Bab 19

4982 Words

Aira langsung meletakkan telepon itu kembali ke tempat asalnya. Jantungnya masih berdegup cepat, seolah ketukan tadi membawa sesuatu yang lebih besar dari sekadar tamu di balik pintu. Dengan langkah hati-hati, perempuan itu menghampiri pintu kamar. Ia tidak langsung membukanya, hanya berdiri diam sambil bersandar tipis di balik daun pintu, berusaha memastikan apakah suara ketukan itu akan terdengar lagi atau tidak. Nafasnya tertahan, pikirannya dipenuhi kemungkinan-kemungkinan buruk. “Nyonya, ini saya.” Begitu mendengar suara itu, Aira mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan. Bukan Respati. Rasa tegang yang mengikat pundaknya perlahan mengendur. Ia segera membuka pintu dengan cepat. Di hadapannya, sudah berdiri salah seorang pembantu mansion dengan seragam rapi dan wajah yan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD