Seandainya kamu tau

1074 Words
Ilham berpapasan dengan Fathan di depan gedung rumah sakit, "Hey, Bro!" Sapa Ilham seraya merangkul Fathan "Thanks ya ham, udah nolongin gue," "It's ok! Selagi gue bisa bantu." "Oh ya, Lo mau kemana?" "Gue balik duluan ya, gebetan lo juga udah sadar tuh," Fathan pun tersenyum malu, "Lo jangan ngomong kek gitu mulu, apalagi depan orangnya, gue malu." Ilham mengerutkan dahinya, "Ngapain mesti malu? Gue malah seneng, ternyata si cupu Fathan bisa jatuh cinta juga, gue pikir lo gak suka cewek, tapi sukanya sama gue," Ilham tertawa "Gila lo! Meskipun gue cupu, gue masih demen ama cewek, ya kali suka sama cowo kayak lo," Mereka pun tertawa bersama, *** Fathan melangkah masuk ke dalam ruangan Aisya, "Assalamualaikum Aisya?" Sapa Fathan Aisya menatap ke arah Fathan, "Wa'alaikumsalam," "Bagaimana keadaan kamu?" "Alhamdulillah sudah lebih baik," "Emm, syukurkah, Oya.. Aku kemarin kesulitan untuk menghubungi keluargamu, dan aku baru menyadari, Kamu belum mencantumkan nama keluargamu," Tutur Fathan Aisya terdiam, "Apa kedua orang tuamu masih ada atau…" "Mereka masih ada," Potong Aisya "Emm, Apa keluargamu tinggal di tempat yang jauh?" "Tidak, mereka masih tinggal di kota yang sama denganku," "O-oh begitu ya," Fathan terlihat ragu untuk kembali bertanya, "Aku diusir oleh kedua orang tuaku, setelah aku kembali dari seoul," "A-apa?" Syok Fathan "Aku kehilangan beasiswaku, keluargaku dan orang yang aku cintai sekaligus," Aisya mulai menitikkan airmatanya, Fathan pun mengusap airmata Aisya menggunakan tisu, "Aku tidak tau harus mulai dari mana untuk menceritakan nya sama kamu, Aku masih perlu waktu untuk menerima semuanya," Fathan berusaha untuk tidak bertanya atau menyanggahnya, Ia membiarkan Aisya mengeluarkan beban di dalam hatinya, Aisya menceritakan semua yang ia alami hingga ia kehilangan semuanya, tangisnya pun tak berhenti, Hingga Ia akhirnya tertidur karena kelelahan menangis, Fathan pun menyelimuti Aisya, "Pasti sangat berat buat kamu sya," Fathan pun melangkah pergi meninggalkan Aisya yang tengah tertidur, Setelah kepergian Fathan, Seorang pria memakai masker dan berkacamata hitam pun datang diam diam ke dalam ruangan Aisya, Tatapannya mengerikan, terlihat di sorot matanya jika ia sama sekali tidak menyukai Aisya, Pria itu pun membuka masker dan kaca matanya, Ia kemudian melangkah mendekat ke arah Aisya, "Kau tau? Gara gara kau, kekasihku sekarang mendekam di penjara, dan dia dipecat dari pekerjaannya secara tidak hormat, dan semua itu gara gara berandal kecil seperti kamu!" Rahang pria itu pun mengeras, wajahnya memerah menahan amarah, Tangannya pun meraih bantal yang berada di sofa, Ia kemudian mengarahkan bantal tersebut ke arah wajah Aisya, “Ehmm ehmmm,” Aisya mencoba melepaskan bantal yang membekap wajahnya, Pria itu pun tersenyum melihatnya, Gerakan tangan Aisya semakin melemah, “Mati kau!” Teriaknya, Tiba tiba Seseorang menarik baju pria itu dan memukulnya sekeras mungkin hingga pria tersebut jatuh tersungkur, Bugh Bugh Berkali kali pria itu mendapatkan hantaman dari beberapa bagian tubuhnya, Karena keributan tersebut, keamanan pihak rumah sakit dan beberapa perawat pun berdatangan, “Ada apa ini?” Tanya satpam “Tangkap orang ini pak! Dia berusaha ngebunuh pasien itu,” Ucapnya seraya menunjuk ke arah Aisya yang sudah terkulai lemas, Beberapa perawat pun langsung bertindak untuk menyelamatkan Aisya, “Ada apa?” Tanya Fathan yang baru saja tiba, Fathan melihat Aisya yang sedang ditangani oleh beberapa perawat dan seorang pria yang tidak asing untuknya tengah di borgol, “Ada apa ini ham?” “Orang ini, hampir aja bikin celaka Aisya,” “Apa?” Syok Fathan Fathan murka, Ia pun melayangkan pukulan ke arah wajah pria itu hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah, “Mulai sekarang, Aku memecatmu secara tidak hormat!” Tegas Fathan Pria itu pun digiring masuk ke dalam mobil polisi, Fathan menghampiri Aisya yang sudah sadar, “Aisya, Maaf.” Aisya pun hanya tersenyum ke arah Fathan, *** Di lain sisi, Sudah lebih dari tiga bulan setelah kepergian Aisya ke tanah air, Membuat semuanya terasa berbeda, Seorang pria tampan yang selalu ceria kini berubah menjadi pemurung, Ia tidak pernah pergi kemanapun kecuali satu tempat yang hampir setiap hari ia datangi, Masjid seoul, Tempat ia menenangkan diri, dan tempat ia menunggu kedatangan seseorang yang setiap hari ia nantikan, “Aisya, Aku sangat merindukanmu,” Do hyun hanya mampu menatap poto Aisya saat bersamanya, Flashback on, Do hyun menemani Arsyla untuk melakukan fitting baju pengantin, namun di sela sela kegiatannya, Aera menghubunginya, In Call, “Oppa, Apa kau tidak akan ke bandara?” “Bandara?” “Iya, Aisya akan pulang ke negaranya hari ini, setidaknya ucapkan selamat tinggal untuknya,” “Apa?” Tut tut tut Do hyun mematikan ponselnya sepihak, ia berpikir sejenak, “Sayang, Bagaimana dengan gaun ini?” Tanya Arsyla Do hyun tidak menatap Arsyla, Ia langsug berlari dan melewati Arsyla begitu saja, “Oppa!” Teriaknya Namun, Teriakannya tidak didengar oleh Do hyun, Do hyun melajukan mobilnya dengan kencang, berharap ia bisa mencegah kepergian Aisya, “Aisya, Jangan pergi,” Sesampainya di bandara, Do hyun berlari dengan cepat mencari Aisya di sekeliling, Hingga matanya menangkap sosok Aera yang tengah berjalan sendirian, “Aera?” Do hyun pun berlari ke arah Aera, “Aera,” Panggilnya Dengan nafas tersekat sekat, Ia mencoba menanyakan Aisya pada Aera, “Aisya dimana?” tanya nya langsung, Aera tiba tiba melihat ke arah samping, Terlihat pesawat yang lepas landas, “Dia udah pergi,” Jawab Aera Do hyun pun terduduk lemas, Tangisnya pun pecah, “Aisya!!” Teriaknya Flashback off Do hyun kembali meneteskan air mata setiap ia mengingat kejadian itu, “Oppa?” Panggil seseorang Do hyun pun melihat ke asal suara, “Aku rasa, lebih baik kau pergi menyusul Aisya ke sana,” Aera buka suara, “Itu tidak mungkin, Appa dan Eomma akan semakin marah pada Aisya,” Terang Do hyun Aera kemudian duduk di samping Do hyun, “tapi, aku tidak tega melihatmu seperti ini, Aku takut kau jadi kehilangan akalmu karena kehilangan Aisya,” Do hyun tersenyum tipis menatap Aera, “Aku tidak akan segila itu, Aku hanya perlu waktu untuk menerima semuanya,” Aera menghela nafas panjang, “Baiklah, terserah kau saja.” Do hyun pun menundukkan kembali pandangannya, menatap poto Aisya yang menjadi wallpaper ponsel miliknya, ‘Aisya, Kau sedang apa sekarang? Aku harap kau baik baik saja disana, aku harap, kedua orang tuamu tidak terus marah padamu, Aku merindukan semua tentangmu,’ Batin Do hyun, Aera menatap sendu Do Hyun, Ia hanya menghela nafas panjang. ‘Aisya, seandainya kamu tau apa yang terjadi setelah kamu pergi, mungkin aku tidak akan melihatmu ataupun Do hyun oppa dalam bayangan kehancuran seperti sekarang, Aku harap Tuhan memberikan jalan terbaik untuk kalian berdua,’ Batin Aera,
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD