Jika Marcel pikir Reta sudah menyerah, pria itu salah besar. Reta akan membunuh Marcel setelah apa yang dia lakukan pada Reta tadi. Namun, sebelum itu, Reta harus mengeluarkan Marcel dari sangkarnya. Um ... maksud Reta, dari mobil tempat pria itu bersembunyi seperti tikus. Dasar Pengecut b******k!
Reta jadi semakin ahli mengumpat sejak bertemu pria itu. Kemampuan mengumpat Reta sebentar lagi akan mendapat rekor terbaik karena variasinya yang kreatif. Terima kasih pada pria itu.
Setelah sarapan dan mengisi tenaga, Reta bersiap untuk memberi kejutan pada Marcel. Reta tidak akan pernah melupakan penghinaan besar pria itu. Terlebih, berani-beraninya dia melemparkan Reta keluar mobil seperti tadi. Belakang kepala Reta sepertinya benjol karena membentur pintu mobil. Argh! Sialan manusia batu itu!
Reta setidaknya harus membuat pria itu merasakan hal yang sama. Baru itu akan adil.
***
Marcel mulai merasa mengantuk, dan dia kelaparan, tapi masalah terbesarnya malah muncul di depannya. Suatu hari nanti, Marcel mungkin akan mengikat wanita itu hanya untuk membuat wanita itu diam. Karena jika tidak seperti itu, tidak mungkin wanita itu tidak akan diam.
Lihat saja sekarang. Dia tiba-tiba muncul di depan mobil Marcel dengan hanya memakai handuk. Entah apa dia memakai pakaian lain di baliknya, tapi dari tempatnya, Marcel hanya bisa melihat bahunya yang telanjang dan pahanya.
Marcel mengabaikan wanita itu dan kembali menunduk, mencoba membuka kunci ponsel wanita itu. Hingga ia mendengar suara ketukan di kaca jendela sisi penumpang. Marcel mengabaikannya pada awalnya, tapi wanita itu mulai menggedor. Jadi, Marcel terpaksa menoleh sebelum wanita itu mencoba memecahkan kaca jendela mobilnya.
Wanita itu memberi isyarat dengan tangan, menyuruh Marcel menurunkan kaca jendela. Apa dia pikir Marcel bodoh?
Marcel menurunkan kaca jendela hanya dua senti, setidaknya dengan begitu, Marcel bisa mendengar suara Reta dan juga sebaliknya.
“Bicaralah! Aku mendengarmu!” Marcel berseru.
“b******n b******k! Berani-beraninya kau melakukan ini padaku, you Bastard! Aku akan ...”
“Jika tak ada yang ingin kau bicarakan, aku akan menutup jendelanya lagi,” Marcel mengingatkan.
“TUNGGU!” seru Reta. “Ponselku! Kembalikan ponselku, dasar kau Pencuri! Kembalikan ponselku, dasar Makhluk Rendahan!”
Marcel menunduk menatap ponsel di tangannya. Ah ...
“Aku akan mengembalikannya setelah aku selesai,” Marcel menjawab.
Reta kembali merayakan festival umpatannya karena jawaban Marcel itu. Marcel sudah akan menaikkan kaca jendela di sebelah ketika Reta berseru,
“Aku akan telanjang di sini!”
Marcel terbatuk dan menoleh. “Kau!”
Reta sudah menarik keluar ujung handuk yang diselipkan di sisi tubuhnya. Reta tampak serius. Dia sudah akan membuka handuknya. Maka, Marcel bergegas membuka kunci pintu mobil dan berteriak,
“Masuklah!”
Tanpa perlu disuruh dua kali, Reta membuka pintu mobil dan naik ke sebelah Marcel. Wanita itu kembali menyelipkan ujung handuknya.
“Aku akan mengembalikan ponselmu nanti sore. Aku mencoba semua kombinasi empat angka, jadi aku akan segera menemukannya,” Marcel menerangkan, berharap Reta akan membantunya.
Namun, tentu saja Reta tidak sebaik itu. Wanita itu hendak menyambar ponselnya di tangan Marcel. Sayangnya, Marcel lebih cepat dan dia melempar ponsel Reta ke belakang.
Ketika Reta hendak melompat ke belakang di celah antara kursi, Marcel menahan lengan wanita itu.
“Kubilang, nanti akan kukembalikan,” Marcel menekankan.
“Kalau begitu, berikan ponselmu padaku!” seru Reta.
“Jika aku memberikannya, apa kau akan pergi tanpa membuat masalah?” Marcel memastikan.
“Ya,” jawab Reta.
Tentu saja Marcel tidak percaya pada wanita itu, tapi setidaknya ia harus mencoba melakukan sesuatu. Marcel meraih ke saku celananya, dan mengangkat ponselnya di depan wajah Reta. Mata Reta berbinar seperti kucing yang mendapat mainan. Wanita itu menyambar ponsel Marcel dari tangan Marcel secepat kucing menyambar ikan di depan matanya.
“Sekarang, pergilah!” usir Marcel.
“Oke, Honey!” seru Reta.
Terkutuklah wanita itu dan tingkah gilanya!
Namun, Marcel kemudian melihat pandangan Reta ke pintu di sebelah Marcel. Tidak, dia akan melakukannya lagi!
Untuk mencegah itu, Marcel memutar tubuh hingga punggungnya menutup pintu. Sialnya, itu tak mencegah kegilaan Reta. Wanita itu tanpa malu, langsung duduk di pangkuan Marcel. Marcel memalingkan wajah ketika wanita itu mendekatkan wajah padanya. Marcel mengepalkan tangan erat ketika merasakan tubuh wanita itu menempel di tubuhnya.
Sialan wanita ini!
“Mar ...cel ...” bisik Reta di telinga Marcel.
Marcel menahan napas. Ini gila. Jika Reta terus seperti ini ...
Marcel terbelalak panik dan langsung menahan tangan Reta dengan kedua tangannya ketika wanita itu mencoba membuka kancing celana Marcel. Di tengah panik dan kagetnya, Marcel mendengar suara kunci dibuka di belakangnya. Bahkan meski Marcel bisa menebak apa yang akan terjadi, dia masih menjaga tangan Reta yang mengancam celananya.
Akibatnya, Marcel jatuh ke belakang begitu pintu dibuka. Dengan satu tangan masih menahan tangan Reta, Marcel menggunakan tangan satunya untuk menarik tubuh Reta menempel padanya, kepala Reta ia tekankan di dadanya. Marcel jatuh dengan kepala mendarat lebih dulu di atas rumput, setelah sempat menghantam pintu mobil.
Sementara, di atas tubuhnya, Reta mendarat dengan aman. Dan sepertinya wanita itu baik-baik saja, melihat bagaimana dia tertawa puas setelahnya.
“Rasakan pembalasanku, b******n b******k!” maki Reta seraya berdiri.
Marcel refleks memalingkan wajah agar tak melihat apa pun dari bawah tubuh Reta. Wanita itu benar-benar tak sadar kegilaan apa yang dia lakukan pada Marcel kini.
Reta akhirnya pergi sambil bersenndung. Dan Marcel akhirnya melihat apa yang ada di balik handuk Reta ketika wanita itu melepaskan handuknya. Wanita itu memakai bikini renang. Mungkin, Reta pikir itu pakaian yang aman, tapi dua lembar kain yang menutupi tubuh Reta dengan sangat minimalis itu nyaris membawa bahaya pada Marcel.
Mendapati kepalanya benjol karena benturan dengan pintu mobil jauh lebih baik daripada dia harus menghadapi Reta dengan dua kain sialan itu tepat di depan matanya. Bahkan saat ini, tubuh Marcel seolah terasa terbakar karena wanita itu. Apa dia semacam dewi api? Setiap kali dia berada di dekat Marcel, dia membuat tubuh Marcel seolah terbakar.
Dan sialnya ...
Marcel menunduk menatap bagian bawah tubuhnya. Dia harus mengurus bagian tubuhnya yang itu. Bahkan saat ini, Marcel masih bisa merasakan tubuh Reta di sana, ketika wanita itu duduk di pangkuannya. Marcel pasti sudah gila.
Tidak. Reta yang gila. Wanita itu seratus persen gila.
***
Reta yang sudah puas dengan balas dendamnya, melenggang santai ke villa sambil memamerkan bikini renangnya pada Marcel. Namun, perayaan kemenangan Reta tak berlangsung lama.
Begitu Reta masuk ke villa dan merebahkan tubuh di sofa ruang tamu, dia membuka ponsel Marcel. Ponsel itu tidak terkunci. Hebat! Namun, dengan keamanan yang begitu payah, Reta tak bisa menemukan apa pun di dalamnya.
Tidak satu pesan pun. Tidak satu gambar pun. Tidak satu file pun!
Ada satu. Hanya ada satu. Nomor Kirana. Sial! Dia bahkan tak menyimpan nomor Reta.
Reta melihat history panggilan telepon. Tidak ada satu pun history panggilan telepon di sana. Apa pria itu berbohong pada Reta? Ponsel siapa ini?
Reta mengotak-atik ponsel itu, tapi dia tak bisa menemukan apa pun. Tak butuh waktu lama, hanya dalam sepuluh menit, Reta menyerah dengan ponsel itu dan membantingnya ke sofa. Ponsel itu terpental dan jatuh ke lantai. Masa bodoh. Reta sudah berbaik hati tidak langsung membantingnya di lantai.
Reta menjambak rambut frustrasi. Bagaimana bisa tidak ada apa pun di sana?
Tidak. Tunggu! Reta seketika mendapat ide.
Jika tidak ada apa pun di sana, bukankah Reta hanya perlu mengisinya dengan sesuatu?
Reta menunduk menatap bikini renangnya, lalu tersenyum usil. Hei, hei, hei! Lihat siapa yang akan terkena serangan jantung setelah ini!
Reta tak bisa menahan tawa kemenangannya.
***