Aku terjatuh di hadapan suamiku. Dia masih berlutut di sana. Menatap lantai dengan air mata yang mulai menetes. Aku menangkup wajahnya, menghapus air mata itu kemudian meraih tubuhnya dan memeluk erat. Aku terisak, tak dapat lagi membendung air mata yang kutahan sejak tadi. Di dalam pelukan itu, suami yang kukenal begitu kuat dan berkuasa, terisak di dalam sana. Ia menangis, benar-benar menangis. ................. "Tuan, semua sudah siap," kata pria bertubuh jangkung itu. Dia adalah pria yang sama dengan tempo hari. Alexander merapatkan setelannya, kemudian berjalan mendekatiku. "Sayang, aku akan pulang terlambat malam ini," kata Alexander. "Apakah aku boleh datang lagi ke perusahaan?" kataku dengan sedikit berharap. Alexander memandangku, mengusap rambut panjangku yang terge

