5 – Bad Scenario

1557 Words
  Marcel tahu, cepat atau lambat, wanita itu akan kembali ke mobil Marcel. Kali ini, Reta hanya memakai bikini renangnya. Entah wanita itu sudah tidak bisa merasakan dingin atau tidak bisa merasakan malu. Mungkin keduanya. Wanita itu berhenti di depan kap mobil Marcel dan menggebraknya. Tubuh wanita itu sedikit membungkuk ketika dia mencondongkan tubuh ke depan, membuat Marcel bisa melihat ke celah bikini renangnya. Marcel seketika memalingkan wajah. Namun, wanita itu kemudian bergeser ke kaca jendela di sebelah Marcel. Tepat di depan mata Marcel. Reta mengetuk kaca jendela itu dan Marcel menurunkannya sedikit. “Kau mau apa lagi?” tuntut Marcel. “Aku hanya ingin mengembalikan ponselmu,” jawab Reta. Marcel menurunkan kaca jendela sedikit lagi dan mengulurkan tangan. “Masukkan lewat celah jendela,” perintahnya. “No way,” tolak Reta. “Kau bahkan belum mengembalikan ponselku.” “Nanti,” janji Marcel. Reta lantas mengangkat ponsel Marcel di tangannya dan menunjukkan galeri foto Marcel. Foto yang tadinya tak ada di sana, tampak berjejer memenuhi galerinya. Dan sialnya, itu bukanlah foto yang normal, melainkan foto Reta memakai bikini renang, dengan berbagai pose. “Aku akan mengirimkan ini pada Kirana,” ancam Reta. Mendengar itu, Marcel melotot kaget. “Kau ... jangan berani-berani kau ...” “Jika kau menginginkan ponselmu, turunlah dan ambil sendiri.” Reta menggoyang-goyangkan ponsel Marcel, lalu melenggang santai kembali ke villa-nya. Marcel mendesis kesal. Sepertinya ia tak punya pilihan lain. Menyebalkan. *** Reta nyaris tertawa dalam hati ketika Marcel benar-benar menurutinya dan mengikuti Reta seperti anak ayam. Kirana memang senjata paling ampuh untuk melawan Marcel. Dia benar-benar tergila-gila pada Kirana, tanpa tahu malu. Reta duduk di sofa ruang tamu dan Marcel berdiri dengan jarak tiga meter darinya. Reta menepuk tempat kosong di sebelahnya. Marcel menggeleng. “Ah, sebaiknya kukirim sekarang saja ...” Marcel langsung melesat dan duduk di sebelah Reta. Reta yang diam-diam sudah menyalakan video di ponsel Marcel, langsung duduk di pangkuan Marcel dan menempelkan dadanya di wajah pria itu, lalu mengambil videonya. “APA YANG KAU LAKUKAN?!” Marcel menyentakkan bahu Reta. Reta mencondongkan kepala ke telinga Marcel dan berbisik, “Ssst ... jangan berisik. Atau aku akan mengirim gambar seksiku pada Kirana.” Marcel mengumpat kasar menanggapi itu. Reta mengulurkan kedua tangan ke belakang kepala Marcel, masih dalam kondisi merekam, lalu menyelesaikan rekamannya dan mengirim video itu ke nomornya. “Berikan ponselku dengan baik-baik, sebelum aku melakukan hal yang lebih mengerikan lagi padamu,” ancam Reta sembari menggeser duduknya di pangkuan Marcel. Didengarnya Marcel menggeram kesal, lalu pria itu melempar sesuatu. Si b******k ini benar-benar suka mencari masalah. Berani-beraninya dia melempar ponsel Reta ke sofa seberang. Untung saja ponsel itu tidak jatuh. “Sekarang, turun dariku dan berikan ponselku padaku,” sengit Marcel. “Ya, ya, ya,” jawab Reta sembari turun dari pria itu, melemparkan ponsel Marcel asal ke arah pemiliknya, sementara dia mengambil ponselnya. “Ah, aku memberikan sedikit hadiah untukmu. Kuharap itu akan berguna ketika kau merasa kesepian.” Marcel mengerutkan kening dan mengecek ponselnya. Ekspresi Marcel kemudian membuat Reta nyaris tertawa. Wajah pria itu perlahan berganti warna, menjadi merah padam. Aye, kepala tomat. Uh-oh, seseorang mungkin akan meledak. “Aku sudah mengirim video itu ke ponselku. Jadi, jika kau macam-macam, aku akan mengirim itu pada Kirana,” sebut Reta. “Kau benar-benar ...” Marcel menatap Reta dengan sorot marah. Reta berdiri dan menepuk pantatnya, seolah membersihkan debu di sana. “Urusanku denganmu sudah selesai. Kau bisa pergi dari sini,” ucap Reta. “Kecuali kau ingin Kirana melihat video ini, pergilah.” Marcel menggeram marah. Reta tersenyum terhibur melihat betapa marah dan tak berdayanya pria itu. “Omong-omong, kau memulai kombinasi empat angkamu untuk membuka ponselku mulai dari angka berapa?” Marcel tak tampak ingin menjawab. Reta menunduk menatap ponselnya. “Sepertinya Kirana ...” “Satu,” jawab Marcel dalam geraman. “Ah ...” Reta menurunkan ponselnya. “Kurasa, kau hanya akan membukanya di angka terakhir yang kau coba. It’s 0000, You Moron.” Reta tertawa puas ketika meninggalkan ruang tamu dan pergi ke kamarnya di lantai dua. Namun, di tengah tangga, ponselnya berbunyi karena ada telepon masuk. Reta mengerutkan kening ketika melihat nama Kirana di layar ponselnya. Ada apa Kirana mendadak meneleponnya? Reta mengangkat telepon sahabatnya itu dan bertanya, “Kirana, ada apa? Apa ada masalah?” Dari sudut matanya Reta bisa menangkap gerakan Marcel yang langsung berdiri. Pria itu sepertinya siap berlari kapan saja jika Kirana dalam bahaya. “Reta, bisa kau kirimkan lokasi villa-mu padaku?” tanya Kirana. “Kenapa?” tanya Reta. “Aku dengan Arjuna dan anak-anak tersesat di kawasan puncak. Kami tak tahu harus pergi ke mana, tapi sepertinya kami sudah dekat dengan villa-mu.” Penjelasan Kirana itu sama sekali tak masuk di akal Reta. Tersesat di kawasan puncak? Baik Arjuna maupun Kirana punya villa di puncak, dan mereka jelas bukan pertama kalinya pergi ke puncak, jadi bagaimana mereka bisa tersesat? Apa Arjuna menyetir sambil menutup mata? Atau, dia sekarang buta jalan? “Reta? Mareta?” panggil Kirana. “Anak-anak mulai ketakutan, jadi ...” Reta menghela napas, tak punya pilihan lain. “Kau seharusnya sudah tahu alamat villa-ku jika kau menyiapkan rencana bodoh seperti itu, jadi jangan bertanya dan langsung saja pergi ke villa-ku. Aku ada di villa sekarang.” “Benarkah?” Kirana terdengar bersemangat. “Ah, sepertinya aku sudah hampir sampai di villa-mu. Sampai jumpa nanti.” Reta mendengus geli ketika menurunkan ponselnya. Dia kemudian mendengar suara mobil dari luar. Dia menoleh pada Marcel. “Itu pasti Kirana. Aku akan berganti pakaian dan memanggil penjaga villa-ku untuk membereskan beberapa hal. Ada dua kamar tamu di bawah. Katakan pada Kirana dia bisa menggunakannya,” terang Reta. “Ah, katakan juga padanya bahwa kau tidak membutuhkan kamar itu.” Marcel mendengus kasar. “Aku juga tidak butuh. Aku akan ada di mobil nanti, jadi ...” “Tidak. Kau akan ada di kamarku, bersamaku,” sela Reta. Marcel menyipitkan mata tak suka. “Apa kau sudah gila?” “Kau lupa? Jendela kacanya pecah dan siapa saja bisa menyelinap masuk ke kamarku nanti,” sahut Reta. “Meski, ya, seharusnya kau sudah tahu jika aku sudah gila. Jika kau tidak segera pergi dariku, kau akan melihat