True Position.

1463 Words
Happy Reading. Aliya mengketuk-ketukan jarinya pada meja Caffe tersebut. Pandangan matanya menatap lurus kearah Tzuyu. Dan tampak berfikir dengan keras. Ekspresi wajahnya yang tak terbaca membuat Tzuyu takut jika gadis yang lebih muda darinya ini akan marah, karena kelakuan lancangnya yang menilai hubungan Mina dengan Jimin saat di Pantai beberapa waktu yang lalu. "Apa aku salah?" Tanyanya takut jika Aliya akan melabrak dirinya. "Eonni tidak salah" ucapan Aliya membuat Tzuyu bernafas lega. Dia fikir gadis ini akan marah. "Aku bahkan sempat mau membuat Jimin Oppa menciumku didepanya" jawab Aliya membuat yang lain terkejut sekaligus kaget. "Jangan hanya Ciuman Maknae! Kenapa tidak sekalian tidur saja dengan Jimin Oppa didepanya....akhhhh" Hani memekik saat Chaeyoung memukul kepalanya. "Bisakah kau berbicara yang benar Nona Choi?" Ucap Chaeyoung kesal. "Bukankah lebih baik kau berbicara pada Jimin Oppa langsung Maknae?" Aliya menggeleng saat mendengar pendapat Dahyun. Ia tak mau melibatkan Jimin dalam urusan ini. Cukup dirinya saja yang terlibat lagipula masalah ini akan semakin panjang jika Jimin dilibatkan. "Bagaimana jika Mina meminta Jimin Oppa untuk menjauhimu?" Pendapat Yeri. Tak menutup kemungkinan kan jika Mina meminta hal itu pada Jimin dan bisa saja kan Jimin menyetujuinya. "Kukira Jimin Oppa bukan orang yang bodoh!. Ia tak akan melakukan hal yang tidak masuk akal seperti itu" Aliya mengangguk saat mendengar ucapan Tzuyu. "Aku merasa ada hal yang aneh disini!. Bukankah dia adalah Yeoja pertama didalam hidup Jimin Oppa? begitupun sebaliknya! Dan mengapa dia harus menakutkan kehadiaran Magnae yang ada disisi Jimin Oppa? Bukankah itu aneh? Dia pasti mengetahui sesuatu tentang kebenaran perasaan Jimin Oppa" ucap Chaeyoung curiga. "Apa mungkin ada Yeoja lain sebelum Mina dalam hidup Jimin Oppa?" Aliya menggeleng saat mendengar pertanyaan Dahyun. Ia tak pernah melihat Yeoja yang dekat dengan Jimin selama ini dan yang ia tahu hanya Mina yang dekat dengan Jimin. "Apa kau akan menuruti ucapan Mina untuk menjauhi Jimin Oppa Magnae?" Tanya Tzuyu ingin tahu. Jujur ia ingin mengetahui apa yang Aliya fikirkan tentang kelakuan Mina beberapa waktu yang lalu. Aliya sendiri tampak berfikir. Ia sendiri juga bingung mau melakukan apa. "Aku akan melakukan satu hal! Jika Jimin Oppa bertindak tidak sesuai keinginan ku! maka aku akan menjaga jarak denganya, ingat menjaga jarak bukan menjauh" ucap Aliya menegaskan. Mereka berlima hanya mengangguk-angguk saja. *** Mina semakin aneh setelah pulang dari pantai beberapa hari yang lalu, itu yang Jimin rasakan. Saat ia bertanya pada gadis itu bukanya menjawab Mina justru mengalihkan pembicaraan yang menurut Jimin tak penting. "Kau yakin jika baik-baik saja?" Tanya Jimin saat memperhatikan gadis itu yang tampak tak nyaman. "Jika kau sakit lebih baik kita pulang" ajak Jimin. Bukanya menjawab Mina justru menatap Jimin dengan pandangan dalam. "Waeyo?" Tanya Jimin aneh karena Mina menatapnya seperti itu. "Jika aku bertanya padamu tentang Aliya! Mana yang kau pilih Aku tau Aliya?" Tanya Mina langsung. "Hei...ada apa denganmu? Kenapa kau jadi aneh begini?" Tanya Jimin bingung pada gadis Jung ini. "Aku hanya ingin bertanya saja!. Dan apa susahnya menjawab!. Aku atau Aliya yang kau pilih?" Tanya Mina kekeh. "Aku Yeojachingu-mu Jim!." Jimin tersenyum saat mendengar ucapan Mina. Mencoba membandingakan Eoh?. "Kau tahu kan jika aku seorang yang tak suka berbohong?" Mina mengangguk saat mendengar pertanyaan Jimin. "Mungkin kau akan menganggapku sebagai Namjachingu yang tak baik, tapi inilah kenyataanya!. Jika kau bertanya padaku untuk memilih antara kau dan Aliya aku tak bisa menjawabnya!. Kalian memiliki tempat masing-masing dihatiku. Aliya sendiri memiliki tempat istimewa dihati ku begitupun dirimu!. Tapi jika kau menyuruhku untuk memilih meninggalkanmu atau meninggalkan Aliya maka dengan tegas aku akan lebih memilih meninggalkanmu!." ucapan Jimin membuat Mina terkejut. "Jim....." "Kau pasti kecewa dengan jawabanku, tapi ini adalah kebenaranya!. Aku tak bisa hidup tanpa Aliya, Dia seperti oksigen dalam hidupku, Jika kau berfikir aku melakukan ini karena Eomma-ku menyayanginya kau salah!. Aliya sangat berharga bagiku. Aku lebih memilih dia merengek dan meminta ini dan itu padaku dari pada melihatnya mendiamkanku. Aku lebih suka dia berteriak sambil marah-marah tak jelas dari pada melihatnya diam seharian. Kau memang Yeojachingu-ku Min dan aku memang mencintaimu tapi jika kau memintaku meninggalkan Aliya maaf aku tak akan bisa melakukanya" ucap Jimin tegas. "Mendengar ucapanmu tadi kau bukan hanya menganggap Aliya sebagai seorang adik!" tanya Mina menyelidik sambil melirik tajam Jimin. Jimin terkekeh saat mendengar ucapan Mina. Dalam hati ia membenarkan apa yang dikatakan gadis itu. Ia sendiri masih bingung dengan dirinya sendiri. Taehyung yang notabenya kakak kandung Aliya saja hanya berani mencium Aliya dipipi sedangkan dirinya?. "Aku sendiri masih bingung dengan diriku sendiri. Dan kau bukan orang pertama yang bilang begitu padaku, banyak yang bilang begitu sebelumnya!. Tapi pada kenyataanya aku memang nyaman dengan keadaan ini" jawab Jimin jujur. "Hahhh....kenyataan tak selalu manis seperti bayanganmu. Kadang-kadang kau harus melewati jurang yang terjal untuk mendapatkan keinginanmu. Cinta bukan alasan untukmu melakukan apapun sesuai keinginanmu dan menyakiti satu sama lain. Cinta sendiri memiliki arti bagaimana caramu berkorban untuk orang yang kau cintai. Jika kau benar-benar ingin menikmati kebahagiaan yang benar lakukanlah hal yang benar juga tapi jika kau melakukan cara yang picik maka nikmatilah penderitaanmu diakhir" ucap Jimin sambil menerawang. "Dia benar-benar mencintai Aliya" monolog Mina dalam hati. ^^^^ "Ini apa?" Tanya Jimin pada Aliya yang menyerahkan sebuah tiket padanya. "Aku ingin Oppa menemaniku nonton" jawab Aliya singkat. "Dalam rangka apa?" Tanya Jimin bingung. "Anggap saja sebagai hadiah untuk kelulusanku" ucap Aliya sambil menyandarkan kepalanya dibahu Jimin. "Seharusnya aku yang memberi hadiah padamu Magnae! bukan sebaliknya!" ucap Jimin sambil memberikan kecupan sayang didahi Aliya. "Apa bedanya?" Tanyanya bingung. "Ya beda saja!. Aku mau memberikan hadiah untukmu itu sedikit terlihat pantas" ucap Jimin sambil menyandarkan dagunya pada Aliya. Jika dilihat mereka tampak seperti pasangan yang saling mencintai tapi pada kenyataanya?. "Yang penting Oppa datang saja!" ucap Aliya. "Baiklah tapi kita berangkat bersama ya?" Tawar Jimin. Aliya langsung menggeleng tak setuju. "No..No...kita berangkat sendiri-sendiri saja!. Nanti kita bertemu disana oke!" Jimin menghela nafas pasrah. "Baiklah jika itu maumu" ucap Jimin mengalah. "Aku mengantuk" ucap Aliya. "Tidurlah" balas Jimin sambil membenarkan letak kepala Aliya agar lebih nyaman. "Semoga Oppa besok datang" monolog Aliya sambil memejamkan matanya. Jimin tersenyum saat melihat Aliya sudah terlelap dipelukanya. Oh ya gadis ini tengah menginap dirumahnya dan mereka sedang ada dikamar Jimin. Dan hanya ada mereka berdua dirumah. Kedua orangtunya ada di Jepang dan Chanyeol sedang berlibur bersama Nida. Dan alasan kenapa Aliya menginap disini adalah karena semua anggota keluarga Kim sedang ke LA untuk menjenguk Halmonie Kim yang sakit. Aliya tak ikut karena ada acara kelulusan. Dan akhirnya Aliya dititipkan pada Jimin. "Good Night Princes" ucap Jimin sambil mencium pipi Aliya dan menyusul gadis itu menuju alam mimpi. *** Dengan senyum mengembang Aliya menunggu Jimin diluar ruangan pertunjukan. Ia datang 15 menit lebih awal dari perjanjian yang mereka tentukan. "Apa dia akan datang? Atau justru sebaliknya? Aishh kau berfikir apa Kim?" Ucap Aliya kesal sambil memukul kepalanya. Aliya melirik jam tanganya dengan bibir mengerucut. "Apa dia terkena macet?" Tanyanya sambil melirik pintu masuk. "Nona tidak masuk?" Aliya tersentak saat seseorang menyapanya. "Aku sedang menunggu temanku" jawabnya sambil tersenyum. "Baiklah kalau begitu saya masuk dulu Nona" Aliya mengangguk saat mendengarnya. "Awas saja jika dia tak datang" gerutunya kesal. Bosan itulah yang Aliya rasakan. 30 menit, 45 menit, 1 jam, 1 jam lebih 15 menit, 1 jam lebih 30 menit. Pada dasarnya Jimin kembali tak datang. "Ini keputusan akhirku Oppa" ucap Aliya sambil merobek tiket masuknya. Dengan senyum miris ia meninggalkan Stidio Drama Musical ini. **** "Kau yakin tak papa?" Mina mengangguk saat Jimin bertanya padanya. Tadi tiba-tiba Jackson menelfonya dan mengatakan jika Mina jatuh saat latihan dan harus dibawa ke Rumah Sakit. Jimin tentu saja kaget saat mendengar kekasihnya jatuh. Tanpa babibu ia langsung menuju Rumah Sakit dimana kekasihnya dirawat. "Kau mau pergi kemana? kenapa begitu berpakain rapi!" Tanya Mina ingin tahu. "Aku ada....Ya..Tuhan" Jimin menepuk keningnya tanpa banyak bicara ia langsung berlari keluar dari ruang rawat Mina. Ia bahkan mengabaikan teriakan Mina yang memanggilnya. ***** Jimin mengendarai Mobil Audy-nya dengan kecepatan penuh. Ia tak memperdulikan sumpah-serapah yang dilontarkan oleh pengemudi lain tentang nya. Bahkan beberapa kali ia harus menerjang lampu merah dan untung saja tidak ada polisi yang berjaga disekitar jalan. "Angkat Aliya" gumamnya sambil mencoba menghubungi Aliya. "Sial" Jimin membanting ponselnya karena Aliya tak kunjung menjawab panggilanya. **** Tanpa memarkirkan mobilnya dengan benar Jimin langsung berlari masuk ke tempat acara. Dan benar saja Drama Musical yang harusnya ia tonton dengan Aliya sudah hampir selesai. Jimin mencoba mencari Aliya dikursi penonton, tapi berakhir kekecewaan karena tak menemukan gadis itu disana. Dengan langkah lesu ia keluar dari sana. Ia mendudukkan dirinya pada kursi tunggu. Helaan nafas panjang lolos dari bibirnya. Matanya menajam saat melihat sebuah robekan kertas entah angin apa yang membawanya untuk memungut sobekan kertas tersebut. Tubuhnya langsung lemas saat melihat jika itu bukan kertas biasa. Itu adalah tiket yang sama dengan yang ia pegang dan dia yakin jika ini adalah milik Aliya. "Lagi...aku kembali mengingkari janjiku dan mengecewakanmu" lirihnya pelan. T.b.c
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD