Bab 04. Kesalahan

1120 Words
"Tanggung jawab?!" Gara dengan rahang ketat menatap sosok wanita dihadapannya dengan tajam. "Saya sudah membayarmu jal*ng, jangan mendramatisir keadaan. Saya paling benci dengan wanita tidak tahu diri sepertimu!" Blam ... brakk! Dengan kejam Gara mendorong wanita itu kasar, sampai terjatuh dan menghantam lantai. Namun, wanita itu tak keliatan menyerah dan masih memberanikan diri menatap Gara. "Sa--ya tidak bermaksud menyinggungmu, Pak Gara. Saya hanya me-memikirkan nasib bayi kita. Saya tidak mau dia dicap anak haram, dan aku tidak mau dia kekurangan kasih sayang tanpa kita berdua," jelas wanita itu penuh harap. Bukannya mengerti dengan maksud wanita itu, raut wajah Gara justru semakin mengeras. Sampai kursi yang tidak jauh darinya dan tidak bersalah itu pun jadi korbannya. Bruk!! Sekali lagi pria itu melampiaskan emosinya dengan kasar, sembari memperingatkan wanita yang masih terjerembab di lantai tersebut. "Hentikan omong kosongmu, dan ingat posisimu Shela! Jika kau masih ingin menikmati kehidupanmu!" kecam Gara sekali lagi dengan menatap tajam. Namun, sepertinya wanita yang dipanggil Shela itu lagi-lagi masih tak menyerah. "Tapi bukankah kamu sudah bercerai, kamu sudah tidak bersama wanita itu, bahkan sangat membencinya sekarang dan setelah memecatnya kamu mengangkat saya menjadi sekretarismu?" Seketika Gara membuang nafasnya kasar, sembari mengepalkan tangannya. "Pergilah ke HRD dan ambil gaji terakhirmu. Setelah ini kau tidak perlu datang ke perusahaan ini! KELUAR!!" bentak Gara begitu marah. Seketika wajah Shela yang tadinya berani langsung pucat, dia pun bergerak dan menghampiri Gara. Memohon ampun, tapi dia sudah terlambat. Pria itu bukanlah tipikal orang yang punya belas kasih. "Menyingkir!!" "Pak Gara, Saya mohon. Saya tidak akan menyinggung hal konyol seperti itu lagi. Tidak, saya tidak mau berhenti menjadi sekretarismu!" Beberapa menit kemudian, akibat Shela bersikeras dan tetap di sana. Petugas keamanan pun menyeretnya keluar dari ruang kerjanya Gara. Namun, hal itu belum berakhir. Gara setelahnya bahkan menyita beberapa aset yang pernah diberikannya pada Shela. Seperti apartemen dan juga mobil mewah. Sisanya hanya uang ganti rugi atau bayaran Shela saat hubungan satu malam mereka. Gara tidak mengambil uang itu, karena dia menganggap itu bayaran yang pantas untuk Shela. Adapun anak diantara mereka, sebenarnya setelah lahir langsung diambil alih Gara dan diasuh oleh pengasuh profesional yang terpercaya. Shela memang tidak mau merawat anak, bahkan sejak hamil suka mengancam akan menggugurkan anak itu jika Gara tidak menurutinya. Mungkin itulah juga yang membuatnya begitu berani. Karena selama hamil Gara memang selalu memenuhi kemauannya. Shela pikir dia sudah berhasil menaklukkan Gara, dan menjadi manja sampai lupa diri. ***** "Kak Karin!" teriak Rara mencari keberadaan Karina. Dia bahkan memberanikan diri ke rumah utama, sambil menggendong bayi mungil keponakannya itu. Dari jauh, Karina yang baru saja selesai dengan pekerjaannya itu melihat Rara dan menjadi sedikit panik, hingga diapun buru-buru menghampiri Rara. Tuk!! Karina yang cemas dan kesal dengan adik sepupunya itu, sedikit menjitak kepala Rara. "Apa yang kau lakukan disini, Rara?" gemas Karina. "Sssttt ... lama-lama, kau sudah seperti ibu tiri saja," cibir Rara sedikit kesal. "Salahmu sendiri, kenapa bodoh. Lagipula ngapain sambil bawa Rafan. Bagaimana kalau Monster itu melihatnya dan mengambilnya dari aku?!" Rara langsung geleng kepala, dia tak terlihat merasa bersalah ataupun mencemaskan hal serupa dengan Karina. Gadis itu santai saja. "Kalau kamu mencemaskan papanya Rafan, tenang aja, Kak. Santai, dia masih bekerja jam segini. Bos besar sepertinya mana mungkin pulang cepat. Lagian nih, aku punya berita besar untukmu dan ini menggembirakan. Setelah ini kau harus memuji dan memberiku hadiah!" balas Rara seraya mengingat apa yang membuatnya nekat ke rumah utama. Karina mengerutkan dahi, tapi Rara malah menatap bayi Rafan digendongannya dan semakin tertawa lebar. "Aku keterima di universitas impianku kak, selain itu aku juga masuk beasiswa!" beritahu Rara yang akhirnya berhasil merubah raut wajah Karina menjadi ikut senang. Akan tetapi, hal itu tidak sepenuhnya kabar bahagia. "Tapi aku bukan dapat beasiswa penuh. Maaf, kak. Selama aku kuliah nanti yang ditanggung cuma biaya kuliah, sementara SPP, uang ujian, praktik dan lainnya masih harus mandiri." Rara sedikit menurunkan nada suaranya bersamaan dengan senyumnya yang memudar. Walaupun tinggal setengah, dia sadar biaya semua itu masih lumayan mahal, apalagi dia masuk universitas ternama. Di sisi lain, Karina pun memikirkan hal yang sama. Dia tahu dan bisa memperhitungkan dana yang harus dikeluarkan nantinya. Namun, dia tak mau mematahkan semangat adiknya itu, dan tersenyum walaupun dalam kepalanya sedikit benang kusut. "Bagus itu, kenapa jadi cemas? Hidup kita memang agak melarat, tapi tenang aja. Sekarang aku sudah bekerja, kamu juga bekerja, kayaknya cukup untuk tambahan kuliahmu nanti Ra!" jelas Karina menyemangati adiknya. "Tapi kan, Kak. Kamu cuma pembantu?" ceplos Rara sedikit mengingatkan kakaknya. Karina tidak tersinggung dan menggelengkan kepala. "Bukan pembantu, tapi asisten rumah tangga. Kamu sendiri yang mengatakannya waktu itu. Pembantu adalah orang yang tidak punya kontrak kerja, sehingga suka dimonopoli oleh majikannya. Sementara ART punya kontrak kerja, dan dilindungi oleh perusahaan penyalur tenaga kerja ART, sehingga majikan tidak bisa semena-mena!" Rara mengangguk dan tampak sedikit lega. Karina meraih Rafan dan menggendong bayinya itu. "Lagian kita tinggal dan makan gratis di sini. Jadi, gajiku penuhku bisa kepake buat kamu kuliah Ra," lanjut Karina. "Hm, dan gajiku buat susunya Rafan," timpal Rara. Mereka pun kembali ke rumah belakang. Di sisi lain meskipun para asisten rumah tangga di sana sudah tahu keberadaan Rara dan Rafan, mereka tidak rese dan membiarkannya saja. Sebenarnya Karina cukup beruntung, dia tinggal bersama orang-orang baik. Yah, meskipun di rumah mantan suaminya, satu-satunya orang yang menjadi masalah terbesarnya, meskipun sebenarnya uang pria itu jugalah yang menjadi solusi beberapa masalahnya. "Karina!" panggil seseorang membuat langkah keduanya berhenti. Dia menoleh dan menemukan rekan kerjanya di sana. "Tuan sudah pulang dan memanggilmu ke ruang kerjanya!" Karina sedikit kaget sekaligus lega. Andai mereka tak segera bergegas dari rumah utama mungkin Gara sudah memergoki mereka. Namun, di sisi lain dia jadi penasaran kenapa bisa mantan suaminya itu pulang begitu cepat. Seperti kata Rara sebelumnya, harus bos besar suka pulang terlambat, dan selama mereka bersama, Gara memang seperti itu, selalu pulang terlambat. "Tuhkan. Hampir saja. Lain kali, jangan nekat ke rumah utama, Ra. Lihatlah monster itu pulang cepat." Karina menyerahkan Rafan pada Rara kembali dan bergegas menemui majikannya itu. "Tapi, aku nggak salah, Kak. Lagian mantanmu itu tuh yang salah. Ngapain pulang cepat, kayak kurang kerjaan aja, huh!" jelas Rara tidak mau salah. Karina cuma menggelengkan kepala. Dia sudah harap maklum dengan perangai adiknya itu. "Jangan-jangan dia belum moveon dari kamu, Kak?" ceplos Rara. Karina sudah tidak bisa memperhatikan ucapan Rara, karena suara Gara dari rumah utama yang berteriak memanggilnya segera membuatnya panik dan bergerak menghampirinya. Dia takut jika sampai pria itu mencarinya ke rumah belakang dan melihat putranya. "Hm, apa papamu beneran mau balikan sama mamamu, Fan?" Rara menatap keponakannya. "Kalau sampai itu terjadi, kamu harus rampas hartanya tanpa sisa. Biar kalau dia bosan lagi, kamu, tente dan mamamu tidak perlu melarat lagi!" lanjut Rara terus mengajak bayi kecil itu bicara, walaupun ucapannya tak dimengerti. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD