang sangat lelah ditambah pikirannya yang makin kalut makin membuatnya merasa stress. Emma tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa menumpahkan semuanya dalam tangisan.     Michael melihat wajah frustasi Emma dan langsung berjongkok di hadapan Emma, memegang pundak Emma dan memandangnya dengan penuh perhatian.     “Tenanglah, ada aku di sini… Kita akan lakukan ini bersama. Kita pasti bisa melakukannya,” kata Michael berulang kali agar Emma merasa lebih tenang. Emma mengangguk lalu mengusap air matanya dan tersenyum pada Michael. Emma merasa tenang setidaknya ia tidak menghadapi semua masalah ini sendiri.     Tanpa mereka berdua ketahui, pria itu melihat apa yang terjadi di dalam ruangan mereka. Melihat istrinya tersenyum pada pria lain dan bukan dirinya. Hatinya langsung hancur berkeping-keping. Posisinya telah digantikan oleh pria lain, yang tak lain dan tak bukan adalah Michael. Dengan hati yang hancur, Alvin memilih pergi.     Alvin POV     Di dalam mobil aku melampiaskan kekesalanku. Siapa yang tidak kesal jika istri yang kau cintai bisa semesra itu dengan lelaki lain? Aku marah… sangat marah! Ingin rasanya aku masuk dan melabrak si b******k Michael di sana. Tapi, aku tidak bisa. Emma sudah sangat repot dengan urusannya dan aku tidak mau menambah bebannya lagi. Melihatnya menangis sungguh membuatku tidak tega.     Tapi sepertinya aku tidak lagi berhak ada di sana. Michael sepertinya telah menggantikan posisiku. Aku menerawang, mengingat dua belas tahu yang lalu. Aku pernah ada di posisi Michael. Sedekat itu dengan Emma. Flashback on     Saat itu aku dan Emma masih sebagai karyawan training di tahun-tahun awal karir kami. Kami diminta menyusun semua data divisi penjualan untuk keperluan tutup buku akhir tahun. Tapi kami hanya diberi tenggat waktu hanya dua hari. Bayangkan, dua hari itu bukan pekerjaan yang mudah. Data yang kami kumpulkan jumlahnya ribuan dan tidak mungkin kami bisa menyelesaikan itu dalam semalam.     Staff yang lain membantu tapi hanya sebatas jam kerja. Sisanya dilimpahkan pada kami si anak training. Mungkin ini bisa dibilang peloncoan. Hanya ada aku dan Emma yang tersisa di sana. Kami ditempatkan dalam tim yang sama. Aku benar-benar kelelahan saat itu. Aku mencoba meregangkan tubuhku yang sangat kaku tapi tiba-tiba aku mendengar isak tangis Emma dari balik kubikalku.     “Bagaimana ini? Hiks… ini harus selesai besok… Tapi datanya tidak habis-habis.” ujar Emma penuh kepanikan dan frustasi. Tubuhnya lelah dan otaknya terlalu panas untuk digunakan berpikir lagi namun data itu tidak kunjung selesai walau kami sudah membagi tugas. Di saat frustasi seperti ini, Emma hanya bisa menangis.     Di saat lelah atau stress, Emma memang berubah menjadi cengeng. Meluapkan emosinya dalam bentuk tangisan sudah menjadi kebiasaannya.     Aku melongokkan kepalanya dan melihat Emma sudah membenamkan wajahnya ke atas lipatan tangannya. Sesenggukan dan tidak berdaya. Hatiku tidak tega melihatnya menangis.     Aku memutuskan keluar dari kubikalku dan menuju tempat Emma. Aku berjongkok dan menarik tubuh Emma. Menatap wajah sembab wanita itu dan memastikan ia mendengarkan ucapanku. Dengan lembut aku memberanikan diri untuk mengusap air matanya hingga wanita itu benar-benar menatapku. Mata bertemu mata.     “Jangan menangis lagi. Kamu nggak sendiri. Aku akan membantumu. Bersama kita akan menyelesaikan semuanya tepat waktu.” Kataku berusaha menghibur.     Kalimat itu sepertinya mujarab untuk menenangkan Emma. Isak tangis Emma tiba-tiba berhenti. Wanita itu mengangguk lalu mengusap air matanya. Rasanya begitu melegakan karena ada seseorang yang berada di sisimu di saat sulit seperti ini.     Setelahnya kami berdua bekerja bersama sambil mengobrol panjang lebar, bercanda dan melakukan apapun agar kami tetap terjaga.     Tak terasa, hari sudah larut malam. Pekerjaan setumpuk itu akhirnya perlahan tinggal sedikit. Aku bisa merasakan saat itu kami benar-benar menikmati waktu-waktu kami bersama. Kami bukan hanya berbagi beban pekerjaan, tapi juga berbagi kisah mengenai diri kami dan latar belakang kami. Hingga akhirnya pekerjaan menjemukan itu pun akhirnya selesai juga. Walau menjemukan tapi berkat pekerjaan itu kami jadi memiliki rasa satu sama lain. Ya, aku tertarik pada sosok Emma setelahnya.     Hari kian larut dan pekerjaan itu akhirnya selesai. Aku ingat waktu itu pukul dua belas malam. Tidak mungkin Emma pulang seorang diri dengan metro mini atau bus. Jakarta bukan kota yang ramah untuk wanita secantik Emma. Aku pikir lebih baik aku yang mengantarkan Emma pulang.     Sesampainya di rumah Emma, aku bergegas turun dan membukakan pintu mobil untuknya. Memperlakukan manis untuk meninggalkan kesan baginya bahwa aku memperhatikannya.     Terlihat sekali di wajah Emma saat itu bahwa dia terkejut dengan perlakuan manisku. Emma tersipu-sipu sambil mengulum senyumannya.     “Aku masuk dulu ya,” pamit Emma dengan senyuman termanisnya padaku.     “Tidur yang nyenyak.” Emma mengangguk dengan senyumannya lalu beranjak masuk ke dalam pagar rumahnya.     “Jangan lupa memimpikan aku,” celetukku setengah bercanda. Emma terkekeh kecil. Hatiku terasa berbunga melihat senyuman di wajah Emma, seakan senyumannya itu bagaikan musim semi.     Aku menunggu Emma hingga ia masuk ke dalam rumahnya dengan selamat. Tapi saat ia hendak meninggalkan pagar dan beranjak masuk, tiba-tiba ia berbalik badan.     “Terima kasih, Vin. Aku nggak tahu apa jadinya hari ini kalau nggak ada kamu,” ucap Emma dengan tulus padaku lalu tersenyum dengan sangat manis. Senyuman terindah yang pernah kulihat dari bibir seorang wanita. Sejujurnya, aku sangat terpesona.     Flashback end     Air mataku menetes deras. Sial! Kenapa aku bisa secengeng ini? Jujur, hatiku sangat sakit melihat Emma menjauh dan terus menjauh. Aku merasa seperti suami yang tak dianggap dan itu menyedihkan.     Tiga belas tahun yang lalu aku ada di posisi seperti Michael. Tapi kini lihatlah apa yang terjadi? Semudah itukah Emma menggeser posisiku? Jelas, aku cemburu. Sangat cemburu. Sialnya, hatiku terlalu lembut. Dengan gampangnya aku menjadi pria cengeng dalam semalam.     Aku berusaha menuntaskan tangisanku. Aku benar-benar membenci diriku sendiri yang belum bisa menyelesaikan masalah rumah tanggaku sendiri. Aku merasa gagal sebagai kepala keluarga. Memang benar kata Emma. Aku tidak becus.     Oh sial! Air mat aini mengapa tidak mau berhenti bahkan aku sudah menyekanya berulang kali.     Aku yakin masalah ini sebenarnya hanyalah karena ego. Mengapa tidak sejak dulu saja aku mengetahui hal ini? Sekarang di saat aku ingin berbaikan, yang ada malah masalah baru. Hati Emma sepertinya benar-benar berpaling pada Michael.     Otakku berusaha mengalihkan perhatian, mungkin ini hanya salah paham. Mungkin cerita aslinya tidak seperti yang kupikirkan. Tapi sekuat apapun aku meracuni pikiranku sendiri, nyatanya aku masih terbakar api cemburu. Tanda-tanda Emma berpaling dariku sudah jelas dan aku mulai meragukan cinta Emma padaku. Apakah dia masih mencintaiku sama seperti aku yang selalu mencintainya?     “Shiiitttttt!!!!” ***     Sarah POV     Di tengah jalan pulang, Alvin menengok ada apotik di bahu jalan. Tangannya refleks memutar balik setir lalu berhenti di apotik itu. Mungkin Alvin tidak bisa menemani Emma saat ini, tapi ia masih ingat wanita itu membutuhkan obat selepas pulang nanti. Alvin tahu kulit Emma sangat sensitif khususnya pada air kotor.     Kantornya sudah tergenang air kotor dan pasti kaki Emma sudah terkena airnya juga. Alergi Emma mungkin akan kambuh jika tidak menggunakan salep khusus. Alvin membelikan salep itu untuk Emma. Entah Emma nantinya menyadari perhatian Alvin ini atau tidak, Alvin tidak mau banyak berharap. Ia hanya tidak ingin Emma sakit itu saja.     Sesampainya di dalam rumah, Alvin meletakkan obat itu di atas meja depan sofa. Ia yakin Emma akan berbaring di atas sofa lebih dulu setelah pulang nanti seperti kebiasaannya. Dan Alvin masuk ke dalam kamarnya. ***     Hari sudah pukul dua pagi. Namun kedua orang itu terus berkutat menyelesaikan semua dokumen yang rusak. Menggantinya dengan yang baru dan memastikan setiap lembaran yang dibutuhkan sudah tersedia lalu menyusunnya kembali menjadi sebuah dokumen utuh.     Sementara Udin dan Mamat berusaha membersihkan genangan air sambil menunggu tukang talang datang. Tidak mungkin mereka menghentikan aktivitas kantor hanya karena genangan air. Jadi sebelum ada aktivitas kantor semuanya harus selesai. Beruntung ada tukang talang yang bersedia datang di tengah malam dan mengatasi kebocoran. Tentu saja dengan bayaran extra. Tapi toh Michael bersedia membayarnya asal pekerjaannya beres.     Beralih pada Michael dan Emma.     Walau matanya terasa berat, Emma tetap ngotot bekerja. Begitu juga dengan Michael yang sudah menguap beberapa kali. Walau minum kopi pahit sekalipun sepertinya efek kafeinnya tidak mampu membuat mereka berdua terhindar dari rasa kantuk. Emma menyerah. Ia menutup matanya sejenak namun berakhir ketiduran dengan posisi kepala di atas meja.     Michael mengulet karena lembar terakhir telah selesai ia kerjakan.     “Selesai juga akhirnya, Emm!!!” Seru Michael bahagia namun ia tidak menyadari bahwa wanita itu sudah tertidur pulas.     Merasa tidak ada jawaban, Michael menoleh ke arah Emma yang sudah tidur menelungkupkan kepalanya di atas meja. Michael tersenyum dan mendekati Emma sambil membawa jasnya. Menyelitmuti Emma yang tertidur pulas. Michael sedikit berjongkok dan mengusap rambut Emma dengan lembut.     “Tidur pun kamu masih sangat cantik, Emm.” Senyuman terukir di wajah tampan Michael. Tidak pernah bosan ia menatap wajah Emma. Lelahnya sirna melihat wajah polos Emma yang sedang tertidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD