CODE 1. One Night Stand

3126 Words
Gadis berkemeja hitam itu menatap datar pintu kaca di depannya. Ia sudah berdiri di sana sejak setengah jam yang lalu. Ada keraguan sepertinya untuk ia melangkahkan kaki masuk ke dalam butik ternama itu.  "Maaf Nona, ada yang bisa saya bantu?" Ujar pegawai toko saat si gadis akhirnya masuk.  Lama gadis itu terdiam. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Setelah beberapa menit gadis itu akhirnya berikan gelengan.  "Tidak, terima kasih." Ia balik badan kemudian berlalu. Helaan napas itu terdengar jelas.  "Nona Cristal," panggilan itu menarik perhatian Cristal. "Ada email baru dari G!EL."  Cristal tak langsung merespon. Tak lama ponsel Cristal berdering. Ia memandangi nama yang tertera di layar.  Mama is calling..  Cristal kembali menghela napas. "Jalan aja, Nov." Cristal mengalihkan pandangan ke luar jendela. Ia abaikan panggilan sang Mama. Perlahan tapi pasti Cristal memejamkan matanya hingga ia benar-benar terlelap dalam tidurnya.  ...  "Di sini aman kok, Ma. Aku bisa." Cristal menghela napas untuk ke sekian kali. Cristal sudah berdebat dengan sang Mama sejak setengah jam yang lalu. Tapi belum ada keputusan yang bisa diambil.  "Udah ya, Ma. Aku capek mau istirahat dulu. Kalau ada apa-apa nanti aku minta tolong Nova." Cristal memutuskan sambungan kemudian meletakkan benda pipih itu di atas meja. Cristal memegangi dahinya dengan satu tangan lainnya bertumpu ke pinggiran meja.  "Nona, Nona baik-baik aja?" Nova yang baru masuk apartemen langsung berlari menghampiri Cristal.  "Kepala saya pusing banget. Kamu tolong ambilin obat ya."  Nova bergegas ke kamar Cristal lalu kembali dengan cup kecil berisi obat. Ia serahkan segelas air putih pada sang Bos. Cristal segera meminum obatnya. Dibantu Nova—Cristal menyandarkan dirinya di sofa.  “Nona tidak tidur lagi ya semalam?”  Cristal menghela napas. “Kamu jangan sampai mengatakan soal ini di depan orang lain terutama Mama.”  Nova hanya bisa mengangguk pelan. Nova sadar kalau Cristal menjaga jarak dengannya. Meski baru beberapa waktu bekerja dengan Cristal, Nova bisa merasakan kalau Cristal sengaja tak mau mengakrabkan diri dengannya. Bukan karena Cristal sombong, tapi karena ada yang Cristal sembunyikan. Menghormati Cristal, Nova memilih untuk tak mempertanyakan tentang hal itu lebih jauh. Nova menghormati privasi sang Bos.  “Kamu boleh pulang Nov. Saya udah nggak apa-apa. Besok kamu jemput saya kayak jam biasa ya.”  “Baik, Nona.” Nova kemudian bangkit dan meninggalkan apartemen. Begitu Nova pergi, apartemen Cristal terasa semakin sunyi. Tak ada suara apapun. Benar-benar senyap seperti taka da kehidupan. Cristal menghela napas berat saat matanya bertemu pandang dengan dinding apartemennya. Di sana terpajang fotonya bertiga dengan Mama dan Papa. Itu adalah foto di hari wisudanya di London. Di sana mereka bertiga terlihat sangat Bahagia. Papa dan Mamanya tersenyum sangat lebar. Dulu Cristal menganggap senyum itu adalah senyum termanis dan terhangat yang pernah ia lihat. Tapi sekarang Cristal tahu kalau senyum di dalam foto itu punya makna yang berbeda. Senyum itu tak sehangat yang terlihat.  Cristal menundukkan wajahnya. Air matanya menetes. Keluarga bahagia yang selama ini Cristal banggakan nyatanya hanyalah bayangan saja. Dunia ilusi yang diciptakan untuk mengelabuinya. 24 tahun hidupnya Cristal baru tahu kalau cinta yang Papa agung-agungkan untuknya nyatanya bukanlah untuknya. Cinta Papa bukan miliknya tapi milik Sela, kakaknya. Tak cukup sampai di sana, Cristal harus ditampar dengan fakta lainnya. Ternyata Kakeknya melakukan terlalu banyak kejahatan hingga rasanya sulit untuk pria tua itu bebas dari tuntutan hukum. Leon Bagaskara terancam dipenjara seumur hidup. Itu masih belum cukup. Fakta menyakitkan lainnya yang akhirnya Cristal tahu adalah tentang kematian sang kembaran. Cristal tanpa sengaja mendengar obrolan Mama dan Opanya di penjara. Orang yang menyebabkan Zelo meninggal bukanlah Dania—Ibu Sela,  tapi Agisti—Mamanya sendiri. Orang yang paling Cristal percaya justru adalah orang yang telah menghancurkan berkeping-keping kepercayaan Cristal.  Tapi Cristal terlalu pengecut untuk mengakui kehancuran keluarganya. Ia akhirnya memilih melarikan diri—menutup telinga seolah ia tak tahu apa-apa. Meski Cristal sendiri sebenarnya tak tahu sampai kapan ia bisa seperti ini.  “Cris, angkat dagu kamu,” ucap Cristal pada dirinya sendiri. Cristal butuh kekuatan untuk tetap berdiri tegak di atas kakinya sendiri.  …  Gedung itu terlihat cukup mewah. Cristal harus meyakinkan sekali lagi kalau ia tak salah alamat. Setelah memeriksa untuk ke sekian kali, Cristal akhirnya melangkahkan kakinya memasuki bangunan besar itu. Di depan Cristal langsung disambut oleh penjaga. Cristal menunjukkan isi pesannya. Setelahnya Cristal dipersilahkan masuk tanpa hambatan. Dengan dress polos warna abu-abu yang ia kenakan, Cristal memasuki Gedung itu. Saat sampai di dalam, Cristal baru tahu kalau Gedung itu ternyata sebuah hotel. Hotel yang dikemas dengan konsep yang cukup unik menurut Cristal.  “Ada yang bisa saya bantu, Nona?”  “Oh maaf Mbak, saya ingin bertemu dengan Tuan Austin.”  “Oh Tuan Austin. Beliau ada di dalam, silahkan.”  Cristal mengikuti pegawai itu. Ia dibawa ke sisi lain gedung. Di dalamnya ternyata masih cukup luas dari yang Cristal pikirkan. Setelah mengetuk dua kali, pegawai itu membuka pintu besar di depannya.  “Silahkan..” Ragu-ragu Cristal melangkahkan kakinya masuk. Ruangan yang lebih tepat disebut penthouse itu terlihat mewah dengan desain modernnya.  “Nona Cristal?”  Cristal terperanjat kaget saat seseorang tiba-tiba muncul.  “Maaf, apa saya mengejutkan anda? Silahkan duduk..” pria dengan kemeja hitam itu mempersilahkan Cristal duduk. Ia kemudian ikut duduk setelah Cristal mendaratkan pantatnya di sofa.  “Maaf ya saya meminta Nona datang ke sini. Harusnya kita bertemu di kantor saya, tapi karena satu hal dan lainnya saya terpaksa meminta Nona datang ke sini. Kesibukan akhir-akhir ini membuat saya rasanya ingin membelah diri. Guyonan pria itu berhasil membuat Cristal tersenyum tipis. Entah Cristal memang merasa pria itu lucu atau Cristal hanya berbasa-basi.  “Saya Austin..” pria itu mengenalkan dirinya.  “Saya Cristal..”  “Ya, saya sudah tau,” pria itu tersenyum lagi. “Harusnya saya sudah tau kan?”  Cristal mengangguk saja. Niat Cristal mengenalkan diri pun hanya berbasa-basi saja.  “Baiklah, kita langsung saja pada intinya. Jadi saya sudah melihat CV Nona dari kenalan saya dan saya merasa Nona cocok bekerja di tempat saya. Bisnis fashion saya sedang sangat melejit dan saya butuh orang seperti Nona untuk ada di sana. Jadi bagaimana?”  Cristal tentu saja tak langsung merespon. Bagaimana ia bisa merespon kalau Cristal saja masih belum percaya ia dipanggil datang untuk bekerja oleh seorang Austin. Jujur saja, Cristal tak begitu mengenal pria di depannya ini. Saat mendapat email tawaran pekerjaan, Cristal sempat mengira itu email bodong. Tapi Nova mengatakan kalau itu email resmi dan perusahaan yang ada di dalam surat itu adalah perusahaan legal. Bisa dikatakan salah satu perusahaan yang besar. Meski pergerakan perusahaannya lebih utama di luar negeri. Cristal bahkan sampai mensearch nama Austin karena tak begitu tahu tentang nama itu. Siapa sangka pria itu begitu terkenal di luar negeri dan punya beragam prestasi di bidang bisnis. Melihat tempat yang kini didudukinya, Cristal jadi yakin kalau Austin tidak berbohong.  Mungkinkah ini memang kesempatan untuk Cristal?  “Jadi bagaimana Nona Cristal? Jika anda setuju, saya akan minta pegawai saya untuk membuatkan kontrak kerja anda.”  Cristal menatap Austin sesaat. Sejujurnya Cristal sudah sangat ingin menerima tawaran itu. Ia yakin gaji yang akan ia terima tidaklah sedikit nominalnya. Tapi entah kenapa seperti ada keraguan di dalam dirinya yang tak bisa Cristal abaikan. Wanita itu menaik napas dalam.  “Baiklah..” akhirnya Cristal mengambil keputusan. Ia memilih mengabaikan bisikan keraguan di dalam d**a. Cristal tak tahu kapan lagi ia akan dapatkan kesempatan sebagus ini. Austin langsung tersenyum lebar. Ia mengulurkan tangan yang disambut oleh Cristal.  “Saya akan kirimkan kontrak secepatnya. Semoga betah bekerja dengan saya,” ujar Austin terdengar tulus dan sungguh-sungguh. Cristal mengangguk dan berikan Austin senyum tipis.  “Terima kasih atas tawarannya.”  “Sure. Kalau tidak keberatan apa Nona Cristal mau meluangkan waktu?”  “Huh?” “Sebenarnya saya sedang ada party di sini. Kalau tidak keberatan bagaimana kalau kita menikmati makan malam sebentar?”  Cristal ragu. Sebenarnya Cristal ingin segera pulang. Tapi menolak tawaran Austin rasanya sedikit tak sopan. Sementara Austin sudah begitu sopan padanya. Akhirnya Cristal menerima tawaran Austin. Keduanya meninggalkan ruangan milik Austin, menuju ke aula tempat pesta dilakukan. Lebih tepatnya swimming pool di belakang hotel.  Cristal geleng-geleng saat sampai di tempat pesta yang Austin maksud. Tadi pria itu mengatakan ia ingin membelah diri karena sibuk. Tapi lihatlah, dia bahkan masih sempat mengadakan pesta begini.  “Sebenarnya ulang tahun saya sudah lewat, tapi teman-teman saya tetap ingin merayakannya. Jadi ya begitulah..” Austin menjelaskan tanpa diminta. Cristal mengangguk saja.  “Sebelah sini..”  “Hmm..” Cristal mengikuti Austin.  Makan malam Cristal dan Austin malam ini tak begitu buruk. Suasananya tak sebising yang Cristal bayangkan. Memang cukup ramai dan hectic. Hampir seluruh area kolam renang dipenuhi oleh tamu-tamu Austin. Jangan bayangkan tempat ini dipenuhi oleh orang-orang dengan pakaian jas lengkap. Karena pada nyatanya pesta ini lebih tepat disebut sebagai pesta anak muda. Bahkan hampir semua wanita di tempat ini mengenakkan bikini. Ya, bikini. Para pria juga tampak santai dengan pakaian casual mereka. Bahkan ada beberapa yang bertelanjang d**a. Cristal ingin menyudahi makanannya dengan cepat. Ia ingin bergegas pulang.  “Maaf Tuan, ada telfon..”  “Hm. Maaf Nona Cristal, saya permisi menjawab telfon sebentar. Silahkan dinikmati hidangannya. Kalau butuh sesuatu bisa panggil pelayan di sini. Jangan sungkan.” Cristal mengangguk dan tak lupa berterima kasih. Austin berlalu. Cristal tinggal sendiri. Ia pandangi piring di depannya. Cristal menghela napas. Hidangannya terlihat sangat nikmat dan Cristal yakin itu memang nikmat. Tapi Cristal tak bisa begitu menikmatinya. Cristal memperhatikan sekeliling sesaat. Ia kemudian menarik napas dalam dan menyudahi kegiatan makannya. Cristal kemudian bangkit dari tempatnya duduk. Tiba-tiba Cristal terbatuk saat melihat orang yang datang bersama Austin. Cristal langsung balik badan dan meneguk habis sisa air putih di dalam gelasnya.  “Kak Jervaro ngapain di sini?” gumam Cristal. Rasanya Cristal ingin bersembunyi saja. Cristal tahu Jervaro tak menyukainya. Jadi sebelum Jervaro melihatnya, Cristal intin menghilang lebih dulu. Tapi Cristal terlambat..  “Nona Cristal..” panggil Austin.  Mampus, batin Cristal. Dengan berat hati Cristal membalik badannya. Pandangannya langsung bertemu dengan manik Jervaro. Satu-satunya sorot yang bisa Cristal lihat adalah sorot penuh kebencian dari pria itu. Cristal tahu Jervaro sangat membencinya dan Cristal tak ingin protes. Protespun tak ada gunanya. Jadi kadang Cristal memang memilih untuk mengelak daripada menyelesaikan masalah.  “Tuan Jervaro, kenalkan ini Nona Cristal.”  “Saya tau.”  “Oh ya? Wah, jadi kalian sudah saling kenal?” Austin terlihat terkejut. “Wah baguslah kalau begitu. Bagaimana kalau kita menikmati hidangan penutup bersama-sama?” tawar Austin.  Sepertinya Cristal tak bisa menolak. Cristal mengutuk di dalam hati karena Jervaro juga tak menolak. Cristal yakin Jervaro bisa menolak kalau dia mau. Iya, kan?  Pelayan datang mengantarkan hidangan. Terlihat lezat memang. Tapi perut Cristal sudah kenyang dan selera makannya juga sudah hilang. Ia jelas tak akan bisa menelan apapun jika ada Jervaro di depannya. Cristal ingin pulang.  Austin dan Jervaro terlibat perbincangan yang tak Cristal mengerti. Akhirnya wanita itu memilih sibuk dengan dessertnya. Hanya beberapa suap kecil dessert yang masuk ke dalam mulut Cristal. Sisa dessert itu menjadi adonan karena Cristal mengacak-acaknya menjadi tak berbentuk.  “Maaf Tuan Jervaro dan Nona Cristal, saya tinggal sebentar..” Austin Kembali bangkit dari tempat duduknya saat anak buahnya datang dengan ponsel. Sepertinya Cristal harus percaya kalau Austin memang sibuk. Ia bahkan tak bisa duduk dengan tenang.  Cristal menghela napas. Untuk beberapa detik Cristal lupa kalau ada Jervaro di depannya. Sampai Jervaro berdehem pelan dan Cristal refleks mengangkat wajah. Tanpa bisa dihindari, tatapan dua anak manusia itu bertemu. Tapi dengan cepat Cristal mengalihkan pandangan. Samar-samar Cristal bisa melihat kalau kondisi Jervaro sudah jauh lebih baik. Terakhir berita yang Cristal dengar adalah Jervaro sudah dalam masa pemulihan. Sepertinya dia pulih dengan cepat karena kini Jervaro terlihat baik-baik saja—nyaris sama seperti sebelum ia kecelakaan.  Meski music berbunyi dengan cukup keras, Cristal tetap saja merasa area di sekitar ia dan Jervaro terasa sangat sunyi. Rasanya benar-benar canggung terjebak dalam keheningan seperti ini. Entah karena perasaan canggung atau karena cuaca memang panas, Cristal merasa kulitnya bergejolak. Cristal mengusap lehernya. Ia akhirnya mengipas dengan tangan. Wajah Cristal terasa memanas.  Cristal meneguk air dingin di dalam gelas. Tapi gagal. Tubuhnya masih terasa panas. Cristal mengangkat wajahnya.  “Saya permisi.” Cristal turun dari kursi. Tapi saat kakinya menginjak lantai, Cristal kehilangan keseimbangan. Untung Jervaro sigap menangkap pinggang Cristal.  “Sorry.” Cristal mulai merasa sesak di dalam d**a. Hembusan napasnya terdengar nyaring dengan tempo cepat.  “Kamu kenapa?”  “Nggak tau. Kepala aku berat banget.” Cristal masih berusaha menahan bobot tubuhnya. Tapi ia masih gagal mempertahankan keseimbangan.  Jervaro menghela napas kemudian membantu Cristal berjalan.  “Ada apa Tuan?” tanya pelayan yang lewat.  “Dia pusing.”  “Oh silahkan lewat sini, Tuan. Bawa Nona ini istirahat dulu. Saya akan panggilkan dokter.” Pelayan itu membukakan salah satu pintu kamar. “Ini salah satu fasilitas dari Tuan Austin untuk tamu-tamunya. Saya akan panggilkan dokter.”  “Nggak usah,” ujar Cristal cepat. “Sa-saya nggak apa-apa. Sebentar lagi pasti baikan.” Kening Jervaro mengerut.  “Apa Nona yakin?”  Cristal bergegas mengangguk. “Baiklah. Kalau ada yang dibutuhkan bisa memanggil saya atau pelayan yang lain.” Pelayan itu kemudian berlalu.  Kini hanya tersisa Cristal dan Jervaro di dalam kamar itu. Cristal berdehem untuk ke sekian kali—membersihkan tenggorokannya yang terasa seret. Cristal mencari letak AC dan menemukannya. Ia menyipitkan mata melihat angka yang tertera pada AC itu.  “16 kenapa masih panas ya?” gumam Cristal.  “Kamu udah baikan? Kalau udah aku pergi.” Jervaro balik badan. Cristal tak menggubris. Ia biarkan Jervaro pergi. Tapi baru beberapa langkah, Jervaro tiba-tiba berhenti. Cristal menoleh. Keningnya mengerut melihat Jervaro berdiri cukup lama di sana.  Rasa panas ditubuhnya makin menjadi, kini Cristal harus memikirkan Jervaro yang tiba-tiba oleng. Cristal langsung bangkit dan menghampiri. Jervaro sudah baik padanya jadi tak ada salahnya ia membalas kebaikan Jervaro kan?  “Kakak kenapa?” Cristal berusaha menahan bobot tubuh Jervaro. Tapi badannya terlalu kecil jika dibandingkan dengan Jervaro. Cristal berusaha keras mengabaikan rasa tak nyaman di tubuhnya sembari membantu Jervaro.  “Kenapa tiba-tiba sakit kepala gini?” Jervaro memijit dahinya.  “Sebentar,” Cristal berlalu. Tak lama ia kembali dengan segelas air putih. Ia ulurkan pada Jervaro. Pria itu langsung meneguk habis isi gelas. Tadi Cristal, kini gentian Jervaro yang bertingkah aneh. Keringat muncul dari dahinya. Jervaro mengusap tengkuknya. Berkali-kali Jervaro memijit dahinya.  “Sebaiknya panggil dokter aja,” ujar Cristal yang masih berusaha keras untuk tetap sadar. Kepalanya terasa berat dan Cristal merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Ada rasa geli menggoda menjalar dari perut hingga ke d**a.  Napas Jervaro terdengar berat. Saat Cristal hendak melangkah, tiba-tiba tangannya ditahan. Cristal menoleh. Jervaro membuka matanya. Tanpa kata ditariknya Cristal hingga gadis itu berakhir di atas ranjang. Cristal melotot.  “K-Kak..” Cristal di antara kesadaran yang juga mulai hilang berusaha menahan tubuh Jervaro yang bergerak menghimpitnya.  “K—hmppt..” terlambat. Bibir Jervaro sudah lebih dulu menyambar bibir Cristal. Seperti api yang menunggu disirami bensin, sesuatu di dalam diri Cristal meledak saat bibirnya dilumat bibir Jervaro. Seperti bersambut, ciuman Jervaro diterima dengan senang hati oleh Cristal. Tangan wanita itu melingkar otomatis di leher Jervaro. Ciuman itu memang menuntut. Sepertinya Jervaro dan Cristal sudah kehilangan akal sehat mereka.  Jervaro sudah berada di atas tubuh Cristal sepenuhnya. Masih dengan bibir saling bertaut, Jervaro melepaskan kancing kemejanya satu persatu. Kemeja hitam itu berakhir di lantai. Cristal bisa merasakan kulit telanjang Jervaro di lengannya. Satu tangan Jervaro menyusup ke tengkuk Cristal.  Lenguhan Cristal lolos saat bibir Jervaro menyentuh kulit lehernya. Cristal sedang sangat sensitive hingga pergerakan sekecil apapun dari Jervaro bisa membuatnya menyala. Mata Cristal terpejam saat Jervaro menghisap kulit lehernya. Tidak hanya di satu titik, tapi di banyak titik. Kerjaan Jervaro pasti akan meninggalkan bekas besok pagi. Tapi kedua anak manusia ini mana peduli pada hal itu saat ini. Napas Cristal semakin berat saat tangan Jervaro menyusup ke dalam dress yang ia kenakan. Entah sejak kapan dress itu terangkat sampai ke pinggang. Paha mulus Cristal terekspose begitu saja.  