[SHEILA] Ada Pengkhianat di Sini

1308 Words
Sebelum latihan paduan suara dimulai, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi Dion di rumahnya. Kami datang sambil membawa banyak makanan, buah, bahkan uang ucapan terima kasih lo udah mau berkorban demi kami. Dion ternganga begitu kami, seluruh tim inti Harmony Voice, berbondong-bondong datang ke kamarnya. "Gue jadi pengin sakit biar dapet uang," celetuk Mikel. "g****k!" seru Theo dan David bersamaan. "Canda doang, elah! Serius amat kayak p****t Dani yang kalo dipukul langsung mengkeret," cibir Mikel. "Anjir, apa hubungannya?" tanya Dion. Sebelum Mikel sempat menjawab, Audy sudah menyela, "Kalian nggak usah bikin huru-hara dulu, dong. Kasian Dion jadi nggak bisa istirahat, nih!" Kami semua saling melirik. "Bener, kan! Mereka tuh ada apa-apa. Lo pada nggak percaya gue, sih!" Rita membela diri karena kami semua sempat tak memercayai gosipnya. "Sejak kapan?" tanya Trisy. "Udah jadian atau masih tahap ngecengin?" Kini giliran David yang bertanya. "Kok lo mau sih sama Dion?" Mikel ikut menyaut. "Gue ditolak. Sama Dion lo mau. Padahal gantengan gue, tajiran gue." "Apanya yang tajiran elo?" Dion tak setuju. "Ferrari gue nambah satu, F-Y-I." "Halah, gitu doang gue juga bisa," balas Mikel santai. Aku lupa menjelaskan bahwa Mikel dan Dion sama-sama menyukai mobil Ferrari. Entah itu suatu kebetulan atau tidak, mereka juga sama-sama menyukai Audy. Sayangnya, Mikel pernah tertolak lantaran Audy lebih menyukai Dion. Aku tak bisa menjelaskan bagaimana hubungan Mikel dan Dion saat ini, yang kutahu mereka sering cek-cok, tetapi terkadang juga saling bercanda bersama. Ah, sudahlah. "Kap, berhubung tangan gue lagi diperban gini dan sakit kalo digerakkin, gue gimana ngiring kalian nyanyi?" tanya Dion dengan bersalah. "Lo sembuhin dulu tangan lo. Urusan piano gue bisa gantiin," kataku bijak. "Theo, lo yang dirigen, ya." "Siap, Kap!" kata Theo. "Makasih dan sori ya," kata Dion. "Kami yang harusnya terima kasih. Kamu sudah berkorban gitu," balas Karina. "Betul!" sahut Audy. "Thanks, guys." Dion tersenyum lebar. Setelah mengabiskan satu jam di rumah Dion, kami semua kembali ke sekolah untuk memulai latihan. Tapi lagi-lagi... "Kok pintunya kebuka?" tanya David kebingungan. "Seharusnya gue yang tanya," kataku ikut bingung. "Lo kan yang pegang kunci." David merogoh sakunya, kemudian merogoh saku yang lain. Dia menatapku panik. Lalu menepuk-nepuk semua kantong celananya. Tak hanya itu, dia pun mengeluarkan semua isi tasnya. "Nggak ada!" kata David panik. "Daviiiid!!!" teriak Rita. "Kok bisa hilang, sih!!!" "Tadi ada sama gue!" aku David. "Beneran!" Aku ikutan panik. "Kita masuk dulu, deh! Liat apa ada yang hilang." Kami semua akhirnya masuk dan melihat semuanya dalam keadaan yang berantakan. Beberapa properti rusak. Isi mading juga tersobek-sobek tak beraturan. Ini bar-bar! Rasanya kepalaku ingin meledak saat ini juga. Bayangkan sebuah teko panas yang dididihkan terlalu lama, akhirnya meledak. Seperti itulah aku saat ini. "b*****t!" teriak Mikel. "KENAPA LAGI INI WOY!" Dia mengambil kertas dengan tinta merah yang tersebar hampir ke seluruh ruangan. "Teror lagi!" sahut Theo meremas kertas tersebut. "Astaga..." Karina ikut mengambil kertas teror itu. Inilah saatku meledak... "DAVID!" Eh...? Itu bukan aku, melainkan suara Trisy. "GARA-GARA LO NGGAK BECUS JADI KEAMANAN!" teriak Trisy yang sepertinya jauh lebih marah dari aku. Hei! Ini menyakiti harga diriku! Seharusnya aku yang meledak, kenapa tau-tau jadi Trisy? Begini kan aku jadi seperti cewek lemah yang nggak responsif ketika klubnya di teror! Tak mau kalah, aku pun ikut meledak. "Bener! Kok bisa sih lo nggak becus?!" David gelagapan. "Sumpah demi apa pun, gue yakin tadi ada di dalam tas!" "Sekarang kuncinya ke mana?" Theo ikut-ikutan. "Ya mana gue tau! Di tas nggak ada!" David berusaha membela diri. "Gue tadi olahraga, tas gue ada di kelas. Ya pada saat itu ilangnya!" "Itu artinya elo nggak becus!" Suara Rita menyaring. "Sudah, guys, tenang dong...." kata Karina dengan raut wajah khawatir. Dasar Karina! Dia tidak tahu situasi apa yang terjadi saat ini. Bagaimana kami bisa tenang?! Teror itu kembali terjadi! Seratus persen aku yakin ini ulah anak-anak g****k yang gagal seleksi itu! Tak ada yang menggubris perkataan Karina, semuanya malah semakin menyudutkan David. Begitu pun aku. Saat itu kami semua sedang kalap, sehingga tak mampu berpikir jernih. "Lo semua nuduh gue?!" David akhirnya ikut meledak. "Tanpa dengerin penjelas gue, lo langsung nuduh ini semua salah gue? DANGKAL tau nggak sih pikiran lo! Kayak lo nggak pernah bikin dosa aja!" "Apa? Dangkal?" Theo tak setuju dan tersinggung. "Di sini lo yang salah! Kalo aja lo nggak ceroboh, ruangan ini masih aman! Properti nggak ada yang rusak! Nggak ada teror macam begini!" Kalimat terakhir Theo sedikit mengusikku. Mengesampingkan kasus hari ini, pada saat itu juga saat pintu terkunci, teror pun tetap datang ke ruang padus. Ingat kan waktu itu kami juga pernah mendapatkan kertas-kertas teror berserakan di ruang padus? Tapi aku tak bisa membela David, karena saat ini aku justru sedang naik kapal yang sama dengan Theo. Begitu pun yang lainnya. "Sebelum lo berlagak sok suci tuh ngaca! Gara gara ide lo juga yang bikin semua ini terjadi!" David tiba-tiba saja sudah ada di hadapan Theo. "Kalo bukan karena ide kisah horor ruangan padus, semua ini nggak akan terjadi!" Kemudian dia menatap kami semua. "Lo semua sadar nggak sih, gara-gara ide Theo dan semenjak dia menceritakan kisah horor itu, kita sering dapet kejadian mistis!" lanjut David. "Siapa yang harus disalahin?" Kini semua mata memandang Theo. "Kok jadi gue?!" Theo melotot. "Bukan gue yang maksa kalian setuju sama ide gue!" "Tapi itu bener juga," kata Rita. "Semua ini terjadi setelah Theo menceritakan kisah horor itu!" "David juga salah! Seharusnya dia lebih teliti lagi. Udah tau ruang padus terancam, masih aja bisa kehilangan kunci!" sahut Mikel. Saat itulah David melayangkan tinjunya ke rahang Mikel. "k*****t! Mulut lo harus dihajar!" Dia menonjok Mikel lagi. Tak mau kalah, Mikel membalas David dengan menonjok pelipisnya. David mengerang. Dia juga menendang perut David. "b******n!" "STOP!!!" teriakku. "BERHENTI LO BERDUA!!!" Mereka mengabaikanku dan semakin asik menonjok satu sama lain. "Aduh, gimana iniii?!" Rita bukannya membantu, malah makin membuat kami semakin kebingungan. Theo berusaha melerai dengan menarik Mikel menjauh, tapi justru dia yang terkena hantaman David. "b*****t!" teriak Theo kesakitan. Dan akhirnya mereka bertiga saling memukul satu sama lain. Karina dengan sigap langsung turun ke bawah dan memanggil guru di kelas terdekat. Kemudian guru tersebut berhasil melerai mereka bertiga. "Kalian semua ikut bapak!" kata Pak Dheni, yang kebetulan guru BK. Setelah ketiga cowok itu keluar dari ruangan padus, kami yang tersisa saling menatap satu sama lain. "Kok jadi gini ya?" tanya Trisy dengan suara lemah. "Pertama kali gue liat tonjok-menonjok secara live. Dan ternyata asik juga," balas Rita. Aku menghela napas panjang. Saat ini rasanya kepalaku pusing sekali. Kami semua belum berlatih dengan benar, sedangkan perlombaan sudah semakin dekat. Waktu kami habis hanya untuk mengurus kejadian aneh akhir-akhir ini. Aku benar-benar bisa mati kalau kami sampai gagal mengikuti perlombaan bergengsi itu. Tak sudi aku meninggalkan SMAHI dan Harmony Voice dengan nama yang tak harum. Sekali lagi garis bawahi, TAK SUDI! Aku harus segera mencari jalan alternatif yang bisa menyelamatkan klub padus! "Sheil, kamu nggak papa? Kamu diem aja dari tadi," kata Karina khawatir. Melihat Karina, entah mengapa hatiku sedikit tenang. Gadis manis itu selalu ada untukku di saat-saat sedih maupun senang. Dia juga yang selalu menyemangatiku. Mungkin tanpa Karina aku akan benar-benar gila. Dengan ketenangannya, dia mampu membuat amarahku mereda. Rasa panas di hatiku pun padam begitu dia bertindak tenang. "Aku tahu kamu khawatir sama klub padus, tapi aku yakin kamu bisa! Kamu kan Sheila Ivyana! Kejadian kayak gini nggak akan membuatmu lemah!" kata Karina dengan semangat. Benar, aku Sheila Ivyana! Kejadian ini tak akan menghentikanku untuk terus maju! Aku langsung memeluk Karina. "Thanks banget, Rin. Gue nggak tau kalo nggak ada elo bakal gimana." Karina tersenyum sambil mengusap-usap punggungku. "Sekarang kita rapikan ruang padus, yuk. Setelah itu kita tenangin diri dulu di rumah masing-masing. Aku akan kasih tau seluruh anggota untuk berlatih sendiri." Begitulah keputusan akhirku. Aku perlu berpikir jernih agar bisa mencari jalan alternatif. Berada di ruang padus ini, entah mengapa hawanya terus mendesakku untuk meluapkan amarahku. Harus kuakui, aku mulai menyalahkan tempat ini dan menyetujui keangkerannya!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD