“Kamu yakin? Kalau gak yakin, kita masih bisa balik loh,” ucap Attar, ia menatap khawatir pada Hanin yang hanya diam sejak tadi. Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil, menuju pengadilan agama untuk merealisasikan janjinya pada Drajat. Untuk pertama kalinya setelah lima bulan, Hanin akhirnya keluar dari kediaman Permana dan bisa melihat jalanan dan hiruk-pikuk kota lagi. “Aku gak apa-apa kok, Attar. Aku udah janji ke Kakek kalau aku bakal selesaikan ini,” ucap Hanin, ia melempar senyum kecil pada Attar. “Kalau kamu belum siap, aku bisa bicara sama Kakek. Jangan paksakan diri kamu,” ucap Attar lagi membujuk. Ia hanya takut jika keadaan psikis Hanin kembali terguncang karena tertekan dengan hal ini. Dia tak ingin melihat Hanin terpuruk lagi dan stress. Apalagi Hanin baru bisa l

