Bab 19. Gara Mabuk

1122 Words
"Kak Gara!" panggil Rara ragu. Gadis itu semakin ragu dan menyesal, pada saat menyadari kedua bola mata mantan kakak iparnya itu tampak memerah, dan saat Gara menghampirinya, Rara bisa mencium aroma alkohol yang menyengat. "Ada apa?" tanya Gara langsung kentinya, sepertinya pria itu nampak terburu-buru. Rara menggaruk kepalanya dan mundur. Kini dia bahkan menjadi takut. Berpikir bagaimana bisa kakaknya Kirana pernah menyukai pria dihadapannya. Sosok pria dengan tubuh tinggi tegap, dad* bidang, dan bagian menyeramkannya adalah pria menyeramkan dengan wajah tampannya. Wajahnya sangat garang. "An--nu ...." Rara meneguk ludahnya kasar, menggelengkan kepala dan kikuk. "Katakan cepat, aku tidak punya waktu!" Bahkan suaranya pun membuat Rara bergidik ngeri. Namun, setelah mendengar desakan itu, Rara langsung mengeluarkan sesuatu dan langsung menyerahkannya pada Gara. "Ak--ku tidak bisa menyetir, jadi percuma saja. Aku tetap tidak bisa menggunakannya," ucap Rara. Lalu dengan gerakan cepat, Gadis itu berlalu dan kabur dari sana. Melihat hal itu, Gara menatap kunci mobil yang barusan dikembalikan. Kemudian pria itupun melanjutkan langkahnya. Mencari Karina, dan berhenti saat sudah menemukannya. Sudut bibirnya segera melengkung ke atas. Ternyata Karina di sana, di dekat box bayi mereka. Tidur dalam keadaan terduduk bersandar ke box bayinya. Gara pun mendekat, berjongkok tepat dihadapan Karina. Melihat rambut mantan istrinya itu sedikit terurai dengan berantakan dia pun merapihkannya. Namun, saat tatapan Gara turun menatap bibir merona yang membuat tergoda. Pria itupun meneguk ludahnya kasar, sebelum kemudiaan mencoba mendekatkan wajahnya. Sementara itu, Karina yang merupakan seorang ibu, menjadi lebih peka dari biasanya. Dia segera menyadari bahaya di alam bawah sadarnya, dan sebelum terlambat dia pun berhasil bangun. "Aaarrrgghh!" jerit Gara terkejut. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Karina sambil mengusap dad*nya sendiri dan mendesah kasar. Namun, dia masih belum lega setelah barusan berhasil mencoba pertama kali alat perlindungan dirinya yang berupa setrum tersebut. "Karina kau gila, hahh?!" gumam Gara dengan nada suara yang berat. Pria itu sudah jatuh terbaring di lantai, dan menatap Karina setengah sadar. Sementara itu, Karina pun sadar juga soal kondisi Gara. "Kamu mabuk?!" tebak Karina dengan sangat tepat. Gara bisa bangkit, karena ternyata tegangan dari alat yang Karina milik tidak kuat. Menyadari hal itu Karina mendesah kesal dan frustasi. "Pantas saja harganya murah kemarin, ternyata fungsinya tidak sesuai harapan!" rutuk Karina menatap alatnya. Dia pun bangkit, dan menghindari Gara. Melihat itu, Gara yang setengah mabuk terus segera mengikutinya, mendekat, meski Karina terus menghindar. 'Jangan sampai, Rafan bangun. Huft, anak itu susah tidurnya ....' batin Karina. Wanita itupun memikirkan cara lain, dan berlari ke kamar Gara. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Blam! "Sekarang kamu tidak bisa lari dariku, kamu--" Gara tersenyum aneh dan menunjuk ke arah Karina. "Milikku, milik Anggara. Kemarilah istriku, berhenti membuatku marah ... KARINA KEMARI!" bentak Gara di akhir kalimatnya. Karina terkejut, tapi tidak hilang akal. Dia menhidupkan pancuran shower dan menarik Gara ke sana. "Sadar brengs*k!!" Gara beberapa kali mengerjap, Karina yang merasa tugasnya selesai pun segera kabur, tapi Gara telah berhasil memanfaatkan keadaan dan menahannya. "Jangan pergi," ucap pria itu. Dia sepertinya sudah akan mendapatkan kesadaran penuhnya, tapi Karina justru menghempaskan tangannya. Meski akhirnya hal itu tak berguna karena Gara masih menahannya. "Kepalaku rasanya seperti meledak. Lima menit Karina tolong biarkan seperti ini," ucap Gara yang tiba-tiba memeluk Karina dari belakang. Debar jantung Karina segera berdegup kencang. Hangat di bawah guyuran air shower yang dingin. Tidak bisa dipungkiri ternyata sisa perasaan itu