Aisya tanpa sengaja kembali memergoki pasangan yang tadi pagi ia lihat sedang bermesraan,
Kali ini, Aisya memergoki mereka tengah berciuman di pantry,
“Eh, M-Maaf,” Aisya hendak melangkah pergi, namun si pria mendorong pintu agar tertutup rapat,
“Mau kemana?” Tanya si wanita seraya melipatkan kedua tangannya,
“Aku mau pergi,” Aisya hendak melangkah namun lagi lagi dihalangi oleh si pria,
“Kau harus tutup mulut jika kau mau selamat dan keluar dalam keadaan utuh,” Ancam si wanita,
“Kalian tau kan, Apa yang kalian lakukan itu dosa?”
“Lalu? Kau tidak perlu mengurusi dosa kami, urusi saja dosa mu sendiri,”
“Lalu? untuk apa kalian menghalangiku keluar? Jika kalian merasa tidak takut berdosa, Kalian tidak perlu takut juga untuk dianggap seperti itu bukan? Atau, kalian lebih takut akan pandangan mata manusia daripada Tuhan?”
Pria itu pun kemudian memegang keras rahang Aisya “Jangan sok berceramah di depan kami,”
Aisya menendang ‘masa depan’ pria itu dengan kakinya hingga pegangannya pun terlepas,
“Dan kau, Jangan sok kuat di depanku! Jika pada dasarnya kalian hanya pecundang yang takut ketahuan,”
Si wanita yang merasa kesal dengan ucapan Aisya pun hendak memukul Aisya, namun mereka dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari luar,
“Hey, siapa didalam? buka pintunya!”
Si pria itu pun membuka pintu dan bersikap biasa, sedangkan Aisya mengambil kesempatan tersebut untuk keluar dari pantry,
‘Kali ini kau selamat,’ Batin si pria seraya menatap kepergian Aisya,
***
Aisya merapikan beberapa berkas diatas meja Fathan,
“Aisya?” Panggil Fathan yang baru saja masuk,
“Iya pak,”
“Apa kau sudah mendaftar untuk kuliah mu?”
Aisya menggelengkan kepalanya,
“Baiklah, Bagaimana jika aku membantumu untuk mendaftar?”
“Tidak usah, Lagipula aku sendiri tidak tau apakah akan melanjutkan kuliahku atau tidak,”
Fathan mengernyitkan dahinya,
“Kenapa?”
“Karena aku sudah tidak memiliki tujuan hidup seperti dulu, Aku hanya mengikuti alurnya saja,”
Fathan menghela nafas kasar,
“Jika aku boleh tau, Apa sebenarnya yang terjadi sama kamu di seoul? Aku menatap kamu seseorang yang berbeda dari saat aku bertemu kamu di seoul, Apa ada yang menyakitimu?”
Aisya terdiam,
“Oke, Aku gak bakalan maksa kamu buat cerita, tapi seenggaknya jadilah dirimu seperti waktu aku bertemu kamu di seoul,”
“Maaf, tapi Aisya yang kau temui di seoul sudah tiada, aku sudah membunuhnya,”
Fathan langsung terdiam mendengar ucapan Aisya,
Aisya melangkah pergi meninggalkan Fathan yang mematung,
‘Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu sya?’ Batin Fathan
***
Pertanyaan Fathan membuat Aisya kembali mengingat Do Hyun, semua ingatan itu terus berputar di kepalanya,
Ia memutuskan untuk pergi ke toilet dan mencuci wajahnya,
Namun buliran bening itu tidak mau berhenti mengalir,
Aisya terus menghapusnya kasar,
“Sepertinya ada yang sedih,” Ucap wanita yang ia pergoki saat itu,
“Bukan urusanmu,” Aisya kemudian membenarkan hijab yang ia kenakan, namun tiba tiba wanita itu menariknya,
“Aww,” Ringis Aisya karena kencangnya wanita itu menarik hijabnya,
“Gak usah sok suci pake kain gini!”
Aisya mengambil hijab yang ada di tangan wanita itu, Namun wanita itu mempermainkan Aisya,
“Ambil saja kalau bisa,”
Karena kesal, Aisya pun menginjak kaki wanita itu sekeras mungkin,
“Aww, sakit.” wanita itu un melepas hijabnya,
Dan Aisya mengambilnya,
“Aku bukan orang suci, Aku hanya orang yang ingin terus memperbaiki diri,”
Wanita itu pun tertawa seraya menahan sakit,
“Bahasamu sudah mengalahkan para ustadzah aja!”
Aisya yang tidak ingin meladeni ucapan wanita itu pun memutuskan untuk bergegas pergi, Tetapi wanita itu tidak mau melepaskan Aisya begitu saja,
Ia kemudian menarik rambut Aisya dan memasukkan Aisya ke dalam salah satu toilet, dan menguncinya.
Aisya menggedor gedor pintu toilet tersebut,
“Buka!!” Teriak aisya,
Namun, wanita itu tidak mendengarnya dan terus melangkah pergi, pintu toilet pun ia tutup rapat dan menguncinya, membiarkan kunci toilet tergantung di pintu, Ia juga menempelkan papan peringatan ‘Toilet sedang rusak’ pada bagian pintu, sehingga memungkinkan orang orang yang ingin menggunakan toilet tersebut berputar arah,
“Huh! biar tau rasa!” Wanita itu pun melangkah pergi,
***
Jam kantor sudah selesai, Namun Fathan kebingungan dengan keberadaan Aisya,
“Aisya dimana ya? dari sejak jam makan siang tadi, ia ngilang, Apa dia marah karena pembicaraan kita tadi? Tapi Masa sih, cuman karena itu dia marah?” Gumamnya.
Fathan mencoba untuk menghubungi Aisya, namun ponselnya terdengar ada di dalam tasnya yang ia tinggalkan di mejanya,
“Ckk, Dia kemana ya?”
Fathan kemudian mencari Aisya di area kantor, namun kebanyakan para pegawai sudah pulang ke rumahnya masing masing,
Fathan menghubungi ibunya dan menanyakan Aisya,
Namun, Ibu Fathan mengatakan jika Aisya belum pulang,
Fathan mulai cemas, Ia khawatir jika terjadi sesuatu pada Aisya, seperti apa yang pernah dijelaskan oleh Ilham,
“Aisya, kamu dimana?” Fathan terus mencari Aisya,
Di lain sisi,
Tubuh Aisya mulai lemas karena dehidrasi, sudah berjam jam ia terjebak di toilet,
“Tolong!” Teriaknya dengan nada lemah,
Namun teriakannya tidak ada mendengar,
Mulut Aisya sudah mengering, Kepalanya mulai pusing, Hingga..
Brakk
Seseorang mendobrak pintu toilet dan menggendongnya ala bridal style,
‘Ini seperti waktu itu, Do hyun kau datang untuk menolongku lagi,’ Batinnya,
Aisya pun jatuh pingsan,
Tak lama kemudian, Aisya pun perlahan membuka matanya,
“Engh, Dimana aku?” lenguh Aisya
Aisya memperhatikan sekitar, namun tidak ada siapapun di ruangan ini,
Aisya kini berada di rumah sakit,
“Siapa yang membawaku kesini?” Gumamnya,
Terdengar suara pintu dibuka, dan langkah seseorang yang mendekat ke arahnya,
“Kau sudah sadar?” Ucapnya
Aisya menatap ke asal suara,
“Kau?”
“Hai, Kenalkan namaku Ilham permadi,” Mengulurkan tangannya seraya tersenyum ramah,
Aisya mengalihkan pandangannya ke arah lain,
Sedangkan Ilham menarik kembali tangannya,
“Bagaimana kau bisa menyelamatkanku?” Tanya Aisya tanpa menatapnya,
“Oh itu, tadi sore Fathan menelpon, dan bilang kalau kamu tiba tiba menghilang sejak jam makan sang, dia udah cari kamu kemana mana, tapi gak ketemu, terus aku….”
“Darimana kamu tau aku ada di sana?” Potong Aisya
Ilham pun tersenyum,
“Aku belum selesai ceritanya, tapi kamu udah motong duluan gitu aja, Jadi, Aku pikir, mungkin ada baiknya jika aku meriksa CCTV dan lihat ke tempat terakhir kamu terlihat, dan it’s work, Aku nemuin kamu disana, plus pelakunya, dan sekarang Fathan lagi ngurus pelakunya itu,”
Aisya terdiam,
Ilham menarik nafas panjang,
“Em, Apa gak ada ucapan makasih gitu? Atau mungkin sekedar, Thanks aja gitu?”
Aisya tetap terdiam,
“Ya udahlah, kalo gitu aku pergi aja, Ini makanan yang udah dipesenin sama Fathan, makan yang banyak,”
Ilham pun melangkah pergi, Baru beberapa langkah,
“Makasih,” Ucap Aisya tiba tiba,
Ilham pun tersenyum dan melanjutkan langkahnya,