“Bibii!” Hanin menyeru girang saat Lastri masuk ke kamarnya dengan membawa sarapan hari ini. Ia menatap penuh binar pada Lastri. Berharap pagi ini Lastri membawa serta Attar padanya juga. “Bagaimana? Bibi sudah sampaikan keinginkanku pada Attar kan? Sekarang dia di mana?” tanya Hanin antusias dan penuh harap. Lastri tersenyum tak enak pada majikannya, membuat senyuman Hanin seketika luntur, menyadari arti dari ekspresi Lastri itu. “Saya belum bertemu dengan Tuan Muda pagi ini, Nyonya. Beliau hanya memasak sarapan dan menaruhnya di atas meja, saya bahkan gak tahu kapan beliau pergi,” ucap Lastri melapor seraya menyiapkan sarapan Hanin di atas meja. Kepala Hanin tertunduk, ekspresi wajahnya tampak murung. Sudah dua hari dia tak bertemu dengan Attar. Pria itu pergi sangat pagi dan pula

