Mission Accomplished

556 Words
Sesampainya di hotel, mereka berempat berpencar. Mia dan Nathan berpura-pura sebagai pasangan yang hendak memesan kamar. Sementara itu, Liora menyamar menjadi Yuna—seorang wanita bayaran yang datang terlambat, sesuai rencana David. Lelaki itu telah menyuap Yuna asli dengan bayaran tiga kali lipat agar menyerahkan peran tersebut padanya. Liora tiba di lantai paling atas, berjalan menuju lorong kamar sesuai arahan David yang terdengar melalui earpiece kecil tersembunyi di balik rambut bergelombangnya. Ia berhenti di depan kamar target. Senyum miring muncul di wajah cantiknya. Tok. Tok. Ketukan itu membuat sang pria di dalam menghentikan kegiatannya bersama dua wanita bayaran. Ia tahu pasti, ini wanita ketiga yang dipesan. Pintu terbuka. “H-hai,” sapa Liora dengan ekspresi gugup yang meyakinkan. “Kau pasti Yuna,” jawab pria tua itu, langsung menariknya masuk dan membanting pintu. Di dalam, dua wanita lain hanya mengenakan pakaian dalam. Liora menyapukan pandangannya, lalu berkata dalam hati, ‘Bagus, aku tak perlu antre.’ “Gugup?” tanya pria itu, menyeringai. Liora mengangguk lugu. “Bisakah kita hanya berdua saja?” pintanya manja. Dua wanita itu hendak protes, tapi pria tua itu memotong, “Kalian sudah selesai. Aku tetap membayar.” Dengan wajah puas, keduanya berdandan kembali dan keluar, sementara pria itu mengunci pintu. “Sekarang tinggal kita berdua,” gumamnya sambil menggenggam tangan Liora dan menuntunnya ke tepi ranjang. “Om, bolehkah Yuna lihat kartu hitam itu dulu? Biar Yuna semangat,” ujar Liora polos. Tertarik dengan kepolosannya, pria itu membuka dinding rahasia dengan sidik jarinya, memperlihatkan brankas kecil. Ia mengambil salah satu kartu hitam dan menyerahkannya. “Oh... jadi ini kartu tanpa batas itu,” gumam Liora. “Sekarang ayo kita main.” Pria itu tersenyum puas. Tapi saat Liora membuka mantelnya, tangannya lebih cepat. Ia menarik pistol yang tersembunyi dan menodongkannya. "Kartu haram," katanya dingin. Pria itu melotot. “Sial! Bagaimana kau bisa masuk, jalang kecil!” Tanpa membuang waktu, Liora menembakkan peluru bius. Efeknya butuh tiga menit. Waktu yang cukup lama untuk pria sekuat itu. Ia menyerang. Tinju bertubi dilancarkan, tapi Liora lincah menghindar. Pistolnya terlempar, namun ia tetap bertahan. Dengan kombinasi bela diri terlatih, ia membuat pria itu tersungkur. Namun, tangan pria tua itu meraih pistol dan melepaskan tembakan. Liora berlindung di balik tembok, peluru nyaris mengenainya. “Hei! Cepat kemari! Ada penyusup!” teriaknya lewat ponsel. Liora menekan earpiece. “Anak buahnya datang,” lapornya. Nathan yang mendengar langsung keluar dari kamar sebelah. Sementara itu, Mia yang sudah disiapkan David menembaki anak buah dari seberang hotel. Begitu pria tua itu pingsan karena efek bius, Liora menyalakan alat pemindai sidik jari dan membuka brankas. Ia mengambil semua kartu hitam dan menyimpannya ke dalam tas kain. Di luar kamar, perkelahian sengit terjadi. Liora menyusul Nathan yang menghadapi lima anak buah. Hanya dalam lima menit, mereka berhasil melumpuhkan semuanya dengan gerakan bela diri yang sempurna. Setelah itu, mereka turun. Di lantai bawah, Mia dan David sedang bersantai. “Nathan, selesai kan? Yuk pulang. David, kau antar Liora si seksi ini ya,” goda Mia sambil tertawa. Setelah mereka pergi, David berkata, “Ayo, kuantar.” “Oh, biar sopirku saja,” elak Liora, menyembunyikan kegugupannya. “Kau pasti takkan meneleponnya. Kau ingin pesan taksi, kan? Kalau sopirmu tahu kau ke hotel dengan pakaian lain, dia pasti lapor ke orang tuamu.” Tebakannya tepat. Liora diam, hanya menatap David yang tersenyum penuh pemahaman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD