[SHEILA] Kejadian Mengerikan

1890 Words
Ada yang aneh dengan Kak Rian. Semenjak aku keluar kamar, dia terus menatapku heran. Dahinya semakin mengerut ketika kami berdua sarapan. Tak tahan diperhatikan seperti itu, aku mendengus sebal. "Kenapa?" tanyaku. "Jaket siapa?" Oh, ternyata yang dia perhatikan adalah jaket yang kuikat di sekeliling pinggangku. Aku melanjutkan sarapanku. Tidak menatap mata Kak Rian. "Nggak usah dijawab juga lo udah tau." Dia tidak membalas lagi. Segera kami habiskan sarapan, kemudian melaju cepat dalam mobil masing-masing. Seperti biasa, di kelas Karina sudah menunggu dengan beberapa tumpuk bukunya di atas meja. Dia sibuk mengerjakan latihan soal UN dan tes PTN. Memang anak pintar. Kalau aku sih ogah banget. "Pagi ... Sheil?" Karina seketika bengong. Tau apa yang membuatnya bengong, langsung saja kulepas jaket Kevin dari pinggangku dan kulipat rapi. "Nggak seperti yang lo pikirin." "Emang apa yang aku pikirin? Aku cuma kaget kamu dateng pagi, bukan karena jaket itu." Karina tertawa. Aish, aku malu banget! Kok bisa dengan tenangnya aku melewati koridor sekolah dengan jaket Kevin yang masih melingkari pinggangku. Dan herannya lagi, kenapa jaket si tengil itu bisa beken banget sampai-sampai beberapa anak tadi memperhatikanku? Aku memutar bola mata dan mendesah panjang saat Bu Cinta masuk dengan selembar kertas ujian. Jadwalnya ujian fisika, ujian yang paling mematikan di hidupku. Ditambah dengan bayang-bayang wajah seram Bu Cinta di tiap soal-soal yang k****a. Hari itu kami menghabiskan jam pelajaran seperti biasa. Sampai pada waktunya latihan padus. Ada kejadian yang tak diharapkan kembali terjadi, seperti tahun-tahun sebelumnya. Salah satu anggota ada yang kerasukan. Saat itu kami semua dalam keadaan kondusif. Masih melakukan pemanasan suara dengan baik. Lalu tradisi memakan kencur untuk menjaga kekuatan suara. Kami sempat berlatih serempak dan kompak menyanyikan lagu Bagimu Negeri dengan bagus, harmonis, dan merdu. Hingga pada waktunya istirahat. Kira-kira saat itu jam lima sore. Aku sedang duduk bersama tim inti lainnya. Membicarakan partitur lagu dan bagaimana koreografinya. Tiba-tiba ponselku berdering, ada pesan masuk. Kevin - Cowok Kurang Kerjaan: Gue ada di depan. Bawa jaketnya. Yap, dari si tengil. Kemudian aku keluar ruangan dan mendapati dia sedang menatap pemandangan di luar dari balkon. Langsung saja kuserahkan jaketnya tanpa basa-basi. Hanya mengucapkan terima kasih. Hendak kembali, si tengil itu memanggilku. "Lagi istirahat kan?" tanyanya. Aku hanya mengangkat alis. "Ya udah sini. Nikmatin dulu angin segernya, enak." Saat angin itu menerpa kulitku, rasanya benar-benar adem. Akhirnya kuputuskan untuk menikmatinya sejenak, yang pasti dalam jarak cukup jauh dari si tengil. Habisnya kulitku akan mengering jika terus-terusan dalam ruangan padus yang super dingin karena AC. Si tengil itu berkata lagi sedikit kencang saat sedang enak-enaknya menikmati semilir angin, "Jauh banget, Lak." "Lak?" tanyaku bingung. "Galak," cengirnya lebar. Oh, kukira salak. Tapi setidaknya itu lebih baik daripada "Galak". Salak kan ada manis-manisnya, nah kalo galak apa manisnya coba? Aku tidak menggubris perkataannya. Sebaliknya, ingin kucabik-cabik wajah menyebalkannya dan kulempar ke laut selatan. "Susah buat ngobrol kalo sejauh ini," katanya lagi. "Gue lebih bersyukur kalo lo diem," ketusku tak berperasaan. Kuberi tahu ya. Berbicara pada Kevin nggak perlu menggunakan perasaan. Mau dikata badak bercula enam, atau kadal terbang juga dia nggak bakal tersinggung. Yang ada malah makin bangga dengan cengirannya itu. Tak kusangka, dia yang malah mendekat padaku. "Sori, gue nggak denger tadi lo ngomong apa. Bisa diulang?" "Enggak, lupakan," jawabku dingin. Dia masih asyik menyengir lebar nggak jelas padaku. Aku semakin risi aja. Kudorong lengannya agar menjauh. Dia menghirup begitu banyak oksigen dari semilir angin yang sejuk. Manusia beginilah yang harus dilenyapkan. Kalau dipelihara bisa-bisa bumi habis oksigen. "Jauh-jauh sana!" Aku melotot padanya. Dia makin senyum-senyum nggak jelas sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. Si tengil ini membuatku takut. Apa jangan-jangan dia kerasukan? Tepat saat aku hendak lari meninggalkannya, sebuah teriakan nyaring—sangat nyaring sampai-sampai aku ragu manusia bisa melakukannya—terdengar dari ruangan padus. Aku menutup telingaku sesaat sambil meringis. Begitupun Kevin di depanku. Beberapa detik kemudian, aku seperti baru sadar tentang apa yang tengah terjadi. Langsung saja aku berlari masuk dan di hadapkan dengan beberapa gelas kaca pecah. Entah itu pecah karena kekagetan anggota yang sedang minum, atau karena teriakan tadi. Kevin ikut masuk dan berdiri di sampingku, mengamati apa yang terjadi. Kulihat semua orang berjalan mundur perlahan, menyisakan seorang anak cewek yang kuasumsikan kelas sepuluh di tengah-tengah ruangan sambil berbaring dengan kedua kakinya mengangkat ke udara. Seperti sikap lilin. Aku terkejut. Semua anak sedang meringkik ketakutan dan mundur perlahan ke sudut ruangan. Tatapan mereka tak lepas dari seorang anak cewek itu. Aku menatap Theo di ujung sana yang sedang menutup mulutnya, shock. Dia membalas tatapanku dengan arti tersirat, gue nggak tau apa-apa. Saat itu, otakku tidak berjalan dengan baik. Jantungku berdegub kencang. Aku tidak tahu apa yang kupikirkan ketika tau-tau aja aku udah berjalan mendekatinya di saat semua anak menghindarinya. Sambil mendekat, kulihat matanya yang merah, mulutnya yang bergerak-gerik tidak jelas seperti sedang merapalkan mantra, dan ekspresi wajahnya yang seram. Sangat seram. Seperti bukan ekspresi manusia. Aku tidak tahu kenapa aku melakukan ini, hingga tarikan tangan Kevin membuatku kembali mundur di dekatnya. Dia berbisik pelan, "Jangan! Dia kerasukan." Baru setelah kalimat itu terucap, aku langsung tersadar. Kejadian ini kembali lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Apa benar hantu-hantu yang mendiami ruangan ini kembali beraksi? "Panggil satpam!" bisikku sangat lirih pada Kevin. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Pak Satpam. Ia bisa mengatasi hal ini. Lalu setelah itu, kejadian berikutnya membuat kami membeku di tempat. Anak cewek itu semakin mengangkat tinggi kedua kakinya, hingga kepalanya benar-benar menyentuh lantai. Kemudian kedua tangannya menyentuh lantai, dan mengangkat seluruh tubuhnya yang sudah terbalik. Aku mencengkeram lengan Kevin semakin kuat. Untuk bernapas saja susah, apalagi berlari keluar ruangan. Yang pasti kerasukan kali ini lebih menyeramkan daripada tahun-tahun sebelumnya. Nggak sampai seperti ini. Paling cuma teriak sambil mengacak-acak rambut saja, kemudian menangis keras. Wajahnya semakin merah dipenuhi keringat. Matanya semakin bulat dan senyumnya mengembang lebar hampir mencapai telinga ke telinga. Dia terus mengangkat tubuhnya, hingga hanya berpondasikan ujung jari tengahnya. Hal yang kutakutkan pun terjadi, dia menurunkan tubuhnya perlahan, seperti sikap kayang. Namun tidak seperti tata caranya. Dia memaksakan lengannya untuk melengkung ke arah sebaliknya. Akibatnya terdengar suara yang tidak ingin kami dengar. Suara retakan tulang. Pak Satpam datang ketika tubuh cewek itu berhasil kayang dengan kedua lengan yang patah. Kami semua sudah keringat dingin dan hanya bisa menjerit pelan. Kedatangan Pak Satpam sedikit menenangkanku. Ia berjalan mendekati anak itu dan menyentuh dagunya. Ia menekan keras dan seketika anak itu kembali berteriak nyaring. Kami semua diperintahkan untuk segera keluar ruangan dan menutup pintunya. Kami menurut dengan langkah yang tertatih-tatih. Baru setelah itu, respons kami keluar. Ada yang menjerit ketakutan, menangis, dan pingsan. Untungnya aku mampu memendam semua itu. Kevin menatapku dengan sorot wajah khawatir. "Lo baik-baik aja?" tanya Kevin sambil membantuku duduk menyandar balkon. Melihat situasi tadi dan kondisiku, sudah kupastikan aku jauh dari kata baik-baik saja. Aku menggeleng kaku. "Sama," jawabnya. Sejenak kami berdua diam dan membiarkan otak kami memproses. Kejadian tadi seperti memperlambat waktu. Padahal hanya sekitar lima belas menit, tapi seperti bertahun-tahun. Membuat kami semakin tersiksa. Anggota-anggota lainnya masih sibuk menangis dan ketakutan. Sadar akan tugasku, pun aku berdiri dan menenangkan semuanya. "Nggak papa. Kejadian seperti ini memang wajar tiap tahunnya kami rasakan. Dulu juga ada yang seperti ini, bahkan lebih parah," ucapku bohong hanya untuk menenangkan keadaan. "Ini nggak seperti yang kalian kira. Hantu itu nggak ada, mungkin dia sedang mengalami keadaan psikologis yang kita nggak tau apa namanya. Pokoknya, jangan membuat hal ini menghambat latihan kalian. Cukup sekian, latihan hari ini terpaksa dihentikan. Barang-barang kalian—" Belum sempat terselesaikan, semuanya serempak menjawab, "Ditinggal aja!" Aku menghela napas panjang. "Ya udah, ditinggal. Besok yang mau ambil konfirmasi dulu kunci ruangannya di David atau gue. Langsung pulang ya, jangan keluyuran. Hasil hari ini, apa pun yang kalian dapat, wajib ditulis di notebook kecil kalian. Terima kasih." Tanpa yel-yel wajib kami, mereka semua langsung lari menjauhi ruangan padus. Hanya menyisakan tim inti dan Kevin. "Barang mereka ditinggal? Kunci-kunci, hape, dompet?" tanyanya. "Ada di loker mereka. Mereka nggak boleh bawa apa-apa selain map partitur, notebook kecil, dan botol minum. Kalau ada apa-apa bisa pake telepon ruangan," jelasku. Kevin mengangguk. Aku mendekat ke Karina yang tampak shock berat. Tangannya bergetar saat menyentuhku. "Lo nggak papa, Rin?" tanyaku mengusap pundaknya. Dia menggeleng. "Baru pertama kali aku lihat yang parah kayak begini, Sheil." Nada suaranya parau. "Aku takut banget tadi." "Sama," jawabku ikut merinding lagi. Pak Satpam masih belum keluar, namun tidak terdengar lagi suara jeritan nyaring. "Tahun ini parah, Kapten." Mikel mendekat padaku. Wajahnya basah oleh keringat. Aku mengiakan. "Dia masih ikutan padus atau dikeluarin?" tanyanya. "Mengingat kondisi lengannya yang patah, udah pasti opname kan? Kalo gitu dengan berat hati dia dikeluarkan." Aku berkata dengan tegas, walau masih menyimpan kengerian. Semuanya mengangguk setuju. Aku beralih pada Theo yang pucat pasi. "Theo, lo bisa nyari satu anggota pengganti dia? Diambil dari hasil gagal seleksi kemarin aja, diambil yang nilainya tertinggi," kataku. Theo mengangguk kaku. "Dia kelompok apa?" "Sopran satu," jawab Karina. Theo berpikir sejenak. "Wah, kalo sopran satu sedikit banget yang lolos, Kapten. Gue ragu, sih. Tapi kalo mendesak bisa gue tes lagi mereka secara personal." "Bagus. Thanks." Aku berjalan memeriksa mereka satu per satu. "Loh, Elisa mana?" Barulah mereka sadar bahwa sejak tadi Elisa tidak datang latihan. Lagi. Tidak ada yang menjawab, melainkan menoleh pada Kevin secara serempak. Malunya aku saat Kevin memasang wajah t***l waktu ditatap kami semua. "Ngapain noleh gue semua?" tanya Kevin tak tahu diri. "Lo kan pacarnya!" jawab Dion sebal. "Udah putus, kali." Kevin menjawab dengan tenang. Lalu kemudian dia sadar sesuatu. "Hei, bukan gue yang bikin dia bolos latihan kalian!" "Kami nggak mikir begitu!" jawab Dion, David, dan Mikel bersamaan. Kevin menyengir lebar. "Baguslah kalo begitu. Yuk cabut, Lak." Tanpa seizinku dia langsung menarik lenganku. "Maksud lo?" Aku mengempaskan tangannya dengan kasar. "Gue masih harus bersihin ruangan padus. Gini-gini itu tanggung jawab kami. Lagipula, gue juga bawa mobil sendiri, ngapain pulang bareng lo?" kataku sinis. Dia justru menatap langit yang semakin gelap. "Gue nggak yakin lo berani sendirian nyetir mobil di saat keadaan lagi kayak gini." Sial, dia benar juga. Bagaimana ini? "Fix! Gue temenin lo pulang. Nah tuh Pak Satpam udah keluar. Gue tunggu di sini." Si tengil ini memang keras kepala. Kami semua kembali terdiam dan melihat Pak Satpam keluar ruangan dengan mengangkat cewek itu yang akhirnya pingsan. Dia mengatakan pada kami bahwa di ruangan itu tidak ada apa-apa sejak tadi. Kami dibuat semakin bingung dengan penjelasan Pak Satpam. Tak ambil pusing, segera kami bersihkan ruangan padus secepat mungkin, dan pulang! Karina tadi pagi berkata bahwa dia ingin nebeng di mobilku, tetapi tiba-tiba saja dia sudah dijemput sopirnya. Ya sudah, nasibku harus berduaan dengan si tengil. Mana anak-anak lain nggak ada yang mau nebeng sama aku pula. "Udah? Yuk." Kevin berjalan di depanku sesantai mungkin. Tangannya kembali dimasukkan ke dalam jaketnya. Sampai di mobil, dia mengambil alih kunciku dan menyetir. Sekali lagi, tanpa seizinku. Seenaknya saja dia menyetir mobilku yang super keren ini. Lecet sedikit, habis dia! Kami diam sepanjang perjalanan. Tidak ada mood sama sekali untuk menyetel musik. Hanya diam dan mengamati jalanan hingga sampai di rumah. Sempat aku terhibur dengan tidur nyaman, nyenyak, dan tenteram di atas kasurku. Namun impian itu hancur ketika kulihat teman-teman Kak Rian ada di rumahku semua. Mana mereka ributnya luar biasa lagi. Parahnya, mereka memutuskan untuk menginap! Kesialan bagiku, keuntungan bagi Kevin. Dia tak perlu repot-repot memikirkan cara untuk pulang, sedangkan aku tak mungkin bisa tidur dengan tenang. Haish, sial, sial, sial!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD