Bab 22

2607 Words

Eric meneguk ludah kasar. Dalam hati, ia mulai menghitung mundur. Bersiap-siap jika saja Aira akan mematikan panggilan itu secara sepihak. Namun, hingga hitungan mundur kesepuluh habis, Aira tidak mematikan sambungan telepon tersebut. “Eric.” Pria itu memejamkan mata, kala namanya disebut oleh suara Aira. Suara perempuan yang ia rindukan kini terdengar. Lembut dan hangat. “Kenapa, Mas?” “Bagaimana kabarmu di sana, Ra?” Dari semua pertanyaan yang ingin dilontarkan, Eric lebih memilih menanyakan hal tersebut lebih dahulu. Aira tidak langsung menjawab, seolah berpikir untuk menjawab pertanyaan yang diberikan Eric dari seberang sana. “Alhamdulillah baik, Mas.” Eric tersenyum, bersyukur jika perempuan itu baik-baik saja, setelah seharian tadi ia tahu Aira menghabiskan waktunya di p

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD