"Baiklah, kau memang sangat pandai menebak isi kepalaku," ujar gadis itu sambil memberengut kesal, mencoba mencairkan suasana. Kekehan kecil dari pria itu pun terdengar.
Namun, Liora tidak ingin memberikan harapan palsu pada David. Ia tahu betul, perasaan pria itu tak seharusnya dibalas sembarangan. Maka, ia pun punya rencana kecil untuk mengalihkan suasana sebelum pulang ke rumah. Untung saja sekarang masih pukul 10 malam, masih ada waktu satu jam sebelum orang tuanya pulang dari kantor.
“Dav, singgah ke kafe dulu ya. Aku lapar,” ujarnya dengan nada memelas.
David mengangguk patuh dan menghentikan mobilnya di parkiran sebuah kafe.
---
Sambil menunggu pesanan, mereka mulai mengobrol.
"Apa saja yang disentuh b******n tadi di tubuhmu?" tanya David, menahan amarah yang sudah mengendap sejak Liora memutuskan turun langsung ke lapangan.
“Hanya tanganku kok. Aku malah lebih banyak menyentuh tubuhnya... dengan kakiku,” jawab Liora sambil tertawa, mengingat bagaimana dia sempat menendang bagian sensitif pria tua bangka itu.
“Baguslah,” ujar David dengan nada lega.
“Dav, kau menyukaiku?” tanya Liora, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
David terdiam sejenak. Ia tahu gadis ini tak pernah ragu mengungkapkan pikirannya. Ia jujur, tak pernah berpura-pura menjadi baik atau jahat.
David tersenyum tipis. “Apakah itu mengganggu isi kepalamu?”
“Dav, serius dong,” ucap Liora kesal, menatap ke arah jendela. Ia tak sanggup menatap senyuman David yang seolah menyiratkan rasa bersalah.
“Kita makan dulu, baru bicara soal itu,” ujar David. Tak lama kemudian, pesanan mereka datang.
---
Mereka makan malam dalam keheningan. Bukan karena canggung, tapi karena masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. David takut kehilangan Liora jika perasaannya diketahui. Sementara Liora penasaran, tapi juga merasa bersalah.
Menurut Mia dan Nathan, mereka berdua sangat cocok jadi pasangan. Tapi Liora belum pernah merasakan cinta sejak berumur delapan tahun—cinta terakhir yang ia rasakan berasal dari orang tua angkatnya. Saat ini, yang ia punya hanyalah rasa sayang sebagai sahabat, yang sama besarnya untuk David, Mia, dan Nathan.
Setelah makan malam, mereka menuju mobil David. Sepanjang perjalanan, tak satu pun dari mereka memulai percakapan. Sampai akhirnya mobil itu berhenti di depan rumah Liora.
Ia hendak membuka pintu, tapi terkunci.
“Dav, aku harus keluar,” ucap Liora datar.
“Aku menyukaimu… lebih dari seorang sahabat,” ucap David akhirnya, menatap gadis itu serius.
“Sejak kapan?”
“Sejak kita selalu bersama. Sejak waktu demi waktu itu kita lewati bersama.”
“Tapi, Dav… aku menyayangimu,” ujar Liora lembut.
David tersenyum pahit. Ia tahu maksud dari ‘sayang’ yang dikatakan gadis itu.
“Aku tahu,” jawabnya pelan.
“Dav, aku menyayangimu seperti aku menyayangi Mia dan Nathan. Kalian sahabat terbaikku. Aku rela melakukan apa pun agar tak kehilangan kalian. Tapi... apakah kau akan pergi dariku karena ini?”
David hanya diam menatap ke depan. Liora mulai khawatir.
“David… buka pintunya,” ucapnya dengan suara bergetar.
“Aku tetap ingin kita seperti biasa,” jawab David tiba-tiba, membuat Liora bernapas lega.
Ia memutar tubuh David dan menatap wajahnya. Keduanya memerah, menahan perasaan takut kehilangan.
Liora memeluk David hangat. Ia balas memeluknya erat.
“Aku akan selalu menyayangimu, dan akan selalu ada untukmu, Dav. Tapi semua itu juga kulakukan untuk Mia dan Nathan. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dariku,” ucapnya saat mereka melepaskan pelukan.
“Di mataku, kau akan selalu jadi yang terbaik, Liora,” jawab David dengan senyum lembut.
“Suatu hari nanti, kau pasti akan bertemu wanita baik yang mencintaimu sepenuh hati. Kalau aku saja bisa dicintai dengan sepenuh hati… apalagi kau.”
Liora menunjuk ke arah rumahnya. “Sekarang tolong buka pintunya. Lima menit lagi orang tuaku pulang.”
David tertawa melihat wajah panik gadis itu, yang masih memakai pakaian dari misi tadi.
“Bukankah orang tuamu mengenalku dengan baik? Mereka tak akan masalah kau berteman denganku.”
“Iya, tapi... bagaimana dengan bajuku?” protes Liora, membuka mantelnya dengan kesal.
Gaun hitam itu mengekspos paha dan kulit putihnya. David menelan ludah. Liora cepat menyadari, lalu buru-buru menutup mantelnya lagi.
“David, lebih baik jangan jadikan tubuhku sebagai imajinasi liarmu,” katanya tajam.
David langsung mengalihkan pandangan dan membuka kunci pintu. Tapi sebelum Liora keluar, dia berkata,
“Punyamu tegang, tuh.”
David terdiam, melongo. ‘Itu barusan… keluar dari mulut wanita yang aku cintai?’ pikirnya panik.
Tanpa berkata apa-apa, dia langsung menginjak gas dan melesat pergi.