“Tidak. Untuk apa kau melakukan itu?” Reta berkeras menolak Kirana.
“Reta, ayolah. Itu hanya ...”
“Tidak, Kirana,” tolak Reta lagi.
“Apa kau tidak kasihan pada anak-anak?” Kirana memasang wajah memelas. “Mereka sudah sangat menunggu ini.”
“Kita tidak akan melakukannya di malam hari,” Reta berkata tegas.
“Lalu, kapan?” Kirana memanyunkan bibir. Apa ini efek kehamilan? Kirana bersikap sama seperti Dhita dan Eza sekarang.
“Besok pagi,” sebut Reta. “Sore ini sampai jam sembilan malam juga tidak masalah. Tapi, tidak dengan tidur di luar. Apa kau tahu kita di mana sekarang? Ini di kawasan puncak. Cuacanya dingin bahkan di dalam ruangan seperti ini.”
Kirana menghela napas. Arjuna merangkul Kirana dan berkata, “Reta benar, Sayang. Kurasa, kita bisa melakukannya seperti itu. Nanti sore setelah anak-anak bangun, mereka pasti akan senang dengan kejutan tendanya. Kita bisa makan malam dan membuat api unggun nanti malam. Setelah anak-anak tidur, aku akan memindahkan mereka ke kamar. Kita bisa melanjutkan camping-nya besok pagi.”
“Di panti asuhan, kita juga tidur di tenda di malam hari ...”
“Di sana cuacanya tidak sedingin di sini,” Arjuna dengan sabar menjelaskan.
Kirana benar-benar beruntung anak-anak sedang tidur siang. Dan sekarang Reta mengerti dari siapa Dhita belajar merengek. Oh, Arjuna ... dia punya tiga anak yang harus diurus. Sebentar lagi akan bertambah menjadi empat.
Seolah bisa merasakan tatapan Reta, Arjuna menoleh padanya dan tersenyum geli. “Kau tak perlu menatapku dengan tatapan iba seperti itu, Reta. Ini tidak seburuk yang kau pikir,” ucap pria itu, seolah bisa membaca pikiran Reta.
Reta mendengus pelan. “Good luck, kalau begitu. Tapi, aku sudah menyebutkan argumenku dan aku tak menerima kurang dari itu.” Reta menatap Kirana. “Jika kau setuju, aku akan bekerja sama. Aku bahkan akan meminta staf villa-ku untuk membantu menyiapkan semuanya. Jika perlu, aku sendiri yang akan pergi berbelanja.”
Kirana menatap Reta. “Aku ingin marshmallow. Mendadak aku ingin itu.”
Reta tersenyum geli. “Baiklah. Kuanggap kau setuju dengan syaratku.”
Kirana merengut, tapi akhirnya mengangguk.
Jika Reta ingat, dulu ketika mereka masih SMA, Kirana juga terkadang bersikap kekanakan seperti ini. Namun, tentu saja Kirana hanya bersikap seperti ini di depan Reta.
“Kau benar-benar ... tak berubah,” gumam Reta.
***
Marcel menoleh pada Reta setelah mendengar gumaman pelan wanita itu. Lagi-lagi ia melihat sorot itu. Sorot penyesalan dan kerinduan di mata Reta. Mendadak, Marcel merasa marah. Memikirkan bagaimana kebahagiaan Reta direnggut di depan matanya, hingga wanita itu tak bisa berbuat apa-apa.
“Kau mau belanja sekarang?” Marcel bertanya pada wanita itu.
Reta mengecek jam dinding, lalu mengangguk. Dia menoleh pada Kirana. “Kau istirahatlah dulu. Mungkin nanti sore aku baru kembali. Supermarket yang lengkap berada cukup jauh dari sini.”
“Kau mau kutemani?” Kirana menawari.
Reta menggeleng. “Kau sedang hamil. Siapa tahu apa saja yang akan kau masukkan ke keranjang belanja kita nanti.”
Kirana meringis. “Baiklah. Aku akan menunggu di sini saja,” ucapnya.
Reta tersenyum geli, lalu menepuk lengan Marcel. “Kita berangkat sekarang,” ajaknya.
Marcel membungkuk kecil pada Kirana untuk pamit, lalu menyusul Reta yang sudah keluar lebih dulu. Wanita itu tampak begitu santai. Dia memakai kaus longgar dan celana pendek, sandal selop kamar, dan ponsel di tangan.
Sembari mengikuti Reta, tatapan Marcel tertuju ke ponsel di tangan wanita itu. Bagaimanapun caranya, Marcel harus mengambil ponsel itu dan menghapus video gila yang dikirim Reta ke sana dari ponsel Marcel tadi. Reta naik ke mobil Marcel dan duduk di kursi penumpang depan. Marcel naik ke kursi kemudi dan sempat melirik ke arah Reta untuk mengecek di mana wanita itu meletakkan ponselnya.
Namun, Marcel mengumpat dalam hati ketika melihat bagaimana wanita itu meletakkan ponselnya di bawah pahanya, di antara kakinya. Marcel tahu Reta sengaja melakukan itu.
“Aku tahu apa yang ada di kepalamu, jadi kau bisa menyerah sekarang,” Reta berkata. “Sebelum aku menyelipkan ponselnya ke pakaian dalamku.”
Marcel menatap ke depan tanpa membalas kata-kata wanita itu. Dia menyalakan mesin mobil dan melajukannya meninggalkan halaman villa Reta. Di sebelahnya, Reta bersenandung santai, tampak benar-benar menikmati ini.