Cristal membuka matanya saat jari lentik itu menyentuh titik paling sensitifnya. Cristal menelan ludah dan refleks menahan pergelangan tangan Jervaro. Mungkin Cristal telah dapatkan kesadarannya. Jervaro menggenggam pergelangan tangan Cristal, membawanya ke atas kepala gadis itu. Kembali ia daratkan ciuman di bibir Cristal. Tak ada kelembutan di sana karena ciuman Jervaro begitu menuntut. Jervaro mengunci kedua tangan Cristal di atas kepala gadis itu. Cristal kembali terbuai saat lidah Jervaro bergerilya tanpa ampun di dalam mulutnya. Cristal tak peduli lagi saat tangan Jervaro beraksi di tempat yang harusnya tak boleh dijamahnya itu.   Pelindung terakhir Cristal berhasil dilepaskan Jervaro. Dress itu ikut teronggok di lantai bersama kain lainnya. Kini baik Jervaro maupun Cristal sama-sama tak memiliki pelindung apapun.  “Aghh..” Cristal menjerit tertahan saat Jervaro berhasil menembus intinya. Bulir bening mengalir dari sudut mata Cristal. Kedua tangan Cristal mengepal hingga jari-jarinya memutih. Jervaro diam sesaat. Kembali ia melumat bibir Cristal. Sesaat kemudian ia turun menjelajahi leher jenjang Cristal. Jervaro melepaskan genggamannya di kedua pergelangan tangan Cristal. Ia tautkan jari-jarinya dengan jari Cristal. Dan malam ini ikatan takdir antara Jervaro dan Cristal dimulai.  “Kamu wangi banget. Aku suka aromanya..” ucap Jervaro entah sadar atau tidak. Untuk ke sekian kali, Jervaro membawa Cristal sampai ke puncak.  …  Disaster. Cristal terbangun dengan kondisi shock luar biasa. Bagaimana tidak? Ia terbangun di atas ranjang yang sama dengan seorang pria dan tak ada sehelai benangpun di tubuh mereka. Cristal merasa dadanya terasa sesak. Ia mencengkram kuat selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Rasanya Cristal ingin meyakini kalau ini hanya mimpi. Tapi bagian bawahnya terasa sangat sakit. Bagaimana bisa Cristal meyakinkan dirinya kalau semua baik-baik saja?  Cristal menatap nanar selimut putih yang menutupi tubuhnya itu. Cristal tak berani bergerak. Ia takut melihat noda merah baik di selimut ataupun di seprai yang ia duduki. Perlahan Cristal rasakan pergerakan di sampingnya. Cristal menoleh dan menemukan Jervaro sedang mengerjapkan matanya. Sepertinya Jervaro sedang mengumpulkan kesadaran. Jervaro mengusap matanya, lalu ia terdiam beberapa detik sebelum pria itu bangkit dalam kondisi terkejut. Jervaro pasti sudah dapatkan kesadarannya sekarang.  Jervaro tak perlu membuka selimutnya untuk meyakinkan diri karena dia bisa merasakan kulitnya bersentuhan langsung dengan selimut. Itu artinya dia tak memakai penutup apapun. Jervaro menoleh ke samping kanan dan menemukan Cristal membeku di sana. Ia edarkan pandangan dan melihat pakaian mereka berserakan di lantai. Jervaro mengutuki dirinya. Benar-benar mengutuk.  Jervaro tak ingin mengingat apa yang telah ia lakukan tadi malam. Tapi Jervaro harus meningatnya. Kembali ia menoleh ke arah Cristal. Ada banyak sekali jejak merah di sekitar leher hingga bagian atas d**a Cristal. Rasanya kepala Jervaro seperti akan pecah. Pria itu tersentak saat Cristal tiba-tiba turun dari Kasur, membawa selimutnya menuju kamar mandi. Terlihat sekali Cristal berusaha keras untuk berjalan normal. Meski nyatanya hal itu tak berhasil. Jelas sekali ia tertatih. Jervaro menurunkan pandangan dan ia bisa melihat dengan jelas bercak darah di seprei putih itu. Jervaro memijit dahinya.  “b******k lo Jer. Apa yang udah lo lakuin b*****t?!”  Lalu apa sekarang?    ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD