Bab 05. Kesepakatan Empat Kali Lipat

1189 Words
"Kemana saja, Kamu? Kenapa belum ada pekerjaan yang beres, di mana air hangatku, di mana pakaian gantiku dan di mana kopiku, Karina? Keterlaluan! Kamu benar-benar ART yang tidak becus. Kalau begini terus uangku akan sia-sia!" geram Gara, seraya menatap Karina dengan sinis. Mendapat perlakuan seperti itu, Karina menghela nafas seraya memutar bola matanya jengah. Mantan suaminya itu ternyata masih sama. Bersikap angkuh dan bossy. "Maaf Tuan Anggara yang terhormat, tapi saya ingat majikan tidak berhak mencampuri urusan pribadi ART. Jadi, darimana saya, itu bukan urusan Tuan," jawab Karina cukup berani dan membalas dengan sama sinisnya. "Lalu soal yang Tuan maksud, sepertinya saya harus ingatkan lagi. Saya tidak digaji untuk tugas yang seperti itu, saya digaji untuk bersih-bersih, dan lihatlah rumah ini, apakah masih aa setitik debu? Tidak! itu karena saya sudah melaukan tugas dengan baik!" tegas Karina melanjutkan. 'Dasar majikan gila! Kalau bukan karena kontrak kerja yang memaksaku tetap di sini, sudah lama aku mengun durkan diri,' batin Karina. "Jaga nada bicaramu Karina, aku bukan lagi suamimu, tapi majikanmu di rumah ini. Kau pikir siapa dirimu sekarang? Cuma pembantu. Kau tidak berhak protes, dan kau harus patuh padaku!" kecam Gara dengan tajam. Karina langsung tersenyum sinis. "Pembantu? Aku ART, bukan pembantu. Aku bekerja di rumah ini berdasarkan kesepakatan kerja, di atas kontrak. Bukan bekerja sukarela, apapun asal gajian!" "Oh, mulai berani sekarang. Aku potong gajimu, Karina!" ancam Gara kesal. "Coba saja kalau kamu bisa? Aku bekerja dengan baik dan melakukan tugasku sebagai ART yang semestinya!" jawab Karina seadanya. Gara pun menghela nafas. Hampir saja dia lupa kalau mantan istrinya itu pernah menjadi sekretarisnya. Karina cukup cerdas dan sekarang lebih buruk lagi. Mantan istrinya selain menjadi pemarah, Karina juga tak bisa ditekan dengan mudahnya. Gara nampaknya kewalahan mengadapi wanita itu dan diapun menghela nafas. "Baiklah, jadi apa maumu?!" tanya Gara langsung ke poin inti. Karina langsung melipat tangan di depan dad*. "Mauku? Aku mau kamu mati bajing*n!!" "KARINA!!" bentak Gara dengan spontan. "Dasar perempuan tidak waras, aku sudah cukup baik bertanya, tapi begitukah jawabanmu?" "Kamu yang memulainya dahulu, Tuan Anggara? Kamu menuntutku melakukan pekerjaan tambahan di luar kontrak dengan gaji yang sama? Enak sekali kamu!" cibir Karina. "Oh, jadi maksudmu kamu mau tambahan gaji?" tanya Gara memastikan. Karina tidak mengangguk dan juga tidak menjawab. Wanita itu hanya diam, dan membuat Gara akhirnya melanjutkan ucapannya. "Baik! Aku akan menambah gajimu dua kali lipat, tapi setelah itu lakukan pekerjaan tadi. Mulailah melayaniku dengan urusan pribadi!" tegas Gara. Dia sudah tampak yakin, Karina menetujuinya, tapi ternyata malah diluar dugaan. "Tidak mau! Kamu pikir aku bodoh dan mau-maunya jadi jala*gmu?" jawab Karina yang ternyata malah salah paham. "Siapa yang bilang kamu akan menjadi jala*g?" "Kamu! Secara tidak langsung, melayani urusan pribadi bukannya sama saja dengan menjadi jalan*?!" sarkas Karina. Gara langsung berdecak. "Maksudku, kamu akan bekerja tetap sebagai ART, tapi harus mengurus kebutuhanku. Seperti membuatkan kopi, mengurus pakaainku, air hangat untuk mandi dan semacamnya," jelas Gara adanya. Karina menyimak dan memikirkan ucapan mantan suaminya itu. Dia terdiam sesaat sebelum menjawab. "Tidak termasuk di ranjang atau pekerjaan aneh lainnya?" tanya Karina melanjutkan dan Gara sepertinya ragu sehingga mengangguk dengan gerakan yang memaksakan diri. "Ya ...." Namun, meski sudah begitu, ternyata Karina masih saja menggeleng. "Tidak mau!!" Hal itupun membuat Gara gusar, dan tak tahan lagi. Dia mendekat dengan langkah yang panjang, lalu tanpa bisa Karina hindari, Pria itu tiba-tiba saja menarik pergelangan tangannya, lalu kejadian yang tidak terelakan menyusul. Tubuh Karinatersentak karena tarikan itu, dia kaget, tapi kemudian tubuhnya sudah bertabrakan dengan dad* bidang yang kokoh, dan keras milik mantan suaminya. "Kamu mau melakukan apa? jangan macam-macam!" peringat Karina langsung waspada. Namun, Gara tidak memperdulikan peringatan itu, dia malah bersikap lebih kurang ajar lagi, dengan menaruh tangannya di pinggang Karina dan menyeringai. "Coba ulangi Karina, aku tidak mendengarnya tadi ..." ucap Gara dengan nada yang perlahan seolah tahu, wanita itu tidak akan berani menyelanya. Karina yang tadinya membrontrak perlahan berhenti, karena sadar ke arah mana ancaman pria itu. Semuanya semakin terasa jelas saat jemari beras itu melai merangkak kemana-mana, dan itu membuat Karina gugup dan sangat takut. Terlebih dia sadar dirinya berada di sarang monster. Mau lari dan bertindak seperti apa, sekarang saja dia tidak bisa melepaskan diri. "Baiklah supaya kamu lebih yakin, aku berbaik hati menaikkan gajimu tiga kali lipat, bagaimana?" lanjut Gara dengan nada yang sama seperti sebelumnya. Kali ini dia bahkan mulai meniup-niupkan hembusan nafasnya mengenai kulit leher Karina. Hal itu pun membuat Karina seperti tersengat listrik. Segera mendorong Gara meski tidak sekuat pembrontakannya di awal, sebab tiba-tiba saja tubuhnya melemah. Namun, selain itu Karina juga terpikirkan hal lain, seperti biaya kebutuhan Rafan bayi kecilnya, dan juga Rara. Akhirnya wanita itu mengangguk dan Gara segera tersenyum puas. "Sekarang, lepaskan aku!" ucap Karina menuntut. Gara setuju dan melakukannya, sementara itu Karina langsung menjaga jarak aman. Dia tak mau lagi kejadian yang sama terulang. "Aku setuju, tapi empat kali lipat!" jelas Karina langsung membuat Gara kaget, tapi kemudian pria itu menyeringai. "Dasar serakah, apa tidak sekalian kembali saja jadi istriku, maka aku akan memberikan semuanya!" Walaupun begitu, Gara mengangguk dan seolah akan berlalu, tapi baru saja Karina hendak berbalik melakukan hal yang sama dengan pria itu, tiba-tiba dia malah dipanggil kembali. "Apalagi sih? Bukannya kita sudah sepakat?" "Justru karena itu, apalagi yang kau tunggu Karina. Lakukan tugasmu sekarang. Aku mau mandi. Jadi, segeralah siapkan air hangat!" "Ck, dasar bossy!" "Jangan lupa aku membayarmu empat kali lipat untuk pekerjaan tambahan itu, Karina!" "Hm!!" Gara sedikit tersenyum melihat reaksi kesal Karina. Dia seperti terhibur menatap wajah mantan istrinya itu dan sepertinya menggoda Karina akan menjadi hobinya mulai sekarang. **** Hampir setengah jam kemudiaan, saat Karina di dapur menyiapkan kopinya. Pria itu sehabis mandi. Masih dengan handuk yang melilit dipinggangnya, berjalan santai dan mencari Karina ke sana ke dapur. Wanita itu sampai tersentak kaget saat melihat kehadirannya. 'Apa yang dilakukan makhluk mes*m ini kemari?' batin Karina curiga dan dia segera waspada seraya menjaga jarak aman. "Aku tidak cukup berani memasukkan racun ke dalam kopimu, karena aku masih takut penjara!" ucap Karina berpikir mungkin hal itu yang membuat Gara di sana. "Aku tahu, mantan istri," jawab Gara santai. Karina langsung geleng-geleng kepala dan tak habis pikir, tapi gara malah tersenyum sambil menyeringai. "Lalu apa yang kamu lakukan disini, dan kenapa tidak menggunakan pakaianmu? Aku sudah menyiapkan dan menaruhnya di atas tempat tidur," jelas Karina. Gara mengangguk sambil menarik garis bibirnya sedikit ke arah bawah. Lalu menggelengkan kepala sebelum kemudian akhirnya menjelaskan maksudnya. "Tapi kau sepertinya lupa menyiapkan dalamannya? Kau pikir aku bisa mengenakan pakaian tanpa celana dalam?!" Karina langsung membuang nafasnya kasar, mengepalkan telapak tangan dan berusaha keras untuk mengendalikan diri. Meski akhirnya dia tetap merutuki Gara dalam benaknya. 'Benar-benar bajing*n menyebalkan!! Huh ... tahan Karina, selagi dia tidak kurang ajar atau berbuat m***m!' batin Karina. "Aku membayarmu empat kali lipat Karina. Penuh, jadi jangan bekerja setengah-setengah!" cibir Gara akhirnya membuat Karina pasrah. Diapun meraih gelas kopinya yang sudah terisi kopi, dan menyerahkan pada Gara dengan wajah kesal. Lantas berlalu dari sana dan melakukan ucapan Gara. "Ngomong-ngomong aku masih menerima permintaan maaf darimu. Kita bisa menikah kembali, dan aku akan mengembalikan semua milikmu, pekerjaan atau bahkan bukan memberimu empat kali lipat, tapi semua milikku bisa menjadi milikmu!" *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD