Bab 02. Hari Pertama Kerja

1031 Words
"Saya tidak bisa bekerja jika harus di rumah itu. Kalau memang konsekuensinya batal kontrak, saya menerimanya," ucap Karina. Dia saat ini sedang bicara pada staff perusahaan yang mengurus penempatan calon asisten rumah tangga. Dia langsung kabur dari rumah mantan suaminya. Sebelumnya dia memang tidak tahu menahu soal rumah itu, karena satu tahu menjadi istri Gara, Karina tidak tinggal di sana. Dia dan Gara tinggal di rumah lain yang lebih kecil dan jauh dari pusat kota. Dia tidak menyangka jika mantan suaminya itu, ternyata punya rumah lain, dan dekat dengan keramaian tidak seperti yang lama. "Maaf Karina, ini sudah ketentuan dari perusahaan, kamu dan calon majikanmu sudah sama-sama tanda tangan kontrak. Tidak ada yang bisa kami lakukan, karena itu terlalu beresiko mencoreng nama baik perusahaan. Tetaplah di sana atau setidaknya sampai kontrak kerjamu berakhir, atau kamu harus membayar kerugian perusahaan yang diakibatkan olehmu!" tegas Staf tersebut membuat Karina kaget. "Apa, tapi ini hanya masala--" "Tolong mengertilah, bukan saya yang mengatakan itu, tapi begitulah peraturan perusahaan ini. Kamu tidak bisa pindah tanpa alasan yang jelas atau berhenti tiba-tiba. Karina sebelumnya kamu bahkan sudah setuju!" potong staf tersebut. Karina pun diam, mendesah berat dan tiba-tiba terpikirkan ucapan sepupunya. Rupanya ini perbedaan yang di maksud Rara, antara pembantu dan asisten rumah tangga memang berbeda. Menjadi ART lebih terikat daripada pembantu. "Kak Karina, ada apa denganmu?" tegur Rara sesampainya Karina di rumah. Dia tidak langsung menjawab, tapi melirik sepupunya dengan sedikit kesal. Bukan kesal pada Rara, tapi dia masih terbawa perasaan akibat harinya yang buruk. Karina pun bergegas ke sofa, dan duduk menyandar di sana. "Hari ini bukannya hari pertamamu, bagaimana rumah dan majikanmu?" cicit Rara antara takut, tapi penasaran. Tatapan Karina langsung melotot menatap tajam ke arah adiknya. "Majikanku, bajing*n itu!" "Hahhh!" Karina tampak meresapi perasaannya yang campur aduk, dan juga emosinya. Sementara Rara tampak terbengong. Antara kaget, tapi tak memahami ucapan Karina. Beruntunglah Karina bisa menebak pikiran adik sepupunya itu. "Dia, Anggara mantan suamiku, ayahnya Rafandra!" ungkap Karina serius dan tampak frustasi. "Gimana ini? Ini semua idemu Ra ... kamu yang bujuk-bujuk aku buat kerja jadi ART, dan sekarang masa iya balik ke rumah mantan?!" Rara menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia kaget, tapi juga jadi bingung karena masalah itu. "Aku juga nggak tahu, Kak? Kan yang kerja kamu, lagian kok bisa gitu ya .... Apa jangan-jangan dunia ini beneran sempit, makanya kalian ketemu terus, atau jangan-jangan jodoh?!" Karina segera berdecak dan tak terima. "Jodoh-jodoh, kami udah putus. Udah, ah ... sekarang bantu aku pikiran gimana caranya dapat uang seratus juta!" ceplos Karina. Rupanya tekatnya udah mengundurkan diri sudah bulat, namun Rara yang belum tahu soal itu kembali terlihat syok. "Apa? Ya, ampun, Kak ... duit dari mana itu. Mikirin buat bayar kontrakan untuk bulan berikutnya saja sudah pusing bangat apalagi itu!" ucap Rara mengingatkan. Hal itu pun membuat Karina lemas. Sebelas bulan lalu, uang sejumlah itu tidaklah sulit, apalagi posisinya istri Gara yang merupakan bos dan CEO di tempat kerjanya. Namun, setelah perceraian. Jangankan seratus juta, Rara benar, untuk membayar kontrakan dan keperluan sehari-hari, mereka harus kerja sana-sini sambil gantian menjaga Rafan bayi mungil yang baru dua bulan