Bab 20

4878 Words

Jam di dinding masih menunjukkan pukul empat dini hari. Aira membuka matanya perlahan, seolah bahkan untuk sekadar terjaga pun membutuhkan tenaga yang tersisa sedikit. Pandangannya kosong menatap langit-langit ruang tengah yang remang. Hening menyelimuti mansion itu, hanya suara pendingin ruangan dan detak jam yang terdengar samar. Dalam diam itu, ingatannya perlahan kembali—semuanya, tanpa ada satu pun yang terlewat. Dari awal hingga akhir. Setiap detik, setiap sentuhan, setiap kalimat yang terucap, semuanya tertanam jelas seperti luka yang dipahat paksa di kepalanya. Semuanya terlalu menyakitkan. Ada kesedihan yang masih mengendap pekat di dalam benaknya. Cara pria itu menggaulinya, bagaimana kata-kata kasar itu dilontarkan tanpa ragu, dan bagaimana makian yang tak pantas diarahkan pa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD