“Udah, woy, udah!” Akhirnya aku berhasil meretas sistem sekolah untuk iseng-iseng merubah soal ujian harian yang kini berbasis komputer daripada kertas.
“Soal nomer lima ganti, woy!” teriak Natha. “Soalnya nggak ada di Brainly!”
Natha dari belakang langsung berlari semangat dan duduk di sebelahku. Dia mencari soal-soal yang sudah ada jawabannya di Brainly, kemudian menganti soal tersebut di sistem sekolah.
“Lima menit lagi!” teriak Andre dari ambang pintu kelas, berjaga-jaga jika ada guru yang mendengar.
“Beres, udah!”
Saat itulah Bu Luk masuk dan siap memulai ujian.
Aku melirik Rian yang wajahnya bete habis-habisan. Gimana enggak? Dia menghabiskan semalaman untuk belajar di saat satu kelas mengandalkanku.
Aku menyenggol lengan Rian dan melemparkan tatapan, nanti-gue-traktir-lo-ke-Starbucks.
Dia membalas, gue-hajar-lo-habis-ini.
Aku hanya menyengir.
Usai ujian, aku berjalan di lorong bersama Andre. Lebih tepatnya, kami membolos pelajaran sejarah.
Memangnya siapa yang mau mendengarkan masa lalu selama hampir satu setengah jam?
Siang itu lorong sedang sepi-sepinya. Saat kami melewati bagian loker, aku menangkap wajah Elisa yang tampak pucat. Dia berdiri di depan lokernya dan termenung sendirian.
Aku menepuk pundak Andre, mengisyaratkannya untuk, jalan duluan nanti gue nyusul.
“Hei,” sapaku sembari menepuk pelan pundak Elisa.
Dia terkejut dan sempat mundur beberapa langkah. “Duh, kaget.”
“Sori,” cengirku kebiasaan. “Ngapain ngelamun? Kata Pak Su, lorong sekolah kita angker banget, lo bisa kerasukan.”
Bukannya ketakutan, dia malah tertawa pelan. “Jaman gini masih percaya begituan?”
Sialan. Sekarang justru aku yang tampak bodoh.
“Bagus deh kalo nggak percaya,” kataku.
Dia hanya tersenyum tipis, tetapi matanya justru menyiratkan hal lain. Elisa tampak tak sehat. Bibirnya pucat. Persis saat pertama kali aku menemukannya tergeletak di kamarnya.
“Lo pasti belum makan ya?” tanyaku.
“Ha? Oh, hm…,” dia terdiam sejenak, “terakhir makan kapan ya?”
Duh! “Ayo ke kantin.”
Tanpa persetujuan darinya, tau-tau aku sudah menarik pergelangan tangannya dan menyusuri kantin. Elisa hanya diam sambil terus mengikutiku, tak ada perlawanan.
“Lo mau makan apa?”
Elisa menggeleng. “Nggak usah, deh. Gue nggak papa.”
Aku mengabaikan perkataannya dan langsung memesan semangkuk bakso, yang biasa dia pesan.
Aku memang semaunya sendiri.
“Nih, makan dulu,” kataku setelah kami duduk di salah satu bangku kantin.
Karena mungkin sungkan sudah kubelikan makanan, akhirnya dia terpaksa memakannya. Sementara itu, aku hanya diam dan memerhatikannya.
Keadaan kami saat ini mungkin akan membuat banyak orang salah paham. Bisa-bisa mereka membuat julukan baru cowok-tampan-yang-mencampakkan-ceweknya-tetapi-akhirnya-dipepet-lagi untukku. Wah, bisa berabe! Kalau Rian sampai tahu, hilanglah restunya untukku.
Tetapi aku juga tidak bisa membiarkan Elisa dalam kondisi begini. Walaupun aku berengsek—yang bahkan bisa dikategorikan sebagai fakboi terdahsyat di tahun ini—tetap saja hati kecilku tak tega.
Karena kesalahanku pula Elisa jadi begini.
Oh, ya Tuhan.
“Lo bisa anter gue ke UKS? Kepala gue pusing banget.” Suara Elisa melemah.
“Oke.” Aku membantunya berdiri dan membopongnya pelan ke UKS.
Sampai di sana, ada petugas yang langsung memeriksa kondisi tubuh Elisa. Aku hanya bisa mengantarnya sampai pintu UKS, karena petugas UKS tidak membolehkanku untuk menunggu. Masih jam pelajaran, begitu katanya.
Oke, fine. Aku hanya akan memastikan Elisa baik-baik saja.
Akhirnya aku berjalan kembali. Niatku adalah ke halaman belakang sekolah di mana Andre sudah menungguku dan siap memaki-maki jika sampai pelajaran berakhir aku belum datang, tetapi tak tahu bagaimana, aku justru berakhir di depan pintu ruang paduan suara.
Tak ada siapa pun. Pintunya terkunci dan terlapis kaca film yang cukup gelap, sehingga aku harus mendekatkan mataku untuk bisa melihat tembus ke dalam ruangan itu.
Saat itu suasananya sangat lengang. Hanya terdengar bisikan pelan sang angin. Yep, ruangan padus ini terletak di lantai paling atas sekolah kami, lantai tiga. Jadi tak heran jika di sini anginnya terkadang sangat kencang.
Karena tak bisa mengintip dengan jelas, aku berniat putar balik saat tau-tau aja ada seseorang menyentakku dengan keras, “Woy!”
“k*****t!” Ups, itu latah yang tidak keren sama sekali.
Ternyata David sialan yang berani menyentakku.
“Ngapain lo di sini?” Wajahnya curiga, seolah-olah aku memang berniat mencuri sesuatu di ruangan padus, yang menurutku ruangan itu tak pantas dicuri oleh hacker sepertiku.
“Lo sendiri ngapain?” balasku tak kalah sengit.
“Gue tim padus, b**o. Lupa lo?” David berjalan melewatiku dan membuka ruang padus itu dengan kunci mungilnya.
Tiba-tiba saja ide cemerlang terlintas di otakku yang tak b**o-b**o amat. Aku mengikuti David saat dia masuk ke ruang padus. Butuh waktu lama, David baru sadar.
“Lo kok ikutan masuk?”
Aku mengendikkan bahu. “Kirain lo bukain pintu buat gue.”
“Enak aja! Keluar!” David mendorong tubuhku untuk segera keluar.
“Lo nggak takut sendirian di sini?” pancingku. “Gue denger-denger tempatnya angker, nih.”
David berhenti mendorongku. Sepertinya kalimatku sukses membuatnya terdiam.
Tanpa menunggu balasan David, aku justru semakin seenaknya sendiri menelusuri ruang padus.
“Pasti itu tempat yang kemarin ada ajang pembunuhan, kan?” tunjukku ke kamar istirahat di pojok belakang.
David mengangguk kaku. “I-iya.”
Weh! Padahal aku asal nunjuk aja. Memang hoki!
“Tapi lo emang beneran nggak boleh ada di sini,” kata David. “Gue bisa dimarahin kapten!”
Aku memasang ekspresi santai. “Si judes itu? Tenang aja … dia tunduk kok sama gue.”
David mengernyit.
“Yang lebih penting,” lanjutku berbisik pelan, “lo nggak penasaran sama apa yang terjadi belakangan ini?”
Dari tampangnya, aku bisa mengetahui jawaban David. Dan aku langsung cengo.
“Lo nggak mikir ini ulah hantu, kan?!”
David langsung menyembunyikan ekspresi malunya, seperti barusan tertangkap basah, “Elo kali yang percaya!”
“Gue? Gue malah percaya kalo yang ngelakuin hal ini adalah anggota padus sendiri,” kataku santai.
“Maksud lo?” David tersinggung. “Kalo ngomong jangan asal nyeblak, deh!”
“Kayak lo nggak tau tabiat gue aja.”
“Jadi,” David melanjutkan, “apa yang ngebuat lo mikir ini semua ulah anggota padus?”
“Hm…,” aku pura-pura berpikir, “lo pikir gue t***l ngasih tau lo? Lo kan termasuk anggota padus.”
Lagi-lagi David tersinggung. Dasar cowok baperan! Nggak sekeren namanya.
“Dahlah, gue cabut.” Ternyata setelah masuk pun aku tak menemukan apa-apa yang aneh, kecuali ruang istirahat yang masih terlihat berantakan.
“Tunggu!” David menghadangku. Si kunyuk satu ini rupanya masih penasaran dengan omonganku. Sudah tau aku nyeblak, masih aja dipercaya.
“Kalo ini ulah kami, gimana caranya lo jelasin kasus kerasukan itu?” tanyanya.
Aku menyingkirkan wajah David dari pandanganku. “Ya lo tinggal beli obat yang bisa bikin halusinasi. Gitu aja repot!”
“Obat?” David bergumam sendiri.
Tak lagi mengindahkannya, aku langsung ngacir keluar sebelum si i***t itu menghadangku lagi.
Obat…?
Aku benar-benar tak tahu apa yang mendasariku berkata demikian pada David. Bahkan aku belum memikirkannya sejauh itu. Mungkin benar jika aku menaruh rasa curiga pada anggota padus, tetapi masalah obat…?
Woah! Beginilah hasilnya jika aku memakai otakku terlalu lama. Eror!