Aku tahu tindakanku salah. Seharusnya aku tidak diam-diam memanjat pohon mangga dan mendarat di balkon si judes, melainkan melalui pintu seperti orang-orang normal pada umumnya. Yah, aku kan memang nggak berniat cipika-cipiki dulu dengan Rian, makanya aku langsung to the point untuk mendarat di balkon kamar Sheila.
Kini Rian menyipitkan matanya seolah-olah sangat mencurigai niatku. Aku berusaha semaksimal mungkin untuk memasang wajah tak berdosa dan tak merasa bersalah sama sekali. Memangnya diberikan tatapan mencurigakan seperti itu membuatku langsung keder dan bersujud-sujud minta ampun padanya?
Damn! Yang bener aja! Walau aku terkenal dengan tabiatku sebagai cowok-nggak-baik-tapi-gantengnya-selangit, tak mungkin aku menyusup ke kamar cewek! Memangnya mau ngapain?
“Jelasin,” kata Rian masih menatapku lekat-lekat saat kami berdua pindah tempat ke kamarnya.
Aku mengibaskan tanganku, menangkis seluruh kecurigaannya yang tak berdasar. “Heish … gue nggak ngapa-ngapain. Kayak lo nggak tau gue aja.”
“Harus banget lo dateng diem-diem? Lo ketok pintu juga bakal gue bukain.”
Benar juga. Tapi seperti yang kubilang tadi, aku sedang tak ingin cipika-cipiki dulu dengannya.“Yah…,” tau-tau aja aku sudah kehabisan kata-kata, “gini, deh. Gue jelasin masalah ini nanti. Sekarang ada yang lebih penting lagi!”
Rian tampak tak setuju, tetapi setelah aku mati-matian memasang ekspresi serius, akhirnya dia setuju juga.
“Apa?”
“Lo percaya hantu?”
“Apaan, sih?” Rian berjalan melewatiku dan mengambil sebotol air mineral dari atas meja belajarnya.
“Gue serius!”
Rian mengerutkan alis. “Seumur-umur gue belum pernah digangguin sejenisnya, jadi gue nggak tau harus jawab apa. Gue orangnya rasional. Lo harus bawa bukti nyata baru gue bisa percaya.”
Aku mengangguk-angguk setuju. “Kalo gitu, temenin gue ke Pak Su.”
“Satpam sekolah kita?”
“Iya! Buruan!”
Aku segera memakai jaketku, tetapi Rian bergeming. “Buruan!”
“Ogah! Ngapain ke sana jam segini? Besok ada ujian kimia, b**o!” Bukannya mengikutiku, dia malah membuka buku kimia terkutuk itu.
Aku menjitak kepala Rian. “Lo nggak penasaran apa yang terjadi sama si jud—eh, si Sheila? Dua kali kejadian loh! Di tempat yang sama! Man, kalo gue jadi lo, udah gue telusuri kenapa bisa begitu!”
“Bener juga.”
Ya, emang bener! Kadang kelewat rasional malah bikin Rian tampak t***l.
“Tapi apa hubungannya sama Pak Su?” tanya Rian kebingungan.
“Kasus kerasukan kemarin Pak Su yang nanganin, terus denger-denger kasus barusan juga dia yang nanganin. Harusnya Pak Su tau banyak.”
Rian termanggut-manggut. “Tapi harus banget ya malam ini?”
Aku menjitak kepala Rian lebih keras lagi. “Lo masih mikirin ujian kimia besok?!”
“Dasar nggak ada akhlak!” Rian mengusap-usap kepalanya. “Gue nggak bisa ninggalin Sheila sendirian di rumah dalam kondisi begitu, b**o!”
Oh … kirain.
“Tapi gue nggak bisa biarin Sheila tau kalo gue curiga sama klubnya yang aneh itu,” kataku. “Dia lebih baik mati daripada klubnya ada apa-apa. Emang dasar nggak jelas!”
“Cewek nggak jelas itu adik gue,” sahut Rian dingin. “Mending gue restuin aja sama Nando daripada lo.”
Cih, Nando? Cowok belagu begitu aja banyak yang naksir. Apa yang dibanggain dari cowok-berketek-wangi? Sial, aku cemburu!
“Dahlah! Gue sendirian aja, lo jaga Sheila di sini.” Aku mengambil kunci mobilku. “Jangan kasih tau dia, awas lo!”
“Kabarin gue secepatnya.”
“Yoi! Gue cabut!”
Tak perlu memakan waktu lama, akhirnya sampai juga aku di sekolah.
Di sana semuanya sudah gelap. Hanya ada beberapa tempat dengan lampu yang redup, seperti di lobi dan ruang satpam.
Aku memarkirkan mobilku di bawah pohon dan berjalan ke ruang satpam. Di sana Pak Su sedang sibuk membuka-buka dokumennya.
“Permisi, Pak.” Aku mengetuk jendela dan Pak Su langsung terkejut.
“Kenapa malam-malam kemari?” Pak Su keluar sambil mengenakan topinya. Dia sudah mengenalku, pastinya. Siapa lagi yang berani keluar-masuk sekolah seenaknya kalo bukan aku?
“Sekolah dibuka malah bolos, sekarang ditutup malah masuk.”
Buset! Hapal bener.
“Kangen ya, Pak?” godaku. “Saya bakal rajin, deh!”
“Masuk?”
“Bolos! Haha,” tawaku. Pak Su sudah tak tahan, ia segera kembali masuk. Aku mengikuti. “Bapak percaya hantu?”
Lagi-lagi aku menanyakan hal yang sama.
“Percaya,” jawab Pak Su singkat.
“Apa kasus hari ini ada hubungannya sama hantu?”
Pak Su terdiam sejenak. Kemudian dengan suara pelan Pak Su menjawab, “Tidak.”
Aku semakin penasaran saja. Sampai tau-tau aku sudah duduk di sebelah Pak Su dan ikut menyeruput cangkir kopinya.
“Lantas apa penjelasan untuk kasus ini, Pak?”
“Saya nggak bisa kasih banyak informasi, karena saya sendiri juga nggak tahu. Yang pasti, tidak ada hubungannya dengan hantu,” jelas Pak Su. “Mungkin kamu harus tanya kepala sekolah. Karena tadi beliau yang mengantar sampai rumah sakit.”
Aku mengangguk-angguk, kemudian tanpa dosa dan rasa sungkan, aku kembali menyeruput kopi itu. Pak Su menatapku sebal.
“Terus hari ini ada berapa orang yang luka-luka?”
“Hm…,” Pak Su mencoba mengingat-ingat, “tiga orang. Ada satu yang parah karena lengannya ditusuk pisau buah cukup dalam.”
“Siapa itu, Pak?” tanyaku. Yang pasti bukan Sheila karena aku sudah melihat lukanya.
“Cowok, dilihat dari betnya sepertinya kelas 12,” jawab Pak Su.
“Pelakunya sudah tertangkap?” Tiba-tiba aku berpikir bahwa diriku mempunyai potensi untuk menjadi wartawan. Keren juga.
Pak Su mengangguk. “Dia perempuan, masih kelas 10. Sekarang sedang di rumah sakit, karena tadi sempat menusuk perutnya sendiri.”
“Nusuk perutnya sendiri?” Aku ternganga. “Terus, terus, Pak?”
Pak su memundurkan badannya karena tanpa sadar aku terlalu mencondongkan diriku. “Ehem, ya sudah begitu saja.”
Aku kecewa. “Nggak ada bagian yang lebih seru lagi, Pak?”
Pak Su menggeleng. “Cuma itu aja yang seru.”
Ups, ternyata Pak Su pun merasakan hal yang sama denganku bahwa kejadian ini ada serunya juga.
Tapi ini semua tidak menjawab rasa penasaranku. Aku kembali ke mobil dan duduk sebentar sambil menikmati semburan dingin dari AC mobil.
Aku mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan singkat untuk Theo yang sudah kuabaikan sejak sore tadi.
Thanks infonya.