Napas Gendis tersengal, paru-parunya serasa terbakar. Gadis itu terus berlari, menembus kegelapan Ndalem yang seolah menelan dirinya.
Suara kakinya sendiri memantul di koridor sepi, terdengar seperti suara pengejar. Bayangan Lik Karto, abdi dalem bermata elang itu, terus menari di benaknya.
“Dia pasti melihat dan pasti melaporkan ke Gusti Endah,” batin Gendis cemas.
Ketakutan itu mencengkeramnya lebih erat dari cengkeraman Bagas tadi. Di Ndalem ini, mata dan telinga Gusti Endah Suryawinata ada di mana-mana. Setiap dinding punya rahasia, dan setiap rahasia punya harga.
Hingga akhirnya dia berhasil mencapai bilik, mengunci pintu dengan tergesa-gesa, lalu merosot di balik pintu, terengah-engah. Jantungnya masih berdegup kencang, memukuli tulang rusuk.
Dipejamkan matanya sejenak, berusaha menenangkan diri, tetapi bayangan Bagas, wajahnya yang begitu dekat, tatapan memohonnya, dan sentuhan tangannya yang membakar, terus berputar di kepalanya.
“Bodoh sekali kamu, Gendis! Kamu sudah gila!” Gadis itu memaki dirinya sendiri. Ini bukan tempat untuk perasaan. Ini adalah Ndalem, tempat kasta adalah segalanya.
Beberapa hari berikutnya adalah siksaan bagi Gendis. Gadis itu berusaha sekuat tenaga menghindari Bagas. Jika dia melihatnya dari kejauhan, maka akan segera memutar balik atau pura-pura sibuk.
Gendis bahkan tidak berani lagi melihat Bagas saat Bagas lewat. Kepalanya selalu tertunduk, tangannya sibuk, seolah Ndalem adalah satu-satunya fokus hidupnya.
Dia tahu Bagas menyadarinya. Kadang, dia bisa merasakan tatapan Bagas yang mengikutinya, tatapan yang penuh pertanyaan, bahkan mungkin sedikit kekecewaan, tetapi Gendis tidak berani merespons. Keselamatannya, dan keselamatan ibunya, adalah prioritas utama.
Sampai suatu sore, saat Gendis sedang menyiapkan ramuan teh jahe di dapur. Yu Painah sedang pergi ke pasar, jadi Gendis sendirian di dapur. Tiba-tiba, bayangan tinggi menyelimuti ambang pintu dapur.
"Gendis…."
Suara itu terdengar dingin, datar, tetapi dengan nada yang tidak bisa dibantah. Gendis hampir menjatuhkan cangkir di tangannya. Dia berbalik, membungkuk dalam, tanpa berani mengangkat pandangannya.
"Nggih, Gusti?"
Bagas melangkah masuk, berhenti beberapa langkah di depannya. Aroma cendana yang khas selalu mendahuluinya. "Aku ingin kamu merias wajahku."
Gendis terkesiap. "Maaf, Gusti. Saya nggak bisa. Tugas saya di sini adalah membantu di dapur dan membersihkan."
"Aku tahu apa tugasmu," potong Bagas, suaranya kini sedikit menajam. "Dan aku juga tahu apa keahlianmu. Aku nggak minta, tapi merintah."
Gendis menelan ludah. "Gusti, saya sudah bilang, itu terlalu berbahaya. Saya... saya nggak mau ada masalah lagi."
"Masalah?" Bagas mendengus. "Masalah itu akan menjadi tanggunganku, bukan kamu. Kamu hanya menjalankan perintah." Laki-laki itu terdiam sejenak. "Sesi pemotretan untuk undangan pernikahan akan dilakukan besok pagi dan aku ingin kamu yang merias wajahku."
"Tapi... juru rias dari keraton sudah dipesan, Gusti," Gendis mencoba beralasan.
"Juru rias itu akan merias Lintang, bukan aku," jawab Bagas, suaranya penuh tekad. "Aku sudah bicara dengan Ibuku. Aku akan dirias di ruang rias pribadi yang lama. Mereka nggak akan keberatan, asalkan aku terlihat pantas."
Gendis mengangkat pandangannya sedikit, menatap Bagas. Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya memancarkan ketegasan yang mutlak. Tidak ada permohonan lagi di sana, hanya perintah. Dia tidak bisa menolak.
"Nggih, Gusti," jawab Gendis, suaranya hampir tidak terdengar. "Pukul berapa?"
"Setelah semua orang tidur, seperti waktu itu. Jam dua belas malam," Bagas berkata, lalu berbalik dan melangkah keluar tanpa menunggu jawaban Gendis.
Gendis merasakan lututnya lemas. Dia bersandar pada meja dapur, memejamkan mata sejenak.
Batinnya kembali berteriak, “Ini gila. Ini bunuh diri.” Tapi di sisi lain, denyutan gairah artistik itu kembali bergejolak, bercampur dengan gejolak perasaan yang lebih rumit. Dia akan merias Bagas lagi di ruang rias.
Malam itu, Ndalem Suryawinata diselimuti keheningan yang lebih pekat dari biasanya. Gendis, dengan kotak riasnya yang tersembunyi di balik kain batik, berjalan mengendap-endap menuju ruang rias pribadi yang lama.
Ruangan itu terletak di sayap utara, jarang digunakan kecuali untuk upacara penting atau tamu khusus. Suasana di sana selalu terasa formal, sakral, dan dingin. Dia tiba di depan pintu ukiran jati yang besar dengan hati-hati, dia mengetuk pelan.
Pintu pun terbuka sepersekian detik, dan Bagas sudah ada di sana, mengenakan kemeja batik yang longgar. "Masuk," bisiknya, suaranya terdengar rendah.
Gendis segera masuk, jantungnya berdebar. Pintu tertutup di belakangnya, mengunci mereka berdua di dalam ruangan yang temaram. Ruang rias itu begitu luas dan besar, dengan cermin berukir emas yang menempel di dinding, dilengkapi kursi beludru yang mewah, dan meja rias marmer yang dingin.
Hanya satu lampu minyak yang menyala, cahayanya menari-nari, menciptakan bayangan panjang dan misterius. Aroma melati kering bercampur dengan wangi rempah dari kotak rias Gendis memenuhi ruangan.
"Kamu membawanya?" tanya Bagas sambil menunjuk ke kotak yang dibawa Gendis.
Gendis mengangguk, meletakkan kotak itu di atas meja rias. "Nggih, Gusti."
Bagas duduk di kursi beludru di depan cermin, menghadap ke pantulan dirinya yang muram. "Aku ingin kamu membuatku terlihat... seperti orang yang punya pilihan," ujarnya, tatapannya di cermin bertemu dengan mata Gendis. "Seperti aku bisa bernapas di tengah semua kekakuan ini."
Gendis menatap pantulan Bagas dicermin. Ada kesedihan yang mendalam di mata laki-laki itu, kerentanan yang aneh. Dia mulai mengeluarkan perlengkapannya satu per satu. Kuas-kuasnya terasa begitu familiar, begitu pas di tangannya.
"Apa yang kamu rasakan sekarang?" Bagas bertanya, suaranya pelan, matanya tetap terpaku pada pantulan Gendis yang sibuk di belakangnya.
Gendis mulai mengoleskan pembersih wajah ke telapak tangannya. "Saya... saya merasa takut, Gusti , tapi juga... merasa hidup." Dia mulai membersihkan wajah Bagas dengan gerakan lembut, membuang sisa-sisa kelelahan dan ketegangan.
"Hidup?" Bagas mengulang, matanya terpejam saat Gendis mulai bekerja. "Apa rasanya? Aku lupa."
"Rasanya seperti... udara segar setelah terpenjara di ruangan pengap, Gusti," bisik Gendis sambil terus fokus pada pekerjaannya. "Rasanya seperti menemukan kembali diri sendiri."
Bagas menghela napas, sebuah napas panjang yang sarat beban. "Aku merasa seperti aku nggak pernah benar-benar menemukan diriku, hanya menemukan apa yang harus aku lakukan."
Gendis mengangguk. "Itu yang saya lihat di wajah Gusti, kemarin." Dia mulai mengaplikasikan pelembap, memijat lembut kulit Bagas. Setiap sentuhan tangannya adalah ungkapan seni, bukan sekadar tugas. Gadis itu bisa merasakan ketegangan di rahang Bagas yang sedikit mengendur.
"Dan apa yang kamu lihat di wajahku sekarang?" tanya Bagas, suaranya terdengar lebih rileks.
"Saya melihat... seorang pria yang berjuang, Gusti," jawab Gendis jujur, matanya menelusuri setiap detail wajah Bagas di cermin. "Seorang pria yang ingin bebas, tapi terikat begitu kuat."
Bagas membuka matanya, menatap Gendis di cermin. "Bisakah kamu membebaskanku, Gendis? Setidaknya untuk hari esok?"
Gendis tidak menjawab, tangannya mengambil foundation ringan, membaurkannya dengan hati-hati, lalu menggunakan kuas buffing, menyapukan bedak tipis yang transparan, hanya untuk menyempurnakan warna kulit Bagas, sekaligus menyamarkan lingkaran hitam di bawah matanya yang lelah.
"Kamu tahu, semua juru rias yang pernah merias aku... mereka hanya mengikuti pakem," Bagas melanjutkan, suaranya semakin rendah, seperti obrolan di antara teman lama. "Mereka nggak pernah melihat 'aku'. Hanya melihat pewaris Tumenggung Suryawinata."
"Setiap orang punya cerita, Gusti," Gendis bergumam, tangannya lincah mengaplikasikan concealer di beberapa titik. "Dan tugas saya adalah membantu menceritakan cerita itu, atau setidaknya, membuatnya terlihat lebih kuat."
Bagas tersenyum tipis di cermin, senyum yang jarang Gendis lihat. "Kamu berhasil menceritakan ceritaku, bahkan tanpa kata-kata."
Gendis merasakan pipinya sedikit memanas. Diambilnya kuas contouring halus untuk menonjolkan tulang pipi Bagas, membuat wajahnya tampak lebih tegas. Namun, tidak kaku. Dia ingin Bagas memancarkan kekuatan dari dalam, bukan dari gelarnya.
"Apa yang membuatmu ingin merias, Gendis?" tanya Bagas, tatapannya begitu intens, seolah dia sedang mencoba memahami dunia Gendis. "Apa yang membuatmu rela melanggar aturan demi 'jiwa' ini?"
Gendis berhenti sejenak, kuasnya melayang di udara. "Karena... itu adalah satu-satunya saat saya merasa punya kendali, Gusti. Satu-satunya saat saya merasa bisa menciptakan sesuatu yang indah dan nyata, di dunia yang penuh kepalsuan."
Bagas mengangguk pelan. "Aku mengerti. Aku juga ingin merasakan hal itu. Merasakan kendali atau menciptakan sesuatu yang nyata." Dia mengambil napas dalam. "Aku ingin menciptakan takdirku sendiri."
Gendis melanjutkan dengan riasan mata. Dia hanya mempertegas alis Bagas dengan sedikit pensil, lalu mengaplikasikan eyeliner tipis di garis bulu mata atas, membuat matanya terlihat lebih tajam, lebih berani, tetapi juga dengan kilasan kesedihan yang tidak terhindarkan.
"Kamu sangat dekat, Gendis," bisik Bagas sambil memejamkan mata saat Gendis bekerja di area matanya. "Aku bisa merasakan napasmu."
Gendis menahan napasnya sendiri. Sensasi kedekatan itu begitu kuat, begitu memabukkan. Dia bisa mencium aroma cendana dari kulit Bagas, aroma maskulin yang bercampur dengan wangi melati dari riasannya.
"Ini... ini bagian dari pekerjaan, Gusti," Gendis mencoba menjaga suaranya tetap profesional, tetapi ada getaran halus di dalamnya.
"Bukan hanya pekerjaan," Bagas membantah, matanya terbuka sedikit, menatap Gendis melalui cermin. Tatapannya gelap, dalam dan mencari. "Ada sesuatu yang lebih dari pekerjaan di antara kita, Gendis. Aku merasakannya. Kamu juga merasakannya, ‘kan?"
Gendis menelan ludah. Ingin rasanya dia menyangkal, tetapi kedua bola matanya mengkhianati. Gadis itu melihat dirinya sendiri di mata Bagas, pantulan seorang wanita yang terlarang, seorang wanita yang sedang bermain api.