Hanin menoleh menatap Drajat, jejak kebencian terpancar jelas dari kedua matanya. Ia menggigit lidahnya, berusaha menahan diri untuk tak bersikap lebih kurang ajar. “Asal Kakek tahu saja, cucu Kakek ini … dia adalah perempuan murahan! Dia adalah w*************a suami orang!” maki Hanin sangat kesal. Kening Drajat mengerut, masih belum terlalu paham apa maksud dari ucapan Hanin. “Jangan asal bicara kamu!” protes Sierra cepat, membuat Hanin kembali menoleh padanya. “Aku bisa menuntutmu atas tuduhan pencemaran nama baik tahu! Jadi jaga mulut kotormu itu!” tambah Sierra disertai ancaman. Bukannya ciut, Hanin semakin berani memajui Sierra dan menatapnya penuh kebencian. “Apa? Coba ulangi ucapanmu barusan!” tantang Hanin. “Memangnya kenapa? Kamu takut kalau kelakuan busukmu itu terbong

