“Kamu nggak akan secepat itu mati, Aira.” Respati kembali berujar dengan wajah dingin dan tatapan yang menusuk lurus ke arahnya, tanpa memberi ruang bagi siapa pun untuk membantah. Kalimat itu bukan sekadar ancaman kosong. Aira tahu betul, setiap kata yang keluar dari mulut pria itu bisa menjadi kenyataan. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menahan getaran yang merambat dari d**a ke seluruh tubuhnya. Bukan sekali dua kali ia mendengar kalimat seperti itu, tetapi setiap kali diucapkan, rasanya tetap sama—menusuk, menyesakkan, dan meninggalkan luka yang tak terlihat. Bau antiseptik memenuhi ruangan, membuat kepalanya semakin berat. Aroma tajam itu terus masuk ke rongga hidungnya tanpa jeda, bercampur dengan suara mesin monitor yang berdetak pelan di samping ranjang. Bunyi itu monoton, tetapi