diriku yang semakin  menggila. Well, good luck, then.” Reta melanjutkan menaiki tangga sambil bersenandung. Dia akan terus mendesak Marcel hingga pria itu menangis darah ketika kabur darinya nanti. Dia seorang pria. Sampai sejauh mana dia bisa menahan diri dari godaan Reta? *** Marcel kembali terduduk di sofa ruang tamu dan menangkup wajah. Seperti yang dikatakan Reta, wanita itu memang gila. Dan Marcel akan segera ikut gila karenanya. Marcel berusaha menjaga kewarasannya ketika mendengar suara Kirana dan anak-anak di luar. Marcel bergegas berdiri dan pergi ke pintu. Begitu Marcel membuka pintu itu, dilihatnya keluarga kecil Kirana yang tampak bahagia. Sempurna. Tak ada yang Marcel butuhkan selain itu. Kebahagiaan Kirana. Tampak Arjuna menurunkan barang bawaan mereka dari bagasi, sementara anak-anaknya, Dhita dan Eza, bersemangat ingin membantu membawakan barang-barang mereka. “Mama harus menjaga adik bayi, jadi Mama tidak boleh terlalu capek,” Dhita berkata pada Kirana. “Biar Kakak yang membantu Papa membawa barang bawaan kita.” “Eza juga, Eza juga,” celoteh Eza. “Eza tahun depan sudah masuk SD, jadi Eza sudah besar. Eza akan menjaga Mama dan Adik Bayi.” Marcel menghampiri mereka dan berkata, “Anak-anak benar. Nona Kirana bisa menunggu di dalam.” “Om Marcel!” seru Dhita dan Eza gembira. Marcel tersenyum kecil pada mereka. “Baiklah, aku akan ...” Kata-kata Kirana terhenti ketika terdengar suara denting ponsel di tangannya. “Huh? Reta? Dia mengirimkan video padaku ...” Mendengar itu, Marcel langsung menyambar ponsel Kirana. “Marcel, apa yang kau lakukan?” kaget Kirana. Marcel mengabaikan itu dan membuka video yang barusan dikirim Reta pada Kirana lewat chat. Namun, ternyata itu adalah video Kirana dengan Arjuna dan anak-anak di sini tadi. Marcel menoleh ke arah kamar Reta dan wanita itu berada di beranda, sudah memakai kaus longgar dan celana pendek, melambaikan tangan. “Hai, kalian, Keluarga Kecil yang Bahagia!” seru Reta. “Kalian bisa membuat pria kesepian seperti Marcel mati karena iri.” Mareta Sania dan mulut berbisanya itu! “Sepertinya perangmu dengan Reta belum berakhir,” celetuk Arjuna. “Maaf, Marcel,” Kirana angkat bicara. “Jika ini terlalu berat untukmu, aku akan mencari orang lain, tapi aku hanya bisa percaya padamu dan ...” “Tidak apa-apa, Nona,” sela Marcel. “Kita juga tidak bisa sembarang percaya pada orang lain. Saya akan mengatasi situasi ini. Ini bukan masalah.” Mengingat Marcel sudah cukup berpengalaman dengan Kirana dulu. Yah, meski Kirana bisa dibilang bersikap sangat manis kala itu, jika dibandingkan dengan Reta sekarang. “Apa Tante Cantik dan Om Marcel bertengkar?” tanya Eza. “Kenapa kalian bertengkar?” tanya Dhita. “Kita tidak boleh bertengkar dengan teman, iya, kan, Ma?” Dhita mendongak pada Kirana. Kirana tersenyum pada Dhita dan mengangguk. “Om harus berbaikan dengan Tante Cantik,” tuntut Eza. Berbaikan? Dengan wanita gila itu? Hal seperti itu tidak ada di kamus Reta, jadi Marcel tidak mungkin ... “Aku dan Eza akan membantu Om Marcel,” tandas Dhita. Eza manggut-manggut bersemangat. “Well, semoga beruntung, Bung.” Arjuna tampak tersenyum geli ketika mengatakan itu. Pria itu mungkin sudah bisa menebak betapa kacaunya ini nanti. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD