Bab 17. Permainan Gara

1022 Words
"Jadi, ini kamarmu dan Rafan, Kak?" tanya Rara. Gadis itu ternyata tidak tenang dan menyusul kakaknya ke lantai atas untuk memastikan kondisinya. Dia masuk ke ruangan yang katanya kamar kakak dan keponakannya, lalu segera menyadari sesuatu yang salah. "Lalu di mana ranjangmu, dan di mana kamu akan meletakkan pakaianmu?" Rara melihat hanya box bayi yang berada di sana, perlengkapan bayi, dan sebuah lemari besar yang masih terbuka yang penuh dengan pakaian dan kebutuhan bayi. Selimut, handuk dan sebagainya. Ruangan itu benar-benar didesain khusus kamar Rafan versis seperti kamar bayi. Hal itu pun membuat Rara bingung dan mengerutkan dahinya, tapi kemudian Karina membalasnya dengan senyuman. "Kamarku di ruangan lain, apa yang kamu khawatirkan?" tegur Karina. Rara mengangguk, tapi dia merasa tidak puas. Perasaannya tidak tenang, dan mengkhawatirkan Karina. "Tapi di lantai ini juga?" tanya Rara. Karina mengangguk ragu. "Hm, tapi kamu jangan terlalu sering naik ke sini. Kamu tahu sendiri bagaimana Anggara mantan kakak iparmu itu. Dia sangat tidak punya hati. Aku takut dia menyakiti kamu, Ra, karena bencinya padaku." Rara mengangguk singkat, kemudiaan menggeleng ragu. "Tapi kakak tidak usah terlalu mengkhawatirkan aku, jaga diri kakak baik-baik." "Baiklah Ra, aku tidak akan terperangkap pria itu lagi, dan setelah aku mendapatkan kartu Identitasku lagi, juga pekerjaan yang layak, aku akan membawamu bebas dari tempat ini," Karina mendekat dan mencoba mengusap lengan Rara. Gadis itu mengangguk seraya menatap Karina dengan tatapan yang tak pernah lega. "Ah, ya. Bagaimana dengan kamarmu di rumah ini? Jika, dia menempatkanmu di kamar jelek yang tidak kamu sukai, katakan saja. Kakak akan protes untukmu!" tegas Karina. Rara menggeleng dan menjelaskan semuanya. Dari kamar yang sangat nyaman, bahkan fasilitas, Gara seperti menganggapnya keluarga. Dia pikir Karina mungkin mendapatkan hal yang sama, tapi ada perasaan tidak yakin saat memikirkannya, apalagi saat mengingat perkataan Melinda. "Kak, aku ingin menanyakan sesuatu yang padamu, apakah boleh ...." "Tanyakan saja, Ra. Kenapa jadi canggung begini, hm?" Rara meremas telapak tangannya sendiri, mengumpulkan keberanian sebelum mengeluarkan pertanyaannya. "Maaf ... tapi apa Kak Karina masih mencintai kak Gara dan apa kalian akan bersama kembali. Maksudku semua kebaikan dan yang diberikan pada kita, mungkin tidak gratis, Kak. Kak, Gara pasti punya maksud, karena tidak mungkin alasannya cuma demi Rafan. Misalnya mungkin saja, dia masih menyukaimu dan ingin kembali padamu ...." Tenggorokan Rara sedikit terasa kering menyatakan kalimat itu, dan Karina sepertinya mengalami hal serupa, sebab setelah beberapa saat tidak ada jawaban dari kakaknya itu. "Tidak usah dijawab, Kak Karina. Maaf dan aku harap kamu tidak perlu memikir--" Gelengan kepala segera membuat Rara terdiam, dalam seketika sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku tidak tahu pasti, Ra. Perasaan sulit dihapuskan dan melupakan tidak semudah mengatakan, tapi--" Karina menjeda kalimatnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Aku pasti berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang sama kedua kalinya," jelasnya dengan yakin. Rara mengangguk paham. Ternyata Karina belum bisa melupakan Anggara setelah satu tahun lamanya, dan sekarang sebisa mungkin mengontrol perasaannya itu, agar Anggara tidak semena-mena padanya. Namun, soal perkataan Melinda. Rara sendiri maaih belum bisa memastikan, sebab selain mencurigai Gara mempunyai hati pada kakaknya, bisa saja Gara cuma menyayangi Rafan dan memberikan yang terbaik, atau mungkin saja kebaikan yang menurutnya berlebihan, sebenarnya bukan apa-apa mengingat seorang Anggara orang terkaya. Uang yang dihabiskan menurut mereka sangat banyak, tapi bagi pria itu hanya seujung kuku. Entahlah, tapi apapun itu Rara putuskan untuk mendukung kakak itu, karena cuma Karina satu-satunya yang dia punya keluarga yang sebagaimana keluarga. Tidak seperti orang tuanya yang justru seperti pedagang yang menjualnya untuk menukarnya dengan uang. ***** Setelah keputusan seenaknya Gara, Karina benar-benar pasrah dan akhirnya tetap jadi ART seperti sedia kala. Dia pasrah setidaknya pria tidak macam-macam, tidak menjauhkannya dari Rafan dan terakhir membuat Rara bisa meneruskan pendidikannya. Walaupun saat malam hari di sangat kesulitan, karena harus berbaring di lantai yang hanya dialasi karpet berbulu di kamar Rafan. Bolak-balik dengan waspada ke kamar Gara melalui pintu penghubung dan lainnya. Cklek! Gara masuk kamar dengan pintu penghubung dan menghampiri Karina yang mulai terbangun karena terganggu dengan kehadirannya. "Sudah, aku bilang tidur disampingku, Karina, tapi kamu malah membesarkan gengsimu yang sudah sebesar gunung," ceplos Gara sambil merapihkan anak rambut Karina. Spontan hal itu pun membuat, Karina yang setengah sadar terkejut. Dia tersentak lantas duduk dan menghindari Gara. Inilah yang ditakutkannya, Gara masuk semena-mena dan menyentuhnya. "Apa yang kamu lakukan di sini, jangan macam-macam?!" tegur Karina reflek mengeluarkan sesuatu dibalik bantalnya. Itu alat setrum untuk pertahanan diri, dan Gara nampaknya sedikit syok sebelum kemudian mengembalikan ekspresinya. Dia bangkit dan menghampiri box bayinya. Melihat Rafan yang masih pulas di sana. "Aku hanya ingin memastikan kondisi bayiku, apa yang kamu pikirkan Karina? Hm, sepertinya kamu terlalu berlebihan," ucap Gara santai. Karina menghela nafasnya setelah Gara menjauh, kemudian mengucir rambutnya dan merapihkannya. "Siapa yang tidak berpikiran berlebihan, sejak semalam kamu terus saja bolak-balik tanpa alasan yang jelas ke kamar ini!" sarkas Karina. Gara cuma membalas dengan tersenyum devil sekilas, dan Karina mendesah kasar. "Lebih baik aku kembali ke rumah belakang, dan Rafan boleh bersamamu, asal jangan menghalangi kami bertemu. Ingat dia sangat bergantung padaku?" celetuk Karina. Gara mengangguk. "Aku pikir juga begitu, jika tidak berguna menghangatkan ranjangku, kau lebih baik tinggal di kamar pembantu, tapi sayang sekali sekarang kamar itu penuh. Hari ini akan ada ART baru. Bukan menggantikanmu, kau tetap bekerja, tapi untukku sebagaimana biasanya, dan soal pekerjaan bersih-bersihmu. ART baru itu yang akan melakukannya. Aku tidak mau kamu beralasan dan banyak alasan Karina!" Karina meremas telapak tangannya. "Kenapa tidak ART itu saja yang bekerja secara pribadi padamu? Melakukan pekerjaan konyol, dan biarkan aku saja yang bersih-bersih?!" ketus Karina. Gara menatapnya dengan intimidasi, sungguh tatapan itu sangat memuakkan bagi Karina. Membuatnya merasa dibawah kendali Gara, tapi itu memang faktanya. "Idemu bagus juga, apalagi ART baru itu cukup cantik, dan bisa digunakan untuk mengerjakan pekerjaan yang khusus," jawab Gara ambigu, membuat pikiran Karina bercabang. Dia sedikit merasakan perasaan lama. Tidak suka mendengar terlebih membayangkan ucapan mantan suaminya itu. Sementara itu Gara sejak tadi terus memperhatikannya dengan tatapan yang aneh. "Yasudah lakukan saja!!" omel Karina dengan suara naik beberapa oktaf. Entah kenapa Gara malah tersenyum puas dan sedikit terkekeh. "Harusnya begitu, Karina, hanya saja bukannya kamu masih mau merawat Rafan dan dianggap ibu oleh anakku bukan? Jadi, aku masih memberimu kesempatan." *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD