"Apa yang kau lakukan di sini?"
Gara dengan tatapan menusuk segera menghampiri Karina, lalu meraih pergelangan tangannya dan menariknya mundur.
Wanita itu terkejut, tapi sesaat kemudian dia segera menepis tangan Gara.
"Lepaskan!" bentak Karina.
Gara tidak mengindahkan perkataan mantan istrinya itu, dan malah beralih pada seseorang lainnya yang juga di sana. Dia menatap tajam dan segera mengintimidasi pria itu.
"Siapa kamu?!" tanya Gara dengan nada suara galak.
Pria itu pun menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan yang kebingungan, tapi kemudiaan sesaat setelah dia mencoba mencerna apa yang terjadi, pria itupun terlihat mengerti.
"Jangan salah paham, Mas. Saya cuma kurir dan mau mengantar barang pesanan online milik istrinya, Mas," terang pria itu yang ternyata cuma kurir.
Gara langsung mengubah raut wajahnya dan tampak lebih tenang.
"Jadi, kamu cuma kurir?" tanya Gara memastikan dan pria itu mengangguk.
"Iya, Mas dan ini barang online pesanan istrinya. Boleh dipegang sebentar saya mau ambil foto untuk bukti penerimaan barang," pinta Kurir itu yang langsung disetujui Gara.
Karina terlihat mengalah sebentar, membiarkan kurir itu melakukan tugasnya. Namun, saat sudah selesai dengan bukti foto, dia segera merebut barang pesanannya dengan cukup kasar dari tangan Gara.
Melihat itu, kurinya langsung terlihat canggung, tapi ternyata tugasnya masih belum selesai, sehingga diapun belum kunjung pergi.
"Apalagi?" tanya Gara dengan wajah polos.
"Oh, itu barang COD, Mas," terang Kurirnya memberitahu.
Gara mengangguk lantas, segera merogoh sakunya untuk mengambil uang.
"Berapa?" tanya Gara.
"Seratus dua pu--" Belum selesai menjawab, ucapan kurir itu segera berhenti, karena Karina langsung memberinya uang yang telah wanita itu persiapkan.
"Tidak usah sok baik, saya masih bisa membayar pesanan online milik saya sendiri!" ketus Karina menyentak tangannya Gara untuk melepaskan tangannya yang ditahan pria itu. Begitu berhasil dia pun langsung kabur dan berlalu dari sana.
Kurir itu mengaruk kepalanya yang tak gatal, bingung dengan pertunjukan pertengkaran sepasang manusia dihadapannya. Namun, belum juga reda, tiba-tiba Gara juga malah memberinya beberapa lembar pecahan seratus ribuan. Saat yang sama, pria itu juga berbalik dan menyusul Karina.
"Mas uangnya sudah pas!" panggil kurir itu.
"Ambil saja!"
*****
"Mobilku masih di gerbang!" ucap Gara berhasil saat berhasil menemukan Karina.
Ternyata wanita itu langsung kembali dari rumah belakang, setelah menyimpan paket onlinenya.
"Hm!" jawab Karina yang terdengar masih kesal, tapi di saat yang sama dia tak bisa mengabaikan pria itu, karena sekarang dia majikannya.
"Ambil kunci ini, dan parkiran mobilku dengan segera! Aku tidak suka melihat pembantu malas dan mengejar gaji buta!" cibir Hara dengan pedas.
Karina melotot dan membalasnya dengan tatapan tajam, meski kemudian wanita itu cuma diam dan mengangguk patuh.
"Cepatlah, apalagi yang kamu tunggu!" desak Gara membuat Karina mendesah kasar.
'Sabar Karina, sabar ... wajar saja kalau b******n ini kayak gitu. Dia majikanmu sekarang bukan bosmu!' batin Karina.
Setelah puas membuat Karina kesal, pria itu pun berbalik dan pergi. Karina memperhatikannya dan melihat Gara ke lantai atas.
Namun, beberapa saat kemudian terdengar teriakan dari lantai atas dengan yang entah apa maksudnya, tapi itu berhasil membuat Karina sudah mengemudikan mobil memasuki garasi menjadi kesal.
"KARINA ...."
"Apalagi, mau bajing*n itu, sih? Ngeselin banget jadi orang!!"
Gara-gara hal tersebut, Karina pun kehilangan fokus. Pengalamannya yang sudah setahun tidak mengemudikan mobil membuatnya agak kaku, dan kedua hallah yang akhirnya tanpa sengaja membuatnya gagal dan malah menabrak pintu garasi.
Brugh!
Blam!
Kedua bola mata Karina membulat kaget. "Apa yang baru saja aku lakukan? Duh, gawat!"
Karina meneguk ludahnya kasar dan mendesah dengan risau gelisah. Diapun bahkan sampai menggigit bibirnya, sembari membulatkan mata.
Perasaan cemas luar biasa segera menyelimutinya, apalagi saat dia keluar untuk memeriksa keadaan mobil, Karina pun semakin bertambah gelisah.
Sayang, belum sempat dia memikirkan solusinya, Gara sudah tiba di sana saja.
"Apa yang kamu lakukan Karina!" tegur Gara sambil mendekat.
Namun, pria itu bukannya memeriksa mobilnya, justru memeriksa Karina. Saat menemukan wanita itu tidak mengalami luka serius barulah dia mundur dan beralih pada mobilnya.
"Dasar ceroboh, apa yang kau pikiran saat melakukan hal itu, hahh? Kalau mau mengerjaiku, setidaknya jangan melakukan cara konyol seperti ini! Lihatlah hasil perbuatanmu!" omel Gara galak dengan tatapan yang kembali menatapnya.
Karina meremas telapak tangannya. Pikirannya langsung seperti benang kusut. Terbayang berapa biaya perbaikan dari kerusakan yang sudah dibuatnya. Itu pasti tidak murah, apalagi jenis mobil Gara yang merupakan jenis mobil mahal.
Meski begitu, Karina pun tak mau lari dari tanggung jawab. "Maaf, aku tidak sengaja, tapi kamu jangan khawatir ... aku pasti menggantikan biaya perbaikannya berapapun itu," jelas Karina.
Gara terdiam untuk sesaat. Menatapnya lebih intens dan mendesah kasar sebelum kembali bicara.
"Dengan apa, Karina? Satu tahun berkeliaran di luar sana dan tidak bekerja. Aku yakin kamu sudah tidak punya apa-apa Karina!" cibir Gara sinis dan merendahkan.
Mendengar hal itu, Karina pun terpancing dan menjadi kesal karena terbayang masa lalunya.
"Jangan lupa itu semuanya karenamu. Siapa yang busuk sampai mematikan karirku?!" Wanita itu seperti mendapat keberanian lewat uneg-unegnya.
"Aku hanya merusak mobilmu Tuan Anggara, bukan seperti yang kamu lakukan padaku. Merusak dan menghancurkan hidupku. Kau membuatku tidak bisa bekerja dimanapun!"
Gara kembali mendesah kasar sembari menyisir rambutnya dengan jari ke arah belakang, dan dengan gerakan yang sedikit kasar.
"Aku cuma ingin kau menyingkirkan ego besarmu, dan kemarahan tidak berdasarmu. Berapa kali aku katakan, kau bisa kembali kapanpun kau mau dan kita bisa melupakan masalah itu!?!" bentak Gara tak mau kalah.
"Dan kau bebas menghinaku dengan perselingkuhanmu lagi Tuan Anggara?!" sarkas Karina membuat Gara langsung tampak frustasi.
"Aku tidak berselingkuh dan aku bisa jelaskan kejadian waktu itu!" balas Anggara.
"Aku tidak butuh penjelasanmu! Mata dan telingaku sudah cukup menjadi bukti bahwa kau memang sebej*t itu, dan satu lagi, aku juga tidak akan melupakan bagaimana kau menghancurkan karirku!" bentak Karina.
Namun, bukan cuma itu. Wanita itu segera menghampiri mobil yang menabrak pintu garasi itu. Mendekat lalu menghempaskan pintu mobil masih terbuka.
Ya, terbuka karena gara-gara cemas dan buru-buru keluar untuk memastikan kondisi mobil itu, Karina tidak sempat menutupnya tadi.
Blam!!
Brugh-brugh.
"Aku tarik ucapanku soal ganti rugi, aku tidak sudi membayar biaya perbaikan apapun pada pemilik mobil yang sudah merampas masa depanku. Aku anggap impas, karena kau juga sudah merusak karirku!" ucap Karina sambil berlalu dari sana.
Gara pun membuang nafasnya kasar. Kesal, tapi dia juga malah melakukan tindakan yang sama dengan Karina. Lagi -lagi mobilnya jadi korban. Karena pria itu pun ikut-ikutan menendang mobilnya sendiri.
"Ini semua karenamu!"
Brugh-brugh.
"Sial ... bagaimana wanita itu bersikap seperti ini padaku? Dia yang salah, tapi menyalahkanku!" geram Gara kesal.
Dia bahkan sampai mengacak rambutnya dengan kasar. Lalu menekan kepalanya karena sedikit merasa pusing.
"Wanita gila!!"
Beruntunglah mobilnya tidak bertambah rusak, meski sudah ditendang bergantian oleh Karina dan Gara. Walaupun akhirnya kerusakan yang terjadi akibat tabrakan kecil yang tidak sengaja dilakukan Karina juga tidak mungkin hilang begitu saja.
*****