Husband 02

1541 Words
Awan Gelap yang menyelimuti langit dengan rintik hujan yang turun deras membasahi beberapa batu-batu nisan yang berjajar dengan rapi di sebuah pemakaman yang kini ramai didatangi orang-orang dengan pakaian duka, Mereka tampak menundukkan kepala dengan kacamata hitam yang menutupi mata mereka begitu pun dengan seorang gadis yang hanya bisa mengeratkan kepalan Tangannya seakan mencoba untuk menahan dirinya agar tidak Meraung Di depan makam ayahnya yang baru saja diturunkan beberapa menit yang lalu bahkan ketika orang-orang mulai satu persatu meninggalkan makam tersebut Jasmine masih senantiasa Setia berdiri di bawah guyuran hujan yang membasahi tubuhnya, Jasmine tidak peduli dengan dingin yang menusuk tulang nya ketika hatinya masih terasa lebih sakit menerima kenyataan pahit kehilangan satu-satunya orang yang dia miliki di dunia ini. Jasmine benar-benar merasa dirinya Sebatang Kara ketika Ronald menghembuskan nafas terakhirnya Setelah beberapa jam  menjadi saksi di mana sebuah ikatan janji suci yang Jasmine dan juga Jian Ucapkan yang akhirnya membuat satu ikatan dan juga hubungan di antara mereka, Jasmine benar-benar menerima keinginan Ronald untuk yang terakhir kalinya dan Jasmine salah mungkin dirinya tidaklah Sebatang Kara karena Ronald memberikan sebuah hadiah untuknya yang bisa menemani dan juga mendampinginya berada di sisinya untuk selalu menjaganya, seseorang yang sangat ayahnya percaya itu kini dengan senantiasa berdiri dua langkah di belakang Jasmine menemani Jasmine Diam Tanpa Kata sambil menatap nama ayahnya yang kini tertulis di sebuah bongkahan batu. bahkan Jian pun tidak mempunyai keberanian hanya untuk mendekat dan memayunginya saja, Jian hanya bisa diam tanpa kata untuk terus berada di samping nya sampai Di mana sebuah ketegaran yang Jasmine miliki sudah mencapai batas Jasmine tidak bisa lagi menopang tubuhnya di bawah guyuran hujan yang begitu deras membuatnya ter huyung ke arah samping namun dengan Sigap Jian yang berdiri di belakang nya langsung menangkap bahu Jasmine membuat Jasmine Akhirnya bisa menatap kacamata tebal yang menghalangi pandangannya. "I'm fine." ucap Jasmine sambil melepaskan tangan Jian yang menangkap bahunya, Jasmine pun berbalik berjalan untuk meninggalkan tempat peristirahatan terakhir Ayahnya tersebut meskipun dengan berat hati dan serasa mimpi Jasmine harus kembali Tegar dan melanjutkan hidupnya yang seperti Ronald inginkan, sebelumnya masih terngiang dengan jelas di kepala Jasmine Ronald mengatakan bahwa dia ingin melihat putri semata wayangnya hidup bahagia dengan senyum lebar di bibirnya, Ronald tidak ingin melihat Jasmine menangisi kepergiannya Untuk itulah sedari tadi saat pemakaman berlangsung tidak Satu Tetes air mata pun yang menitik dari mata Jasmine, Jian kemudian membukakan pintu mobil untuk Jasmine setelah itu dirinya duduk di belakang kemudi, Jian sangat tahu diri dengan posisinya Untuk itulah dia tidak berani untuk membukakan pintu depan mobil untuk Jasmine dan hanya membukakan pintu penumpang, Jian masih tidak berani untuk duduk sejajar dengan istrinya tersebut, sesekali Jian melirik ke arah Jasmine yang hanya menatap ke arah luar jendela seolah rintikan hujan yang mengenai kaca jendela lebih menarik ketimbang menatap dirinya yang Bahkan tidak pernah Jasmine anggap sekalipun, Jian sudah bisa menebak semua ini dari awal dan dia menerimanya Untuk itulah dirinya sudah bersiap diri dan merasa tidak sakit hati ketika Jasmine memperlakukannya seperti orang lain meskipun hubungan di antara mereka saat ini sudah terjalin satu ikatan yang saling menghubungkan. seperti sebelumnya Ketika sampai Jian langsung berlari keluar dan membukakan pintu mobil untuk Jasmine menunggu Jasmine keluar mobil setelah itu menutupnya kembali, Jasmine hendak membuka pintu rumah besar yang kini terasa sepi untuknya sampai suara Jian menghentikannya.  " kalau begitu saya akan Permisi."ucap Jian membuat Jasmine kembali menarik tangannya setelah itu menghadap ke arah Jian perlahan, Jasmine menurunkan kacamata hitam yang sedari tadi membingkai kesedihannya tersebut dan Jian bisa melihat dengan jelas mata Jasmine yang seolah tidak menyiratkan kesedihan sedikit pun. "Kau akan pergi ke mana. ?" Tanya Jasmine Kalimat pertama yang ditujukannya untuknua, Jian pun akhirnya menegakkan kepalanya dan membalas tatapan Jasmine dengan jarak beberapa langkah darinya.  “Saya harus kembali ke Apartemen saya."jawab Jian membuat Jasmine terdiam sejenak. " Apa kau juga tidak setuju dengan permintaan yang diajukan Ayah padamu. ?" tanya Jasmine mencoba untuk memastikan sebenarnya apa yang Jian rasakan namun Jian perlahan menggelengkan kepalanya.  "Saya tidak mempunyai wewenang untuk menolak permintaan dari beliau. ” jawab Jian " Lalu kenapa kau ingin kembali ke tempat tinggalmu, Bukankah seharusnya saat ini kau tinggal bersamaku Bukankah itu yang diinginkan Daddy agar kau selalu berada di sampingku."ucap Jasmine kembali membuat Jian awalnya tidak percaya, Jian berpikiran mungkin Jasmine menerima pernikahannya hanya karena permintaan Ronald saat itu dan menyetujuinya Jian kira Jasmine akan langsung mengakhiri pernikahannya ketika Ronald sudah tiada Tapi semua Perkiraannya ternyata salah ketika Jasmine memintanya untuk tinggal bersamanya.  " Saya tidak ingin dianggap lancang Ketika saya tiba-tiba saja tinggal di rumah ini.” jawab Jian yang memang seperti itulah yang dirasakan. " sudah seharusnya kau tinggal bersamaku bukan tapi aku tidak akan memaksa jika kau memang tidak bersedia untuk menerima apa permintaan yang Daddy inginkan, jika kau keberatan Kau bisa mengatakannya padaku saat ini juga." ucap Jasmine membuat Jian lagi-lagi menggelengkan kepalanya.  " saya tidak punya pikiran seperti itu, Saya menerima permintaan beliau dengan lapang dada."jawab Jian seolah memberikan sebuah keyakinan pada Jasmine bahwa dirinya benar-benar tidak terpaksa dengan permintaan Ronald kepadanya. “kalau begitu baguslah aku tidak perlu lagi merasa bersalah jika kau menerima nya."ucap Jasmine kembali berbalik untuk membuka pintu besar di depannya namun lagi-lagi Jian menghentikannya. " tapi saya saat ini harus kembali ke apartemen."ucap Jian kembali membuat Jasmine lagi-lagi berbalik ke  arahnya namun sebelum Jasmin membuka mulutnya untuk menanyakan alasannya Jian langsung menjawabnya karena tidak ingin Jasmine salah sangka.  “saya harus mengambil barang-barang saya untuk pindah ke rumah ini Untuk itu saya meminta izin pada Anda." ucap Jian penuh dengan rasa hormat seperti seorang sekretaris kepada atasannya membuat Jasmine terdiam sejenak kemudian menganggukkan kepalanya. Jian pun mengangguk membalas jawaban dari Jasmine setelah itu menunggu Jasmine masuk ke dalam rumah besar tersebut sebelum dirinya kembali ke apartemen untuk mengambil semua barang-barang yang akan dia bawa. Jasmine langsung menutup pintu besar rumahnya setelah itu berjalan perlahan menuju lantai  dua bukan untuk menuju kamarnya tapi menuju ruang kerja yang selama ini selalu menjadi saksi bisu ayahnya berkeluh kesah tentang semua pengalaman kerjanya selama berpuluh-puluh tahun ini, ketika Jasmine membuka pintu kayu yang penuh dengan ukiran unik aroma Ayahnya masih tercium dengan sangat kuat seakan Ronald masih berada di dalam ruangan tersebut seakan Jasmine masih bisa merasakan bagaimana Ronald menyambutnya dengan senyum hangat ketika Jasmine selalu mengganggunya saat Ronald Tengah sibuk dengan laptop dan juga tumpukan Berkas- berkas yang selalu memenuhi meja kerjanya tersebut, perlahan Jasmine melangkahkan kakinya menuju kursi kebesaran milik ayahnya tersebut kemudian mendudukkan dirinya, Jasmine merasakan seolah ayahnya memeluk dirinya dengan erat ketika duduk di kursi tersebut setelah itu Jasmine menyusur kan tangannya pada setiap lekuk meja kerja yang Sangat kokoh meskipun sudah dimakan usia setelah beberapa detik barulah Jasmine mulai merasakan seluruh tubuhnya bergetar ketika dirinya tidak bisa lagi menahan air mata yang beberapa jam ini dia Tahan. “ I miss you Dad, I love you." lirih Jasmine setelah itu langsung menangis Meraung Di atas meja kerja ayahnya bahkan tumpukan kertas dan juga laptop kesayangannya masih tersimpan dengan rapi di atas meja tersebut. “ aku benar-benar sakit Dad. ” ucap Jasmine kembali seolah menumpahkan semua kesedihan yang seharusnya dia tumpahkan di hadapan Ronald namun sesuai janjinya dan sesuai permintaan dari Ronald Jasmine menahan sekuat tenaga bahkan kerongkongannya terasa sakit selama acara pemakaman ketika dirinya tidak bisa menyerahkan segala keluh kesahnya karena tidak ingin membuat Ronald di atas sana merasa kecewa karena tidak bisa menepati semua keinginannya, Jasmine benar-benar menangis sampai dadanya terasa sesak bahkan meja kerjanya tersebut basah karena air matanya yang terus mengalir dengan derasnya Jasmine tidak kuasa lagi untuk menahan kesedihannya, kehilangan satu-satunya orang yang sangat ia cintai dan juga merawatnya dari kecil sampai dia tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat dia sayangi Jasmine tidak pernah menyangka jika Ronald akan meninggalkannya dalam keadaan seperti ini, Jasmine pikir ayahnya bisa melihatnya menikah dengan senyum bahagia dan juga memiliki cucu- cucu yang bisa menemaninya di hari tua, namun semua itu hannyalah impian Jasmine kenyataannya Ronald pergi begitu cepat bahkan saking sayangnya Ronald memberikan satu orang yang dia percayai untuk selalu menjaga Putri kesayangannya tersebut.  “Kenapa kau pergi secepat ini Dad." rintih Jasmine kembali mencoba untuk memeluk dirinya seolah Ronald saat ini juga Tengah memeluk dirinya hangat, aroma Ronald yang memenuhi ruang kerja seolah menyeruak menyelimuti seluruh tubuh Jasmine membuat Jasmine merasakan jika Ronaldo benar-benar ada di sampingnya.  “Maafkan aku, aku tidak bisa menepati janji Daddy aku tidak bisa menahan lagi air mata ini. ucap Jasmine kembali Butuh waktu yang sangat lama bagai Jasmine menumpahkan segala kesedihannya bahkan dirinya tidak punya tenaga lagi hanya untuk menegakkan tubuhnya Jasmine hanya bisa bersandar pada meja kerja tersebut sambil terus membayangkan Bagaimana bahagianya dirinya saat bersama Ronald kenangan masa kecil yang terlintas di benaknya seolah memberikan sedikit hiburan bagi Jasmine, senyum ayahnya yang hangat sedikit demi sedikit menghilangkan rasa perih di hatinya sampai Jasmine merasakan matanya memberat dan semuanya menggelap kenangan indah bersama ayahnya membawanya ke ke alam mimpi setelah beberapa menit tidak terdengar lagi rintihan dari Jasmine barulah pintu ruang kerja tersebut terbuka menampilkan Jian yang dengan keadaan basah berjalan perlahan setelah itu mendekat kearah Jasmine memberikan sebuah selimut hangat untuk menutupi tubuh mungilnya yang saat ini terlihat sangat rapuh di hadapan Jian.  " aku akan memenuhi janjiku dan terus menjaga Jasmine bagaimanapun caranya."ucap  Jian Sambil mencoba mengelus Puncak kepala istrinya tersebut. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD