Reta merasakan tatapan Marcel ke ponselnya ketika mobil berhenti di pelataran parkir supermarket. Pria ini benar-benar tak tahu kata menyerah. Reta mungkin harus menyimpan ponselnya di balik pakaian dalam nanti malam.
Reta turun lebih dulu dari mobil. Dia tak menunggu Marcel dan berjalan ke arah supermarket. Namun, ketika menyeberang dari pelataran parkir ke supermarket, sebuah motor melaju kencang dari arah kirinya. Reta mundur, tapi motor itu juga membelokkan setir ke arah Reta.
Apa-apaan ...
Seseorang menarik tangan Reta dari belakang, membuat Reta terlempar ke belakang dan motor tadi melewati tempat kosong yang ditinggal Reta dan melesat meninggalkan pelataran parkir.
Di belakangnya, Reta mendengar Marcel menggumamkan sesuatu, seperti nomor. Dan Reta menyadari, itu adalah plat nomor motor yang nyaris menabrak Reta tadi.
“Kau bisa mengenalinya?” tanya Marcel.
Reta menggeleng. Pengemudinya memakai helm yang menutupi kepala dan wajahnya dengan sempurna. Reta bahkan tak bisa melihat menembus kaca hitam helm yang menutupi wajah orang itu.
“Kau baik-baik saja?” tanya Marcel.
Reta menoleh ke pria yang berdiri di belakangnya itu dan mengangguk. “Ya, aku ...”
Tidak, tunggu. Apa pria itu pikir Reta bodoh? Ke mana tangan pria itu bergerak?
Sementara tangan Marcel bergerak ke tangan kanan Reta yang memegang ponsel, tangan kiri Reta bergerak ke belakang dan mendarat di bagian bawah tubuh pria itu.
Reta mendengar Marcel mengumpat kasar, lalu melompat mundur. Reta berbalik dan menatap Marcel tajam.
“Jangan sok baik menanyakan apakah aku baik-baik saja ketika ada hal lain yang kau incar,” sengit Reta. “Aku tak tahu kau bisa selicik itu.”
“Tidak selicik dirimu,” desis Marcel kesal.
“Ya,” Reta membenarkan. “Karena itu, kau harus berhati-hati.” Reta mengedik ke bagian bawah tubuh Marcel. “Aku tak tahu apa yang akan kulakukan dengan itu setelah ini.”
Marcel menyipitkan mata, lalu berjalan melewati Reta. Reta tersenyum puas ketika mengikuti pria itu. Marcel mengambil dan mendorong sebuah troli sebelum masuk ke area belanja. Reta menjajari langkah pria itu dan menyelipkan tangan ke lengannya, merangkul lengan itu.
“Sekarang kita tampak seperti pasangan,” ucap Reta.
“Hentikan omong kosongmu,” sengit Marcel.
Reta cukup puas melihat ekspresi kesal Marcel saat ini.
***
Siapa orang itu? Helm full face-nya membuat Reta maupun Marcel tak bisa melihat wajahnya.
Sepertinya, itu orang yang sama dengan yang mengunci Reta di atap gedung kantornya. Juga kemungkinan, orang yang sama dengan yang memasang kamera tersembunyi di apartemen Reta.
Sial. Marcel harus segera menemukan siapa orang itu dan dalang di baliknya. Dia bahkan mengikuti Reta kemari. Marcel tak bisa meninggalkan Reta barang sekejap pun. Marcel harus memberitahu Arjuna dan meminta pria itu membawa Kirana dan anak-anak segera pergi dari villa.
Jika mereka tiba-tiba pergi, Kirana dan anak-anak pasti bingung. Terlebih Kirana. Dia pasti akan mencemaskan Reta. Setidaknya, Marcel harus memperketat pengawasan di sekitar villa Reta selama Kirana dan anak-anak di sana. Jika Arjuna membawa Kirana dan anak-anak pergi besok, pasti tidak akan begitu mencurigakan.
“Kau masih memikirkan orang tadi?” tanya Reta yang sedang menumpuk sosis dan berbagai macam frozen food di atas kulkas frozen food.
Marcel sadar ia tak seharusnya mengalihkan pandang dari Reta karena saat ini, wanita itu nyaris mengosongkan isi kulkas frozen food itu.
“Apa kau akan membuka toko sendiri?” Marcel mengembalikan beberapa bungkus frozen food yang sudah ditumpuk Reta di atas kulkas ke dalam lagi. “Kenapa kau membeli sebanyak ini?”
“Aku tak tahu yang mana kesukaan anak-anak,” jawab Reta. “Semakin banyak semakin baik.” Reta mengeluarkan lagi frozen food yang dikembalikan Marcel ke dalam kulkas itu.
“Tidak!” tegas Marcel.
Reta menyipitkan mata kesal. “Jangan menggangguku atau aku akan memasukkanmu ke kulkas ini,” ancam wanita itu dengan tak masuk akalnya.
“Itu kata-kataku,” balas Marcel. “Lebih masuk akal jika aku yang memasukkanmu ke kulkas ini. Kau mau mencoba?”
Marcel mengangkat tubuh Reta, membuat wanita itu terbelalak panik.
“Baiklah, aku menyerah,” Reta akhirnya mengalah.
Marcel menurunkan wanita itu. Namun, begitu mendarat, Reta menendang tulang kering Marcel sebelum kabur dari hadapan Marcel.
Ugh! Wanita pembuat masalah itu ...
***
Reta dan Marcel berdiri di depan counter kasir dengan dua troli penuh makanan, saling berhadapan dengan ekspresi sama; marah.
“Kau menyerah dengan frozen food, lalu kau memborong semua marshmallow?” Marcel menyipitkan mata menatap troli di depan Reta yang penuh dengan berbagai macam merk marshmallow.
Reta menyilangkan lengan di d**a dan mengangkat dagu angkuh. “Kirana ingin marshmallow,” ucapnya bangga.
“Tidak sebanyak ini,” tandas Marcel.
“Anak-anak juga suka marshmallow,” tandas Reta.
“Kau bisa memberi makan orang sekampung dengan ini,” sengit Marcel.
“Ini tidak akan cukup untuk orang sekampung,” balas Reta.
“Dengan ini, pasti cukup.” Marcel mengedik pada satu troli di sebelah Marcel yang penuh dengan kardus marshmallow. Itu tadi stok marshmallow yang diminta Reta pada petugas supermarket.
“Kau pikir, aku tak bisa menghabiskannya sendiri?” Reta balas menyipitkan mata.
“Kau benar-benar keras kepala,” geram Marcel.
“Aku yang seharusnya berkata begitu,” Reta tak mau kalah.
“Menyerahlah,” desis Marcel.
“Kau yang seharusnya menyerah.” Rela melotot galak.
“Aku tidak akan membawa belanjaanmu ini dengan mobilku,” ancam Marcel.
“Mereka bisa mengantarnya ke villa-ku,” balas Reta enteng.
“Mareta Sania,” geram Marcel.
“Ya?” jawab Reta santai.
“Jika kau melakukan ini hanya untuk membuatku kesal, kau berhasil. Jadi ...”
“Aku tidak melakukan ini untuk membuatmu kesal, tapi aku senang jika ini membuatmu kesal. Aku bisa membunuh dua burung dengan satu batu,” tandas Reta.
Marcel menarik napas dalam.
“Permisi, apakah saya bisa mulai memproses belanjaannya?” tanya kasir yang berjaga di counter itu dengan takut-takut.
“Ya,” Reta menjawabnya.
“Kau benar-benar ...”
“Aku yang membeli ini dengan uangku,” tegas Reta. “Jadi, tutup mulutmu.”
Marcel membuang maka, memberikan kemenangan pada Reta. Sementara, kasir supermarket itu mulai menghitung belanjaan Reta. Reta melakukan pembayaran dengan e-wallet, tapi mesin e-wallet-nya sedang error. Reta akhirnya meminta rekening untuk mentransfer pembayaran. Namun, mereka tidak menerima pembayaran lewat transfer kecuali pembelian lewat aplikasi.
Sial. Reta tidak membawa dompetnya. Reta menanyakan di mana mesin ATM agar dia bisa menarik uang dari e-wallet-nya, tapi ATM di supermarket itu juga sedang rusak. Reta nyaris berteriak saking frustrasinya.
“Apa kau bercanda? Mesin pembayaran error, ATM rusak, dan aku tak bisa membayar dengan transfer? Lalu, bagaimana aku akan membayar, hah?!” omel Reta dengan kesal.
Lalu, sebuah tangan terulur ke counter kasir, meletakkan sebuah kartu debit di sana.
“Debit bisa, kan?” Marcel bertanya.
“Bisa, Pak. Sebentar, akan saya proses,” ucap kasirnya.
Kartu debit Marcel itu dipasang ke mesin pembayaran, lalu Marcel memasukkan pin kartunya, dan pembayaran selesai. Petugas supermarket membungkusi dan menata belanjaan Reta ke troli.
“Aku akan mengganti uangmu,” desis Reta sembari melenggang pergi.
Apakah Reta malu? Hah! Sialan! Setelah Reta berkeras membeli semua itu, lalu berkata selantang dan sepercaya diri itu untuk membayar semuanya sendiri, pembayarannya ditolak dan akhirnya Marcel yang membayar semuanya.
Namun, Reta tak sedikit pun menunjukkan jika dia malu, merasa bersalah, atau apa pun itu. Tidak. Meski itu tadi seharusnya memalukan, tapi Reta tidak akan merasa malu! Reta memang tidak tahu malu.
***