“Omong-omong, karena nanti malam tendanya kosong, bagaimana jika kita berdua tidur di tenda?” Reta menawari.
Marcel tak menjawab. Untuk apa dia menjawab pertanyaan bodoh yang sudah jelas jawabannya?
“Aku bisa memelukmu sepanjang malam jika kau kedinginan,” Reta melanjutkan. “Atau, kita bisa melakukan lebih dari sekadar berpelukan.”
Marcel menulikan telinga.
“Aku akan memastikan kau mendapatkan malam tak terlupakan malam ini,” ucap Reta penuh tekad.
Kenapa Reta harus seperti ini? Marcel sudah cukup kesulitan ...
Tidak. Marcel tidak boleh goyah. Ia tidak seharusnya mengeluh. Ia tak akan membiarkan Reta menguasainya seperti ini. Marcel harus melakukan sesuatu juga.
Tunggu. Jika nanti malam mereka menghabiskan malam bersama, Marcel bisa mendapat kesempatan untuk mengambil ponsel Reta.
“Jadi, di mana kau ingin tidur nanti malam?” tanya Marcel.
Reta tak menjawab, tapi Marcel merasakan jemari Reta menelusuri lengannya, membuat Marcel mencengkeram roda kemudi erat.
“Jangan macam-macam. Aku sedang menyetir,” desis Marcel penuh peringatan.
“Kau bisa menepi dulu,” balas Reta. “Jika kau tak tahan ...”
“Aku juga sedang mempertimbangkan membuatmu pingsan,” sela Marcel. “Kurasa, itu lebih aman bagi kita berdua.”
Reta menarik tangannya. “Jika kau berani melakukannya, kau akan kubalas berkali-kali lipat begitu aku siuman.”
“Dan aku bisa selalu membuatmu pingsan setiap kali itu terjadi,” balas Marcel.
“Lalu, kenapa kau tak melakukannya sebelum ini?” tuntut Reta.
Karena Marcel tak ingin menyakiti Reta. “Apa yang kau lakukan masih belum memerlukan tindakan seekstrim itu, dan aku masih bisa menanganinya,” jawab Marcel.
“Menarik.” Reta tiba-tiba mengangkat kakinya ke pangkuan Marcel.
“Reta, aku serius. Aku sedang menyetir. Jika kau melakukan sesuatu, aku akan membuatmu pingsan,” ancam Marcel sungguh-sungguh.
“Kau terlalu sensitif,” balas Reta santai. “Aku tak akan melakukan apa pun.”
Tak akan melakukan apa pun, tapi kaki telanjangnya kini bertumpu di pangkuan Marcel. Begitu dekat dengan bagian bawah tubuh Marcel yang terasa nyeri. Marcel menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan untuk menenangkan tubuhnya. Berkali-kali.
***
Reta mengamati Marcel yang sedari tadi menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Sepertinya dia benar-benar kesal pada Reta. Apa kaki Reta terasa berat?
Pria itu harus berterima kasih pada Reta karena ini hanya kaki Reta. Reta tadinya berniat untuk melemparkan diri di depan Marcel dan duduk di pangkuan pria itu, tapi dia masih memikirkan keselamatan nyawanya. Dan lagi, jika Reta melakukan itu, mungkin Marcel benar-benar akan membuatnya pingsan, lalu melemparkan tubuhnya keluar mobil.
Sepertinya, Reta juga harus mulai mengatur batas. Jika tidak sedang dalam perjalanan, sepertinya pria itu baik-baik saja dengan Reta yang melompat ke pangkuannya. Paling jauh, dia hanya melempar Reta keluar dari mobil, seperti tadi pagi.
Back hug sepertinya bukan masalah juga bagi pria itu. Ciuman juga bukan masalah. Apalagi pelukan. Sentuhan-sentuhan ringan sepertinya tak begitu mempengaruhi pria itu. Jadi, itu adalah batas-batas di mana Marcel tidak akan membuat Reta pingsan.
Hal yang lebih jauh ... seperti di tempat tidur ... misalnya seperti semalam. Pria itu berakhir membanting Reta di tempat tidur alih-alih membuat Reta pingsan. Sepertinya, dia tidak akan membuat Reta pingsan selama dia masih bisa menangani Reta dengan kekuatannya.
Ah, itu benar-benar curang. Pria itu selalu menggunakan kekuatannya pada Reta, tahu Reta jelas kalah dari pria itu dalam hal itu.
Jadi, selama pria itu bisa melawan, dia tidak akan membuat Reta pingsan. Namun, di situasi seperti ini, ketika dia sedang menyetir, atau mungkin di depan Kirana dan anak-anak, jika Reta tiba-tiba melompat ke pangkuannya, mungkin pria itu akan membuat Reta pingsan.
Reta hanya harus menghindari itu untuk saat ini. Reta tidak takut, hanya ... rasanya memalukan jika sampai dia pingsan di depan pria ini. Reta tidak akan pernah menunjukkan sisi lemah dan tak berdayanya pada pria ini. Seperti ketika pertama kali mereka menghabiskan malam bersama dulu, di kawasan pantai tempat villa Kirana berada.
Jika bisa, Reta ingin melihat sisi lemah dan tak berdaya pria ini. Seperti ketika Reta membuatnya pingsan setelah Reta menghantam kepalanya dengan pot. Itu adalah salah satu kenangan indah Reta.
***