Bab 06. Godaan Gara

1083 Words
Karina sedikit terpejam, melirik dengan tatapan yang ngeri dan pipi yang terasa sedikit memanas. Cukup berjuang, dan akhirnya mendapatkan yang diraihnya. Karina pun memegang dengan ujung telujuk dan jempolnya. Tak mau berlama-lama dia pun segera meletakkannya. "Huft! Akhirnya ...." Wanita itu menghela nafas sembari memikirkan sesuatu. 'Walaupun dulu pernah segila itu mencintainya, tapi nggak pernah segininya!' batin Karina yang dilanjutkan dengan helaan nafas kasar. Dia melirik ke arah sesuatu yang baru saja diletakkannya, tapi hal itu malah membuat pikirannya semakin berkelana. Memikirkan hal yang menyebabkan pipinya semakin memanas dan jantungnya berdegup kencang. "Kau pasti sangat senang bukan? Waktu kita menikah tahun lalu, kamu sangat senang menyiapkan kebutuhanku. Yah, walau saat menyiapkan pakaian kamu tidak menyiapkan semuanya. Tidak usah malu Karina, kau bahkan sudah merasakannya, dan lihat hasil kerja keras kita. Sekarang ada Rafan," ucap Gara dengan frontal. Karina langsung tersadar dari lamunannya dan langsung merasa kesal. Mantan suaminya itu sunnguh tidak tahu malu. "Saya tidak mengerti maksud Tuan," jawab Karina kesal. Bukannya tersinggung, Gara justru tersenyum dan sedikit menyeringai. Dia tidak membalas ucapan Karina, tapi pria itu segera menghampirinya. Oh, tidak, sepertinya bukan hanya menghampiri, tapi mulai mengikis jarak, dan menghimpit Karina ke lemari pakaian. "Jangan macam-macam!" ujar Karina terkejut, tapi tak sempat menghindar. Sampai membuatnya terkurung diantara Gara dan lemari pakaian. Sementara itu, bukannya menjauh, Gara justru meraih dagu Karina, membawanya sampai mereka berhadapan. Lantas pria itupun kembali tersenyum, tapi kali ini senyumnya terasa menyeramkan serta membuat Karina lebih bergidik ngeri. "Tenanglah, aku tidak suka menjadi b***t bagi wanita baik-baik," jelas Gara. Pria itu begitu santai, bergerak mengambil sesuatu yang disiapkan di sana. Begitu saja, Gara melakukannya dengan tenang, tapi berhasil membuat Karina justru merasa berbanding terbalik. Wanita itu sempat membeku, sebelum akhirnya sadar dan menghela nafas. "Aku cuma mengambil ini!" ucap Gara tanpa tahu malu, sambil mengangkat dalamannya sendiri. "Kau tahu tidak mengenakan pakaian dalam waktu lama bisa menyebabkan masuk angin, tapi kalau kamu mau menghangatkanku, mungkin aku bisa bertahan," lanjut Gara menggoda Karina. "Cih, mes*m!" cibir Karina dengan suara pelan. Namun, Gara masih bisa mendengarnya sedikit terkekeh, dan dengan tak tahu malunya memakai celana dalamnya itu begitu saja. Untung saja, Karina sempat menutup mata. Sial pria itu memang tidak pernah bisa berubah. "Bajing*n, apa kau buta sampai tidak melihat aku masih di sini?!" bentak Karina spontan. "Cukup jelas, Karina, tapi bagaimana kau lupa, kau itu istriku. Apa salahnya dengan itu?" Karina yang merasa Gara sudah selesai mengenakan pakaiannya dengan benar, pun memberanikan diri membuka mata. Beruntung dugaannya itu benar. Setidaknya sekarang pria itu bahkan juga sudah memakai celana tidurnya. "Mantan, tolong diingat itu Tuan Anggara!" balas Karina dengan penekan. "Sama saja, bagiku itu tidak ada bedanya!" balas Gara keras kepala. Membuat Karina memutar bola matanya jengah. "Aku pikir kau tidak sebodoh itu, sampai tidak bisa membedakannya!" kesal Karina. "Setidaknya sekarang aku tahu kamu cuma sedang menahan diri. Dari dulu sampai sekarang kau cuma menginginkan aku, sudahlah, sudahi gengsimu!" Tak tahan lagi, Karina segera kabur dari sana. Bicara dengan Gara yang tidak tahu malu, dan sangat seenaknya itu, hanya akan menguras tenaga saja. Jadi, Karina tidak akan meladeninya lagi. "Hei, mau kemana kamu? Kita belum selesai Karina!" panggil Gara yang coba diabaikan Karina. ***** "Ck, anak udah nangis. Nggak ingat apa kalo jam-jam segini Rafan nggak bisa diam. Kemana aja sih, Kak? Perasaan jam kerja udah habis ... nyebelin!" omel Rara saat melihat Karina. Karina sudah pergi sejak dipanggil Raga, tapi tidak kembali setelah beberapa jam, dan sekarang waktu sudah menunjukkan tengah malam. Rara bahkan menaruh curiga. Gadis itu mendekat, lalu dengan aneh mengendus Karina. Membuat kakaknya itu jadi bingung. "Ada apa sih? Ngapain ngedus kayak gitu ... mau jadi guguk kamu, hah?" Perlahan wajah Rara sedikit jadi tenang setelah menyudahi aksi anehnya itu. Lalu mengangkat bahunya. "Aku pikir kamu lama di sama mungkin saja ini-itu sama bapaknya Rafan," ceplos Rara apa adanya. Bugh! "Ngaco kamu jangan sembarang bicara!" omel Karina seraya berlalu. Dia segera mengambil handuk, dan bersiap mandi, tapi sebelum itu dia memastikan kondisi Rafan terlebih dahulu. Rara mengekor dibelakang. Mengetahui maksud Karina tersebut, Rara pun menjelaskan. "Udah tidur! Cape tuh, anak. Nunggu emaknya yang lebih perhatian sama bapaknya!" ceplos Rara. Karina mengangguk, dan lega menatap bayinya sudah pulih. Meski ada perasaan bersalah, karena tidak bisa menguras bayinya dengan baik. "Hm, tapi kami baru saja membuat kesepakatan. Mulai sekarang dan kedepannya, aku akan bekerja ekstra, tapi pria itu akan membayarku empat kali lipat," ungkap Karina. Rara terdiam sejenak dan berpikir. "Empat kali lipat, berarti lumayan itu. Gede banget, dan kita bakalan balik kaya?!" Karina mengangguk saja, tapi setelahnya Rara justru curiga dan segera waspada. "Tapi nggak aneh-aneh kan, Kak? Kamu nggak lagi ditipu atau dimanfaatkan?!" tanya Rara memastikan. Karina terpikirkan ucapan Rara tersebut, lalu dengan ragu menggelengkan kepala. "Hanya pekerjaan tambahan dan tidak perlu khawatir kami sepakat di atas hitam dan putih. Jadi, Gara tidak bisa macam-macam. Hm, lagipula ini cukup menguntungkan. Kamu tidak perlu bekerja lagi, dan bisa fokus pada kuliahmu," jelas Karina. Namun, Rara sudah tidak mempedulikan ucapan kakaknya itu. Ada kegelisahan yang tiba-tiba muncul sampai membuatnya tidak tentang dan Rara harus mengatasi hal itu. "Ra!" panggil Karina saat menyadari adiknya itu seperti mengabaikannya. "Kamu masih dengar aku nggak, sih?" "Tunggu dulu--" Rara menahan Karina dengan gerakan tangannya, lalu meraih ponsel dan memainkannya sebentar. "Nah, akhirnya selesai!" "Apa?" tanya Karina dengan wajah bingun. Rara pun menunjukkan layar ponselnya dan ternyata sedang membuka aplikasi di sana. "Untuk sementara kamu harus ekstra hati-hati, ingat kak jangan sampai kegoda sama mantan suamimu itu. Penyakit selingkuh nggak ada obatnya, dan sekali bajing*n selama akan terus bajin*an!" ucap Rara mengingatkan. Sementara itu, Karina cuma bisa geleng kepala melihat apa yang adiknya lakukan. Ternyata Rara baru saja belanja online diponselnya dan barang yang dia beli adalah Stun Gun yaitu alat pertahanan diri berupa alat setrum. "Ada-ada aja kamu," ucap Karina berkomentar. "Kan jaga-jaga, Kak Karina ..." "Yaudah, beli tiga!" jawab Karina membuat Rara terkejut. Ternyata walaupun tak habis pikir, Karina akhirnya jadi terpikirkan sesuatu. Alat itu selain menjaga mempertahankan dirinya dari Gara, bisa juga digunakan untuk mengerjai mantan suaminya itu. ***** "Dia tidak menyukaimu, dia kembali karena kau membuatnya tidak bisa bekerja dimanapun," ucap pria disebelahnya, membuat Gara mendengar kasar. "Kalau dia bisa bekerja di tempat lain, maka yakinlah sampai mati, Karina tidak akan menunjukkan wajahnya padamu. Hm, kau memang bajing*n, b******n menjijikkan!" "Diamlah, aku tidak membutuhkan pendapatmu sial*n!" geram Gara langsung memperingatkan. Pria itu dengan sengaja meniupkan asap rokoknya tepat ke wajah pria disebelahnya, tapi pria itu langsung menghindar dan mengumpati kelakuan Gara. "Cih, bajing*n tidak tahu diri!!" "Tutup mulutmu. Berisik!" *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD