Marcel menatap buket bunga di tangan Arjuna, lalu mahkota bunga di tangan Marcel.
“Kenapa ... kau mendapat buket, sementara aku harus membawa ini?” Marcel menatap protes pada Arjuna.
“Mungkin karena aku lebih cocok dengan buket bunga, dan kau lebih cocok dengan itu.” Arjuna tersenyum tanpa dosa.
Marcel harus bertanya pada Kirana, apakah dia benar-benar boleh memukul wajah Arjuna sekali saja. Marcel tak bisa untuk tak menatap buket bunga di tangan Arjuna dengan iri.
“Om Marcel!” panggil Dhita keras, menyadarkan Marcel dari pikirannya.
Marcel menunduk pada gadis kecil itu. “Ya?”
“Kenapa Om Marcel dan Tante Reta bertengkar?” tanya Dhita.
“Itu ... um ...” Bagaimana Marcel akan mengatakannya?
“Mereka pasti bercanda berlebihan,” Arjuna menanggapi. “Seperti kalian. Karena itu, kan, Papa selalu mengingatkan kalian untuk tidak bercanda berlebihan.”
“Kakak pernah bercanda berlebihan dengan Eza dan tak sengaja mendorong Eza hingga Eza jatuh dan menangis,” terang Dhita. “Apa Om Marcel juga mendorong Tante Reta hingga menangis?”
“Um ... tidak sampai menangis,” jawab Marcel. Meski, ya, dia mendorong Reta. “Hanya ... sedikit benjol di kepala, mungkin. Tapi, dia juga sudah membalasku. Jadi ... sebenarnya kami impas.”
Di sebelah Marcel, Arjuna tampak sibuk menutup mulut untuk menahan tawa. Sungguh, satu pukulan di wajah menyebalkan itu tidak akan berefek apa pun, sepertinya.
***
Reta melirik Kirana yang menerima buket bunga pemberian Arjuna dengan senyum bahagia, lalu menatap ke depannya. Di atas kedua tangan Marcel yang terangkat ke depan, seolah pria itu membawa harta yang berharga, ada sebuah tumpukan bunga ... um, menurut Dhita, itu adalah mahkota bunga.
Apa yang pria itu harapkan? Dia tidak berharap Reta akan menerima dan memakai mahkota bunga itu, kan? Dia tidak berharap Reta akan menunjukkan penampilan bodoh dengan mahkota bunga itu, kan? Karena Reta lebih tertarik untuk mencekik leher Marcel dengan benda itu.
“Tante Reta, Om Marcel ingin berbaikan dengan Tante, karena itu Om Marcel membuatkan mahkota bunga untuk Tante,” urai Dhita dengan senyum lebar.
Reta memikirkan berbagai solusi untuk situasi ini. Pertama, dia meminta Kirana dan Arjuna membawa anak-anak ke kamar, mengunci pintunya, lalu menutup telinga mereka, baru Reta mencekik Marcel. Kedua, Reta mengajak Marcel ke lantai dua dan menendangnya dari balkon kamarnya. Ketiga, Reta mencekik Marcel dengan mahkota bunga itu di sini sekarang juga.
Yang ketiga sungguh menggoda. Maka, Reta mengulurkan tangan, hendak mengambil mahkota bunga di tangan Marcel, tapi tangan kecil Eza tiba-tiba menarik-narik lengannya.
“Om Marcel akan memakaikannya pada Tante Cantik,” ucap Eza dengan senyum sama lebarnya dengan kakaknya.
Reta ingin menangis saking gelinya dengan situasi ini. Namun, ia harus menahan diri demi keponakan-keponakannya.
“Baiklah.” Reta menurunkan tangan, menumpukan kedua tangan di pangkuan dalam keadaan terkepal. Reta mati-matian menahan tangannya untuk tidak mencekik Marcel di sana saat ini juga.
Apa yang dilakukan Marcel ketika anak-anak ini punya ide mahkota bunga ini? Seharusnya dia menghentikan mereka, tapi dia malah membawa mahkota bunga ini sendiri ke depan mata Reta. Argh! Dalam kepalanya, Reta sudah menjambak rambutnya sendiri, menenang-nendangkan kakinya, dan memaki-maki Marcel.
Namun, saat ini, Reta hanya bisa duduk diam ketika Marcel meletakkan mahkota bunga itu di kepala Reta. Reta menahan napas selama prosesnya, dan langsung menghela napas lega begitu Marcel mundur.
“Sudah selesai, kan?” Reta tersenyum pada kedua anak Kirana itu.
Dhita menggeleng. “Om Marcel dan Tante Reta harus berpelukan sebagai tanda berbaikan.”
Siapa yang memberi ide gila untuk berbaikan itu? Kirana? Arjuna?
Tidak, tidak. Menyalahkan orang lain tak akan membawa Reta ke mana-mana. Dia harus segera menyelesaikan ini. Ini hanya satu babak. Begitu ini selesai, Reta bisa melaju ke babak berikutnya. Itulah hidup.
Oh, bijak sekali Reta.
Reta akhirnya berdiri dan memeluk Marcel. Sebagai tanda penutup babak itu, Reta menepuk-nepuk p****t Marcel. Membuat pria itu berjengit kaget. Reta tertawa puas dalam hati.
Satu babak bodoh sudah selesai.
***
“Aku akan merapikan barang-barang bawaan kami dulu,” pamit Kirana tiba-tiba begitu kedua anaknya berlari keluar untuk melanjutkan bermain.
“Aku akan membantu Kirana, jadi aku titip anak-anak,” pesan Arjuna.
Lalu, tanpa dosa, pasangan itu bergandengan tangan masuk ke kamar, meninggalkan Reta dan Marcel yang masih berdiri berhadapan, dengan mahkota bunga di kepala Reta. Marcel segera menyadarkan diri dari shock-nya karena serangan dadakan Reta tadi.
Sebelum Reta melancarkan serangan lainnya, Marcel bergegas keluar ke halaman. Marcel melihat Dhita dan Eza kejar-kejaran di halaman sambil tertawa-tawa. Marcel sudah akan menyusul mereka ketika sebuah suara berbicara di belakangnya,
“Siap untuk babak berikutnya?”
Babak berikutnya? Marcel sudah waspada, tapi tiba-tiba ia mendapat back hug dari Reta. Namun, itu bukan sekadar back hug, tapi serangan Reta yang kesekian kalinya. Tangan wanita itu melingkar di perut Marcel pada awalnya. Sebelum kemudian, salah satu tangan Reta bergerak turun. Marcel dengan sigap menahan tangan Reta.
“Apa yang kau lakukan?” geram Marcel sembari menoleh ke belakang.
Reta mendongak dan menyengir tanpa dosa. “Hadiah untukmu,” jawab wanita itu. “Sebagai tanda terima kasih untuk mahkota bunganya.”
Detik berikutnya, kaki Reta menendang di antara kaki Marcel, dari bawah terayun hingga menghantam bagian bawah tubuh Marcel. Telak. Begitu Reta mundur, Marcel jatuh berlutut.
Ia merasakan tangan Reta di puncak kepalanya. Wanita itu menepuk-nepuk puncak kepala Marcel sambil berkata,
“Good boy, good boy.”
Argh! Marcel mulai habis kesabaran. Dia menangkap tangan Reta, lalu menarik wanita itu ke depannya. Bersamaan dengan Marcel berdiri, Marcel menjegal kaki Reta, membuat wanita itu jatuh ke belakang. Detik berikutnya, tubuh wanita itu oleng ke belakang, dan bertahan dengan tangan Marcel yang menyangga punggungnya.
“Kau ... “ geram Reta.
“Haruskah kulepaskan? Atau ...”
“Jika aku jatuh, kau akan kubunuh,” ancam Reta.
Marcel menurunkan tangannya, membuat tubuh Reta ikut turun. Satu tangan wanita itu dengan cepat meraih bagian depan kemeja Marcel, mencengkeramnya.
“Tante Cantik!” Panggilan Eza itu membuat Marcel menegakkan tubuh Reta. Eza dan Dhita berlari menghampiri Marcel dan Reta.
“Apa Tante Reta bertengkar lagi dengan Om Marcel?” Dhita menginterogasi.
Marcel melirik Reta yang membungkuk untuk menyejajarkan wajah dengan anak-anak.
“Tentu saja, tidak. Bahkan, nanti kami akan tidur di kamar yang sama. Kami sangat dekat,” Reta mengumumkan.
Wanita gila ini ...
“Oh ...” Dhita dan Eza manggut-manggut.
“Tapi, Dhita, kenapa kau tidak lagi memanggilku Tante Cantik seperti Eza?” tanya Reta.
“Tante memang cantik, tapi Mama lebih cantik,” celetuk Dhita.
Marcel setuju dengan itu.
“Ha ha. Itu lucu,” sinis Reta.
“Papa bilang, itu tugas Om Marcel untuk memanggil Tante Reta seperti itu,” lanjut Dhita.
“Oh, ya? Papa tidak bilang apa pun padaku, Kak,” cetus Eza.
“Ah, Papa mengatakan itu ketika Eza sudah tidur,” jawab Dhita. Gadis kecil itu menatap Reta, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Reta.
Reta kemudian tertawa dan mengangguk. “Baiklah. Aku memaafkanmu.” Reta lalu menegakkan tubuh dan menoleh pada Marcel. “Lakukan tugasmu dengan baik, kalau begitu.”
Marcel mengerutkan kening. Tugas apa?
“Om Marcel harus memanggil Tante Reta seperti Eza,” Dhita berkata.
Marcel mendadak ingin tertawa. Namun, ia lebih ingin menghantam wajah Arjuna. Dia benar-benar berniat mengerjai Marcel.
***
Reta tak bisa menahan senyum mengingat kata-kata yang dibisikkan Dhita tadi.
“Tante, ini rahasia. Sebenarnya, waktu Eza sudah tidur, aku merengek pada Papa untuk bertemu Tante. Papa akhirnya mau mengajakku bertemu Tante jika aku membantu Tante Reta dan Om Marcel untuk berteman dekat.”
Berteman dekat? Arjuna benar-benar mencurangi Marcel dengan putri cantiknya itu. Namun, Dhita yang tak mengerti apa pun masih asyik bermain di halaman dengan Eza. Marcel yang berdiri di sebelah Reta dengan jarak satu meter, seolah Reta punya penyakit menular, berkata sinis,
“Sepertinya kau bersenang-senang.”
Reta menoleh pada Marcel dan tersenyum. “Kau juga akan segera bersenng-senang.” Reta mengerdip pada pria itu.
Marcel melengos kasar sebagai balasan. Tunggu saja pembalasan Reta nanti.
***