lalu dilahirkan olehnya. "Hm, apa aku harus tetap kerja sama dia, tapi gimana dengan Rafan?" ucap Karina. Sebenarnya dia pun bukan lahir dari keluarga miskin, tapi menengah. Sayang kedua orang tuanya gila harta, apalagi om-tantenya orang tua Rara. Mereka bahkan menjual Rara dengan dalih perjodohan, dan sebenarnya Karina hampir seperti itu juga. Namun, dia sedikit beruntung, karena lamaran Gara waktu itu lebih dahulu tiba. Sekarang demi masa depan bersama, dia dan Rara kabur. Takut orang tua mereka kembali dengan kegilaannya soal harta. ***** Karina akhirnya terpaksa kembali ke rumah mantan suaminya. Dia dan beberapa asisten rumah tangga baru di tempatkan di rumah belakang khusus tempat tinggal untuk asisten rumah tangga. Jarak antara rumah utama dan rumah terpisah beberapa meter. Hal itu pun membuat Karina nekat membawa Rara dan Rafan tinggal di sana secara diam-diam. Karena tidak ada kesepakatan boleh membawa keluarga tinggal di sana. Seminggu berlalu Karina pun sudah mulai melakukan pekerjaannya dengan baik. Tidak masalah dan dia pun cepat beradaptasi. Namun, semua itu bisa terjadi karena Gara tidak ada di sana, dan sekarang pria itu sudah pulang. Habislah kenyamanan bekerja yang selama ini Karina rasakan. "Buatkan kopi untuk, dan bawa ke ruang kerja saya di lantai dua!" perintah Gara. Padahal dia baru sampai di rumah itu, dan Karina langsung menatapnya sinis. "Apa kamu tidak punya mata, tidak lihat saya sedang mengepel lantai?" Karina berdiri sambil berkacak pinggang. Membuat Gara sambil mengerutkan dahi. Mantan istrinya itu benar-benar berubah, karena pada saat jadi istri Karina bukan cuma menuruti apapun maunya, wanita itu bahkan selalu sepenuh hati melayaninya. Namun, sekarang saat menjadi asisten rumah tangga, Karina justru berlagak seperti dialah bosnya. "Kamu masih punya kaki dan tangan yang lengkap. Buat saja sendiri, tidak usah manja!" omel Karina. "Tapi aku membayarmu untuk pekerjaan ini Karina! Jangan lupa itu!" geram Gara penuh peringatan. "Aku dibayar untuk membersihkan rumah ini, bukan melayanimu!" sarkas Karina dengan sengit. Wanita lantas meraih gagang kain pel dan melanjutkan pekerjaannya. Bersikap seolah Gara tidak ada di sana. Hal itu pun membuat Gara jadi gusar. "KARINA!!" "APA?!" Keduanya bersitegang, kembali saling menatap dengan sama tajamnya. "Kalau kau mau memecatku silahkan saja, aku juga muak jika harus bekerja di rumah barumu ini. Aku muak melihat tukang selingkuh sepertimu!" omel Karina dengan berani. "Aku tidak ingin memecat-mu wanita bod*h! Aku cuma ingin dibuatkan kopi, apa kau tidak mengerti?!" geram Gara. Karina mendengus kasar. Lalu mengepalkan telapak tangannya, dan karena tidak tahan berhadapan dengan Gara, wanita itu pun berlalu dari sana. Menuruti ucapan Gara. Meski begitu, sesampainya di dapur, dia memang membuat kopi, tapi dengan sengaja mengganti gula dengan garam. "Kamu yang minta!" ucap Karina sambil tersenyum menyeringai. Selesai dengan kopinya, rupanya wanita itu pun masih ogah memberikannya langsung, sehingga dia minta bantuan rekan kerjanya sesama asisten rumah tangga. "Makasih ya, Mbok. Aku masih harus membereskan peralatan ngepel lantai di ruang depan, takutnya ada yang datang dan terpeleset di sana jika tak segera dibereskan," ucap Karina dengan alasan yang cerdik pada rekan kerjanya itu. Meski cuma alasan, tapi wanita itu pun tetap melakukan ucapannya. Karena memang setelah memenuhi perintah majikan atau mantan suaminya, dia belum sempat membereskannya sebelumnya. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD