“Bu Zahra cantik ya?” Adalah percakapan Ainun di awal pagi hari ini. Wanita paruh baya tersebut mengambil piring dan nasi untuk Fahri, lantas mengisinya dengan lauk pauk. Sebenarnya Fahri sama sekali tidak keberatan mengambilnya sendiri, namun Ainun lebih senang melakukannya. Sejak dulu, sejak Fahri masih kecil sampai dewasa ini. “Ya namanya juga perempuan Bu, pasti cantik. Kalau ganteng, ya Fahri ini,” timpal Fahri sambil tersenyum geli. “Kamu ini. Ibu lagi serius.” “Fahri juga serius Bu.” Fahri bukannya tidak tahu maksud tersirat dari Ainun yang membahas tentang Zahra. Akan tetapi terkadang berpura-pura tidak tahu bisa menghindarkan suatu topik serius dengan mudah. Lagi pula Fahri tidak yakin dia sudah bisa membuka hati untuk wanita lain sementara setiap malam sebelum tidur dia mas

