Bab 18. Arini ART Baru

1008 Words
"Huft ... ngapain sih, dia di situ terus. Kayak nggak ada kerjaan?!" dumel Karina sambil melirik kesal. Dia sedang membersihkan kamar Gara, karena pria itu beralasan tidak suka kamarnya dimasuki orang asing, padahal Karina juga bukan siapa-siapa. Duduk di sofa, sambil memangku laptop dan lengkapi kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya. "Lakukan saja pekerjaanmu, jangan cerewet Karina!" tegur Gara yang ternyata mendengar dumelan Karina. Namun, siapa yang bisa fokus jika diperhatikan, Karina merasa seperti sedang ujian. Akan tetapi, pada akhirnya dia cuma bisa memutar mata dengan jengah dan mendesah kasar. "Seharusnya kamu ke kantor, untuk apa di sini, atau ke ruang kerjamu!" saran Karina. "Aku tidak punya ruang kerja, apa kamu sudah lupa. Ruangan di samping sudah menjadi kamar anakku," jawab Gara tanpa menoleh. Namun, saat Karina sedang tidak menatapnya, dari sudut mata Karina dia bisa melihat Gara memandang ke arahnya dan hal itulah membuatnya tidak nyaman. Gerak-geriknya seperti diawasi Gara. "Punya banyak uang bukan? Tinggal bangun ruangan baru, atau kalau kamu pelit, tinggal ubah salah satu kamar tamu jadi ruang kerjamu," cibir Karina. Wanita itu pun berhenti menatap Gara, dan mencoba melanjutkan kegiatan bersih-bersihnya, dan saat itulah Gara kembali beralih dari laptopnya. 'Bener-bener nyebelin!' batin Karina. 'Apasih yang dilihatnya di laptopnya, jangan-jangan cuma pura-pura kerja, tapi nyatanya takut aku obrak-abrik kamarnya dan mengambil kartu Identitas-ku!' Karina tampak curiga lalu dengan pikirannya itu, dia pun segera mendekati Gari. Perlahan dengan gerakan masih beres-beres menyapu lantai. Brugh. Karina berhasil mengambil laptop dari pangkuan Gara, tapi yang mengejutkan bukan cuma Gara bener-bener tidak bekerja, tapi dia laptop itu juga memperlihatkan keadaan kamar di sebelah. Kamar Karina dan Rafan putra mereka. "Apa maksudnya ini?" Karina dengan kedua mata yang membulat tak terima. "Kenapa, kamu tidak suka?" Gara malah berdiri, dan tidak merasa bersalah sama sekali. Padahal keadaan di layar laptopnya sudah menjelaskan semuanya. Kalau dia memasang CCTV di ruang sebelah. Dia mengawasi apa yang Karina lakukan di sana selama dua puluh empat jam. Semua kegiatan Karina tanpa terkecuali. Membayangkan dia sedang menyusui, Karina langsung geram dan marah. "Kamu udah gila, hah? Dasar tidak punya hati, itu sama saja kamu nguntit aku secara nggak langsung, melanggar privasi dan nggak bermoral!" cibir Karina dengan tatapan berapi. Ingin rasanya meluapkan emosinya, tapi di kamar sebelah ada anaknya yang pulas dan Karina menghawatirkannya. Takut bayi kecil itu bangun akibat terkejut. "Terus kenapa? Kamu mau lapor, hah? Oh, silahkan ... tapi ingatlah kamu tidak mungkin bisa melawanku, apalagi kartu Identitas dan sepeser rupiahpun tidak ada ditanganmu!" jawab Gara kejam. Perasaan Karina segera seperti tersayat-sayat, sampai dia begitu merasakan nyeri tak tertahankan. Tanpa sadar dia cengeng dan berkaca-kaca. "Gimana kalau kamu yang diposisiku, hah? Apa kamu masih bisa baik-baik saja?!" bentaknya. Namun, Gara justru menarik pinggang Karina dengan tiba-tiba, meraih laptop dengan tangannya yang lain dan menyingkirkannya. Lantas diapun membalas Karina dengan tatapan pemangsa. "Silahkan saja lakukan itu Karina, aku memberimu akses. Pasang juga CCTV di kamar ini atau sekalian di kamar mandi, aku tidak keberatan!" jawab Gara dengan arogan. Karina memberontak, tapi pria itu mengapitnya, lalu saat tidak bisa diam, Gara mendorongnya dan menghimpitnya ke sofa. "Apa yang kamu laku--" "Masih bertanya?!" ejek Gara memperlihatkan kuasanya pada Karina. "Kamu tahu, sebenarnya aku sudah sangat bosan dengan keadaan ini. Kamu terus saja menyalahkan aku terhadap semuanya, tapi kamu sendiri tidak menyadari kesalahanmu ...." Gara bicara tepat di depan wajah Karina. Kedua hampir tidak berjarak dan membuat Karina sesak, kesulitan meraup udara untuk bernafas. "Kamu bilang aku gila, Karina, tapi apa kamu sadar siapa yang membuatku gila?!" geram Gara. Pria itu meraup wajah Karina dengan telapak tangannya yang besar dan sedikit mencengkram dagu Karina agar wanita itu tak berpaling darinya. "Kamu KARINA!!" ungkapnya dengan nada membentak. "Setiap tindakan dan kelakuanmu membuatku tidak waras, aku hampir ditahap tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Apa kamu tahu?!" Gara menekan kalimatnya. "Kekonyolan dan setiap tingkah kekanakanmu, Bercerai, jadi pembantuku, melahirkan Rafan diam-diam. Sekarang apa itu belum cukup? Aku lelah dengan dramamu!" Karina tidak menjawab, meski sebenarnya dia yang harusnya tak habis pikir. Bagaimana mantan suaminya itu menyalahkannya, tapi bukankah dia yang bersalah. Hanya memanfaatkan pernikahan mereka yang pernah terjadi untuk warisan dan berselingkuh. Lalu sekarang dia bersikap seperti korbannya. Karina terisak, air matanya turun tak sanggup menahan beban yang dideritanya. "Cih! Menangis!! Apa kamu selalu seperti ini?!" Gara geram, tapi dia malah bangkit dan melepaskan mantan istrinya. "Aku sudah menduga ini, air mata selalu menjadi senjatamu, tapi baiklah. Kalau kamu tidak terima balas dendamlah! Aku tidak peduli, silahkan rekam semua aktivitasku! Persetan dengan itu lakukan sepuasmu!" Gara tampak begitu emosi, dan tiba-tiba pergi begitu saja. Karina yang menangis pun menyeka air matanya dan mencoba untuk tenang. Inilah akibatnya tinggal dengan mantan. "Balas dendam, hiks-hiks ... siapa yang mau melakukan hal konyol itu!" dumel Karina yang masih sedikit menangis dan sesegukan. Dia teringat alat pelindungnya, lalu merutuki dirinya sendiri, karena lupa menggunakannya. Sial, harusnya saat mantannya yang gila itu kumat, dia menggunakannya tadi. ***** Sementara itu, ATR baru mulai bekerja setelah sehari sebelumnya dia beres-beres dan menempati rumah belakang yang dikhususkan sebagai tempat tinggal ART. Dia melihat Gara turun dari lantai atas dan tersenyum karena melihat amarah di sana. Lalu menghubungi seseorang dan melaporkan sesuatu. "Sepertinya mereka habis bertengkar, Shela. Hubungan keduanya tidak seperti yang kamu duga. Tidak ada yang sepesial dan jangan-jangan mantan bosmu, mempertahankan wanita jal*ng itu cuma untuk balas dendam!" ucap ART baru itu. "Walaupun begitu, tetap perhatikan dan awasi interaksi mereka. Pastikan wanita jala*g itu tidak balikan dengan calon suamiku! Mereka tidak boleh bersama, karena hanya aku yang bisa jadi nyonya Anggara. Bukan wanita mand*l itu!" jawab Shela di telepon. Ternyata ART itu orangnya Shela, dia Arini sepupunya Shela. Namun, karena baru, Arini juga belum tahu soal Rafan. Anak itu berada di lantai atas, dan siapapun tidak diperkenankan naik ke sana selain Karina. Bahkan Rara pun sebenarnya tidak boleh, tapi Gadis itu agak nekat. "Baiklah, tapi apa yang akan aku lakukan setelah ini? Kamu tahu, aku benci melakukan hal konyol begini, menjadi pembantu sangat menjij*kan. Aku sangat menderita di sini," ujar Arini. "Baru satu hari kamu sudah banyak mengeluh, diamlah Arini. Aku membayarmu mahal. Setidaknya bertahan demi uang!" *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD