Respati langsung menghentikan tindakannya. Suara dari ambang pintu cukup untuk membuatnya berhenti di tempat, meski tidak benar-benar menarik dirinya mundur. Atensinya tetap tertuju pada mata Aira yang kini basah, menatapnya dingin. Dari sudut netra perempuan itu, setitik air mata jatuh perlahan, membasahi pipi yang pucat. “Keterlaluan kamu, Ares!” Teguran Rivanda tidak memberi dampak apa pun. Respati tetap berdiri tegak, kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Wajahnya terkendali, nyaris tanpa emosi. Tangisan Aira yang semakin jelas tidak mampu menggerakkan apa pun dalam dirinya. Rivanda mendekat dengan langkah cepat, diikuti seorang perawat yang berjalan di belakangnya. Tanpa membuang waktu, ia langsung memeriksa punggung tangan Aira. Bengkak. Ada bercak darah di sekitar jarum inf