masih ada. "Lepaskan!" ucap Karina tak mau berlama-lama, saat logikanya berhasil mengalahkan perasaannya. "Hanya lima menit Kari--" "Aarrggh! Sssttt ...." Gara tiba-tiba menjerit kesakitan, dan ternyata Karina barusan menggigit. "Ckckck, kalau tidak menangis, malah mengigit!" cibir Gara sambil mengusap lengannya yang barusan digigit. Karina yang akhirnya berhasil lepas, karena menggigit. Dalam jarak yang aman dia berbalik dan menatap ke arah Gara. "Itu pantas kamu rasakan. m***m!!" omel Karina sebelum dia benar-benar kabur. Lama-lama dia bisa menjadi gila jika terus menghadapi orang seperti Gara. "KARINA!!" teriak Gara. Pria itu akan menyusulnya, tapi sebelum itu pintu kamar mandi tertutup dan terkunci dari luar. "Mandi yang benar, dan hapus bau alkohol dari tubuhmu. Aku akan membuka setelah setengah jam!" ucap Karina berteriak dari luar. "Kau gila?! Aku bisa mati kedinginan selama itu!" protes Gara dari dalam. "Aku tidak peduli!" jawab Karina menggunakan kalimat yang suka Gara gunakan padanya. ***** Karina juga akhirnya mandi karena basah, tapi dia mandi di kamar tamu. Saat melihat Rafan masih tidur, wanita itu pun turun ke bawah. Berpikir untuk menyiapkan makan malam untuk Gara. Bagaimana lagi, Gara hanya mau dilayanin olehnya, dan pria punya seribu macam ancaman untuk membuatnya patuh. "Kakak di sini?" Rara menghampiri Karina di dapur. Agak bingung melihat Karina memasak, padahal makan malam sudah tersaji di atas meja. "Kakak masak? Bukankah di sini sudah lengkap?!" tanya Rara penasaran. Karina berbalik, dan sedikit bingung memberitahu Rara. Dia tak mau adiknya kepikiran karena ternyata dibalik kebaikan Gara pada Rafan dan Rara, Karina harus membayar dengan bersedia disulitkan. Sementara itu, Rara yang tidak bodoh, segera sadar dan mengerti meskipun kakaknya tidak bercerita. "Kak Gara pasti menyulitkan, kakak ..." cicit Rara. "Maafkan aku kak, harus--" Karina menggeleng dan segera memotong kalimat Rara yang belum selesai. "Dia hanya memperlakukan Kakak sebagai pembantu, Ra, dan tidak macam-macam. Kamu jangan merasa bersalah, anggap saja ini pekerjaan kakakmu. Jangan khawatir ...." Di sisi lain, malam itu harusnya ART sudah tidak boleh masuk atau berkeliaran di rumah utama, tapi Arini menyelinap dengan sengaja untuk mengawasi Gara dan Karina. Dia mengerutkan dahi, saat akhirnya dia melihat kehadiran Rara di sana. 'Siapa perempuan itu, tidak pernah aku lihat, dan Shela sial*n itu juga tak memberitahuku," batin Arini. Melihat Rara duduk di kursi depan meja makan, wanita itu pun berspekulasi mungkin Rara adalah Gara dan tak memusingkannya lagi. Kemudian dia kembali memperhatikan Karina dari persembunyiannya dan menyadari hal lain. Beberapa menit, setelah itu Arini pergi dan kembali ke rumah belakang. Lantas menghubungi Shela. "Wanita itu sepertinya keramas," beritahu Arini di telepon. "Dasar bod*h, apa pentingnya dia keramas atau tidak!" Shela mengumpat marah diseberang sana. "Kamu yang bodoh, Shela. Apa kamu tidak bisa berpikir kalau keramas di malam hari dan saat cuaca dingin itu hal biasa, ditambah ada bekas cengkraman di bahu wanita itu. Memang samar, tapi aku bisa memastikannya!" jelas Arini. Mungkin itu bekas saat Gara memaksa memeluk Karina di kamar mandi, sebelum akhirnya Karina berhasil kabur. Karina tidak sadar, dan Rara tidak begitu memperhatikan Karina hingga diapun tak melihatnya. "Apa mereka melakukannya?" tanya Shela mendesah kasar. "Hm," jawab Arini singkat. "Aku tidak peduli itu, tapi jangan sampai jal*ng itu hamil, karena cuma anakku yang berhak jadi pewaris! Eh--" Shela tiba-tiba menyadari sesuatu. "Tunggu dulu!" dia tiba-tiba terdengar sedikit senang. "Dia tidak mungkin hamil, satu tahun bersama Gara sebelum satu tahun mereka berpisah, dia tidak kunjung hamil. Berarti dia mandul. Apa yang perlu dikhawatirkan. Biarkan saja begitu, memang posisinya jal*ng cuma pemuas nafsu!" terang Shela melanjutkan ucapannya. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD