Ini gila!
Baru saja Nando mengirimiku pesan! Katanya dia ingin makan malam denganku. Baru saja dia mendapat rekomendasi tempat bagus dari temannya.
Oh, ya Tuhan!
Ini artinya… kami date?
Aku harus tampil sempurna malam ini!
Aku membuka lemari dan langsung mencari baju yang cantik. Di dalamnya banyak baju baru yang belum kupakai, bahkan labelnya masih ada. Baguslah, jadi aku tak perlu repot-repot keluar dan hanya fokus untuk mempercantik diri.
Jam tujuh Nando akan menjemputku.
Itu berarti… Kak Rian! Jangan sampai Nando tahu kalau di sini ada Kak Rian juga!
Segera aku keluar kamar dan malah menabrak tubuh seseorang di depanku.
“Hobi baru nabrak orang ya?”
Tunggu dulu! Aku kenal suara ini.
“Elo!” Aku terkejut. “Ngapain lo di sini?”
Lagi-lagi si hacker-yang-ternyata-kerjaannya-menganggur-dan-mendatangi-rumah-orang-seenaknya.
“Main sama Rian lah! Emang main sama lo?”
Dih! Ogah juga aku main dengannya. Tak ada untung.
“Kak Riaaaaann…!”
Aku meninggalkan si bodoh itu dan mencari Kak Rian di kamarnya.
“Apa?” tanya Kak Rian.
Aku menutup pintu kamarnya agar tak didengar oleh si kutu kupret itu. Omong-omong, banyak sekali julukannya.
“Nando mau ke sini jam tujuh,” kataku tanpa basa-basi. “Jangan sampai ketahuan ya.”
“Mau ngapain kalian?”
Aku menyengir lebar. “Date dong. Apalagi?”
“Di mana?”
Sumpah, deh! Kak Rian protektif banget, sih!
“Ada restoran gitu. Rekomendasi temennya.”
Kak Rian berpikir sejenak, kemudian, “Perlu gue aja yang anter?”
Spontan aku justru tertawa. “Apaan, sih? Yang mau date tuh Nando sama gue, bukan Rian sama gue.”
Kak Rian mendengus, kemudian mengangguk mengizinkan.
“Tapi…,” lanjutku, “si kunyuk t***l itu ngapain sih sering main ke sini? Kayak nggak punya rumah sendiri aja.”
“Nggak tau, tuh. Rumahnya tenggelam kali.”
Kukira Kak Rian akan membelanya, tetapi justru aku yang dibela.
Kemudian terdengar suara keras dari ruang tivi.
“Yaaaan! Xbox lo di manaaa???”
Kak Rian langsung keluar dan meninggalkanku sendiri.
Memang dasar tak tahu malu. Numpang nge-game di rumah orang. Datang tak diundang, pergi tak diantar. Dibandingkannya, Jelangkung jauh lebih baik.
Ponselku tiba-tiba berdering. Nama Nando terpapar jelas di layar.
“Halo, Nando,” sapaku setelah beberapa kali cek sound.
“Hai, Sheil. Um, sori banget. Kayaknya aku nggak bisa jemput kamu, deh. Kalo ketemuan di restonya langsung, bisa nggak? Nanti aku bagi alamatnya,” kata Nando yang mengundang kekecewaanku.
Tapi tak apa. Aku bukan cewek manja, aku bisa berangkat sendiri, kok. Yang penting masih bisa date sama Nando.
Aku tahu apa yang kalian pikirkan. Sheila Ivyana ternyata seorang bucin. No! Kalian salah. Aku tidak bucin, aku hanya kelewat memegang teguh sebuah prinsip kalo lo mau, lo usaha, yang tau-tau aja justru menjerumuskanku ke ambisius.
Sekali lagi, itu tak apa. Toh, ini positif. Tak ada yang keberatan dengan keambisiusanku. Justru semua berjalan lancar. Tanpa rasa ambisiusku, Harmony Voice tak akan meraih penghargaan sebanyak ini. Tanpa rasa ambisiusku, aku tak akan jadi populer seperti saat ini.
See? It works good!
Setelah semua siap, aku mengambil kunci mobil yang tidak dengan bagusnya terletak di depan TV, yang membuatku harus melewati dua cowok yang sedang heboh-hebohnya bermain Xbox.
Kak Rian langsung peka saat aku mengambil kunci mobil. “Katanya dijemput?”
Harus banget ya ngomong di depan si tengik itu? Jadi malu aku. Seperti cewek populer yang ditelantarkan.
“Nggak jadi,” jawabku singkat kemudian buru-buru keluar sebelum diinterogasi Kak Rian lebih jauh.
Sampai di pintu mobil, si tengik itu merampas kunci mobilku secara paksa.
“Gue yang anter,” katanya dan tanpa izin langsung menduduki kursi pengemudi.
Otomatis aku menyentaknya, “Enak aja! Mobil gue ini!”
Dia menurunkan kaca mobil. “Tau. Mobil gue ada di luar. Mau naik mobil gue aja?”
Sialan. Pintar sekali dia berbicara.
Memasang wajah cemberut, aku akhirnya masuk ke mobil dan duduk di samping si tengik itu. Sedangkan Kak Rian malah dengan santainya menyandar di ambang pintu dan memerhatikan kami.
Bukannya membantu, Kak Rian justru bilang, “Hati-hati di jalan, coy!”
Haish, dasar kakak pengkhianat!
“Kenapa si pengecut k*****t itu nggak jadi jemput lo?” tanya si tengik yang menurutku justru si pengecut k*****t itu.
“Pengecut k*****t itu justru elo! Seenaknya sendiri!” kataku tak sudi mendengar Nando dibilang pengecut k*****t oleh si pengecut yang paling pengecut di antara orang k*****t lainnya.
“Gue kan pangeran tampan, wajar kalo seenaknya,” katanya memasang senyum t***l.
Aku mengutuki diriku sendiri karena menempatkan diri di situasi aneh bersama si tengik Kevin ini.
“Heran deh gue. Kenapa Karina yang istimewa itu bisa suka sama elo yang bahkan dibandingin sama Jelangkung gue lebih milih Jelangkung?”
Bukannya tersinggung, Kevin justru bangga. “Ya kan gue tampan jadi banyak yang suka, deh.”
Ya, kan? Bahkan jawabannya tidak nyambung sama sekali.
“Terserah lo deh.”
Akhirnya kami sampai di restoran yang disebutkan oleh Nando. Ternyata Nando sudah menungguku di depan pintu masuk.
Aku ternganga. Nando tampan sekali! Sepadan dengan diriku yang tampil sempurna malam ini!
Dia mengenakan kemeja berwarna abu-abu dengan dua kancing di atas terbuka dan lengan kemeja yang dilinting, menampilkan jam tangan Alexandre Christie keluaran terbaru. Gayanya kasual dan dewasa.
Ah, jantungku seperti siap meloncat keluar.
Nando melambaikan tangan kepadaku dan aku segera berjalan cepat ke arahnya. Untungnya si tengik Kevin tidak menampakkan dirinya dan lebih memilih stay di dalam mobil, sehingga aku bisa bilang, “Aku diantar sopirku.”
Restoran ini sangat romantis. Kalau bisa kudeskripsikan singkat, tempat ini adalah restoran apung. Tau kan gimana romantisnya?
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Nando membuka pembicaraan. “Aku dengar, ada insiden di ruang padus ya?”
Bukannya apa, tetapi aku berharap tidak ada orang yang tahu masalah itu. Tetapi rasanya tak mungkin, karena itu adalah insiden yang besar sampai melibatkan tiga orang terluka. Bagaimana mungkin tak menyebar?
“Yah…,” aku mengangguk kecil, “aku baik-baik aja, cuma tergores kecil.”
Nando mengernyit saat melihat lenganku yang masih dibalut perban. Sebenarnya lukanya sudah membaik, tetapi agar lebih mendramatisir, jadilah aku tetap memakai perban.
“Lain kali kamu hati-hati ya,” ujar Nando bersimpati.
Pipiku memang tak tahu diri. Mendengar ucapan begitu saja sudah merona. Memalukan.
“Oke,” kataku senang. “Tapi kamu inget nggak aku pernah cerita kalau dulu ada kasus kertas teror di ruangan padus?”
Nando mengingat-ingat. “Yang dari anak-anak gagal seleksi itu?”
“Iya, tadi sore kami kedapatan insiden yang sama. Tapi kali ini lebih parah. Banyak properti yang dirusak juga.”
“Kok bisa? Pintunya nggak terkunci?”
Apa kubilang? Begitu mendengar hal ini, pikiran yang pertama kali muncul adalah pintu. Yang mana itu adalah tugas David.
“Pintunya terbuka begitu kami sampai,” jelasku. “David kehilangan kuncinya saat jam olahraga.”
“Dia nggak seharusnya teledor,” tambah Nando.
Aku mengangguk kecil dan menikmati salmonku. Ini benar-benar enak! Kukira aku sudah mencoba semua restoran di sini, ternyata ada satu yang kelewatan.
“Kamu masih berpikir kalo ini juga merupakan ulah anak-anak yang gagal seleksi itu?” tanya Nando lagi.
“Iya, dong. Siapa lagi?”
Nando seperti ingin membantah, tetapi diurungkannya. Aku mengernyit. “Menurutmu bukan?” tanyaku.
Nando menatapku seraya berkata, “Tapi kamu jangan tersinggung ya, apa pun yang kukatakan murni opiniku aja,” kemudian ia melanjutkan, “menurutku terlalu kelewatan jika itu adalah ulah anak-anak yang gagal seleksi. Mereka nggak akan menghabiskan waktu untuk berbuat sesuatu yang nggak akan merubah mereka yang gagal jadi lolos seleksi.”
Aku tak yakin aku mengerti apa yang diucapkannya. “Jadi maksud kamu?”
Nando menyipitkan matanya, “Maksudku, akan lebih masuk akal jika itu adalah perbuatan anggota paduan suara sendiri.”
Aku tercengang. Bukannya aku merasa marah atau terhina ya, hanya saja pemikiran itu sama sekali tak terlintas di otakku.
Melihat responsku, Nando buru-buru meminta maaf. “Aku beneran nggak maksud apa-apa. Opiniku sebatas opini, nggak ada buktinya juga. Sori kalo kamu tersinggung. Mungkin aku kebanyakan nonton film misteri.”
Aku hanya tersenyum tipis dan lanjut melahap makananku tanpa selera.
Hampir satu setengah jam kami menghabiskan waktu bersama (setengah jamnya habis terbuang untuk membahas kasus paduan suara sehingga aku kehilangan sedikit waktu untuk pembicaraan romantis kami), hingga tiba-tiba saja Nando harus segera pulang karena ada urusan mendadak di rumahnya.
“Aduh, maaf banget, Sheil. Aku juga nggak bisa nganter kamu pulang,” kata Nando bersalah.
Aku berusaha menutupi ekspresi kecewaku dengan senyuman lebar. “Aku bawa mobil, kok. Nggak papa. Makasih buat malam ini.”
Nando melambaikan tangannya padaku. “Aku juga makasih. Kamu hati-hati di jalan, ya.”
Aku tersenyum melihat punggungnya yang perlahan menjauhiku dan akhirnya tak terlihat lagi.
“Sekalinya berengsek tetep berengsek.”
Aku terkejut dan menolehkan kepalaku ke samping.
“Mending gue, kan?” tanya Kevin memasang tampang sok keren.
Karena sedang tak ingin berdebat, aku mengabaikannya dan langsung berjalan ke mobilku.
“Lah, tungguin gue, Lak!”