[KEVIN] Ada yang Aneh dengan Elisa

1740 Words
Tiga bocah i***t ini sedang mendengarkanku dengan antusias. Kami sedang duduk di ruang tamu sambil menonton film Kungfu Panda 3. Ini merupakan guilty pleasure kami, cowok-cowok ganteng dan keren yang hobi menontong kartun. Tapi apa pun itu kartun lebih keren ketimbang film action yang cuma bisa melompat dari atap gedung ke atap lainnya, terus jatuh ke atas mobil, mengeluarkan pistol dan saling menembak. Huh, membosankan. Sama sekali pertarungan yang tidak kreatif. Ini hanyalah keberanian kami di luar sekolah. Kalau anak-anak di kelas sampai tahu, habislah aku menjadi bahan ejekkan. Oke, kembali ke topik awal. Aku sedang menceritakan kejadian di ruangan padus. Mau bagaimanapun kejadian itu masih melekat dalam pikiranku. Jeritan, aura menyeramkan, ekspresi wajah, dan bunyi retakan tulang. Saat itu yang ada dalam pikiranku hanyalah diam dan menonton hingga akhir. Aku tahu sikapku gila, dan berkat Sheila aku baru bisa berpikir untuk menelepon satpam. Aku tahu jelas bagaimana ketakutan anak-anak saat menyaksikan adegan itu, bagaimana mereka menahan agar tidak bertindak konyol, dan Sheila yang mungkin saat ini sedang stres harus menenangkan anggota-anggota lainnya. Sejak perjalanan pulang, Sheila banyak diam. Mungkin sedang memikirkan apa yang terjadi pada ekskulnya yang paling dibangga-banggakan itu. Apalagi kasus yang menimpa ekskulnya beberapa hari yang lalu, surat-surat ancaman. Berita itu sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Tapi mungkin memang benar. Kalau menurutku pribadi, yang bukan merupakan anggota padus, aku merasa tingkah laku mereka memang terkesan arogan. Mereka meninggi-tinggikan kelas mereka sehingga enggan untuk berbaur dengan siswa lainnya. Kalau bukan sesama anggota padus, mana mau mereka berbaik hati pada siswa lainnya? Apa karena efek dari kejuaraan-kejuaraan serta kepopuleran Harmony Voice di luar sana yang membuat mereka jadi sombong dan membangun tembok sendiri? Sebenarnya aku nggak peduli. Aku hanya peduli tentang cewek itu. Mendengar mereka semua mengatakan bahwa Sheila sombong membuatku marah. Namun aku tidak bisa, karena itu memang fakta. "Terus sekarang keadaannya gimana?" tanya Andre. "Dia harus opname karena patah tulang," jawabku menyisakan kengerian di dalam hati. Andre meringis, membayangkan dirinya jika patah tulang. "Gila. Tuh ruangan emang angker. Yang nggak, Nath?" Natha mengangguk cepat. "Iya, emang. Tapi untunglah dibantu si satpam." "Gue sih nggak percaya." Aku melirik cowok yang sedari tadi tampak tenang sambil menonton filmnya. "Mana ada hantu." "Ada!" sahut Natha tak ingin kalah. "Buktinya dia kesurupan." Rian tertawa mengejek. "Bisa dijelaskan secara psikologi." "Oh ya? Gimana tuh?" Kini Andre yang menyerang. Rian masih terlihat santai tanpa menengok ke arah kami. Masih terpaku menonton adegan Po bertemu ayahnya. "Keadaan stres atau depresi bisa memicu halusinasi. Atau akibat rasa bersalah yang mendalam. Akhirnya otak tidak bisa mengontrol dan efeknya menyerang mental. Mental disorder." Masuk akal juga. Bukan berarti aku percaya hantu. Aku juga memikirkan hal yang sama dengan Rian. Sheila juga. Hanya Natha dan Andre yang bersikeras itu semua ulah makhluk gaib. "Gue setuju, secara tadi si satpam yang ngakunya bisa melihat dunia lain bilang kalo ruangan itu nggak ada apa-apanya." Kini giliranku yang mendukung ucapan Rian. Sheila tiba-tiba muncul dengan raut datar sebelum Natha dan Andre menyerang kami lagi. Aku menatap ke arahnya yang ternyata berjalan mendekati kami. Ia lalu duduk di samping Rian, yang mana berarti dia duduk di antara aku dan Rian. Padahal biasa saja, tetapi jantung keparatku beraksi lagi. "Kenapa?" tanya Rian bingung. Jarang-jarang adiknya itu bergabung dengan kami yang notabenenya anak-anak rame yang siap ngancurin rumah orang. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Rian, membuat kami semua melongo lebar. Yang bersangkutan biasa aja, seperti hal ini sudah biasa mereka lakukan. Sial, tentu saja. Mereka kan adik-kakak. Kenapa aku harus cemburu? "Apa liat-liat? Nggak pernah liat adik-kakak semanja ini?" Mendengar Sheila berkomentar, kami buru-buru mengalihkan pandangan jika tidak ingin disembur dengan ucapannya yang pedas. Tapi mendebarkan. Sial, lupakan! "Lagi anu?" tanya Rian lirih tetapi masih terdengar di telingaku. Sheila mengangguk. "Sakit, Kak." Apanya? Apanya yang sakit? Diam-diam aku mengamati Sheila dari atas sampai bawah, siapa tahu luka-luka. Rian tertawa kecil. "Pantes manja-manja. Udah minum obatnya?" Dia mengangguk lagi. "Udah. Mending aku manja-manja kan daripada marah-marah." Apa sih? Obat apa? Maksudnya manja-manja marah-marah apa? "Tapi jangan manja-manja sama orang lain." Rian menepuk pundak Sheila. "Apalagi sama orang kepo dan cemburu di samping kiri lo." Aku terbelalak. Rian sedang memasang ekspresi menyebalkan sambil melirikku. Sadar akan hal itu, Sheila mengangkat kepalanya dan menatapku datar. "Apa?" Aku berlagak sok tidak peduli. "Jangan nguping. Urusan perempuan," sahutnya konyol. Memangnya Rian perempuan? Dasar adik-kakak sama-sama tololnya. Belum sempat kujawab, Sheila sudah berteriak girang. "Wah, Kungfu Panda! Kenapa lo semua nggak ngajakin gue nonton juga dari tadi?” Lagi-lagi kami melongo. Sheila mengaitkan kedua tangannya ke pipinya, memberi kesan dia sedang gemas. Namun bagi kami, saat ini Sheila tampak sangat imut. Sialan. Mengetahui bahwa kedua sohib tololku juga sedang mengagumi Sheila, membuatku cemburu kelas berat. Aku langsung mendelik dan mengarahkan tanganku ke leherku, mengisyaratkan mereka, jangan liat atau lo mati! Natha dan Andre langsung tertawa cekikian dan memutar kepalanya menjauhi Sheila. "Lo suka kartun juga?" tanyaku gemas. "Iya, dong. Tuh, liat, Po imut banget.” Sheila menangkap kedua pipinya sendiri dengan mata berbinar-binar. Dia menyandarkan lagi kepalanya di bahu Rian. Kalau seperti ini, Sheila yang sombong sudah tidak ada. Kini hanyalah Sheila sebagai seorang Sheila. Jauh dari kepopuleran, keangkuhan, kejudesan, kesadisan, dan semua sikap jelek lainnya. Dia kini hanyalah seorang cewek polos yang menggemaskan. Aku menggigit bibirku sambil menahan senyuman. Semoga dia bisa tetap seperti ini seterusnya. *** Seperti hari-hari biasanya. Kami­—geng Kodok Buset—duduk di pojok kantin sekolah menyantap semangkuk bakso, tentunya sambil ngecengin adik-adik kelas yang cupu. Di antara kami, Natha-lah yang paling kurang ajar dan nggak ada akhlak sama sekali. “Woi, elu! Iya, lu yang pake kacamata!” panggil Natha. “Nggak usah tolah-toleh! Ambilin Mallika, dong.” Cowok berseragam rapi dan mengenakan kacamata itu kebingungan dengan perintah Natha. Dia hanya diam sambil meremas dasinya. Sedangkan aku dan Andre saling melirik satu sama lain. “Kecap,” jelas Rian. Dari tampangnya udah keliatan banget dia menahan malu dengan tingkah Natha. “O-oh, iya, K-Kak.” Cowok cupu tersebut langsung mengambil kecap dan memberikannya pada Natha takut-takut. “Ini kecap asin, g****k!” sentak Natha. “Lu kalo denger nama cewek Mallika, kerasa asin, gitu?” Sekarang justru Natha yang tampak g****k. “Di mana-mana, nama Mallika itu adalah nama yang manis,” jelas Natha. Cowok cupu tersebut ber-oh sambil mengangguk-angguk cepat. “Ya, cepet ambilin kecap manis, b**o! Lu angguk-angguk doang mana bisa bikin bakso gue manis!” Rian menutup wajahnya malu. Dia bangkit sambil mendumel, “Rusak reputasi gue sebagai mantan ketos.” Setelah perginya Rian, barulah aku menjitak kepala Natha. “Ambil sendiri kan bisa. Cacat baru tau rasa lo.” Tiba-tiba saja ada yang menjitak kepalaku dari belakang. Sialan! “Setan,” aku menoleh ke belakang, “… cantik.” Sheila mengacungkan jari telunjuknya memberi isyarat, cepet ikut gue atau lo mati! Tanpa ba-bi-bu aku langsung sigap mengikuti Sheila dari belakang. Andre menyaringkan suaranya. “Nggak perlu pake micin buat jadi g****k, jadi bucin aja!” Kampret! Sheila membawaku ke lapangan basket, yang saat itu tak begitu ramai. Dia menyilangkan kedua lengannya di depan d**a. “Elisa kenapa?” “Apanya kenapa?” Aku menggaruk-garuk kepalaku. “Dia beberapa kali bolos latihan.” Sheila menghela napas panjang. “Gue nggak mau ikut campur masalah kalian berdua, tapi tolong dong, jangan berimbas ke padus gue. Lo nggak tau seberapa pentingnya lomba yang bakal kami ikuti?” Aku hampir tak pernah memikirkan bagaimana keadaan Elisa setelah putus denganku. Jika si cewek-judes-tapi-cantik ini tak memulainya duluan, mungkin selamanya aku tak akan pernah memikirkan Elisa. Yah, harus kuakui aku memang berengsek. “Elisa itu salah satu peran penting di padus gue. Dia bendahara dan juga sopran satu. Lo tau gimana susahnya nyari suara cewek selevel sopran satu?” “Gue kalo nyari cewek nggak pernah nyuruh mereka nyanyi dulu sebelum keterima jadi cewek gue,” jawabku enteng. “Emang nggak ada gunanya gue ngomong sama lo!” Sheila mendecak sebal dan pergi begitu saja. Emang salah ya? Sopran itu suara cewek kan? Atau jangan-jangan suara cowok? Bodoh amat! Aku mengeluarkan ponselku dan menelepon Elisa, tetapi nomornya sedang tidak aktif. Apa kejadian itu benar-benar berdampak besar pada Elisa ya? Kenapa aku jadi merasa bersalah? Tak berpikir panjang, aku kembali ke kelas dan mengambil kunci mobil di bawah kolong mejaku. Rian mengerutkan dahi sambil melemparkan tatapan, jangan macem-macem sama pelajaran Bu Cinta. Natha dan Andre yang sudah tahu gerak-gerikku tiba-tiba saja langsung berdiri dan berseru keras. “KEVIN MAU BOLOS PELAJARAN FISIKA!” Sialan! Dua makhluk tak berperasaan ini! Bu Cinta yang kebetulan sudah berada di ambang pintu kelas mendengar seruan Natha dan Andre, kemudian menatapku tajam. “Taruh kunci mobilnya,” kata Bu Cinta dingin. “Kalau mau bolos, usahakan jangan sampai saya tahu.” “Baik, Bu. Akan saya ingat selalu petuah bijak Bu Cinta. Kalau begitu, saya keluar dulu ya, Bu.” Bu Cinta menyentuh jaket yang membalut tubuhku dan menarikku ke depan kelas. “Hari ini Kevin yang akan menjelaskan pelajaran bab sembilan.” “Sa-saya???” Sorakan heboh seketika memenuhi ruang kelas, yang pasti didominasi suara tawa Natha dan Andre yang tampak sangat puas sekali. “Soal-soalnya juga suruh dia bahas, Bu!” k*****t Rian mendukung ide Natha dan Andre. Aku mengeraskan rahang dan menatap Rian, Natha, dan Andre satu per satu. Gue gorok leher kalian abis ini! *** Rumah Elisa tampak sangat sepi. Asisten rumah tangga yang biasanya sering menghabiskan waktu merapikan halaman, kini tak tampak. Aku mendorong pagar dengan dahi mengerut. Kok nggak terkunci? Begitu pun dengan pintu rumah. Pelan-pelan aku masuk dan tak melihat satu orang pun berkeliaran. Seingatku, waktu dulu masih pacaran dengan Elisa, rumah ini tampak sangat ramai dengan asisten rumah tangga. Sekarang benar-benar kosong. Auranya pun terasa dingin sekali. Pikiranku mulai kacau. “Permisi!” Tak ada yang menyahut. “Elisa?” Tetap tak ada yang menyahut. Kuputuskan untuk naik ke lantai dua, kamar Elisa. Kudorong pelan pintu kamar yang tak terkunci itu dan mendapati Elisa tergeletak lemas di lantai yang dingin. “ELISA!” Spontan aku mengangkat tubuhnya dan membaringkannya di kasur. Dia berkeringat, wajahnya pucat pasi. Sungguh, penampilannya sangat berantakan. “Lo nggak papa?” Aku menyentuh wajahnya, memastikan tak ada luka atau apa pun itu. Elisa menyentuh tanganku dan mulai menangis. Aku terkejut dengan reaksi ini. Apa tindakanku benar-benar kelewatan? “Ortu gue…,” dia terisak, “udah cerai.” Aku langsung menelungkupkan wajahnya di dadaku. Sambil mengusap-usap rambutnya, aku membiarkannya menangis agar perasaannya lebih lega. Elisa sesenggukan, tubuhnya benar-benar lemas. “Sekarang gue udah nggak punya siapa-siapa lagi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD