Bohong namanya jika Huzam tak merasakan debaran berbeda saat bersama Fatiya. Jangankan bersama, melihat saja sudah membuat salah satu organ vital dalam tubuhnya itu berdebar cukup kencang. Huzam menggeleng, ia tak boleh ketahuan ditambah ada Arbrito dan Maria di sana. “Ayah bawa pasukan?” tanya Fatiya yang tak menyangka ayahnya datang tidak seorang diri. “Iya, Fat. Ayah hanya mampir sebentar.” “Sebentar? Padahal Fatiya sudah memasak karena ayah bilang akan pulang.” Fatiya bermuka masam—kecewa. “Duduk sebentar saja, Pak. Kita cicipi sama-sama,” celetuk Huzam tanpa berpikir panjang. Sontak tatapan Maria beralih padanya dan itu membuat Huzam menunduk dalam. Mati sudah. “Kamu masak apa memangnya?” “Ayam bakar madu, Yah.” “Ayam bakar madu?” tanya Maria yang terlihat antusias. “Iya, Ta

