Setelah lukaku dibersihkan dan dibalut, Kak Rian tiba-tiba muncul dengan keringat di pelipisnya. Tanpa banyak cakap, dia memelukku.
Seketika hening di sekelilingku. Dalam pelukan Kak Rian, aku masih mampu mengintip Dion dan Audy yang terbengong, dan teman-teman padusku yang lain. Hanya Karina saja yang tak mengubah ekspresinya.
“Lo nggak papa? Lengan lo….” Kak Rian khawatir. Tapi sebenarnya bagiku yang perlu dikhawatirkan adalah rahasia kami yang bisa-bisa terbongkat saat ini juga.
“Siapa b******n tengik yang berani nyakitin adik gue?!” Rian menatap tim padus satu per satu.
“Adik?” Theo membulatkan matanya. “Kapten itu adek lo?!”
“SERIUSAN?!” Tau-tau aja suara nyaring Rita menyahut.
Mampus gue! Kalo Rita bakal susah banget disuruh tutup mulut. Mulut sama ember bocor nggak ada bedanya. Nggak lama pasti satu sekolahan pada tahu semua.
“JAWAB!” Kak Rian menjadi semakin emosi.
Aku menyentuh tangan Kak Rian dan mengusapnya. “Gue nggak papa. Lo jangan bikin jadi tambah heboh.”
“Yakin lo nggak papa? Apalagi yang sakit?” Kak Rian memutar-mutar tubuhku.
“Gue nggak papa. Cuma…,” aku mendekatkan bibirku ke telinga Kak Rian, “laper.”
“Ya udah kita cabut sekarang.”
“Tunggu!” kataku. Kemudian menoleh ke arah Theo. “Semua tim aman? David? Mikel? Anak-anak yang lain?”
Theo mengangguk. “Tenang aja. Mereka sudah aman. Lo mending cepet pulang, tenangin diri lo. Sisanya biar gue yang atur.”
Aku mengangguk. “Karina, lo bareng gue aja yuk.”
“Aku mau, tapi aku harus bantu Theo ngurusin yang lainnya. Kamu duluan aja, Sheil. Nanti kalau nggak kemalaman, aku mampir ke rumah kamu, deh.” Karina memelukku. “Hati-hati, ya. Jangan terlalu banyak gerakin lenganmu.”
“Lo juga hati-hati. Jauh-jauh dari cewek gila itu.”
“Oke.” Karina tersenyum lebar.
Sebenarnya aku cukup khawatir membiarkan Karina di sana tanpa aku, tetapi jika aku tak menurut Kak Rian, kasusnya akan jadi lebih heboh.
Kami berdua akhirnya meninggalkan kawasan sekolah. Sebenernya aku sedikit tak enak meninggalkan mereka, tetapi….
“Gue tau lo syok banget,” kata Kak Rian. Memang tampangku mudah ditebak ya? “Nangis aja kalo lo mau.”
Aku menggeleng. “Reputasi gue rusak dong. Haha,” tawaku hambar.
“Dalam situasi gini masih mikirin reputasi?”
“Iya dong!” sahutku.
Kak Rian menghela napas. “Lo beneran nggak papa? Nggak mau ke rumah sakit?”
“Sekarang udah nggak terlalu sakit,” kataku tak berbohong. Memang benar, rasa perihnya berkurang begitu terbalut dengan perban. “Kita langsung pulang aja ya.”
“Katanya laper?”
“Bohong. Gue cuma kelewat syok dan butuh ruang untuk berpikir jernih,” jawabku lesu.
Sambil menyetir, tangan kiri Kak Rian mengusap rambutku.
“Lo lebih cocok jadi pacar daripada kakak,” tawaku. “Kenapa masih jomblo sih?”
Kak Rian tertawa kecil. “Ya kan biar gue bisa jadi kakak sekaligus pacar lo.”
“Hilih, mending gue sama Nando.”
Kak Rian tak menjawab.
Setelah sampai di rumah, aku buru-buru ke dapur dan meneguk sebotol air putih dingin. Rasanya benar-benar menyegarkan. Kemudian aku menelusuri isi kulkas, tak ada yang sesuai seleraku.
Seblak ceker ayam pedes.
Aku melihat jam dinding. Ah lupakan, tak ada yang jual seblak selarut ini. Akhirnya aku hanya mengambil sebungkus cokelat dan melahapnya dalam hitungan detik.
“Lo bisa mandinya?” Kak Rian tau-tau aja sudah berada di belakangku. “Lengan lo dibalut perban gitu.”
Aku mengangguk. “Gampang, deh.”
“Besok lo izin dulu aja, nggak usah masuk,” kata Kak Rian.
“Banyak yang harus gue urus besok. Gue beneran nggak papa.” Aku melewati Kak Rian dan berjalan ke kamarku. “Gue tidur duluan ya!”
Kejadian hari ini banyak menyita energi dan pikiranku. Tak heran jika tiba-tiba saja tubuhku ambruk di atas kasur. Aku menarik napas panjang. Tubuhku benar-benar kotor, tetapi rasanya aku tak sanggup jika harus berjalan ke kamar mandi.
Sejenak aku menikmati semburan dingin dari AC dan tiba-tiba saja dering singkat terdengar dari ponselku.
Hell, mengganggu saja.
Kevin - Cowok Kurang Kerjaan: Gue di balkon.
Hah? Si kunyuk aneh itu kenapa baru muncul sekarang?
Tunggu dulu. Aku berpikiran begitu bukan berarti aku mencarinya atau merindukannya. Hell, yang benar saja! Seumur hidupku tak akan sudi menerima kenyataan itu.
Dengan malas, aku berjalan ke arah balkon dan si kunyuk itu memberi isyarat untuk segera membuka jendela. Begitu dibuka, dia langsung masuk seolah itu adalah kamarnya. Memang tak ada akhlak.
“Lo apa yang luka?” Kevin tak menyentuhku, melainkan memandangi sekujur tubuhku dan berhenti di lenganku yang dibalut perban. “Itu kenapa?”
“Kegores pisau,” kataku singkat. “Lo ngapain sih ke sini? Kak Rian tau? Kalo lo lewatnya jendela, udah pasti Kak Rian nggak tau.”
Si hacker t***l itu terkekeh. “Nah tuh lo jawab sendiri.” Mendekat ke nakas di samping tempat tidurku, dia menaruh plastik putih yang berisi sterofom makanan. Dari baunya jangan-jangan….
“Ini seblak ceker ayam pedes, tapi nggak pedes-pedes amat sih. Level dualah.” Tanpa menunggu pertanyaanku, Kevin sudah dulu menjawab. “Buruan dimakan sebelum dingin.”
“Lo beli di mana?” Tanpa sadar aku sudah membuka sterofom itu dan mendapati makanan favoritku di sana.
“Ada deh yang masih buka.” Kevin menarik kursi meja riasku dan duduk di depanku. “Gue tadi mampir ke apotek beli perban anti air. Mau lo yang pasang atau gimana?”
Aku melirik kotak obat yang dipegang Kevin. Sejujurnya aku tak begitu tahu bagaimana cara memasang perban dengan benar dan tak membuat lukaku semakin parah. Tapi bukan berarti aku tak bisa.
“Gue sendiri aja,” kataku sambil menyantap seblak itu.
Kevin membuka kotak obat tersebut dan mengambil beberapa obat pembersih luka. Kemudian pelan-pelan membuka perban yang melilit lenganku. “Lo makan aja biar gue yang obatin.”
Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana, aku memperhatikan wajah Kevin yang mengeras begitu perbannya dilepas dan menampilkan luka gores di lenganku. Dia tak berkomentar apa-apa, hanya terus mengobati lukaku secara pelan dan hati-hati.
Tak membutuhkan waktu lama, perban anti air itu sudah melilit rapi di lenganku.
“Sekarang lo bisa mandi tanpa perlu khawatir.” Kevin segera berdiri dan berjalan ke arah balkon.
“Lo pasti ada maunya,” tandasku tanpa basa-basi lagi.
“Bukannya terima kasih lo ya.”
Aku mencibir. “Aneh aja tingkah lo itu.”
Kevin malah memasang wajah santainya yang minta ditonjok. “Kalau nggak gue kasih tau, mana mungkin Rian dateng jemput lo.”
“Lo yang kasih tau Kak Rian?” Aku terkejut.
“Hm....” Kevin mengangguk. “Udah tau kan lo harusnya berterima kasih sama gue?”
“Nggak cuma lo doang.” Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan Kak Rian melemparkan tatapan yang tak bisa kumengerti pada Kevin.
Oh, sial.