“Eric kenapa, Bund?” Aira bertanya, pura-pura tak paham. Jujur, semenjak Respati melepaskannya, ia tidak pernah tahu bagaimana keadaan pria itu. Ah, lebih tepatnya tidak mau tahu. Selagi Eric tidak ada di tempat Respati, perempuan tersebut yakin bahwa mantan calon suaminya baik-baik saja. “Ah, nggak, Nak. Bunda cuma mau tanya, nggak mau nunggu Eric pulang dulu?” Aira menggeleng dengan cepat, lebih cepat dari yang seharusnya. Ia langsung melirik ke arah jendela dapur, tempat langit sore mulai berubah warna. Semburat jingga perlahan memenuhi cakrawala, pertanda malam tidak akan lama lagi datang. Waktu terasa berjalan terlalu cepat. Dadanya kembali dipenuhi kegelisahan. Respati bisa marah besar jika mengetahui ia keluar rumah tanpa izin. Apalagi pergi sejauh ini tanpa sepengetahuannya. Pe

