Bab 03. Balas Dendam

1018 Words
Karina memutar matanya jengah, dan sedikit menghentakkan saat mendapatkan perintah dari mantan suaminya, atau bisa juga dikatakan majikannya itu. "Iya, apalagi Pak Anggara. Saya masih banyak tugas lain dan tidak punya waktu untuk meladeni hal yang tidak penting!" ucap Karina dengan ketus. Dulu saat masih jadi istri, Karina tak sekalipun berani berkata ketus. Tentu saja karena dia terlalu bucin dan bodoh saat itu, dan sekarang tidak lagi. Dia bisa menyukai Anggara yang sombong dan angkuh, bahkan dengan sabar menerima sikap dingin serta acuhnya. Namun, hal itu tidak berlaku pada perselingkuhan. Cinta boleh susah dihapus, tapi logika harus membuatnya punya harga diri. "Minum!" ucap Gara tanpa basa-basi. Karina melirik pria itu dengan tatapan mengamati, sambil mengingat-ingat sesuatu. 'Ah, sial. Itu bukannya kopi yang aku buat tadi. Kopi garam?' batin Karina. Dia meneguk ludahnya kasar, terperanjat dan sontak bergerak mundur. "Kenapa?" tegur Gara. Pria itu menatapnya sinis sambil mengejek. Sepertinya dia sudah tahu bahwa Karina mengerjainya. Sial. Pria itu pasti berencana membalasnya. "Saya cuma ingin memastikan kopinya tidak beracun," cibir Gara dengan angkuh. Dia mendekat dan berhasil meraih tangan Karina sebelum berhasil menghindar. "Jadi kamu pikir saya ingin membunuhmu?!" sarkas Karina menebak ke arah mana maksud mantan suaminya itu. Namun, setelah berkata demikian, dia justru mengangkat gelas kopi yang diterimanya, kemudian membawanya mendekat ke arah bibirnya. "Seharusnya kamu memang pantas mat*!" ketus Karina sebelum kemudian meneguk kopinya dengan cepat. Sangat asin, tapi selain itu. Kopinya masih cukup panas dan terasa membakar tenggorokannya. Beberapa detik kemudian saat sudah meneguknya habis, Karina mengerutkan dahinya saat menyadari seringai tipis disertai senyuman yang mengejek di wajah suaminya. Karina langsung menatap curiga. "Aku tidak tahu kamu masih sangat menyukaiku," ucap Gara semakin membuat Karina mengerutkan dahi. "Kamu tahu, sebenarnya aku juga sudah meminum kopi sial*n buatanmu itu, dan aku tidak ingin mengotori lantaiku, tapi siapa yang menyangka kau begitu menyukai kopi itu!" Tatapan Karina pun tertuju pada gelas kopi yang sudah kosong, beralih pada lantai dan bibir Anggara. Jadi, maksudnya dia sudah meminum ludah pria itu. Oh, sial, betapa menjijikkannya hal itu. Mengetahui hal itu, Karina pun segera berbalik, seraya memegang perutnya akibat mual yang tiba-tiba, lalu berlari. Akan tetapi, Gara tidak sakit hati dan belum puas, sehingga dia kembali menggoda Karina sebelum wanita itu hilang dari pandangannya. "Jangan bilang kau langsung hamil karena itu Karina. Aku tahu rencanamu, ini pasti bagian dari trik-mu supaya bisa kembali padaku!" ***** "Apa yang terjadi, Kak. Kenapa wajahmu pucat, seolah sedang menahan mual. Aku perhatikan kau seperti ini sejak dari rumah utama?" tanya Rara penasaran. Gadis itu menghampiri kakak sepupunya setelah menyaksikan Karina sudah berhasil menidurkan bayinya, dan barusan menaruhnya di box bayi. "Sepertinya aku akan kesulitan makan beberapa hari kedepan," jawab Karina dengan lesu. "Kenapa?" tanya Rara. Karina pun menceritakan apa yang sudah terjadi, tapi bukannya ikut jijik. Rara cuma bersikap biasa saja dan mengangkat bahunya acuh. "Itu cuma cium*n tidak langsung, apanya yang menjijikkan. Sebelum ini, kalian bukannya bahkan sudah menghasilkan bayi," celetuk Rara santai. Adiknya itu memang menjengkelkan, dan Karina menyesal sudah jujur padanya. "Itu karena aku belum tahu dia punya wanita lain!" ketus Karina karena kesal juga tak puas dengan reaksi Rara. ***** Pagi itu itu Karina kembali ke rumah utama untuk menyelesaikan pekerjaannya, tapi akibat kejadian semalam Karina jadi terpikirkan untuk membalas dendam. Jika Anggara bisa mengerjainya, maka seharusnya diapun bisa melakukan hal yang sama. Meraih gelas kopi dan meletakkannya ke atas meja. Karina menatapnya serius dan sedikit menyeringai. "Apa aku ludahi saja kopinya?" Beberapa saat kemudian, wanita itu sudah di depan Gara yang tampak sibuk dengan ponselnya. Duduk di kursi di depan meja makan menunggu sarapannya disajikan. Dia tampak bossy, tapi memang dialah bosnya di sana. "Kopinya, Tuan Gara," ucap Karina menegur Gara dan berhasil membuat pria itu menoleh. Karina langsung menyajikannya di depan Gara dan tersenyum dengan wajah terus terang yang membuat Gara curiga. Dia menatap Karina dan mengerutkan dahi, lalu kopinya. Namun, diapun segera menemukan sesuatu yang salah di sana. "Kau mau balas dendam Karina?" Mendengar itu, Karina reflek kaget dan tampak sedikit takut. Sepertinya rencana sudah ketahuan. "Aa--apa maksudmu?" balas Karina dengan nada gugup. Dia bahkan sampai melupakan panggilan kesopanannya pada pria yang merupakan majikannya itu sekarang. Sementara itu Gara langsung berdiri dan meraih gelas kopinya kemudian menyodorkannya pada Karina. "Kau pikir aku bodoh, kau pasti sudah meludah atau apapun itu pada kopiku. Lihatlah bekas lipstikmu bahkan tertinggal di sana!" ucap Gara dengan nada kesal. "Kalau iya memangnya kenapa, tidak suka? Kalau begitu pecat saja aku!" tantang Karina tak kenal takut. Justru dengan demikian artinya dia tidak harus membayar denda pinalti karena berhenti seenaknya, dan bagian terpentingnya dia bebas dari mantan suaminya itu secepatnya. "Ckckck, sudahlah Karina sudahi main-mainnya. Aku tahu kau pasti masih tidak terima dengan kejadian waktu itu dan sebenarnya kau ingin kembali padaku, tapi kamu masih gengsi. Dengar, aku akan melupakan semua itu dan kita bisa menikah kembali!" balas Gara dengan gaya bicaranya yang khas dan selalu terdengar angkuh. Karina memutar bola matanya, segera merasa muak dan mendengus kasar. Kemudian secara tidak terduga meraih kopi di tangan Gara dan meneguknya habis. 'Aku tidak seberengs*k kamu b******n, aku tidak meludah di kopi mahal ini. Hanya mencium gelasnya supaya aku bisa meminumnya. Lumayan sudah lama tidak minum yang mahal seperti kopi ini,' batin Karina merasa puas karena rencananya sesuai dengan harapannya. Namun, dia tidak akan mengungkapkan hal itu langsung sekarang, karena ada yang lebih penting yang harus diucapkannya. Tidak tahu perkataannya akan membuat Gara sadar, tapi setidaknya dia sudah berusaha. "Aku tidak mencintaimu lagi dan tidak berharap kembali pada laki-laki tukang selingkuh yang murah*n. Kau pikir aku suka barang obral? Oh, tidak!! Sadarlah Tuan Anggara ... uangmu memang banyak, tapi itu berhasil membuatmu mahal, karena perilakumu yang sana-sani gonta-ganti wanita!" tegas Karina dengan sedikit terbawa emosi, tapi tak hanya itu. Karina segera menaruh gelas kopinya yang sudah habis di atas meja dengan kasar, tak lupa menendang kuat kaki meja sebelum bicara kembali. Brakk! "Dasar bajing*n murah*n!" umpatnya sebelum kabur dari sana. Gara jadi tersulut emosi mendengar ucapan Karina tersebut. Menyisir rambutnya ke arah belakang dengan kasar, lalu menyerang meja meninjunya beberapa kali. Blam!! "Aku akan membuatmu menyesal Karina, aku akan membuatmu bersujud dikakiku!" geramnya dengan penuh emosi. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD