Matahari hampir terbenam, ketika Temp membawaku masuk ke dalam kereta. Pria itu duduk dengan wajah menunduk, hanya menatap ponsel yang sejak tadi ia mainkan tanpa tujuan. Aku menghela napas, meraih jemari Temp, membuatnya menoleh kepadaku. "Maaf, aku...." kata Temp seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Kalau kau tidak ingin cerita, aku tidak akan memaksamu. Namun, kau harus tahu, jika cintaku untukmu tidak terpaksa. Tapi, jika aku justru membuatmu terbelenggu, aku akan..." Temp meletakkan ujung jarinya di bibirku, membuatku berhenti bicara. "Jangan ucapkan itu, sekalipun aku tahu jika yang kurasakan untukmu ini salah, namun aku tidak akan menyerah. Izinkan aku tetap mencintaimu, Alana." Temp menangkup wajahku dengan Kedua tangannya. Perlahan ia mengecup bibirku, sekali lagi dan

